
...***...
Akihara on.
Ada hal yang tidak bisa kita jelaskan dengan kata-kata, namun itu terasa sangat menyakitkan. Tapi apakah kau mampu untuk bertahan di dalam kata-kata yang menyakitkan hati?. Terkadang aku bertanya pada diriku yang rapuh ini. Aku ini siapa?. Apakah aku hitam?. Atau aku putih?. Hitam dan putih, siapa kau sebenarnya?. Aku belum bisa menemukan jawaban itu dengan baik, karena itulah simak dengan baik bagaimana kisah ini berlalu dengan adanya bumbu-bumbu yang tidak bisa kau jelaskan dengan kata-kata. Apakah kau siap dengan kisah ini?. Simak terus ceritanya.
Akihara off.
Dua hari berlalu.
Yuma, Geki, Taiki dan Yuhei datang ke rumah Yuichi, mereka ingin melihat kondisi Akihara yang katanya masih sakit. Akihara sudah sadar, hanya saja butuh istirahat yang cukup.
"Aku pikir kau sudah tewas pas di gebuk waktu itu akihara." Ucap Yuma dengan nada sedih, ekspresinya sangat dramatis, membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau mendoakan aku mati ya senpai." Akihara terlihat kesal, "tidak adakah kata yang lebih manis dari pada itu" Akihara malah mengikuti alur dramatis dadakan itu. Tentunya mereka semakin tertawa keras.
"Aku hanya bercanda akihara, jangan ngambekan gitulah." Yuma tertawa geli melihat raut wajah ngambek Akihara.
"Hadeh, bilang aja kau kesepian karena tidak ada yang bisa kau suruh yuma." Taiki tahu jika selama di kantor Yuma selalu mengandalkan Akihara dalam hal apapun, termasuk mencari dokumen yang entah apa nama file nya.
"Betul tuh, selama tidak ada kau, dia seperti cacing kepanasan." Geki malah ikutan mengompori suasana, mereka tidak terlihat seperti polisi detektif, hanya teman yang sedang bercanda agar temannya yang sedang sakit sedikit bersemangat kembali.
Lalu dimana Yuhei?.
Saat ini ia bersama Asakura, mereka sedang membahas masalah serius.
"Maksud ketua aku menyelidiki adik ketua, gitu?." Yuhei tidak salah dengarkan? barusan Asakura memintanya untuk menyelidiki siapa Kurosaki dan apa hubungannya dengan adiknya Akihara?.
Bukankah itu sangat mengherankan?. Masa seorang kakak tidak tahu siapa teman adiknya?. Bukannya malah menyelidiki sendiri, kenapa malah minta bantuan orang lain?. Dan terlebih lagi sangat mengherankan, kenapa Asakura sangat ingin tahu siapa Kurosaki? lagipula, Akihara sudah besar loh?. Bukan remaja lagi yang dibatasi pergaulannya. Akihara sudah dewasa loh, bukan anak-anak yang dicemaskan berteman dengan siapa saja.
"Jangan banyak bertanya lagi, atau kau ingin aku pindah ketempat yang jauh." Asakura sedikit menggertak Yuhei, ia hanya ingin tahu, tapi tidak tahu bagaimana caranya bertanya pada Akihara. Bahkan ketika Akihara sudah sadar Asakura tidak tahu mau bertanya seperti apa.
"Haik!. Siap laksanakan bos!." Mau tak mau Yuhei terpaksa melakukan apa yang di suruh oleh Asakura dari pada ia dipindahkan oleh ketuanya. meskipun itu cuman gertakan, siapa tahu bisa jadi itu benar-benar terjadi jika Asakura yang berkata, bisa gawat kalau begitu. ya, turuti ajalah. Anggap aja ini adalah kepercayaan Asakura padanya sebagai bawahan.
Saat Yuhei hendak meninggalkan tempat, ia melihat seorang wanita cantik sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Asakura.
"Bukankah anda adalah kuroyami natsuki?." Yuhei mengenali wanita ini, dia adalah seorang polisi wanita yang cukup berpengaruh juga dalam menyelesaikan kasus korupsi yang dilakukan oleh kalangan pemerintah ataupun pihak perusahaan.
__ADS_1
"Salam kenal namaku kuroyami natsuki." Wanita itu tersenyum ramah, senyumannya itu sangat memikat, membuat Yuhei jadi gugup.
"Salam kenal juga, namaku yuhei mamoru, bawahannya yuichi asakura." Yuhei tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu polis ternama di sini. Mungkin ia ada urusan dengan ketuanya, sebaiknya ia tidak terlalu lama berada di ruangan ini.
"Saya permisi dulu ketua." Rasanya Yuhei tidak sanggup berlama-lama di sana. ia buru-buru meninggalkan ruangan kerja Asakura.
"Apa yang kau lakukan di sini?!." Asakura terlihat jutek, sepertinya ia tidak suka dengan kedatangan Kuroyami Natsuki atau nama panggilannya Natsuki.
Wanita cantik itu hanya tersenyum menanggapi sikap jutek dari Asakura. "Apakah aku tidak boleh datang kemari?." Ia selalu tersenyum ramah kepada siapapun juga. "Aku hanya ingin melihat kondisi akihara." Natsuki mendekati kursi yang ada di depan Asakura, ia duduk dengan tenang, tak lupa senyuman ramahnya.
"Akihara ada di kamarnya!." Asakura menatap tidak suka pada Natsuki. "Kenapa kau malah kemari jika ingin bertemu dengan akihara?!." lanjutnya lagi. Sangat jelas, Asakura memperlihatkan rasa tidak sukanya pada Natsuki.
Sementara wanita itu hanya tersenyum saja. "Niatnya begitu, tapi aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu mengenai kurosaki." Balas Natsuki, ia memang tidak sengaja menguping pembicaraan Asakura dengan Yuhei.
Asakura hanya diam, namun ia tidak suka ada yang menguping pembicaraannya. Mengapa wanita ini suka sekali membuatnya jengkel?.
"Kau penasaran, kan?. Hubungan akihara dan kurosaki." Tanya Natsuki sambil menatap Asakura dengan serius. "Tidak biasanya kau menyelidiki orang terdekat adikmu." Ya, setahunya dulu, hingga hari ini. Asakura mana pernah mencampuri, atau memperhatikan adiknya itu.
"Aku tidak butuh komentarmu, aku hanya tidak ingin dia mengoceh sendiri sambil menyebut nama kurosaki!." Asakura mengakui dirinya memang penasaran, tapi ia tidak mau adiknya dikatakan tidak normal hanya karena berteman dengan laki-laki, dan beredar gosip anak kedua Yuichi suka sejenis.
"Pergi dari sini!. Aku sedang sibuk!." Asakura mengusir Natsuki, ia benar-benar kesal karena ditertawakan oleh Natsuki.
Natsuki menghentikan tawanya, ia menatap sorot mata Asakura, hingga lelaki itu terpaku. ia seperti terhipnotis oleh mata kelam milik Natsuki. "Kau masih membenciku ya, asakura?." Natsuki sangat tahu, bagaimana bencinya Asakura pada dirinya. Namun, Asakura tidak menanggapinya.
Natsuki menghela nafasnya pelan, apakah Asakura tidak bisa menghilangkan kebencian di dalam dirinya terhadapnya?.
"Kurosaki dan akihara tidak bisa dipisahkan begitu saja." Ucapnya dengan ramah, namun senyumannya itu, sangat menusuk.
"Akihara dan kurosaki. jika kau ingin mengetahui siapa kurosaki maka kenali dulu siapa akihara." Natsuki bangkit dari duduknya. "Karena, jika kau memahami siapa akihara, menerima dirinya dengan terbuka maka kau akan tahu siapa kurosaki." Natsuki masih merasakan aura permusuhan di dalam diri Asakura. "Tapi setidaknya aku bersyukur, kau mulai memperhatikan adikmu." setelah berkata seperti itu Natsuki pergi meninggalkan Asakura yang tidak dapat membalas ucapannya, ia tidak melihat raut wajah Asakura yang kebingungan. "Tenang saja, kurosaki bukanlah orang jahat, jadi kau tidak perlu menyuruh anak buahmu menyelidiki siapa kurosaki dan apa hubungannya dengan akihara." Ucapnya sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu.
memahami siapa Akihara dan menerimanya dengan terbuka?. Bahkan ketika kecil Asakura yang beda tiga tahun, hubungan meraka yang dulunya baik-baik saja, namun setelah mengetahui jika mereka beda ibu, sejak itu Asakura menutup dirinya.
Memperhatikan Akihara?. Sejak kapan ia mulai perhatian pada adiknya itu?. Sejak kapan?. Asakura tidak ingat itu.
Rasanya sangat mustahil ia lakukan setelah mengetahui fakta bahwa ayahmu menikah lagi dengan teman satu kantornya di saat umurnya masih balita?. Asakura sangat sedih, hingga ia tidak mau menerima kehadiran Akihara, apalagi menerimanya dengan tangan terbuka?.
Hanya waktu yang akan menjawabnya, sebab yang ia lakukan saat ini hanyalah semata-mata karena penasaran siapa itu Kurosaki. itu saja, ia tidak akan melakukan apapun selain itu untuk Akihara.
__ADS_1
...ΩΩΩ...
Dua hari kemudian.
Akihara sudah masuk kerja, ia mengurus beberapa dokumen tentang kasus belakangan ini yang sering terjadi. Dimana orang banyak tertipu karena paket yang mereka terima tidak sesuai dengan apa yang mereka pesan.
Namun saat ia sedang fokus bekerja, ia merasakan aura kegelapan yang berbeda di sekitarnya. Akihara sedikit merinding merasakan aura itu, rasanya sangat menusuk.
"Kurosaki?." Akihara menoleh ke belakangnya, dimana Kurosaki berdiri dibelakangnya seperti menjaga dirinya.
"Aura kebencian yang sangat pekat, berhati-hatilah akihara." Kurosaki terlihat sangat waspada, matanya liar mencoba mencari asal sumber aura kebencian itu.
"Aura ini sangat busuk, tidak enak untuk dicium, membuatku takut." Kurosaki sedikit bergetar, aura kental penuh kebencian ini sangat tidak nyaman untuk dirinya, juga Akihara.
Namun ketika Akihara hendak berkata, seseorang menepuk pundaknya, membuat Akihara terkejut.
"Apa yang kau lamun kan akihara kun?." Seorang wanita berparas cantik menyapanya, ia tadi masuk ke kantor ini, namun yang ia lihat adalah Akihara sedang melamun.
"Wuah, sanae san?. Lama tidak berjumpa ya?." Akihara terkejut melihat Yamashita Sanae berada di sini, yang ia tahu terakhir kali melihat Sanae saat SMP kelas satu. Mata Akihara lirik sana sini mencari keberadaan Kurosaki yang selalu menghilang entah kemana jika ada orang lain mendekati dirinya.
"Kau masih ingat padaku akihara?." Sanae sangat senang jika Akihara masih mengingat dirinya. Hubungannya dengan Akihara hanyalah kenalan, karena Sanae adalah teman dekat almarhum ibunya.
"Tentu saja aku masih mengingatmu sanae san." Akihara belum terlalu pikun untuk melupakan seseorang, namun siapa sangka setelah sekian lama tidak bertemu, Sanae yang datang padanya.
"Ah, silahkan duduk sanae san, aku ambilkan minum untukmu." Akihara tidak tega melihat Sanae yang berdiri, jadi ia mempersilahkan Sanae duduk di kursi di depannya. Kemudian ia bergegas kebelakang mengambilkan minuman untuk Sanae.
"Kau masih baik baik seperti dulu akihara kun." Sanae dengan senang hati menuruti perkataan Akihara, ia masih ingat bagaimana Akihara yang dulu.
Saat ia di dapur, ternyata ia sudah ditunggu oleh Yuhei, Taiki, Geki dan Yuma yang kepo kenapa Akihara bisa dekat dengan Yamashita Sanae?. Setahu mereka wanita itu adalah salah satu kepolisian yang bekerja di bidang kasus pembegalan, atau kasus kekerasan.
"Jelaskan pada kami." Mereka melotot pada Akihara, minta penjelasan pada Akihara.
"Ah, ya dia adalah teman dekat almarhum ibuku. Dulu dia sering mampir ke rumah ku, tapi aku tidak tahu kalau dia kemari." Akihara merasa menjadi tersangka yang dicurigai karena keingintahuan mereka terhadap Yamashita Sanae.
Next halaman.
...***...
__ADS_1