
...***...
Pukul 17.30.
Akihara, Kurosaki, Natsuki dan Kuronichi telah sampai di penginapan mereka. Namun sebelum mereka masuk ke dalam rumah penginapan itu, mereka masih sempat mengamati keadaan desa yang menurut mereka sangat aneh, dan tidak biasanya sebuah tempat memiliki hawa yang sangat mengerikan menurut mereka.
"Desa ini sangat aneh sekali." Akihara yang memiliki mata yang sangat spesial dapat melihat itu dengan sangat jelas. "Ada kabut hitam yang menyelimuti desa ini. Seakan-akan menggambarkan bagaimana keadaan desa ini yang sebenarnya." Itulah yang dilihat oleh Akihara. Matanya tidak mungkin salah dalam melihat sesuatu, karena kekuatan yang ia miliki pada dasarnya terhubung langsung dengan Kurosaki. "Bagaimana menurutmu kurosaki?. Natsuki nee?. Kuronichi san?. Bagaimana pendapat kalian mengenai desa itu?." Akihara bertanya pada mereka semua yang juga melihat keadaan desa itu seperti apa.
"Ya, memang benar apa yang kau katakan akihara." Kurosaki tentunya dapat melihat dengan sangat jelas, hitam tentunya dapat melihat hitam pula.
"Kabut hitam itu seperti teror maut yang sama sekali tidak disadari oleh siapapun juga. Kabut hitam yang seakan-akan itu adalah kutukan bagi desa ini." Natsuki yang dapat melihat itu tentunya merasakan perasaan yang sangat tidak nyaman sama sekali. Hatinya sangat gelisah saat melihat pemandangan yang seperti itu.
"Kita harus waspada dengan kabut hitam itu. Jika tidak, kita akan terjebak di desa ini untuk selama-lamanya." Kuronichi yang sebenarnya adalah bagian dari kekuatan Natsuki memberikan alarm waspada pada mereka semua.
"Itu memang sangat berbahaya. Kita tidak boleh sampai tercemar oleh kabut hitam itu." Akihara merasa sesak, tidak nyaman sama sekali. Sepertinya mereka akan mendapatkan masalah yang sangat besar nantinya.
Hitam dan putih?. Siapa kau yang sebenarnya?. Hawa hitam yang sangat tidak baik seakan-akan menyelimuti desa itu.
...***...
Di sebuah rumah yang sangat mewah.
Saat itu ada dua orang yang sangat aneh dan sangat mencurigakan. Dua orang yang sama sekali tidak bisa menerima orang lain yang baru saja masuk ke desa itu?.
"Jadi ada dua orang polisi yang datang ke desa ini?." Himura sedikit terkejut mendengarkan pengaduan dari anak buahnya mengenai ada dua orang polisi yang datang ke desa?.
"Benar bos." Jawab Asena dengan sangat yakin. "Katanya petugas dari pemerintah yang ingin menyelesaikan masalah yang ada di desa ini." Asena mendengar kabar itu langsung dari kepala desa.
"Jadi mereka ingin menjadi pahlawan di desa ini?." Himura mendengus kesal mendengarkan alasan kenapa kedua orang yang berprofesi polisi itu masuk ke desa. "Kalau begitu beri mereka salam perkenalan, bagaimana kasus pembunuhan yang terjadi di desa ini." Himura ingin melihat seberapa hebat kedua orang polisi itu dalam menyelesaikan masalah yang sengaja ia ciptakan untuk memancing keributan.
"Tapi siapa yang akan menjadi target kita tuan?. Apakah tuan telah menargetkan siapa yang akan tuan bunuh?." Asena bertanya pada tuannya. Mungkin tuannya itu ingin menargetkan seseorang pada saat itu?.
"Kau yang tentukan. Karena aku sedang malas menargetkan siapa." Himura tidak menargetkan siapa saja yang akan dibunuh oleh anak buahnya. "Terserah kau saja mau membunuh siapa. Karena bagiku mereka sama saja, tidak berguna dan hanya bisa memelas saja." Himura hanya ingin menguji mereka saja.
"Baiklah tuan, akan saya lakukan." Asena merasa sangat bersemangat karena telah mendapatkan izin dari tuannya untuk bersenang-senang?.
"Berikan aku pertunjukan yang lebih menarik. Berikan aku sedikit hiburan dengan kasus pembunuhan itu." Himura ingin merasakan sensasi pembunuhan yang sangat berbeda kali ini.
__ADS_1
"Tentu saja tuan." Asena dengan senang hati akan melakukan itu.
Hitam dan putih, siapa kau sebenarnya?. Apakah hanya ada hitam saja yang ada di dalam hatimu?. Sehingga kau menghilangkan jiwa putih yang ada di dalam hatimu?. Sungguh sangat disayangkan sekali, jika kau menghilangkan jiwa putih mu.
...***...
Sakura baru saja pulang dari tempat ia bekerja. Karena tempat ia bekerja dekat dengan tempat belanja, ia langsung ke sana untuk membeli beberapa perlengkapan yang sangat ia butuhkan. Namun pada saat hendak membayar, ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang sudah sangat lama tidak ia temui.
"Sakura?." Hinata menyebut nama Sakura dengan sangat kerasnya.
"Oh?. Hinata?. Kau ada di sini?." Sakura tidak menyangka akan bertemu dengan teman semasa sekolahnya?. "Tapi bagaimana mungkin kau bisa berada di sini?." Sakura sangat terkejut karena tidak menduga akan pertemuan itu.
"Aku baru saja datang beberapa hari yang lalu." Hinata menjawab dengan ragu. "Itu karena aku mendapatkan pekerjaan di sini." Ia hanya tersenyum sambil mengatakan alasannya. "Lalu bagaimana denganmu?. Kenapa kau bisa berada di kota ini?. Setahu ku, kau bukanlah orang sini." Hinata balik bertanya pada temannya itu.
"Aku memang bertugas di kota tercinta kita ini. Aku dapat tugas sebagai polisi di sini." Jawab Sakura sambil memperlihatkan identitas aslinya.
"Ho?. Jadi gitu ya?." Hinata tidak menduga jika temannya menjadi seorang anggota kepolisian?.
"Aku mau bayar dulu. Mungkin kau masih mau memilih dulu?." Sakura melihat antrian yang menghilang dari hadapannya.
"Aku belum tahu mau belanja apa." Hinata malah terlihat ragu mau belanja apa.
"Ok. Nanti aku susul ya?." Hinata menunjukkan nomornya pada Sakura.
"Ok." Sakura mengambil smartphone-nya, ia ambil foto untuk ia simpan nantinya.
Setelah itu mereka berpisah karena memiliki tujuan yang berbeda.
...***...
Pukul 20.10.
Asakura tadinya ingin melihat keadaan luar, karena ia bosan sendirian di rumah. Akan tetapi pada saat itu ada seseorang yang memanggil nama Akihara?. Seseorang yang terlihat berlari mengejar Asakura?.
"Akihara!. Oi!. Akihara!." Dengan suara yang hampir saja putus, ia terus berusaha untuk menyebut nama Akihara.
"Hm?!." Asakura merasa sangat heran dengan seseorang yang sedang habis berlari?. Jika dilihat dari kondisinya yang seperti itu sudah dipastikan dengan sangat benar.
__ADS_1
"Akihara?. Kenapa kau malah mengabaikan aku?!." Orang itu tampak kesal, karena merasa terabaikan.
"Maaf?. Sepertinya kau salah orang." Asakura sangat heran dengan orang aneh itu.
"Olala?. Bagaimana mungkin aku salah orang?. Jelas-jelas kau adalah yuichi akihara." Orang itu menepuk pundak Asakura dengan pelan, ditambah tawanya yang sangat aneh.
"Ok. Akan aku rasa kau memang salah orang." Asakura menepis tangan orang asing itu sambil memperlihatkan identitasnya pada orang asing itu.
"Se-sejak kapan mau ganti nama menjadi nama yuichi asakura?!." Orang asing itu sangat terkejut ketika melihat id card itu.
"Ck!." Asakura berdecak kesal. "Aku adalah yuichi asakura. Nama yang kau sebut itu adalah adikku!." Asakura dengan kesalnya menjelaskan pada orang asing itu mengenai dirinya.
"He?!. Jadi kau adalah kakaknya?. Tapi kau sangat mirip sekali dengan akihara, makanya aku memanggilmu akihara. Maafkan aku." Orang asing itu tampak menyesal dengan apa yang telah ia pada Asakura.
"Siapa yang mirip dengan dia?!." Asakura sangat tidak suka jika ada yang mengatakan jika ia mirip dengan adiknya.
"Sungguh maafkan aku." Ia sangat takut dengan kemarahan yang ditunjukkan Asakura padanya. "Jika aku boleh tahu?. Akihara ada dimana?." Dengan perasaan yang takut ia bertanya seperti itu.
"Apa yang kau inginkan dengan adikku?." Asakura tentunya ingin mengetahui kenapa seseorang mencari adiknya. "Saat ini dia tidak ada di tempat. Sedang dinas di desa. Jadi dia tidak ada di sini." Asakura menjelaskan kenapa adiknya tidak ada di Kota saat ini.
"He?. Di saat yang genting yang seperti ini kenapa malah pergi?." Ia terlihat sangat kecewa sekali. "Padahal ada kasus yang sangat penting yang harus dia tangani." Dari raut wajahnya, ia sedang mengharapkan bantuan dari Akihara.
"Kasus?. Kasus apa?." Asakura merasa terpanggil karena orang asing itu mengatakan ada masalah?.
"Kasus pembunuhan yang terjadi di tempat minum biasa kami berkumpul. Salah satu pelanggan tetap di sana dibunuh dengan cara yang sangat aneh. Aku mohon padamu aniki. Tolong bantu aku." Orang asing itu menjawab pertanyaan dari Asakura.
"Kasus pembunuhan ya?. Baiklah. Katakan saja padaku dimana tempatnya." Asakura akan mengatasi masalah itu?.
"Benarkah?. Apakah kau serius mau membantu aku?." Ia tampak senang.
"Aku adalah seorang anggota kepolisian, tentu saja aku akan menanganinya." Balas Asakura dengan sangat yakinnya.
"Terima kasih polisi. Kalau begitu mari ikuti saya." Orang asing itu mempersilahkan Asakura untuk ikut. "Maaf sebelumnya, karena saya telah salah orang." Ucapnya dengan perasaan yang bersalah.
"lupakan saja." Balas Asakura dengan santainya.
"Olala. Aku tidak menyangka akihara memiliki kakak yang sangat mirip dengannya. Tapi mereka bukan anak kembar." Dalam hatinya berkata seperti itu.
__ADS_1
...***...