
...**...
Di sebuah tempat minum.
Asakura datang bersama Takeru yang sebenarnya hendak mencari Akihara, karena tidak ada apa boleh buatkan?.
"Oh?. Takeru?. Kau berhasil membawa akihara ke sini?." Kazumi sangat senang karena anak buahnya berhasil membawa Akihara?.
"Selamat malam namaku yuichi asakura." Asakura langsung memperkenalkan namanya supaya tidak ada yang salah faham nantinya. "Aku adalah anggota kepolisian kota pusat." Asakura langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Olala?. Sangat sensitif sekali." Dalam hati Takeru sangat terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Asakura.
"Kalian bisa menceritakan apa yang terjadi padaku." Asakura meminta keterangan dari mereka yang berada di sana?.
"Jadi kau bukan akihara?." Kazumi merasa ada yang berbeda dari sikap Akihara?.
"Maaf saja, aku adalah asakura, aku adalah kakaknya." Asakura terlihat sedikit jengkel karena mereka selalu mengatakan dirinya adalah Akihara?.
"Baiklah, akan kami ceritakan." Kazumi mengerti bagaimana kondisi pada saat itu. Ia tidak ingin berdebat terlalu lama, karena itulah ia langsung menceritakan apa yang telah terjadi.
...***...
Di Kamar Akihara dan Kurosaki.
Saat ini keduanya sedang membicarakan hal yang berhubungan dengan apa yang mereka lihat.
"Sepertinya malam ini ada hawa yang tidak menyenangkan yang ingin menambah kabut hitam itu." Kurosaki dapat melihat hawa hitam yang tidak biasa yang mencoba untuk bergabung lebih dalam lagi?.
"Apa yang akan kita lakukan kurosaki?. Rasanya aku sangat cemas dengan apa yang akan mereka lakukan." Akihara tidak mengerti kenapa orang-orang seperti itu melakukan hal yang mengerikan seperti itu?.
"Untuk saat ini kita tidak bisa ikut campur, karena akan membahayakan nyawa kalian nantinya." Kurosaki telah memberikan peringatan pada Akihara agar tidak melangkah lebih jauh untuk sementara waktu.
"Tapi jika hanya berdiam diri saja itu tidaklah baik." Akihara sangat khawatir jika akan terjadinya pembunuhan nantinya.
__ADS_1
"Bersabarlah, semoga saja semuanya akan baik-baik saja." Kurosaki mengerti bagaimana keinginan Akihara yang memiliki jiwa yang sangat baik pada siapapun juga?.
"Aku juga berharap seperti itu." Akihara terlihat sangat sedih
Sementara itu kamar yang lainnya.
Natsuki dan Kuronichi yang saat ini juga membahas apa yang telah mereka lihat. Sebagai seseorang yang memiliki kekuatan yang sama, tentunya mereka dapat mengetahui apa yang terjadi walaupun mereka tidak bisa mengubahnya.
"Sepertinya kita harus waspada. Kita harus menjaga mereka di desa ini, karena desa ini tidak semudah yang aku pikirkan." Natsuki tidak ingin gegabah dalam bertindak.
"Tentu saja itu harus." Kuronichi saat ini sedang bersandar di punggung Natsuki. "Apalagi Kurosaki belum mengatakan apapun pada akihara siapa dia yang sebenarnya." Itulah yang membuat ia merasa sangat cemas.
"Kita benar-benar harus waspada mengenai masalah itu nantinya." Natsuki dapat merasakan firasat yang sangat buruk mengenai apa yang telah ia lihat itu. "Aku tidak akan membiarkan akihara dalam bahaya nantinya." Natsuki akan berusaha untuk menghindari bahaya itu, agar Akihara tidak lepas kendali nantinya.
...***...
Pada malam yang sunyi itu, ada seorang wanita yang sedang berlari dengan sangat kencangnya. Nyawanya dalam bahaya karena ada seseorang yang mengejarnya sambil membawa pisau yang sangat tajam.
"Tidak!. Jangan bunuh aku!." Teriaknya dengan nafas terengah-engah, kakinya terasa keram setelah berlari cukup lama untuk menghindari orang kejam itu.
"Tidak!. Jangan bunuh aku!." Wanita itu semakin ketakutan, kepalanya terasa kosong. Tentunya ia memikirkan cara untuk lolos dari ancaman kematian itu. "Cari saja korban yang lain!. Jangan bunuh aku!." Ia menjerit ketakutan. Siapa yang ingin mati?. Apalagi dengan cara dibunuh seperti itu?.
"Salahkan dirimu yang telah berani berbuat mesum, serta telah berani menggoda banyak laki-laki di desa ini. Jadi kau harus mati secepat mungkin. Ahahaha!." Lelaki bertopeng hitam itu terus berusaha untuk mengejar wanita itu. Ada sensasi yang berbeda ketika itu, ada hasrat yang aneh ketika ia melihat bagaimana betapa takutnya korbannya itu.
"Tidak!." Wanita itu semakin ketakutan mendengarkan ucapan itu. Artinya ia tidak bisa lari dari takdir kematian?.
Duakh!.
Dalam ketakutan malam berlari di dalam semak-semak itu, ia tersandung sesuatu yang membuatnya menghentikan langkahnya.
"Kya!." Ia berteriak keras, jantungnya semakin berdegup kencang. Apalagi ketika laki-laki itu mencengkram kuat rambutnya, membuatnya semakin ketakutan. "Lepaskan!." Ia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman orang itu.
"Ho?. Apakah itu artinya kau telah menyerah dengan apa yang lakukan?." Tanpa perasaan ia tarik kuat rambut itu hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan. "Heh!. Akan aku akhiri permainan yang membosankan ini dengan segera." Tangannya yang satunya lagi sedang mencengkram erat sebuah pisau yang sangat tajam.
__ADS_1
"Ja-jangan." Suaranya hampir saja tidak terdengar karena menahan perasaan takut yang ia rasakan pada saat itu.
"Tidak ada kata ampun untuk wanita seperti kau." Laki-laki itu sepertinya tidak terpengaruh dengan raut wajah dari wanita itu yang seakan-akan memelas minta dilepaskan.
Cekh!.
Tapi sepertinya laki-laki itu tidak akan memberi ampun pada wanita itu, sehingga wanita itu ia tikam dengan sangat kuat. Pada saat itu terdengar suara teriakan yang sangat keras. Teriakan yang disertai dengan kesakitan yang sangat luar biasa.
...***...
Malam masih berlanjut, Asakura yang berada di tempat minuman yang diduga telah terjadi pembunuhan yang sangat mengerikan?. Dimana seseorang telah terbunuh setelah meminum secangkir kopi yang ia pesan?.
"Dari rekaman CCTV terlihat sangat jelas, jika yang melakukan pembunuhan itu adalah orang yang berada di samping laki-laki ini." Asakura memperhatikan itu dengan sangat jelas, apa yang telah dilakukan oleh seseorang dengan mudahnya. Tentunya itu telah terekam oleh cctv dengan sangat jelas. "Tangannya memang bergerak secara perlahan saat mengusap gelas dengan menggunakan tisu." Asakura telah memastikan itu bagaimana situasinya sehingga ia dapat mengambil kesimpulan yang seperti itu. "Apakah kalian menemukan tisu yang ditinggalkan oleh orang ini?." Asakura bertanya pada mereka.
"Saat aku membersihkan meja itu aku tidak menemukan apapun di sana." Takeru sangat ingat dengan apa yang telah ia lakukan, bahkan ketika polisi lainnya yang pada saat itu melakukan penyelidikan. "Akan tetapi pada saat aku hendak membersihkan sampah yang ada di belakang, aku tidak sengaja melihat ada kucing liar yang keracunan setelah makan sesuatu yang berdekatan dengan tisu itu." Namun pada saat itu ia masih ingat dengan apa yang ia saksikan.
"Apakah kau telah membuang tong sampah itu?." Asakura bertanya karena penasaran. Bisa jadi itu adalah barang bukti nantinya.
"Ya, aku rasa memang seperti itu." Takeru ingat setelah ia melakukan pembersihan kemarin.
"Kita akan kesulitan untuk membuktikan jika dia bukan pemilik tisu itu." Asakura sedikit kecewa dengan masalah itu. Apakah tidak ada cara lain yang dapat ia gunakan untuk memberatkan pelaku?.
"Tapi, bukankah dari hasil cctv itu bisa membuat ia mengakui jika itu adalah perbuatannya?." Kazumi sangat heran dengan masalah itu?. Bagaimana mungkin tidak bisa dibuktikan dengan cara yang seperti itu?.
"Kecuali pada saat dia membuang tisu itu ke dalam tong sampah itu, ada bentuk rekamannya." Asakura tidak ingin sembarangan dalam bertindak, sehingga ia benar-benar dapat melakukannya dengan sangat baik.
"Ah!." Tiba-tiba saja pada saat itu Takeru teringat dengan apa yan telah ia lakukan.
"Apa?!." Asakura dan Kazami sangat terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Takeru.
"Aku pernah memasang kamera cctv tersembunyi ke arah sana." Takeru terlihat sangat bersemangat. "Itu karena aku sangat kesal dengan tetangga sebelah yang selalu melempari sampahnya ke arah belakang ini." Di sisi lain Takeru merasa sangat kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh mereka yang merupakan saingan toko milik mereka.
"Ho?. Boleh juga kau takeru." Kazami sangat senang mendengarkan apa yang dikatakan anggotanya itu.
__ADS_1
"Baiklah, baguslah jika memang seperti itu." Asakura juga lega mendengar ucapan Takeru.
...***...