
Sudah dua minggu ibuku tidak bekerja karena tidak ada yang menyuruh kerja otomatis aku tidak mendapat uang jajan. Di desaku ibuku hanya buruh upah di kebun2 orang. dulu ibuku punya kebun sendiri, akan tetapi harus dijual demi biaya rumah sakit kakek. Sejak itu jika tidak upahan di kebun orang ya orangtuaku tidak punya penghasilan. Aku ingiiiiin sekali minta uang pada ibuku. Tapi aku takut ibuku marah, ibuku itu kalau marah seperti singa kelaparan.
Hari itu aku di ajak susi menemaninya ke kantin.
" al kuperhatikan udah lama kamu gak pernah ngantin, kenapa?" tanya susi
" aku gak pernah dikasih uang saku sus... " jawabku lemas.
" emang kenapa? Lagi di hukum y." tika menebak-nebak asal.
" enggak lah. Emang aku salah apa kok dihukum."
" ya kali. Soalnya biasanya aku gak di kasih uang saku kalo di hukum ayahku." kata tika
" enggak kok." jawabku pendek. Sebenarnya aku malas menjelaskan keadaan orangtuaku yang lagi gak ada pekerjaan. Bahkan untuk makan sehari-hari ibuku harus berhutang kewarung.
" trus kenapa kamu gak dikasih uang saku? " susi masih penasaran.
" ya ... Itu karena ibuku gak punya uang. "
" masa gak punya uang tiap hari " seru tika
" ya mana ku tau! "
" ya udah deh maaf. Aku cuma tanya doang kok dari pada diem hehe,... Soalnya aneh aja seorang yang suka jajan tiba-tiba gak pernah jajan." sambung tika lagi.
" udah ah cin... Mending kita ngantin yuk." tiba-tiba susi menarik lengan tika sambil berlalu.
" eh tunggu! " aku berseru.
susi dan tika berhenti lalu menengok ke arahku
" kenapa? " tanya tika dan susi hampir bersamaan.
" boleh ikutan gak "
" ikut ngantin? Emang punya duit. " tanya susi tapi nadanya seperti mengejek.
" iya... Boleh kan? Boleh laah.. Please... " aku memohon.
__ADS_1
" gimana sus. Ada duit gak? " tika mempertimbangkan permintaanku.
" ada sih dikit. Seribu paling.. " jawab susi
" sama aku jugak."
" ya udah kita patungan.. "
" oke al, kita ada seribu sewang buat kamu nih." susi mengulurkan tangan menyerahkan uang koin 500 an dua buah padaku.
" iya nih. Yuk ikut ngantin." tika juga menyerahkan uang satu lembar bergambar orang memegang sebuah parang.
" wah terimakasih ya... Kalian baik banget sama aku. " ujarku sambil kegirangan. Aku langsung melangkah mengikuti kedua temanku yang tidak terlalu dekat ini.
Kami pun berjalan beriringan menuju kantin
Sampainya di kantin kami bertiga mulai memilih jajanan faforite masing-masing.
" bude aku miso y " kata susi memesan.
" kalo aku biasa bude, model y " tika juga memesan.
Setelah memesan kami menunggu di meja dan kursi kantin. Aku menunggu sambil makan gorengan... Aku sangat menikmati girihnya bakwan goreng dan tempe goreng yang kerispi banget.
' ah sudah hampir dua minggu aku gak pernah merasakan gorengan bude ijum, rasanya jadi enaak bangeet ' batinku sambil memperhatikan kantin bude ijum satu-satunya kantin di sekolah kami.
Pesanan kami pun sudah siap dan di suguhkan di meja kami " nih silahkan di nikmati, jangan lupa nambah hehehe " kata bude ijum yang ramah mempersilakan kami menyantap pesanan kami.
" iya budeee... " jawab kami bersamaan
" wah kangen banget aku sama es cendol bude nih hehe. " kataku sambil menyeruput cendol tepung beras yang di campur candil warna-warni. Rasanya suegeeerrr pol
" laiya kamu sudah lama gak kelihatan kemana?" tanya bude ijum padaku
" ada bude lagi rajin belajar dikelas kok. " jawabku asal saja.
" oh kirain kamu pindah sekolah al "
" enggak lah bude "
__ADS_1
Tak lama kemudian kantin bude ijum sangat ramai karena murid kelas lain baru saja selesai berolahraga.. Dan pasti banyak yang berebut membeli es aneka macam di kantin. Ada es lilin, es cendol, es ager, es balon, es sirup dll...
Aku dan kedua temanku sudah selesai dan mau membayar. Namun karena sangat ramai jadi harus mengantri... Kulihat banyak anak yang membayar hanya menaruh saja uang mereka di meja.
entah apa yang terjadi padaku tiba-tiba aku terpaku memandangi uang yang bertumpuk di meja dekat bude ijum melayani anak-anak jajan. Kedua temanku membayar dg cara yang sama mereka menaruh uang dan mengatakanbpada bude ijum.
" bude aku tadi beli miso dan es balon ya ini uangku" kata susi lalu menaruh uangnya di meja juga. Sementara bude ijum sibuk membuat pesanan-pesanan anak-anak lain.
" bude aku sudah bayar ya" kata tika juga sambil melempar uangnya kemeja karena terhalang anak lain yang sedang memesan jajan. Lalu tibalah giliranku
" bude ini uangku ya aku menyelipkan tubuhku di antara anak yang berdesakan menaruh uangku dimeja, tapi... Sambil menaruh uang aku mengambil uang yang nominalnya lebih besar, aku pura-pura terdorong anak lain supaya tidak ada yang curiga.
' yatuhan aku telah mencuri ' batinku sambil dag dig dug tak karuan karena takut ketahuan.
sebenarnya aku merasa sangat berdosa telah mengambil uang yang bukan hakku. Tapi entah bagaimana aku bisa melakukan hal ini...
Sambil berjalan menuju kelas bersama tika dan susi, pikiranku beradu antara menyalahkan dan membenarkan tindakanku.
" heh ngelamun aja! " seru susi mengagetkan ku.
" hah! Eh... Hehehe enggak kok. Siapa yang melamun." jawabku mencoba menutupi
" halah kalo bukan melamun apa namanya yang kalo diajak cerita gak merespon, aliran sungai... !" celetuk tika meledek sambil mengganti namaku dengan kata-kata yang mirip.
" iya tuh kita asik cerita kamunya dieeem aja, kesambet entar hhhh" susi menyambung sambil tertawa senang.
" mana ada kesambet, masa aliran sungai kesambet. Panjang dong aku." kataku tak mau kalah melucu .
" mikirin apa sih al? Penasaran aku." tika bertanya dengan ekspresi serius.
" ah enggak kok. Cuma keinget orangtuaku, kapan ya dapat duit. Biar aku bisa jajan sendiri lagi..." jawabku datar dan sedih.susi dan tika berpandangan lalu menatapku.
" maaf ya al gak maksud ngeledekin si tadi." kata susi merasa bersalah.
" iya al kirain tadi kamu lagi mikirin cowok" kata tika menimpali.
" hah cowok, maksudnya? " aku merasa heran tiba-tiba aku dikira mikirin cowok, cowok yang mana, siapa? Hahaha mana terpikir aku urusan yang mengenai cowok. " emangnya cowok rasanya enak? " sungutku merasa tak terima.
" hahahhahah.... " kedua temanku terbahak bersama sambil saling menabok pundak .
__ADS_1
Aku jadi mekin kesal pada mereka berdua bisa-bisanya ngatain aku lagi mikirin cowok, mana ada aku mikirin cowok. Yang ada aku tuh mikirin duit, gimana caranya punya duit biar bisa terus jajan. Meskipun aku sangat merasa bersalah sudah mencuri uang bude ijum tadi, tapi aku sedikit senang karena beberapa hari esok aku bisa jajaaan...