Hobby Jajan

Hobby Jajan
9. Uang Jajan Dari Bapak


__ADS_3

Seperti biasa pagi hari aku mempersiapkan diri hendak sekolah. Tak lupa ritual wajibku yaitu sarapan


Kali ini juwita dan Ibu ikut sarapan bersama.


" Eh, tumben sarapan wit " kataku sambil menyendok mkanan


" Emang kenapa ? Gak boleh ! " melirik kearahku sambil menaruh sayur ke atas nasi dlm piringnya.


" Heran ... "


" Emang keliatan aneh "


" Biasanya takut melembung 😛 "


" Ya kali, siapa tahu ada yg perhatian 😁 "


" Uhukk,,, " aku tersedak


Langsung mengambil segelas air putih dan meguknya


" Pelan2 makanya 😃 "


" 🤗"


" Soalnya u yg gendut malah banyak fans, jd aq pengen kayak kamu hehe "


" Emang iya wit ? " tanya ibu malah penasaran.


Sementara bapak hanya geleng2 melihat kekonyolan putri2nya


" Iya buk, kemarin Alira dapet surat cin.... Mmmm " aku membungkam mulutnya


" Ssshh... Diam " menarik tanganku


" masa sih wit " ibu bertanya pada juwita tapi melirik kearahku


Aku jadi tak berselera makan, entah karena malu atau malah marah.


Aku pun berhenti menyuapkan nasi kemulut. Lebih baik aku minum lalu berangkat saja.


Saat aku hendak pamit, Ayah bukannya menyambut uluran tanganku malah sibuk merogoh kantong2 baju dan celananya sampai ia temukan sesuatu yg tengah ia cari.


" Nah ini untuk jajan " ia mengulurkan uang sepuluh ribu rupiah padaku.


Tentu saja aku menerimanya dengan girang sudah sejak lamaaa sekali entah kapan terakhir aku diberi uang jajan oleh ayah.


Ayah juga memberikan jumlah uang yg sama pada juwita. Juwita pun menerimanya dg sangat senang.


" Weysshh tumben pak ngasih duit " kata juwita


" Iya bapak kan kemarin kerja " jawabku ikut campur saja


" Alhamdulilah bapak ada rejeki. Malahan hari ini bapak juga dapat kerjaan merenovasi rumah di pinggir desa " kata bapak


" Emang udah selesai pak mbuat kursinya " tanyaku


" Sudah dong makanya bapak sudah dibayar "

__ADS_1


" La kalo gitu kan mending, ibu jadi merasa punya suami. Gak kayak biasanya ibu yg merasa jadi suami " ibu berkata sewot tapi dg sedikit senyuman .


" Iya buk, maafkan bapak ya "


" Iya iya gak papa kok "


" Oh iya pak, kemarin Alira lihat ada yg bantuin bapak, siapa pak ?"


" O itu. Pegawai TU sama murit yg sengaja datang mau bantu bapak "


" Sengaja, kok bisa "


" Iya, katanya dia tau kalo bapak bisa merenovasi rumah. Terus dia bantu bapak buat ngasih tau bapak kalau ayahnya sedang cari orang buat merenovasi rumahnya "


" O.... Gitu, siapa namanya pak " tiba2 aku sangat kepo


Aku yakin dua murid cowok yg bantuin bapak itu tidak asing tp aku ragu.


" Dian, kalo temannya Andi "


" Hah ! " aku langsung melongo tak mengerti, sejak kapan Dian dan Andi bersama


Setahuku Dian itu selalu bersama dua sahabatnya. Tapi kok bisa kemaren dia malah bersama Andi ? ' ah mungkin kebetulan saja ' pikirku.


" Memangnya kenapa Al ? " bapak mengejutkan aku yg masih terbengong2


" Em... Hehe gak kok pak. Cuma nanya aja hehe "


" Memangnya kamu gak kenal sama mereka "


" Tau si pak tp kalau kenal belum terlalu "


" Ah yg bener pak "


" Iya malahan mereka begitu antusias waktu bapak nanya tentang kamu. Mereka saling dulu mendului untuk menceritakan kamu "


WOW !!!


Ada apa ini sebenarnya, benarkah yg dikatakan bapak. Aku pun kembali terhanyut dalam ke ter bengongan ku.


" Sudah berangkat sana, malah nglamun ntar kesambet. Nanti lagi terkesimanya kalo udah pulang sekolah " ledek juwita mungkin dia gemas melihatku. Atau malah iri karena babyak yg tertarik padaku. Hah banyak ?? Memang ada berapa


Aku segera menyalami Bapak dan Ibu lalu mengucap salam.


" Duluan y wit, yg banyak makannya biar cpet mekar wahahahaha " aku meninggalkannya yg menampakkan ekspresi cemberut


" Huh dasar gajah " umpatnya pelan


Aku melenggang menyusuri jalan menuju sekolah. Menghampiri sahabatku seperti biasanya. Aku sedikit bersenandung menyanyikan lirik lagu favoritku


*indahnya bulan tak seindah wajahmu


Manis madu tak semanis senyum mu


Bersamamu kasih kubahagia


Bersamamu kasih aku damai

__ADS_1


Hanya dirimu dihati ini


Engkaulah sayangku


Engkaulah cintaku*


" Hai Maya, Arini " teriakku pada dua sahabatku yg lagi2 menungguku dg setia


" Alira... Sini cepet " melambaikan tangan padaku


Aku setengah berlari menghampiri mereka yg terlihat tidak sabar menanti kedatanganku


" hey hey... ada apa ? Ada apa? " mereka langsung menarik tanganku lalu mengajakku duduk di pos ronda dekat persimpangan itu.


" Gimana ?? "kata maya


" Iya gimana hasilnya, siapa yg kirim surat? Apa benar Dian ? " kata Arini


Aku hanya diam. Mengamati kedua sahabatku yg begitu antusiasnya ingin segera mengetahui kebenaran tentang surat itu.


" Ayo ngomong ... Malah diem aja. Penasaran nih "


" Iya ih Alira bikin penasaran aja "


" 😂... Ok2 sabar ya "


Aku segera mengambil tasku membuka buku tugas dimana ada surat dan tulisan yg sama itu juga.


" Nih, aku mendapat bukti dari bukuku sendiri. tahu gini gak perlulah aku nyuruh kalian nyarii2 sample. " gerutuku menyesali upaya yg tidak berguna itu. Buang2 waktu saja.


" Hah jadi dia itu Andi ??? " Arini nampak murung setelah tau bahwa yg mengirim surat padaku adalah Andi.


" Lo lo lo, kamu kenapa Rin ? " tanyaku heran pada ekspresi Arini yg nampak kecewa.


" Berarti, cintaku bertepuk sebelah tangan dooong ... " Rengeknya dg lemas


" Hah ! Jadi kamu naksir sama Andi rin? " Aku juga terkejut mendengar bahwa sahabatku menyukai orang yg menyukaiku. ' Duh bagaimana ini ' batinku


" Kok kamu gak pernah cerita rin ? " tanya Maya juga, tak percaya sahabatnya menyimpan rahasia.


" Tadinya aku malu, karena blm tentu Andi punya perasaan yg sama dg ku. Selama ini dia dekat dg ku sering belajar bareng di kelas, bahkan tak segan2 duduk sebangku dg ku saat pelajaran. Aku kira dia tertarik padaku... Dia juga senang mendengarkan aku bercerita panjang lebar tentang kebersamaan kita. Tapi... Ternyata dia hanya ingin tau tentangmu " Arini menunduk penuh kekecewaan.


" Aduh maaf ya Rin... Kan bukan aku yg mau kalau jadinya seperti ini " ucapku tulus


Aku ingin sekali membuat Andi menyukai Arini, tapi bagaimana caranya, pikirku


" Tapi gak papa kok, cinta kan tak harus memiliki " Arini kembali cerah


" Aku janji deh gak bakal nerima Andi demi persahabatan kita. Lagian dia juga baru ngungkapin perasaannya doang. Belum nembak aku secara terang2an " kataku menyemangati Arini.


Lagian aku juga belum punya perasaan apa2 sama Andi. Selama ini aku juga blm pernah terfikir untuk mengenal cinta. Aku masih enjoy dg hobby makan dan jajanku...


Mudah2an semuanya gak akan jadi ribet deh. Malas banget ngurusinnya kalo ribet. Hidupku aja udah pas2an masa mau ditambahin ribetnya urusan perasaan.


" Ya udah, berangkat yuk. Ntar telat lagi " ucap Maya mengingatkan kami kalu harus segera sampai disekolah.


Kami pun melenggang meninggalkan pos ronda yg menjadi saksi bisu terungkapnya cinta segitiga diantara kami.

__ADS_1


Cinta segitiga ? Benarkah ! Atau hanya cinta monyet yg memainkan hati anak2 seperti kami.


***


__ADS_2