Hobby Jajan

Hobby Jajan
3. Mikirin Cowok


__ADS_3

Jam pelajaran sudah mulai namun aku masih memandangi selembar uang 20.000 an di tanganku.


' aku mencuri uang ! Aku berdosa... ' hatiku menyalahkan perbuatanku.


' ah tapi aku kan butuh jajan kalau tidak mencuri kapan lagi aku diberi uang saku oleh ibu. ' namun pikiranku membenarkan perbuatan itu.


Saat ini aku merasa ada dua diriku yang sedang berdebat mempertahankan pendapat masing-masing.


' ah kenapa pulak aku mencuri tadi... ' lirihku pelan ketika guru menyebut namaku


" Alira "


"Alira gustiro! maju kedepan, kerjakan soal nomer dua. "


" hah, apa buk? Alira maju kedepan? " kataku mengulang perkataan buk Siska guru matematika.


" iya mau dapat nilai enggak? " jelasnya kemudian.


" oh iya buk. Mau. " aku menjawab gugup. Aku sejak tadi tidak memperhatikannya, lalu sekarang harus tiba-tiba mengerjakn soal. Bagaimana ini?...


Aku maju kedepan sambil menatap soal di papan tulis dengan bingung dan takut.


kucoba mengamati soal itu, sepertinya aku pernah mengerjakan soal yang mirip, lalu aku mencoba menekan spidol ke permukaan whiteboard yang hari ini terasa sangat menyeramkan.


Kutulis angka demi angka dalam soal lalu kumasukkan kedalam rumus yang kuingat, kemudian kuhitung dan kutulis jawaban yang kutemukan, dengan sangat tegang sampai keluar keringat dingin.


" su- dah buk... " kataku gugup.


buk siska berdiri lalu memandangi hasil kerja kerasku.


" hmm oke, ibuk kira tadi kamu tidak memperhatikan, ternyata kamu bisa mengerjakan soal ini. Hari ini kamu dapat nilai 8 karena melamun di kelas..." tegasnya padaku.


" baiklah anak-anak, jam pelajaran sebentar lagi selesai. Soal nomer 3 sampai 5 silahkan untuk PR kalian. langsung kumpul ke kantor saja besok pagi ya... Yang tidak mengumpul PR ibu alpa-kan ok! Tris kamu yang bertanggung-jawab ya." kata buk Siska lagi menunjuk ketua kelas kami untuk mengumpulkan buku tugas kami sekelas besok pagi.


Bel tanda pelajaran telah usai berdentang keras di kantor staf TU yg ada di sebelah kantor GURU.


Semua murid berhamburan saling dulu mendului keluar pintu gerbang untuk segera pulang. Ada yang berlari, berjalan biasa, jalan santai sambil ngobrol, ada juga yang masih bersantai di atas sepeda mereka menunggu gerbang bisa dilewati sepeda.


Aku duduk di sebuah kursi yang ada di pos satpam dekat gerbang sekolah. Aku meyakinkan hatiku agar tak usah risau dengan perbuatanku hari ini.

__ADS_1


Tak lama muncul Arini dan juga Maya mengagetkanku yang emang lagi kurang fokus pada apapun.


" DUEERRR!!! " kedua sahabatku mengejutkan aku yang langsung berlonjak karena kaget.


" huh! Kalian apaan sih ngagetin aja..."


mereka malah terbahak bersama sambil kesenengan melihat ekspresiku. aku pun melengos pura-pura ngambek.


Tanpa sengaja pandanganku malah bertabrakan dengan tatapan seorang murid laki-laki dari kelas lain yang sedang duduk di atas sepedanya.


' Eh tapi apa iya dia melihatku, ah GR saja aku ini, tentu saja dia memperhatikan gerbang yang belum juga longgar untuk dilewatinya dg sepedanya itu. Tapi kenapa tadi hatiku bergetar saat melihat matanya, seperti.... Dia juga sedang menatap mataku ' aku membatin panjang lebar.


" hayo !!! Pandang-pandangan. Ciyeee.... " goda arini membuat aku salah tingkah.


" ciye-ciyeee cintrong ketemu cintrooong. Niyeee. " Maya gantian meledek dengan gemas.


" huss! Kalian apaan sih. Ya gak mungkinlah! Ngarang! wuuu " aku mencoba menghalau ledekan mereka.


Karena gerbang mulai longgar aku pun berlalu dari kedua temanku. Mereka berusaha mengejar dan mengimbangi langkahku.


" duuuh Alira jalannya pelan-pelan aja dong. " kata maya.


" iya nih kayak dikejar setan aja ngibritt " kata maya yang kalo ngomong selalu ada komedinya yang kadang lucu kadang juga ngeselin.


" Alira kamu tau gak kalau Dian itu menyukaimu? " Arini tiba-tiba ngebahas cowok tadi yang ternyata bernama Dian. Arini mau membuatku keGRan nih kayaknya.


" hah! " apa kamu bilang? " aku menghentikan langkahku untuk memastikan apa yang aku dengar. Berhasil juga Arini menghentikan aku. Dasar bocah tengil.


" hahahha.... Biasa aja terkejutnya. Ini cuma tentang cowok bukan guru bahasa inggris yang menyeramkan." tawa Arini lebar


" iya Alira. Arini tuh bener, selama ini kami berdua merhatiin siDian setiap pulang sekolah " maya juga berusaha menjelaskan tentang cowok itu.


" tau gak sudah sebulan lebih dia selalu ngeliatin kamu dari tempat parkir itu. " kata Arini.


" sebelumnya dia langsung pulang kalau sudah jam pelajaran selesai." kata maya, kompak sekali mereka menerangkan secara rinci kegiatan cowok itu padaku... Aku masih diam saja belum berkomentar pada cerita mereka.


" tapi sekarang dia selalu pulang paling terakhir. Dia belum pulang kalau kamu belum pulang." Arini berkata dengan gemas seakan dia yg sedang di kagumi cowok itu.


" oh ya? Masa sih. " kataku tak percaya

__ADS_1


" beneran tau ! " kata Arini yang paling heboh


" bener itu, Arini yang ngajak aku menyelidiki semua ini dan kemarin kami melihat Dian memandangimu saat jajan di kantin "


DEGHHH


Jantungku langsung berdegub kencang seperti genderang perang. Jangan-jangan?...


" kamu serius rin? " aku bertanya dengan muka sangat serius.


" iya "


" astaga ... " lirihku sambil membalik badan dan mengayunkan langkah gontai.


" eh kamu kenapa al kok langsung lemes gitu? " tanya maya mengiringi langkahku


" iya tadi biasa aja pas cerita parkiran, giliran cerita kantin kok jadi beda. Ada apa emang?" Alira mencoba menyelidiki diriku. Dasar sahabat tukang selidik, jangan-jangan besarnya jadi penyelidik.


" em.. Gak papa sih. Lagian ya gak masuk akal cowok se-ngegemesin Dian masa iya sukanya sama selender bedah kayak aku." jawabku mencoba menutupi ke khawatiranku.


" oh jadi kehilangan kepercayaan diri nih ceritanya ". Arini malah meledek lagi jadinya, sontoloyo nih bocah ya.


" tenang aja al, kalau yang namanya cinta itu BUTA al. Kalau sudah cinta ya gak peduli mau semut kering atau gajah bengkak. " maya malah ikut-ikutan.


" ish... Terus aja ya bahas si cowok bayi itu. Males aku jalan bareng kalian nih!" kataku mencoba menghentikan kegemasan kedua sahabatku pada mahluk bernama Dian itu.


" maaf- maaf... Habis aku gemes banget ada cowok ganteeeng banget di sekolah kita eh naksirnya ama kamu hihihi..."


" kenapa emang ?"


" ya lucu aja lo al... "


" awas ya kalian... Lagian belum tentu si... Siapa tadi? " mendadak aku lupa padahal sudah disebut terus dari tadi.


" DIAN. "


" DIAN SUSANTO namanya " Jelas sekali arini paling paham tentang cowok bayi itu. Aku sendiri malah baru tadi melihatnya dan sekarang mendengar namanya.


" o iya, belum tentu si Dian Susanto itu ngeliatin aku karena naksir, bisa jadi dia itu heran kenapa ada manusia yang gendutnya luar biasa kayak aku. Ya kan? "

__ADS_1


" hehehe... " kedua temanku terkekeh.


Tak terasa saking seriusnya membahas Dian Susanto kami tiba-tiba sudah sampai persimpangan jalan yang memisakan rumah kami bertiga. Kami pun saling pamit menuju rumah masing-masing.


__ADS_2