
Malam mulai datang, ketika aku menatap langit lepas yang mulai terlihat indah berkat bintang-bintang yang gemerlapan. Angin malam yang dingin namun terasa begitu menenangkan, menemaniku yang sendirian.
Aku teringat tatapan cowok itu, si DIAN SUSANTO tadi siang. Benarkah dia menatapku seperti itu karena menyukaiku, seperti yang dikatakan Arini dan Maya... Atau karena dia melihatku mencuri?
Aku sangat gelisah.
' pasti dia melihatku' gumamku dalam hati.
' Tapi kata Arini dia selalu menatapi diriku sudah hampir sebulan... ' batinku lagi.
' Kenapa aku tidak pernah memergokinya ya ? ' terus saja batin ini menduga-duga tidak jelas.
" Kok belum tidur? " ibuku tiba-tiba muncul membuat aku kaget saja.
" Hehe... Belum ngantuk bu, ibu sendiri kok belum tidur. Apa ibu besok gak kerja? " aku membalik pertanyaan ibu.
" Tadi ibu sudah tidur, ibu bangun karena kebelet pipis. Trus ibu lihat pintu kamarmu terbuka. Jadi ibu langsung kesini. " rumah kami memang seperti bangunan sekolah jadi setiap ruangan memiliki akses pintu keluar masuk pribadi, termasuk juga kamarku.
" oh... Tadi aku cuma melihat bintang, bu. Soalnya malam ini langitnya cerah . "
" Tumben, ada apa ? " sepertinya ibu penasaran.
" ya gak ada apa-apa kok bu "
" gak ada apa-apa kok sampe tidak bisa tidur, terus seneng liatin bintang. Kamu lagi mikirin cowok mungkin... "
" hah... Ibu ini ada-ada aja. Mana mungkin lah aku mikirin cowok lagian aku ini masih kelas 2 smp bu, gendut lagi mana ada cowok yang layak aku pikirkan... "
ibuku tertawa mendengar pengakuanku
" ya siapa tahu cowok itu matanya katarak jadi gak bisa melihat kamu dg jelas " candaan ibu terdengar menjengkelkan.
Ah tapi kenapa aku merasa kesal mendengar candaan ibu, lagian aku juga gak peduli lah mau gendut kek mau gembrot kek, bodo amat.
" apa besok ibu kerja? " aku menanyakan lagi pertanyaan yang belum ibu jawab.
" iya, besok ibu kerja di kebun mbah somat. Dia minta ibu menyemprot semut di pohon kopi, banyak semut rang-rangnya katanya.. "
__ADS_1
" kalau bapak apa masih belum kerja bu "
" ya gak taulah bapakmu itu masih blm dapat kerjaan juga, katanya gak ada yang nawarinlah, apalah, gak taulah ibu "
" oh gitu, ya sudah "
" kamu harap maklum ya, ibu blm bisa kasih uang jajan, buat makan saja untung masih bisa " kata ibu dg suara pelan, terdengar sangat perih dihati. Mungkin sebenarnya ibuku juga ingin meberi apapun yg kuminta, seperti ibu yang lain. Tapi keadaan tidak mendukungnya. Kasiannya ibuku...
Ibuku yg bernama Sumila itu sebenarnya sangat galak, apalagi kalau sedang memarahi kami anak-anaknya. Tapi kadang-kadang ibuku itu sangat terlihat menyedihkan... Ah ibu, trimakasih sudah selalu berusaha kuat demi kami.
Sedangkan ayahku bernama Jatmiko orangnya lembut, ramah, murah senyum. Tapi jarang kerja. Malah lebih sering dirumah memasak, mencuci pakaian dan pekerjaan IRT lainnya.
Setauku kalau sedang kerja ayahku itu kerjanya membangun rumah orang. Orang-orang sering menyebutnya TUKANG.
Entah kenapa tapi aku jarang melihat ayah bekerja...
" ya sudahlah, sudah malam lebih baik kita tidur yok. " kata ibu kemudian.
" memang jam berapa sekarang bu ? "
" sudah hampir jam 1 malam "
" eh bocah ... " ibuku tak melanjutkan kata-katanya dan berlalu masuk kerumah lewat pintu kamarku.
aku pun segera bangkit dan melangkahkan kaki menyusul ibu.
Aku menutup pintu kamar dan menguncinya, mengambil minum kedapur, meminumnya lalu kekamar lagi untuk tidur. Kulihat juwita yg sekamar dgku sudah lelap sekali tidurnya. Aku langsung berbaring disebelahnya segera tidur.
***
Pagi ini aku tak sabar ingin kesekolah. Setelah sarapan dua piring nasi dg sayur dan lauk yang menutupi seluruh permukaan piringku, ditambah lagi segelas teh hangat yang selalu ibu siapkan. Aku pun berpamitan, juwita juga.
" pamit pak, pamit bu, assalamualaikum " seru kami berdua setelah menyalami orangtua kami.
" waalaikumsalam " jawab bpk dan ibu bersamaan.
Aku dan juwita segera berangkat, jalan kaki tentunya. Karena sekolah kami tidak begitu jauh dr rumah.
__ADS_1
Sekolah dasar tempat juwita sekolah hanya satu gang jaraknya dari rumah, sementara sekolah menengah tempatku sekolah ada di pinggir desa yg harus melewati beberapa blok dari rumah.
Tak lama setelah melewati sekolah dasar. aku bertemu dg kedua sahabatku yang sudah menunggu di persimpangan jalan.
" hay udah lama ya nungguin aku? " kataku sambil mengajak mereka meneruskan langkah kaki.
" ya lumayanlah.. Untung hari ini gak piket kelas, jadi suantai " kata Arini
" syukur deh kalo kalian gak ada piket, jadi gak buru-buru. " kataku lagi.
" nang-te " maya berkata dengan membalik kosakata.
kami berjalan beriringan sambil bercanda tawa apa saja. Kami memang hampir tidak pernah bertengkar masalah apapun, kalaupun ada salahsatu dari kami yang ngambek pasti kami akan berusaha membujuknya sampai ngambeknya hilang.
kami bertiga saling mengenal saat masa orientasi siswa dua tahun yang lalu. Saat kami pertamakali menjadi murid di sekolah ini. Tidak di sangka kami bersahabat baik sampai hari ini. Bahkan kami bercita-cita akan bersahabat dan bersama sampai kapanpun.
Janji yang berat bukan. Padahal kami tidak tau apa dan bagaimana kehidupan kami dimasa depan... ahaha memang pemikiran kami masih sangat sederhana layaknya anak-anak.
sampai di gerbang sekolah kami berhenti dan duduk disebelah pos satpam. tempat favoritku untuk duduk karena tempatnya nyaman dan sejuk. Selain ada pohon besar yang rindang, ada juga beberapa tanaman didalam pot yang bermacam-macam j3nis bunga. Berbaris membentuk pagar menuju tengah halaman sekolah.
Aku melihat kearah parkiran, nampak begitu banyak sepeda yang terparkir. Mataku terfokus pada satu sepeda ditempat yg sama dimana cowok bernama Dian itu menatapku kemarin.
" ngeliatin apa lo... " tiba-tiba Arini menyenggol lenganku membuat aku kaget.
" ngeliatin sepeda lah emang ada yang lain disitu.." sentakku sedikit kesal dg pertanyaan Arini yg gak bermutu itu.
" halah... paling-paling lagi nyariin yg punya sepeda itu... " tambah godain aku aja si Arini ini.
" enggak ih, sok tau kamu " aku jadi munafik, padahal bener dugaan nya tadi.
" beneeer, gak ngaku aja paling... " Arini tertawa sendiri sambil melangkah menuju ruang kelasnya.
" hiss anak ini... " aku mendengus kesal tp tidak sekesal itu juga, karena dia sahabatku.
" yuk kita ke ruang kelas, bentar lagi pasti bel masuk " kata maya sambil melangkah menuju ruang kelasnya yg lebih dekat.
" baiklah " kataku mengikuti langkah maya.
__ADS_1
Kelas kami bertiga berbeda, Arini di kelas 2A, aku 2B, sedangkan maya di kelas 2C, tepat di samping tempat parkir.
***