
Atika POV
Training di hari pertamaku kemarin berjalan lancar, semua sudah ku rangkum didalam buku catatan kecil berwarna biru muda.
Hari ini hari kedua ku, aku merasa lebih bersemangat dibanding hari pertama kemarin. Kenapa? Karena hari ini Ian kembali dari Bali setelah menyelesaikan kerjaannya disana selama semingguan. Semalam ia menelfon, pesawatnya akan take off jam 2siang jadi dia bisa menjemputku pulang jam 5 sore nanti, ah senang rasanya akan bisa ketemu dia lagi.
Training hari ini berjalan lancar seperti kemarin, dimulai pada jam 8 pagi, istirahat makan siang jam 12 sampai jam 1 siang kemudian materi training dilanjutkan hingga pukul 5 sore.
Aku kelirik jam di pergelangan tangan ku, pukul 5:05 sore aku mulai menunggu Ian menjemputku dihalte depan kantor. Aku mengecek pesan whatsapp di ponsel ku, tidak ada pesan dari Ian.
15 menit aku duduk menunggu tapi belum ada tanda-tanda kemunculan Ian, aku kembali mengecek ponsel ku tidak ada panggilan ataupun pesan dari nya.
Aku mencoba mengetik pesan kepadanya kemudian menghapus nya kembali. Hufff mungkin ada sedikit kerjaan yang harus dia selesaikan. Aku keluar dari aplikasi whatsapp ku kemudian beralih ke game, mencoba mengalihkan perhatian dengan bermain game. Bosan bermain game aku beralih ke media sosial, mengecek pembaruan beranda hingga aku melirik jam di ponselku pukul 6:10 PM. Aku membuka aplikasi whatsapp ku kemudian mulai mengetik pesan untuk Ian.
Kamu sibuk? Aku udah pulang ✓✓ daritadi. Kamu ga lupa jemput aku kan?
Ceklis dua, artinya dia menerima pesannya. Aku menunggu balasan darinya dan kembali mengalihkan perhatian ku ke arah jalanan yang ada didepan ku.
10 menit... 15menit... Tidak ada respon dari pesanku tadi. Aku beralih ke papan tombol panggilan dan melakukan panggilan ke nomor Ian, beberapa kali berdering tapi tidak ada jawaban. Aku mencoba berpikir positif, mungkin ada meeting penting yang harus dia hadiri, oke aku harus bersabar beberapa menit lagi.
Aku kembali melirik jam tangan ku, kurang 5menit pukul 7 malam. Aku mencoba menelfon Ian lagi dan masih sama dengan sebelum nya tidak ada jawaban. Aku mulai tidak sabar dan terus melakukan panggilan ke nomornya, hingga panggilan ke 12 aku menyerah. Aku baru mau memasukkan ponsel ku ke tas tapi benda itu tiba-tiba berdering, aku menjawab dengan cepat tanpa melihat nama pemanggilnya
"Halo, kamu dimana?"
"Atika? Harusnya ibu yang nanya itu" aku menjauhkan ponsel dari telingaku lalu melihat nama pemanggilnya dan menghembuskan napas berat
"Ah iya, maaf bu aku kira temen aku yang nelfon"
"Loh emang kamu dimana? Ini udah hampir jam setengah 8, kamu kok belum sampai rumah?"
"Eh ini bu, aku lagi makan malam sama teman-teman aku jadi pulang nya agak telat. Tapi ini udah mau pulang kok" aku menjelaskan dengan menggigit bibir bawah ku karena berbohong pada ibu
"Kamu pulang naik apa?"
"Aku naik angkot bu"
"Yaudah kamu pulangnya hati-hati. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Iya bu, waalaikumsalam" aku mengakhiri panggilan lalu memasukkan ponsel ku ke tote bag ku lalu naik ke angkutan umum jurusan rumah ku.
•••
Seminggu berlalu setelah insiden Ian untuk pertama kalinya tidak menepati janji nya. Dan selama seminggu ini pun belum ada respon dari pesan-pesan dan panggilan telepon ku. Aku masih tetap berusaha berpikir positif, dia tidak mungkin mengabaikan ku apalagi meninggalkan ku dengan cara seperti ini tapi aku juga selalu mengoreksi diriku, apa aku melakukan kesalahan hingga dia tidak merespon segala kontak dariku?
Hari ini hari pertamaku bekerja ditoko setelah seminggu training di kantor pusat, meski pikiran ku sedikit kacau karena Ian yang tidak ada kabar, aku masih mencoba mengendalikan diri dan bersikap profesional terhadap kerjaanku. Dan aku bersyukur karena aku ditempatkan di toko yang lokasi nya dekat dari rumah, dan hampir semua crew toko nya pun mengenalku karena aku rutin berbelanja ditoko ini.
Hari-hari ku berlalu, seminggu... 2minggu... hingga 2bulan ini terasa kosong tanpa ada kabar dari Ian. Setelah 4tahun berhubungan dengannya baru kali ini dia menghilang, dulu saat kami bertengkar pun kami tidak pernah lost contact seperti ini. Riwayat panggilan keluar ponselku pun hampir semua hanya nama Ian.
Hari ini hari libur ku, seperti minggu-minggu sebelumnya seharian penuh ponsel ku tidak pernah lepas dari genggamanku kecuali saat ke kamar mandi. Kali ini aku kembali mencoba menghubungi nya, berulang kali, lagi dan lagi hasil nya tetap sama berakhir dengan suara operator.
Tok tok
Pintu kamar ku diketuk dari luar, ahh paling ayah, ibu atau Alana
"Masuk aja, ga dikunci!" Handle pintu diputar dari luar lalu muncul seorang wanita berambut hitam sebahu dari balik pintu
"Woi, anteng banget ngurung diri dikamar"
"Lagi mager gue. Lagian ini hari libur gue jadi yah mending rebahan di kamar"
"Males"
"Ih kok jadi kaum rebahan gini sih skarang. Gak asih ah"
"Mager ahh. Gue lagi pengen istirahat Miftah, besok harus masuk kerja lagi"
"Karena Ian?"
"Kenapa Ian?"
"Ian udah 2bulanan ini ga main kesini lagi kan? Kenapa? Lo putus?" Mataku yang tadinya terpejam sontak terbuka lalu menatap Miftah yang juga menatapku
"Sok tau lo. Putus darimana, orang kita baik-baik aja" aku memutuskan kontak mata terlebih dulu lalu kembali memejamkan mata
"Trus kenapa Ian ga pernah nyamperin lo kerumah lagi?"
__ADS_1
"Yahh. Dia sibuk kali"
"Tik, ga usah bohong kalo soal masalah hubungan lo sama Ian. Dari dulu mau lo ada masalah apapun sama dia pasti gue bantu sebisa gue. Jadi sekarang mending lo jujur"
"Gue ga bohong. Gue emang ga putus sama dia, cuma lost contact aja"
"Lost contact gimana?"
"Semenjak balik dari bali, dia ga pernah respon pesan-pesan gue apalagi buat jawab telfon dari gue"
"Alasannya?"
"Entah" aku kembali membuka mata menatap langit-langit kamarku sembari mengingat-ingat kesalahan apa yang kuperbuat hingga Ian mnghindariku seperti ini
"Jadi di menghindari lo tanpa ada alasan ? Kalian ga bertengkar sebelumnya?"
"Gak. Malah hari dimana dia akan pulang dari bali dia masih sempat nelfon gue, hari itu training hari kedua gue di kantor pusat dan dia janji bakal jemput gue kalo pulang"
"Dia datang?"
"Nggak. Lo tau? Gue nungguin dia mulai dari jam 5 sore sampai hampir jam 8 malam tapi dia gak datang juga. Boro-boro datang, angkat telfon atau balas pesan-pesan wa gue pun gak"
"Jahat banget. Fix kita harus samperin dia, kita minta penjelasan dia kenapa ngelakuin itu ke elo. Ayo!" Miftah bangun dan menarik tanganku untuk bangun juga
"Lo yakin kita harus samperin dia?" Tanyaku sedikit ragu
"Trus? Lo mau diem rebahan di rumah terus tanpa mau cari tau apa alasan dia mengabaikan lo kayak gini?" Aku terdiam berpikir sejenak, apa yang dikatakan Miftah ada benar nya, sudah dua bulan Ian menghindariku tanpa aku tau apa alasannya, mungkin aku memang harus ketemu dia lansung dan meminta penjelasan dari dia
"Yaudah gue bakal temuin dia"
"Yaudah ayo" Miftah mulai berdiri tidak sabaran
"Gak! Gue pergi sendiri aja. Lo ada bawa motor kan?"
"Lo yakin?" Aku mengangguk yakin lalu meminta kunci motor Miftah, stelah menerima kunci aku menuju lemari dan mengambil cardigan putih lalu mengenakannya.
Aku menuruni tangga lalu pamit ke ibu yang ada didapur kemudian keluar rumah sambil memakai helm, menuju motor matic berwarna putih yang terparkir didepan rumah lalu mengendarainya menuju rumah Ian.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Enjoy HIU 😘