Hope Is You

Hope Is You
Nineteen


__ADS_3

Pukul 6:15 pagi Atika selesai mandi kemudian turun ke dapur bermaksud membantu ibu menyiapkan sarapan


"eh sarapannya udah siap aja" Ibu yang berdiri menghadap kompor seketika menoleh mendengar Atika


"iya ini baru aja siap, tinggal disajiin aja" jawab ibu sambil memindahkan nasi goreng dari wajan ke mangkok besar


"pagi ibu, kakak jelek" ibu dan Atika serentak menoleh mendengar suara cempreng perempuan yang kini duduk dikursi menghadap meja makan dengan seragam putih abu-abu nya


"dih kayak yang cantik aja" Atika mencibir mendengar sapaan Alana


"iya dong, aku kan anak ibu dan ayah jadi cantik" Alana tersenyum sambil mengedip-ngedipkan mata


"siapa bilang? kamu itu anak pungut, yang ibu sama ayah temuin dipinggir jalan lagi nangis"


"ihhhh ibu, kak Atika mulai lagi kan" rengek Alana


"Atika ih, gak baik ngomong gitu" tegur ibu yang hanya dibalas tawa oleh Atika


"alhamdulillah anak ayah udah ketawa lepas" Ayah yang masuk ke ruang makan dan mengelus puncak kepala Atika mendengarnya tertawa.


Beberapa hari pasca pustusnya Atika dengan Ian, ayah memang sempat khawatir karena Atika yang selalu terlihat murung dan mata yang hampir setiap hari sembab karena menangis. Bahkan ayah sempat marah dan ingin menemui Ian tapi diurungkan karena ibu yang menenangkan nya mengatakan bahwa 'yang Atika butuhkan dukungan dari kita bukan malah menambah beban dengan membuat masalah baru. Lagian mereka masih pacaran yah, orang yang sudah terikat dalam ikatan pernikahan bertahun-tahun aja bisa pisah apapalgi mereka'


"iya yah, kayaknya karna efek pak supervisior kemarin itu Atika udah bisa move on" ibu yang sembari menyendokkan nasi goreng ke piring ayah menanggapi dan justru membuat Atika yang sedang meneguk air putih tersedak


"supervisior?" Ayah yang menatapnya meminta penjelasan menambah kegugupannya


"iya, kemarin Atika pulang diantar sama pak supervisior ganteng dan tinggi loh yah" ibu menjawab dengan antusias


"masa sih bu? ih kok gak panggil Alana, kan pengen liat juga" Alana yang menanggapi justru mendapat pelototan dari Atika yang meringis sebelum menjawab


"di..dia cuma atasan Atika yah, bukan siapa-siapa" kali ini ia mencoba menjelaskan meskipun sedikit terbata karena gugup


"kalo jadi siapa-siapa juga gak apa-apa, anaknya sopan dan keliatan baik, ibu suka sih" ibu masih kelihatan antusias menjelaskan yng justru membuat Atika memutar bola mata

__ADS_1


"ayah gak melarang kamu buat kembali menjalin hubungan, ayah hanya gak mau melihat kamu murung dan sedih kayak kemarin lagi"


"iya ayah, Atika juga masih gak siap kok buat deket lagi sama laki-laki, cukup yang kemarin." Atika menunduk menyembunyikan raut wajah nya yang kembali mendung


"kak, kalo si pak supervisior dateng lagi, panggil Alana juga ya. Penasaran nih" bisik Alana disamping nya dan lagi mendapat pelototan dari Atika.


"Atika mau siap-siap dulu, mau ke office pusat ada meeting soalnya" stelah menghabiskan nasi goreng dipiringnya, Alana pamit lalu naik ke kamar untuk berganti baju dan kembali kebawah lagi setelah siap. Ia pun berangkat tepat pukul 7:20 diantar oleh Ayah dan tiba setelah 15 menit perjalanan.


Ia berjalan santai melewati lobby dan naik ke lantai dua dimana ruang meeting berada, ia mengetuk sebentar pintu coklat didepannya lalu membukanya, didalam ruangan kursi belum dipenuhi oleh peserta meeting dan ia memilih duduk dipinggir barisan ketiga, ia melihat kursi didepannya seorang pria berkemeja biru benhur duduk sambil menundukkan kepala dimeja kursi lipat


'masih pagi udah tidur ckck' Atika geleng-geleng melihat penampakan didepannya dan bersamaan dengan itu ponsel di tasnya bergetar tanda panggilan telfon masuk, ia merogoh tas dan mlihat id penelfon "Ian", ia mengeser tombol merah pada layar ponselnya, mengabaikan panggilan telfon Ian yang terus terulang hingga 5kali, dan kembali bergetar ke 6kalinya membuat Atika menyerah dan menjawabnya


"Halo?" ia menjawab telfon dengan nada malas


"halo, Nis? Makasih, akhirnya kamu mau jawab telfon aku" suara Ian dari seberang terdengar senang yang dulu bisa membuat perasaannya bahagia tapi sekarang malah membuatnya terasa muak


"lansung to the point aja, aku gak punya waktu"


"aku mau ngajak kamu ketemu, plis kasih aku kesempatan buat jelasin ke kamu. Siang ini aku jemput di tempat kerja kamu yah? Kita makan siang bareng"


"hmm. Yaudah, nanti sore aku jemput gimana?" tawar Ian lagi tak putusasa


"gak, makasih. Kalo mau ngomong, ngomong sekarang aja aku gak punya banyak waktu"


"plis Nis, kasih aku kesempatan ngobrol langsung sama kamu. Aku gak mungkin jelasin ini telfon"


"kalo mau ngomong ya ngomong aja gak usah basa basi, lagian mau ngomong apalagi sih? Kemarin udah jelas kan!" tanpa sadar nada suaranya meninggi membuat beberapa orang yang ternyata sudah hampir memenuhi ruangan-menatapnya aneh, membuatnya harus menunduk dan menggerutu pada diri sendiri


"sayang? Lagi nelfon siapa?" laki-laki yang tadi menunduk dimeja kali ini bernalik membuatnya mengangkat kepala kaget dan kali ini semua mata yang ada diruangan menatapnya bergantian dengan laki-laki didepan nya


"halo? Nis?" belum sempat Atika menjawab Ian yang masih tersambung ditelfon, ponselnya lebih dulu direbut oleh Faiz-laki-laki yang tadi duduk didepannya


"halo, ini siapa?" Faiz yang sudah mengambil alih ponsel Atika

__ADS_1


"lo yang siapa?" Ian yang heran karna suara Atika berganti dengan suara berat laki-laki


"gue tebak, pasti lo laki-laki diparkiran kemaren kan? Mau apa lagi lo? Gak malu lo masih aja gangguin calon istri orang, sadar woi lo juga udah punya tunangan" Atika membelalakkan mata mendengar ucapan Faiz, belum sempat Ian membalas ucapannya Faiz melanjutkan yang membuat Atika hanya membuka mulut tidak percaya


"stop hubungi calon istri gue!" Faiz lalu mematikan sambungan telfon lalu duduk disamping Atika yang masih terlihat shock mendengar apa yang dikatakan Faiz


"gak pegel itu mulut terbuka terus?" Atika mengedip-ngedipkan mata sambil menggeleng mencoba mengembalikan kesadarannya, kemudian menyadari seisi ruanga sedang menatap mereka berdua dengan tatapan aneh, senyum-senyum, dan ada juga yang berbisik-bisik membuatnya menundukkan wajah sambil menggigit bibir bawahnya menahan malu, dan perhatian seisi ruangan pun beralih pada dua orang pemateri memasuki ruangan yang akan memulai sesi meeting.


• • •


Meeting selesai tepat di jam 4sore, Atika berusaha meninggalkan gedung office dengan cepat tidak ingin dihadang oleh beberapa peserta meeting untuk meminta klarifikasi tentang peryataan Faiz tadi pagi.


Siang tadi disaat istirahat makan siangpun beberapa perempuan peserta meeting mendekatinya, menanyakan hubungannya dengan Faiz yang membuatnya berakhir tidak menyelesaikan makan siangnya akibat terus ditanyai bagaimana hubungan mereka bisa terjalin, dimana tempat mereka pertama bertemu, dimana mereka berkencan, bagaimana cara Faiz menyayakan cinta, bagaimana Faiz saat berkencan, karna Faiz tentu saja terkenal dengan sikap dingin dan datar nya membuat banyak karyawan wanita tertarik


"hebat tau gak sih lo tik, bisa taklukin cowo dingin kayak pak Faiz" ucap Wina salahsatu peserta meeting yang mengelilinginya di kantin


"gue juga sempet tertarik sama doi tapi gak berani deket-deket dia karna dingin dan datar gitu" aku Dea yang duduk dihadapannya


"eh denger-denger dia pernah pacaran sama ACS dari toko mana gitu, gue lupa. Tapi katanya putus karna si cewe itu gak tahan sama sikap dingin pak Faiz" seloroh perempuan berpipi gembil disamping Dea *ACS (Assistant Chief of Store)*


"hooh hooh. Gue juga pernah denger, denger-denger juga pak Faiz itu sadboy alias pria gagal move on" sambung si perempuan berambut ikal dengan antusias, dan banyak lagi tanggapan-tanggapan lainnya


Atika terus berjalan keluar melewati pos jaga security meskipun beberapa kali mendengar nama nya di panggil oleh, Wina, Dea dan lain-lain hingga suara panggilan seorang perempuan yang ia yakin bukan suara Dea ataupun Wina-membuatnya menoleh


"Atika?" perempuan putih berwajah oriental mendekat ke arah nya


"iya?" kening Atika berkerut melihat perempuan dihadapannya, mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan perempuan ini


"kamu gak ingat sama aku?" tanya perempuan itu dengan senyum manis melihat Atika yang tidak mengenalinya


"aku Selly, tunangan Ian" raut wajah Atika seketika berubah menyadari siapa dan kapan dia pernah bertemu perempuan ini.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Enjoy HIU 🤗😘


__ADS_2