
Atika mengantar Ian sampai kep gerbang rumahnya, setelah pulang dari cafe tadi Atika dan Ian lansung menuju rumah Atika karena dirumah Atika keluarga besar dan juga kerabat dekatnya sudah menunggu kepulangannya dari universitas pasca wisudah nya siang tadi, dirumahnya sedang diadakan syukuran kelulusannya yang kini menyandang Sarjana Manajemen.
Setelah berbincang-bincang sedikit dengan keluarga besar Atika dan menyantap beberapa makanan yang telah disediakan oleh keluarga Atika, Ian kemudian pamit pulang dan akan kembali pukul 7.00 nanti malam menjemput Atika untuk membawa gadisnya itu bertemu dengan kedua orangtua nya dalam rangka perkenalan, karena tidak lama lagi Atika akan dipersunting lelaki itu.
"jam 7 entar kamu udah harus siap yah? Aku akan jemput kamu tepat waktu" ucap Ian setelah berada didepan pagar rumah Atika, dengan menekankan diujung kalimatnya dan dijawab anggukan oleh Atika
"kamu mau dan siap kan ketemu orang tuaku?" lanjutnya lagi
"emang kalo aku bilang belom siap, bisa ditunda?"
"yah jangan sampai gak siap apalagi ditunda dong, aku udah gak mau nunggu lama lagi buat halalin kamu dan miliki kamu seutuhnya" ucap Ian lembut dan menggenggam tangan Atika
Atika tersenyum sebelum menjawab
"iya, insya Allah aku siap"
"yaudah masuk sana" Ian melirik jam tangannya, jam setengah 6. Batinnya lalu melanjutkan "masih ada waktu setengah jam buat istirahat trus mandi, sholat dan siap-siap kan?"
"iya, udah gih jalan sana entar dijalan macet trus kamu telat ngejemput aku ntar"
"ngusir?" Ian memasang tampang sedih
"iya ngusir, supaya kamu sampai rumah sebelum maghrib-an dan masih cukup banyak waktu buat siap-siap trus jemput aku biar kita gak telat nyampe di restoran buat ketemu mama-papa kamu" jelas Atika panjang
"ciee yang udah gak sabar pengen ketemu camer, ciee." goda Ian yang justru membuat Atika memutar bola matanya
"udah ah aku masuk aja, pengen rebahan sejenak trus mandi, sholat, bobo dehh" Atika baru ingin membalikkan badannya tapi dengan cepat ditahan oleh Ian dan
Cupp
"sampai ketemu ntar malam Nis ku sayang" kata Ian setelah mengecup kening Atika lalu berbalik menuju Ford fiesta nya yang terparkir tidak jauh dari rumah Atika
Atika hanya membalas dengan senyuman dan merasakan pipinya memanas karena merona 'udah 4tahun sama-sama masih aja merona tiap dicium, malu-maluin lo Atika' batinnya.
Ian membunyikan klakson sebelum mobilnya melaju meninggalkan rumah Atika, Atika lalu berlari kecil masuk kedalam rumah.
"ciee yang entar lagi jadi nyonya Hardian" goda Miftah--sepupu sekaligus sahabat Atika dari kecil, ketika melihat gadis itu masuk rumah dengan senyuman mengembang dibibirnya
Atika mendelik lalu menjawab
"syirik aja lo, mblo!" ledek Atika
"yeee, enak aja gue bukannya jomblo yahh, yang ngantri pengen jadi pacar gue itu buuaaanyaaak tapi gue nya ajah yang ngerasa belom ada yang pas" jelas Miftah menyombongkan diri karena memang Miftah dan Atika merupakan dua yang tercantik diantara sepupu-sepupunya, bisa dibilang sebelas-duabelas cantiknya
"tetep aja jom-blo alias gak punya pacar wlee" Atika memeletkan lidah mengejek Miftah
__ADS_1
Miftah mendengus kesal yang membuat Atika tertawa
"eh btw, gak kerasa yah hubungan lo sama Ian sekarang makin serius dan bentar lagi naik pelaminan" ucap Miftah dengan senyum sumringah
Atika duduk disamping Miftah disofa ruang tengah yang juga merupakan ruang nonton keluarga
"iya gue juga gak pernah nyangka kalo hubungan gue sama Ian bakal seserius ini" balas Atikah tidak kalah sumringah
"iya gak nyangka banget, mak comblangnya siapa dulu dong? Gue hahaha" Miftah menepuk dadanya menyombongkan diri kemudian tertawa senang
"iya biarpun sempet kege-eran kan" sambung Atika dan membuat tawa Miftah berhenti
"ish jangan ingetin masalah itu kali. Cowok lu tuh yang bikin gue kege-eran" Miftah kemudian mendengus mengingat masa lalu.
Ian bisa berhubungan dekat dengan Atika memang berkat Miftah meskipun awalnya Miftah mengira dia yang akan digebet oleh Ian
-flashback On-
Juli 2012
"Anak PKL yang sekarang cantik-cantik yah" seorang cowok kini duduk dihadapan seorang cewek berkemeja putih dengan lambang osis coklat disaku dada kirinya dan dibalut jas hitam dan juga rok span hitam.
"Ya?" cewek dengan rambut hitam sebahu dan poni lemparnya mengerutkam dahinya heran.
"oh iya kenalin, Hardian panggil Ian aja" lanjutnya lagi menyodorkan tangan kanannya, memperkenalkan diri.
"Miftah" cewek itu menjabat tangan cowok bernama Ian tadi.
"Hardian? Andi Hardian Altar bukan?" tanyanya memastikan dan Ian mengangguk dan tersenyum samar.
"Oh My! Sumpah demi apa yang ada didepan gue sekarang Andi Hardian Altar, putra mahkota alias pewaris tunggal Altar group dan sekarang gue PKL dikantor pusat nya" Miftah membatin panjang lebar dengan mulut yang terbuka dan mata yang membulat.
"Mulut kamu kenapa?" tanya Ian berusaha menahan tawanya.
Miftah dengan cepat menutup mulutnya dan berusaha menetralkan expresinya.
"Engg.. ada.pe.perlu apa yah... Mas eh engg kak ?" tanyanya gugup.
"hahaha santai aja kali. Panggil Ian aja"
Miftah tersenyum canggung lalu mengangguk "iya kak eh aduh Ian!"
"Ohya, bukannya yang PKL dibagian marketing ada dua orang?" Miftah menjawab dengan anggukan lalu Ian melanjutkan " yang satunya mana?"
"Tadi dia disuruh sama kak Angel buat ke ruangan pak Mukhtar kepala bagian Marketing, minta tanda tangan dibeberapa berkas"
__ADS_1
Ian mengangguk-anggukkan kepala lalu kemudian kembali buka suara selama beberapa detik hening diantara mereka
"Ohya, boleh minta sesuatu gak?"
"Apa?" Miftah menaikkan alisnya.
"Boleh minta nomer hp?"
Deg deg
Jantung Miftah berdetak cepat dan menambah kegugupannya
"bu.buat a.apa?"
"Yah pengen kenal ajah"
Dengan gugup Miftah menyebutkan nomor hp nya
"Namanya siapa?" tanya Ian kembali setelah mengetik nomor yang disebutkan Miftah ke hp Blackberry nya.
Miftah mengernyit lalu menjawab "Miftahul Jannah Halim, pendeknya Miftah"
Kini justru Ian yang mengerutkan dahi.
"Maksud aku teman kamu. Bukan kamu" Ian kemudian terkikik geli menyadari terjadinya kesalahpahaman kecil ini.
"A.apa? Ja.jadi yang k.kamu minta itu nomer h.hp nya Atika?" tanya gadis itu terbata-bata karena perasaan kesal dan malu jadi satu
"Hehe iya, aku juga salah sih minta nya gak spesifik nyebutin nomer hp siapa jadinya salah paham gini deh. Maaf yah" Ian malah manyengir memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi dan putih
Dengan wajah memerah karena kesal dan malu Miftah mendengus kemudian merebut BB bold milik Ian dari tangan pemiliknya lalu mengetikkan nomor hp Atika, setelah meng-save nya Miftah menaruh hp Ian kemudian berdiri lalu meninggalkan Ian yang setengah teriak berterima kasih kepadanya
-flashback off-
"huahahahaha" Atika tertawa terbahak -bahak membayangkan wajah malu Miftah waktu itu
"ngakak aja sepuas lo. Cowok lu juga sih ngomongnya gak jelas, siapapun ceweknya kalo Ian mintanya cuma bilang 'boleh minta nomer hp' pasti tu cewek lansung kege-eran" Miftah mendelik kearah Atika
"lagian ni yah, kalo bukan karena gue hubungan kalian gak langgeng sampe sekarang"
"iya iya, makasih yahhh my besti cousin. Lo emang sepupu sekaligus sahabat paling ngerti deh pokoknya" Atika memeluk Miftah dari samping lalu mengecup singkat pipi sahabatnya tersebut.
Atika memang patut berterima kasih kepada Miftah atas kelanggengan hubungannya dengan Ian karena dari awal hubungan mereka Miftah lah yang mencarikan jalan agar Atika mau menerima ajakan ngedate dari Ian setelah jadian pun jika diantara Ian dan Atika terlibat pertengkaran kecil, Miftah lah yang berusaha menyatukan mereka kembali hingga pertengkaran keduanya tidak berlarut-larut, meskipun pada awalnya gadis itu begitu kesal dengan pertemuan awal dirinya dengan Ian tapi ia berusaha mengerti bahwa saat itu dialah yang terlalu kege-eran sehingga terjadi salah paham.
❤❤❤
__ADS_1