
Author POV
Seminggu pasca insiden patahati yang dirasakan Atika, ia mulai bisa menata hati meskipun kadang masih merasakan nyeri didadanya saat melihat cincin pemberian Ian yang masih bertengger manis di jari manis nya atau kadang melihat pasangan muda-mudi yang berbelanja di toko yang membuatnya kembali merindukan saat-saat manis bersama Ian.
Sore ini ia sudah bersiap untuk pulang kerumah setelah bekerja di shift pagi, tapi urung ia lakukan karena didepan toko terlihat mobil berwarna silver terparkir dan tidak lama keluar seorang pria dari arah pintu kemudi
Ia kembali menyimpan tasnya diloker karena perintah sang pemilik mobil untuk briefing mingguan, siapa lagi jika bukan "bos kulkas" julukan yang berikan oleh Nindi untuk Faiz.
Setelah hampir 30menit briefing, Atika kembali ke loker untuk mengambil tas nya dan bersiap untuk pulang hingga suara berat nan dingin mengintrupsi kegiatan say bye nya dengan Nindi yang bertugas shift siang
"Kamu jangan pulang dulu. Temani saya ke toko ATK" ATK (alat tulis kantor). Atika yang tidak mungkin bisa menolak perintah boss kulkas nya itu terpaksa hanya mengiyakan meski saat ini ia sangat ingin lansung pulang dan beristirahat karena besok pagi harus ke office pusat menghadiri meeting yang harusnya dihadiri Galih tapi yang bersangkutan tidak bisa karena besok jadwal nya untuk off day dan mau tidak mau Atika yang jabatannya Assistant Chief of Store lah yang harus menggantikannya.
Dan sore ini disinilah dia, di toko pusat perbelanjaan ATK bersama pria yang benar-benar menyerupai kulkas saking dingin dan datarnya. Atika pun beberapa kali menguap saat mereka masih berada di mobil dalam perjalanan ke toko ATK ini saking bosannya karena sama sekali tidak ada obrolan diantara mereka, hingga tiba di toko ATK pun tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Faiz. Hingga sebelum mereka akan mengantri di kasir untuk membayar barang belanjaan untuk office toko dan untuk keperluan pribadi Faiz, kalimat pertama yang meluncur dimulut Faiz hanya,
"Tolong kamu pisah barang untuk di office toko dan barang saya. Biar struk belanjanya juga dipisah sama mbak kasirnya" dan Atika pun hanya mengangguk dan mulai memilah dan memisah barang untuk di office toko lalu berjalan keluar menunggu di pintu masuk toko karena Faiz yang akan membayar semuanya.
Setelah membayar belanjaan, mereka pun berjalan beriringan sambil masing-masing menenteng kresek berisi ATK menuju parkiran mobil yang berada disamping sebuah butik ternama karena pada saat masuk tadi parkiran mobil ditoko ATK sudah full jadi terpaksa Faiz memarkirkan mobilnya disamping sebuah butik yang tidak jauh dari toko ATK
Diperjalanan menuju tempat mereka parkir Atika hampir terserempet sebuah motor yang melaju cepat dari arah belakang, membuat Faiz dengan cepat menariknya ke pinggir
"Bawa motor kayak orang mabok aja" gerutu Faiz setelah menarik Atika lebih ke pinggir
"Faiz!" Perhatian mereka tiba-tiba teralihkan oleh teriakan seorang pria di belakang mereka, membuat keduanya serentak menoleh dan disana berdiri seorang pria yang tingginya hampir sama dengan Faiz hanya keliatan lebih atletis dengan penampilan rapih khas bos-bos besar perkantoran.
"Arga?" Faiz dengan kening sedikit berkerut menatap pria berkemeja biru dibalut jas hitam
"Anjay. Tiba-tiba bisa ketemu disini selama hampir enam bulan gak ketemu" pria tadi pun mendekat lalu bersalaman dan memeluk Faiz dan juga di balas pelukan dan tepukan di bahu si pria yang disebut Arga oleh Faiz
"Apa kabar lo?" Lanjut pria tadi setelah melepas pelukan mereka 'mereka yang pelukan kok gue yang merasa ada yang aneh disini' gumam Atika dalam hati yang sejak tadi hanya melongo menatap mereka berdua
"Baik. Lo apa kabar? Gimana perusahaan?" Jawab Faiz dengan senyuman, senyuman yang membuat Atika ikut tersenyum melihatnya karena ini senyum perdana Faiz yang Atika lihat dan 'ih kenapa gak senyum setiap hari coba padahal dia manis gini kalo senyum' gumamnya lagi dalam hati
__ADS_1
"Gue juga baik. Kalo perusahaan yahhh... Eh btw dia?" Si pria tadi bertanya menunjuk Atika
"Oh dia Atika, Atika ini Arga sahabat saya" mereka hanya saling melempar senyum
"Pacar? Syukurlah kalo udah move on" Arga tersenyum terlihat senang tapi justru membuat senyum Atika berubah menjadi kerutan heran
"Bukan. Saya bukan pacar nya pak Faiz" Atika sambil menggeleng
"Kalo bukan trus itu.. daritadi..." Arga menunjuk dengan dagu ke arah tangan Faiz dan Atika yang masih berpegangan erat pasca hampir keserempet tadi membuat mereka dengan cepat saling melepaskan setelah menyadari 'pantesan daritadi berasa ada yang aneh ih Atika oon kok gak nyadar sih' gerutunya lagi dalam hati
"Engh Atika, kamu duluan aja dan tunggu saya di mobil. Ini kunci nya, nanti saya nyusul" Atika menerima kunci mobil yang diberikan Faiz lalu dengan cepat berjalan berusaha menyembunyikan semburat merah dipipinya meninggalkan Faiz yang terlihat kikuk dan Arga yang tersenyum geli melihat Atika
Atika berjalan menuju mobil silver yang terparkir disamping sebuah butik sambil terus menggerutu karena tidak menyadari tangannya yang terus digenggam Faiz, ia menekan tombol unlock pada kunci yang dipegang dan membuka pintu memasukkan barang belanja ke jok belakang. Setelah menutup pintu ia melihat sebuah mobil berwarna ungu gelap-yang tidak asing baginya, terparkir tepat di depan butik. Ia mencoba mendekati dan memperhatikan mobil tersebut dari dekat hingga ia dibuat terlonjak kaget oleh teguran seseorang di belakangnya
"Permisi?" Atika berbalik mendengar suara berat dibelakangnya dan dadanya kembali merasakan sesak melihat laki-laki yang selama hampir tiga bulan ini ia rindukan.
"Nis?" Satu-satu nya orang yang memanggilnya dengan sebutan nama tengah nya 'Nis itu bukan hanya kependekan dari nama tengah kamu, tapi karna senyum kamu itu manis dan akan selalu jadi pemanis alami dihidupku' begitu katanya dulu saat ditanya oleh Atika kenapa dia memanggilnya dengan Nis atau kadang Nisku sayang .
"Yang?" Atika mengulang kata pertama perempuan tadi dengan tatapan yang sulit terbaca
"Ah aku lupa, kalian kan udah tunangan, dan.." Atika beralih memperhatikan bangunan di belakangnya yang bertuliskan nama butik ternama
"Kalian pasti abis fitting gaun pernikahan yah? Amazing" Lanjutnya yang tidak bisa lagi menyembunyikan raut wajah terluka meskipun masih memaksakan sudut bibirnya untuk tertarik membentuk seulas senyuman getir
"Nis, kebetulan kita ketemu disini, aku mau jelasin se.." kalimat Ian menggantung karena Atika dengan cepat mengangkat telapak tangan nya memberi isyarat agar berhenti bicara
"Udah gak ada yang perlu di jelasin. Aku udah paham betul apa yang terjadi diantara kita" Atika berbalik dan berjalan meninggalkan Ian, ia benar-benar tidak bisa lagi menahan bulir bening dimatanya untuk tidak menetes.
Ia berusaha berjalan secepat mungkin agar bisa sampai di mobil Faiz secepat mungkin tapi ternyata Ian masih mengejar nya meninggalkan gadis yang terus menatap mereka sendu.
"Nis, plis dengerin aku dulu. Maafin aku, aku gak sempat dan gak sanggup ketemu kamu karna ma..." Ian berhasil meraih pergelangan tangan Atika tapi lagi, kalimatnya terpotong kali ini karena Atika melepaskan tangannya dengan satu kali hentakan
__ADS_1
"Udah! Kamu gak usah jelasin apa-apa, karna bagi aku kita selesai, tanpa harus ada penjelasan bertele-tele. Perempuan disana sudah cukup menjelaskan kalau hubungan kita selesai, dan kamu.." Atika menarik napas sejenak berusaha menetralkan dadanya yang naik turun karena emosi
"Sebaiknya jaga perasaan perempuan disana, cukup aku yang kamu bikin kecewa dan sesakit ini" Atika berbalik lalu masuk ke mobil, meraba dadanya yang berkali lipat lebih sakit dibanding saat melihat Ian memasangkan cincin dijari perempuan itu seminggu lalu
"Nis.. plis kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya" Ian terus mencoba mengetuk-ngetuk kaca mobil berharap Atika mau mendengarnya
"Nis, sayang, plis dengerin aku.."
"Permisi!" Suara berat seorang pria mengintrupsinya mengetuk kaca mobil membuatnya menoleh
"Ada apa?"
"Ehem, maaf seharusnya saya yang bertanya ada apa, kenapa anda mengetuk kaca mobil saya?" Faiz, yang langsung menghentikan obrolan seriusnya dan meninggalkan Arga karena dari jarak yang tidak begitu jauh sedari tadi melihat adegan Ian mengejar Atika hingga kemobil nya
"Lo siapa?" Ian mengeryitkan dahi meneliti Faiz dari atas hingga bawah
"Itu juga harusnya pertanyaan saya. Anda siapa?" Ian-yang emosinya sudah tidak terkontrol ditambah Atika yang mengabaikan nya, maju selangkah dan menarik kerah kemeja yang dikenakan Faiz membuat Selly-perempuan yang sedaritadi hanya berdiri didepan butik menjadi penonton, dengan cepat berjalan mendekat kearah Ian dan Faiz
"IAN STOP!" Mendengar jeritan perempuan diluar membuat Atika menoleh melihat apa yang terjadi dan dengan cepat keluar dari mobil melihat Ian yang bersiap melayangkan bogem ke wajah Faiz yang masih saja terlihat datar
"IAN!" Ia pun sama menjeritnya dengan Selly
"Apa-apaan sih? Gila yah kamu!" Atika dengan cepat melepaskan cengkraman Ian dikerah kemeja Faiz
"Nis? Dia siapa?" Melihat wajah Atika yang merah karena menahan marah membuat Ian bertanya dengan lirih dan Atika yang dadanya masih naik turun tidak bisa berpikir apa-apa lagi, kemudian menggenggam tangan Faiz dengan erat
"Dia orang yang saat ini selalu ada buat aku. Dia calon suami aku"
🖤🖤🖤
Enjoy HIU 😘🤗
__ADS_1