
"Aku gak yakin bisa kembali menumbuhkan harapan dihati aku. Yang kemarin terlalu menyakitkan buat aku, membuat aku beranggapan kalo Harapan itu angan, angan itu imajinasi dan imajinasi itu gak nyata."
"Tapi aku, aku yang akan membuat harapan itu bukan sekedar angan."Ucap Faiz yakin lalu kembali menyentuh dagu Atika dan membuatnya menoleh agar bisa menatapnya langsung.
"Setiap manusia punya masa lalu, pahit, manis, asam, itulah kehidupan. Seseorang akan naik kelas setelah ujian begitu juga kehidupan. Untuk itu izinkan aku untuk menyembuhkan bahkan membuatmu lupa jika pernah merasakan sakit itu" Setetes bulir bening lolos dari pelupuk mata Atika yang terus menatap mata Faiz.
"Loh kok nangis?" Tanya Faiz menangkup pipi Atika dengan kedua telapak tangannya dan mengusap pipi gadis itu yang kembali basah karena airmata.
"Tapi aku takut, aku cuma jadiin kamu pelarian." Faiz tersenyum miring mendengarnya.
"Gak apa-pa, jadiin aku pelarian dan aku akan buat kamu gak bisa lari dari aku." masih menangkup pipi Atika, Faiz menatap kedalam mata lalu turun ke bibir 'tahan Faiz tahan, dia bakalan kabur dan menjauh kalo lo seagresif itu' ia membatin sambil mengenyahkan pikiran kotornya saat melihat bibir ranum gadis didepannya, dia pemuda normal tentu akan tergoda hanya dengan melihat bibir merah seorang gadis apalagi hanya mereka berdua yang berada di satu ruangan.
"Kamu mau kan kasih aku kesempatan?" Tanya Faiz lagi dan Atika lagi-lagi lebih dulu memutuskan pandangan karena tidak bisa mengatur laju detak jantungnya.
"Boleh kasih aku waktu?" Tanya Atika lirih, Faiz mengerutkan kening lalu menghembuskan nafas.
"Kamu mau menghindar lagi?" Tatapan Faiz menjadi sendu mendengar pertanyaan Atika.
"Ng.nggak. Kita ketemu seperti biasa, cuman aku belum bisa ngasih jawaban sekarang." Faiz yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan nafas berat.
"Yaudah. Segimana enaknya kamu aja." Atika menoleh-menatap Faiz dan dibalas senyuman oleh Faiz yang membuat Atika juga ikut tersenyum.
"Mau pulang sekarang?" Atika menjawab dengan anggukan dan masih dengan senyuman.
• • •
Hari ini Atika masuk kerja shift siang, ia melirik jam didinding yang jarum pendeknya sudah menunjuk angka 1, ia baru ingin rebahan barang satu jam saat ponselnya bergetar sekali tanda pesan masuk.
Ia meraih benda tipis yang tergeletak di nakas samping ranjangnya lalu membuka notifikasi chat berwarna hijau. Beberapa pesan yang belum terbaca dan kebanyakan dari grup toko dan laporan-laporan kerjaannya, dan ia lebih tertarik untuk membuka chat yang berada dibaris paling atas-dari Faiz.
Faiz:
Assalamualaikum. Masuk shift apa?
Atika:
Waalaikumsalam. Entar masuk siang.
Faiz:
Udah makan siang?
__ADS_1
Atika berpikir sejenak, 'gue belum makan siang yah? Tadi abis sarapan, bantu ibu beberes trus mandi dan keterusan nonton drakor recommended dari Alana. Ya kan belom maksi gue, pantesan perut udah kempes aja.' ia berdialog sendiri sambil menepuk jidat dan baru menyadari kalau pesan kedua dari Faiz sudah masuk lagi.
Faiz:
Mau nemenin aku makan siang?
Ia kembali berpikir, 'gak ada salahnya terima ajakan dia tik. Yuk cuss!' Sambil mengangguk ia mengetikkan balasan.
Atika:
Boleh. Ketemu dimana?
Faiz:
Aku didepan rumah kamu.
Whattt?? Seketika Atika bangun dari rebahannya lalu berjalan cepat ke arah jendela kamar yang bisa menampilkan keadaan depan pagar rumah, dan benar disana sudah terparkir mobil silver.
Ia keluar dari kamar lalu setengah berlari menuruni tangga dan keluar menemui Faiz.
Tokk tok
Atika mengetuk kaca mobil dari arah kemudi yang terlihat dari luar Faiz sedang sibuk dengan ponselnya dan segera membuka pintu begitu mendengar ketukan dari kaca disampingnya.
"Mau langsung berangkat?" Bukannya membalas sapaan Faiz, ia malah langsung to the point.
"Gak mau ganti baju sekalian? Abis kita makan, kita jalan bentar trus aku langsung antar ke toko." Atika mangut-mangut lalu mempersilakan Faiz untuk menunggunya didalam rumah saja.
15menit kemudian Atika turun dengan seragamnya yang dibalut sweater hoodie warna plum dan sling bag hitamnya.
"Yuk!" Ajaknya pada Faiz yang duduk dikursi teras, ia memilih untuk tidak duduk didalam begitu tau ayah dan ibu Atika tidak dirumah karna sedang menghadiri arisan keluarga dirumah tante Evi-adik dari ibu, dan Alana yang belum pulang sekolah. Ia tidak ingin tetangga berpikir yang tidak-tidak kalau ada yang melihat Atika membawa laki-laki masuk kerumah pada saat keadaan rumah sedang kosong.
Faiz tersenyum begitu melihat Atika yang sudah siap dengan rambut hitamnya yang dikuncir
"Mau makan apa?" Tanya Faiz saat mereka sudah duduk didalam mobil yang melaju pelan-keluar dari gerbang kompleks.
"Emhh. Coto plus ketupat kayaknya enak." Faiz mengangguk setuju.
Mereka tiba di warung coto Makassar langganan Faiz, lalu memesan isian sesuai selera masing-masing. Faiz yang memilih daging-paru dan Atika memesan daging tok (daging saja).
Tidak lebih 5menit pesanan mereka diantarkan lengkap dengan es teh manis. Mereka menyantap tanpa suara, sesekali Faiz menawarkan tambahan ketupat pada Atika. Selesai makan, Faiz membayar pesanan mereka lalu meninggalkan warung tersebut.
__ADS_1
"Kita mau kemana lagi?" Tanya Atika yang melihat Faiz fokus pada jalan.
"Aku mau mampir bentar di toko R046 dulu, temenin yah?" *R046: semacam kode toko untuk tiap-tiap cabang minimarket*
Atika mengangguk sebagai jawaban. 10menit kemudian mereka tiba di toko yang dimaksud Faiz. Setelah memarkirkan mobil, Faiz pun keluar dari mobil lalu berjalan memasuki minimarket mengerjakan apa yang harus ia selesaikan dengan cepat karna Atika menunggu di mobil. Sebenarnya gadis itu sudah ditawari oleh Faiz untuk ikut turun tapi Atika tetap ingin di mobil saja menunggunya.
Dari dalam mobil Atika bisa memperhatikan Faiz yang terlihat sedang memimpin briefing seperti yang biasa pria itu lakukan sekali seminggu di toko tempatnya bekerja, terlihat raut wajahnya serius menjelaskan ataupun mendengarkan bawahannya, hingga briefing selesai pria itu terlihat mengikuti seorang pejabat toko wanita seperti dirinya menuju komputer, jarak mereka terlalu dekat dan Atika bisa melihat si perempuan tersenyum manis kepada Faiz dan dibalas dengan senyuman hangat oleh pria itu membuat darah Atika terasa mengalir cepat hingga ke ubun-ubun, ia pun segera membuang pandangan kearah lain.
Tidak lama kemudian Faiz keluar dan perempuan tadi ikut-mengantar Faiz hingga depan pintu lalu tersenyum dan melambaikan tangan. 'Dih, apa-apaan itu kayak anak kecil nge-dadahin bapaknya yang berangkat kerja' batinnya mencebik.
"Maaf lama." Faiz duduk dibalik kemudi dan tersenyum menatap Atika yang mencoba memasang mimik datar.
Faiz membunyikan klakson sekali karena perempuan tadi masih berdiri didepan pintu menunggu kepergian mereka.
"Kukira kamu itu orangnya datar, dingin dan pelit senyum. Taunya bisa senyum ke sembarang cewe." Atika dengan nada bicara yang aneh menurut Faiz yang sudah mengerutkan kening.
"Siapa?"
"Siapa lagi? Kamu lah sama cewe tadi."
"Oohhh. Devi?"
"Ooooohhhhh. Namanya Devi." Atika mengucapkan 'o' dengan panjang membuat Faiz berusaha menahan senyumnya.
"Kenapa emang? Gak boleh?"
"Gak apa-pa, boleh kok boleh banget malah." Atika menekankan kata 'banget' membuat Faiz lagi-lagi berusaha menahan senyuman.
"Kamu kenapa sih?"
"Kenapa apanya? Aku baik-baik aja."
"Kamu cemburu?"
"Dih, emangnya aku siapa yang punya hak buat cemburu." Kali ini Faiz tersenyum miring mendengar bantahan gadis disampingnya.
"Makanya, jangan terlalu lama-lama gantungin aku. Yang ngantri dibelakang kamu itu banyak, hati-hati ditikung. Apalagi sekarang udah ada istilah ditikung di sepertiga malam."
"Apasih? Ngapain juga ngantri!" Atika yang masih memasang wajah ditekuk terus menatap kearah jendela disampingnya.
"Kamu memang gak ngantri, karna kamu lewat jalur vvip!" Faiz mengatakannya sambil tersenyum dengan mata tetap fokus pada jalan didepannya sementara Atika hanya mendelik mendengar rayuan receh Faiz tapi mampu membuat pipinya memanas dan aliran darahnya menghangat.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Enjoy HIU 🤗😘