Hope Is You

Hope Is You
Twenty Six


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Faiz duduk bersila menghadap laptop nya, setelah membuka e-mail dan tidak ada file pesan yang biasa dikirim dari office pusat untuk ia kerjakan di hari minggu ini, ia lalu beralih melirik ponsel yang tergeletak disamping laptopnya, ia meraih benda pipih itu lalu membuka layar dan menyentuh aplikasi chat berwarna hijau, membuka chat terakhirnya dengan gadis yang hampir sebulanan ini membuat perasaannya resah, ia mengetikkan sesuatu disana lalu kembali menghapusnya dan seperti beberapa hari ini ia berakhir dengan mengurungkan niat untuk menghubungi gadis itu.


'Aku menghindarpun gak ada masalah kan? Hubungan kita gak lebih dari atasan dan bawahan' ucapan gadis itu kembali tergiang diingatannya membuatnya dengan cepat menaruh kembali ponselnya lalu beralih ke layar laptop, dia menutup jendela e-mail dan menuju membuka file folder yang berjudul One Piece dan mulai menonton salah satu anime favoritnya itu.


Tidak lama lagi usia Faiz hampir menginjak angka 26tahun tapi hobi menonton anime nya tidak pernah hilang sejak kecil, jadi disaat hari libur seperti ini jika ada waktu luang ia pasti akan menonton anime dari laptopnya.


Baru beberapa menit layar laptopnya menayangkan anime favoritnya itu, suara ketukan pintu membuatnya harus menjeda kegiatannya lalu berdiri membuka pintu bercat putih itu.


Pupil matanya membesar begitu membuka pintu dan melihat sosok pria menjulang dengan tinggi beberapa centimeter dari nya-berdiri dengan memasukkan tangan kedalam saku celana olahraganya sambil tersenyum miring melihatnya.


"Hai! Lama gak ketemu!" Sapa pria tinggi itu padanya.


"Mau apa lo kesini?" Tanyanya dengan sikap dingin lebih dari sebelumnya.


"Gak mempersilakan masuk dulu?" Faiz hanya mendengus lalu mundur selangkah memberi jalan pada orang dihadapannya.


"Udah tiga tahun, dan sepertinya kamu betah tinggal di rumah kecil ini" pria itu berjalan masuk sambil melihat sekeliling rumah kecil type 29 dengan satu kamar, ruang tamu dan dapur kecil dibelakang. Rumah itu sebenarnya fasilitas yang diberikan perusahaan ritel tempat ia bekerja sekarang, begitu juga dengan mobil silver yang biasa ia kendarai.


"Kalo cuma mau ngomentarin rumah gue, mending lo pergi dari sini!" Faiz yang sudah merasa jengah dengan kedatangan pria itu ditambah dengan komentar meremehkannya.


"Kudengar kau sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis?" Pria itu tidak menanggapi Faiz dan malah mengalihkan pembicaraan.


"Bukan urusan lo!"


"Kenapa kau tidak membawa gadis itu dan memperkenalkannya pada mama dan papa?" Faiz hanya mendengus mendengar saran pria itu.


"Aku jadi penasaran, perempuan seperti apa yang bisa membuatmu move on dari Andin setelah tiga tahun terpuruk dalam patah hati konyolmu itu. Ahh kudengar dia bekerja di minimarket yang sama denganmu? Aku jadi ingin menemuinya" lanjutnya dengan memasang mimik wajah sedang berpikir.


"Jangan pernah coba-coba dekati dia apalagi lo sampe nyentuh dia!" Desis Faiz sambil mendekatkan wajahnya dengan pria itu.


Tringg


Dering ponsel dari saku pria itu mengintrupsinya, pria itu mengeluarkan benda elektronik keluaran terbaru dari sakunya lalu tersenyum miring melihat id penelfon kemudian ia menekan simbol speaker pada ponselnya agar suara dari seberang bisa ikut didengar oleh Faiz.

__ADS_1


"Halo? Ya, ma?" Sapanya saat menjawab telfon


"Halo, Yudha? Kamu dimana ? Masih pagi udah gak ada dirumah. Belum juga sempat sarapan bersama." Suara seorang wanita paruhbaya terdengar dari seberang membuat Faiz seketika membatu mendengar suara wanita yang paling ia sayangi dan ia rindukan selama tiga tahun ini.


"Aku abis jogging ma, ini lagi mampir bentar disuatu tempat." Jawab pria bernama Yudha itu, yang tak lain adalah kakak kandung Faiz.


"Yaudah, jangan lama-lama. Sarapan udah siap, kita makan sama-sama"


" Iya ma."


Tuutt


Sambungan telfon berakhir dan Faiz masih membatu dan merasakan sasak karena terlalu merindukan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.


Yudha melirik jam mahal yang bertengger dipergelangan tangan kanannya-yang sudah menunjukkan pukul 7:50.


"Aku harus pergi dari sini." Faiz tidak menanggapi, suara mendayu ibunya masih terngiang hingga membuatnya tidak bisa menggerakkan tubuh atau sekedar merespon orang dihadapannya.


Yudha kemudian berbalik dan melangkah keluar tapi berhenti tepat didepan pintu lalu kembali bersuara.


• • •


Sudah dua minggu lebih sejak Atika mencoba menghindari Faiz, pertemuan terakhirnya dengan pria itu hanya saat dia mengantar Atika pulang dengan menggunakan motor, setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi atau bahkan hanya sekedar berkirim pesan.


Kadang saat Faiz berkunjung ke toko untuk briefing rutin mingguan, pasti pada saat Atika off day, membuat Atika berpikir kalau Faiz sedang memenuhi keinginannya untuk menghindar. Sebagian dari dirinya bersyukur karena artinya Faiz tidak serius mendekatinya tapi sebagian lagi merasa ada yang hilang.


"Baru makan siang bu?" Tanya Nindi yang baru saja masuk kedapur melihat Atika yang sedang menyantap mi goreng jawa sebagai makan siangnya-sambil melirik jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjuk angka dua lewat sedikit. Dan dijawab dengan anggukan oleh Atika.


"Gimana?" Tanyanya lagi.


"Gimana apanya?" Atika mengernyit sambil memasukkan sesendok mi goreng sebagai suapan terakhir ke mulutnya.


"Pak Faiz" Mendengar nama itu membuat tangannya berhenti yang tadinya ingin membuka segel penutup air mineral.


"Kenapa?" Bukannya menjawab, ia malah bertanya balik membuat Nindi mendengus.

__ADS_1


"Dia masih ngehindarin lo? Dia belom pernah hubungi lo lagi?" Atika meneguk air mineral hingga tersisa setengah lalu menjawab.


"Gue yang menghindar, dia cuma ngikutin mau gue. Tapi dari sini gue udah bisa ngerti kalo dia gk bener-bener pengen deket sama gue, buktinya gak ada perjuangan." Nindi mengangguk-angguk merasa apa yang dikatakan Atika ada benarnya.


"Bu Atika, diluar ada yang cariin" Suara Indra mengintrupsi obrolan mereka, membuat keduanya saling tatap dan mengangkat alis.


"Siapa?" Tanya Atika pada laki-laki tinggi kurus itu dan hanya dijawab dengan bahu yang terangkat.


Atika bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar setelah membereskan bekas makannya, dengan Nindi yang mengekor dibelakangnya.


Indra menunjuk kearah pria yang sedang duduk di kursi depan toko, mata Atika menyipit mencoba mengenali punggung orang didepan sana, dan matanya seketika membulat begitu orang itu berbalik.


Ian-pria yang tadi duduk diluar-berdiri dan menghampiri Atika yang menatapnya datar dari dalam toko.


"Ehm. Hai, aku ganggu?" Tanya Ian dengan kikuk begitu tiba dihadapan Atika.


"Banget!" Jawab Atika ketus lalu berbalik ingin meninggalkan Ian.


"Nis, tunggu. Plis kasih aku kesempatan." Atika menatap pergelangan tangannya yang digenggam Ian lalu beralih menatap Nindi, Galih, Indra, Fani dan beberapa pengunjung toko yang menatap mereka. Atika melepaskan tangan Ian lalu berjalan keluar dan diikuti oleh pemuda itu.


"Ada apa?" Tanya Atika masih dengan nada ketus tanpa menoleh pada Ian yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Aku boleh ngajak kamu keluar?" Atika berbalik ingin memprotes tapi Ian dengan cepat melanjutkan,


"Plis, kasih aku kesempatan buat jelasin semua ke kamu. Ini yang terakhir, senggaknya kamu udah denger semua alasan aku ngelakuin ini ke kamu, ke kita." Ian menghembuskan nafas gusar lalu kembali melanjutkan,


"Kalo setelah aku jelasin semuanya ke kamu dan kamu tetap memilih pergi, aku ikhlas dan membiarkan takdir menyelesaikan semuanya, menyelesaikan yang ada tersisa diantara kita" Atika menatap Ian sekilas lalu kembali berbalik memunggungi pria itu.


"Aku masih kerja, masih dua jam lagi." Atika berbicara masih memunggungi Ian, dan pria itu menyunggingkan senyum seperti mendapat secercah harapan.


"Gak apa-apa, aku tunggu disini."


"Yaudah." Atika berbalik lalu berjalan masuk ke toko melewati Ian yang masih menyunggingkan senyum, senyum yang pernah membuat Atika jatuh cinta, senyum yang pernah membuat Atika nyaman dan bahagia, tapi sekarang? Entahlah, ia sendiripun masih tidak mengerti.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Enjoy HIU 😘🤗


__ADS_2