Hope Is You

Hope Is You
Thirty Five


__ADS_3

Atika menatap wanita cantik dengan penampilan elegan dihadapan mereka, lalu beralih menyentuh lengan Faiz yang masih menatap tajam wanita tadi. Faiz seperti tersadar, ia langsung melirik Atika lalu menggenggam erat tangan kekasihnya.


"Kamu... Apa kabar?" Tanya wanita yang disebut Andin oleh Faiz, ia lalu melirik kearah tangan Faiz yang menggenggam erat tangan Atika.


"Mau apa lo?" Faiz makin erat menggenggam tangan Atika, membuat Atika menyadari ada sesuatu yang salah diantara Faiz dan perempuan ini.


"Aku cuma mau mastiin kalo yang aku liat memang Faiz yang kukenal. Sejak tadi aku ngikutin kamu, dan ternyata benar." Andin mengulas senyum, senyum yang pernah membuat Faiz tergila-gila.


"Sekarang gak ada perlu lagi kan? Gue sibuk!" Faiz berbalik dan ingin pergi dari sana tapi ucapan Andin selanjutnya membuatnya kembali membeku.


"Mama ada disini. Aku nemenin dia belanja, dan sekarang dia lagi nunggu aku di supermarket tempat kamu belanja tadi." Faiz menoleh ke arah Atika yang sedang menatapnya dengan kedua alis yang terangkat.


"Kamu masuk ke playground sama Syifa duluan yah! Nanti aku nyusul." Mendengar permintaan Faiz, Atika tidak lagi bisa menahan untuk tidak bertanya dan terus mengeratkan genggamannya.


"Kamu mau kemana? Dan dia siapa?" Faiz masih memilah kata untuk menjawab pertanyaan Atika tapi Andin menjawab lebih cepat dari Faiz.


"Aku mantannya Faiz. Cinta pertama dan cinta matinya." Atika menatap Andin dengan mata yang membulat dan Faiz mengeraskan rahang mendengar penuturan Andin.


"Kamu gak usah dengerin dia!"


"Trus, aku harus dengerin siapa? Kamu daritadi gak ngomong apa-apa."  Atika melepaskan tautan tangan mereka, tetap berusaha mengontrol emosinya agar tidak terpancing dengan situasi saat ini.


"Dia.. Dia istri kakakku!" Kening Atika bertaut, benar-benar tidak mengerti dengan situasi saat ini.


Faiz memegang kedua bahu Atika menatap lembut kedua mata gadis itu.


"Kamu percaya sama aku. Aku akan jelasin semuanya sama kamu, tanpa ada yang aku sembuyikan lagi. Tapi sekarang aku minta, kamu dan Syifa masuk duluan yah! Nanti aku nyusul." Suara berat tapi lembut itu masuk dengan baik ditelinga Atika, membuatnya melirik perempuan yang masih memperhatikan mereka.


"Janji?" Atika kembali menatap Faiz yang kemudian tersenyum lembut lalu mengangguk membuat Atika ikut tersenyum lalu berbalik mendorong stroller Syifa menjauh dari Faiz kemudian masuk ke playgroud setelah membayar tiket masuk.


Atika memperhatikan Syifa yang sedang bermain rumah-rumahan dengan beberapa anak sebayanya.


Sudah hampir dua jam berlalu dan pikirannya terus berkelana, mencoba mengingat dimana dan kapan dia pernah mendengar nama Andin, dan seberapa banyak rahasia kehidupan Faiz yang tidak diketahuinya.


Ia tersenyum miring memngingat dirinya hanya berstatus 'kekasih' tapi sama sekali belum mengetahui apa-apa tentang pria itu. Lamunannya buyar ketika denting notifikasi pesan masuk di ponselnya, ia merogoh benda pipih tersebut dan membuka notifikasi teratas.


Faiz:


Sayang, maaf aku harus pulang duluan. Ada hal penting yang harus aku selesaiin.

__ADS_1


Kamu pulang naik taksi online bisa?


Atika mendesah kasar tidak tau harus berkata apa, dia menunggu selama dua jam disini dan hasilnya ia ditinggal. Belum sempat ia membalas pesan Faiz, ponselnya kembali bergetar.


Faiz:


Im so sorry.


Nanti kita ketemu lagi, aku akan ceritain semuanya sama kamu. I promise.


Wajah Atika memanas menahan marah dan air mata, beberapa kali ia menarik dan menghembuskan nafas untuk bisa mengendalikan diri. Ia kembali melirik ponselnya saat bemda itu kembali bergetar.


Faiz:


Kalo kamu marah aku ngerti, aku terima. Aku cuma minta kamu percaya sama aku. Aku sayang sama kamu, really love u, just trust 'n wait for me.


Atika mencoba meyakinkan diri, Faiz pulang duluan meninggalkannya karena memang ada sesuatu yang penting, bukan meninggalkannya karena pergi bersama perempuan bernama Andin itu.


Atika menggendong Syifa yang tertidur dipangkuannya selama perjalanan pulang dari mall, ia naik ke kamar dan membaringkan bayi gemuk itu di tempat tidurnya kemudian ia berjalan keluar ke kamar mandi diujung lorong lantai dua, membersihkan diri lalu mengganti baju dengan baju rumah.


Ia melirik jam dinding diatas pintu kamar menunjukkan pukul 4 tepat, ia baru saja selesai menunaikan kewajibannya sholat ashar. Ia pun membaringkan diri diranjang tepat disamping Syifa, meraba ponselnya yang ia letakkan dinakas kemudian membuka aplikasi chat.


Ia menatap chat terakhirnya sebagai balasan untuk chat Faiz sebelumnya.


Aku percaya, plis jangan buat aku nunggu lama dan berujung kecewa.


Faiz:


Sure babe. Thank u so much.


Air mata Atika menyeruak, ia menangis. Rasa takut menjalar dihati nya, ia takut kembali mengalami kecewa yang pernah dibuat oleh Ian. Ia menghapus air mata dipipinya lalu menggeleng, Faiz buka Ian, dia tidak mungkin melakukan hal seperti yang dilakukan Ian padanya.


• • •


Faiz berjalan mengikuti Andin menuju supermarket tempatnya  berbelanja tadi bersama Atika. Beberapa kali Andin mengajaknya mengobrol tapi tidak ia tanggapi, yang ada dikepalanya hanya Atika yang menunggunya dan juga Ibunya.


"Ma!" Andin menyapa seorang wanita paruhbaya yang duduk membelakang disebuah kursi meja di foodcourt supermarket itu.


Wanita paruhbaya itu berbalik dan seketika matanya membulat lalu berdiri mendekati Faiz yang berdiri disamping Andin.

__ADS_1


"Faiz? Faiz anakku?" Bibir Wanita itu bergetar dan airmatanya mentes saat telapak tangannya menyentuh pipi Faiz.


"Kamu Faiz? Anak mama?" Lanjutnya yang membuat Faiz mengangguk menatap sang ibu yang terlihat kurus dari terakhir ia melihatnya tiga tahun lalu.


Faiz membalas pelukan mamanya saat wanita paruhbaya itu menghambur kepelukannya, menangis sesegukan didada bidang Faiz, pria itu mencium puncak kepala sang ibu yang sangat ia rindukan selama ini.


"Kamu kemana aja? Kamu semarah itu sama mama dan papa sampai keluar dari rumah dan gak pernah nengok kebelakang lagi? Kamu gak pernah inget mama lagi, kamu gak sayang sama mama lagi?" Faiz menggeleng mendengar ibunya yang terus berbicara sambil sesegukan. Ia melepaskan rengkuhannya lalu menatap sang ibu.


"Aku gak marah sama papa apalagi mama. Aku cuma mau nenangin diri dan mencari jati diriku dengan bekerja dari hasil usahaku sendiri."


"Nenangin diri sampe tiga tahun?" Faiz tersenyum tipis melihat ibunya mendelik, tidak berubah sejak dulu saat merajuk pasti delikannya seperti itu.


"Kamu kurus, makanmu pasti gak teratur. Gak ada yang urus dan perhatiin makan kamu."


"Makanku gak teratur karna sibuk kerja nyonya Rania Nur Arthama." Ibunya kembali mendelik mendengar anak bungsunya menyebut nama lengkapnya, tidak berubah selalu seperti itu saat berusaha meyakinkan sang ibu.


"Sekarang kami ikut mama pulang!"


"Kemana?"


"Kemana? Ya ke rumah lah. Ayo!" Nyonya Rania meraih hand bag nya yang ia taruh di kursi samping ia duduk tadi.


Faiz menggeleng sambil tersenyum getir lalu menjawab.


"Rumahku bukan disana, aku punya rumah sendiri sekarang ma."


"Nggak. Kali ini kamu harus pulang ikut mama. Kalo nggak, lebih baik mama mati aja." Faiz menghembuskan nafas, kali ini mamanya benar-benar merajuk dan mengeluarkan kata-kata andalan.


Terakhir kali ia meninggalkan mamanya tiga tahun lalu, hampir empat bulan wanita paruh baya itu terbaring sakit. Kala itu ia sangat marah pada keluarganya hingga lebih mengikuti egonya untuk tidak pulang.


Mau tidak mau, Faiz akhirnya mengangguk membuat senyum diwajah ibunya mengembang, begitu juga dengan Andin yang sejak tadi memeperhatikan interaksi antar ibu dan anak itu.


Diperjalanan menuju kediaman keluarga Arthama, Faiz mengirim pesan pada Atika bahwa dirinya tidak bisa menyusulnya dan mengantar gadis itu pulang.


Faiz tau, Atika pasti marah tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa pada mamanya. Saat ini saja ia ikut di mobil mamanya bersama Andin dan sopir, mama melarangnya menggunakan mobil yang ia kendarai tadi karena sang ibu tidak ingin Faiz kabur ditengah jalan.


Chat pertamanya tidak dibalas hanya menampilkan centang dua yang berwarna biru, ia kemudian mengirim pesan kedua dan sama tidak ada balasan hanya centang dua berwarna biru tanda bahwa penerima sudah membaca pesannya. Ia kembali mengirim pesan ketiga berusaha meyakinkan Atika dan beberapa menit kemudian gadis itu membalas pesannya membuat Faiz menyunggingkan senyum dan sedikit lega.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Maaf up nya kelamaan, ada sedikit kendala yang bikin mood jadi melayang 🤭 semoga masih ada yg nungguin dan setia baca yah 😁


Enjoy HIU 😘🤗


__ADS_2