Hope Is You

Hope Is You
One


__ADS_3

Seorang gadis kembali menghadap cermin, sekali lagi mematut diri dihadapan cermin panjang yang ada disudut kamarnya


"hmmm good aku puas, gak menor kayak cabe kan tapi? " katanya pada diri sendiri karena saat ini dia memang berada dikamar sendirian setelah hampir dua jam berdandan dan menyiapkan diri dengan memakai kebaya berwarna pink salem dan rok batik berwarna hitam corak gold


Tok tok tok


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari cermin ke pintu yang masih tertutup


"masuk aja, gak dikunci kok!" titahnya dari dalam kamar


Pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita paruh baya dengan balutan kebaya dan rok batik berwarna sama dengan yang dikenakan gadis tadi


"Atika, udah selesai belum? Dandannya lama sekali, ini baru wisudah loh belum acara pernikahaanmu" ucap ibu Sarifah kepada Atika, putrinya


"aduh ibu kenapa jadi malah ngungkit masalah nikah sih" jawab Atika dengan sedikit memonyongkan bibir


"gak usah merajuk gitu deh. Habisnya kamu dandan lama sekali, tapi.. "


"tapi apa bu?"


"kamu cantik sayang, gak sia-sia kamu dandan lama" lanjutnya dengan senyum sumringah lalu menangkup wajah Atika dengan kedua tangannya dan mengecup pipi putri keduanya tersebut


"gimana gak cantik coba kalau ibunya ajah secantik dan seanggun nyonya Sarifah Hasyim"


"udah ah gak usah ngegombalin ibu, kalau sudah selesai kita keluar lalu berangkat ke kampusmu, nanti kita terlambat" ucap ibunya lalu menarik anaknya keluar, tak lupa mengecek semua perlengkapan yang dibutuhkan Atika selama acara wisudah nya.


Pukul 2:45 siang


Atika kini sah menjadi seorang sarjana tepatnya sarjana manajemen bisnis, ia dan keluarganya kini sedang berfoto di booth foto yang telah disediakan oleh pihak universitas.


Setelah berfoto dengan kedua orang tuanya lalu gantian dengan kakak laki-laki, kakak ipar dan adik perempuannya juga satu keponakan perempuannya, kini ia terlihat sedang gelisah diedarkannya pandangan ke kiri dan kanan seperti mencari seseorang


"cari siapa sih?" Rifdah, kakak iparnya tiba-tiba mecolek pipi Atika ketika menyadari adik iparnya itu tengah gelisah menungu seseorang


"kak rif, iya nih dia belum keliatan juga padahal acara udah selesai, bentar lagi kita pulang hhhhhh " Atika menghembuskan nafas pelan berharap ada kegusarannya sedikit berkurang


"mungkin dia sibuk. Bukannya bentar lagi dia diresmikan sebagai CEO muda penerus Altar Group, menggantikan Papa nya yang udah pensiun? " Atika hanya menjawab dengan anggukan


"kamu harus membiasakan diri dong dengan kesibukannya dia, ini belum apa-apa loh, nanti kalo dia udah resmi dan sah sebagai pemimpin Altar Group kesibukannya bisa lebih lebih lebih dari ini" lanjut kakak iparnya


"iya sih, tapi kan dia udah janji" jawab Atika lesu, seperti menyadari sesuatu Rifdah membulatkan matanya kearah belakang Atika


"ehh tik, aku ke Adit dulu yah kayaknya dia kewalahan sama Syifa" Rifdah kemudian berlalu meninggalkan Atika, Aditya adalah kakak Atika dan Syifa anak Aditya dan Rifdah


Pandangannya masih tertuju pada gerbang universitas, tiba-tiba sebuket bunga mawar putih muncul didepan mukanya, refleks sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyuman manis tapi sedetik kemudian senyumnya hilang berganti cemberut lalu melipat kedua tangannya didepan dada



Sang pemberi bunga mengerti akan sikap Atika, ia kemudian membalikkan badan Atika dan memberi senyuman tulus dan tampan yang selama ini membuat Atika terpukau


"telat lagi kan" Atika dengan nada merajuknya


"maaf"


"hanya itu?"


"ini!" pria itu kembali menunjukkan sebuket mawar putih tadi pada Atika

__ADS_1


"aish Ian! Gak ada penjelasan atau apa gitu? " pria bernama Ian itu tertawa kecil lalu kembali menatap lembut pada Atika


"oke, sebelumnya aku minta maaf" Ian lalu meraih tangan Atika dan menggenggamnya


"planing awal kan harusnya aku tiba disini jam 11:00 tapi tadi sebelum aku mau berangkat kesini tiba-ada meeting dan itu wajib harus aku yang hadiri, terpaksa pukul 11.00 tadi aku harus ke hotel Clarion untuk menghadiri meeting sekaligus makan siang disana sama klien" jelas Ian yang ditanggapi Atika dengan mulut yang membulat membentuk 'O'


"kok cuma O?" lanjut Ian lagi


"trus aku harus bilang apa?" Ian kemudian tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Atika yang membuat Atika terbelalak kaget


"Ian! ih ini tempat umum tau, banyak orang disini" protes Atika berusaha melepaskan pinggangnya dari tangan Ian


"oh.. Jadi kalau ini bukan tempat umum dan cuma ada kita berdua, kita bisaa... " Ian menggantung kalimatnya lalu mengedipkan sebelah matanya menggoda


Atika mencubit pinggang Ian hingga pria itu mengaduh "awwww sakit yang" Atika hanya tertawa melihat Ian lalu menarik tangan kekasihnya tersebut menuju booth foto


"udahan bercandanya, kita foto berdua dulu" kata Atika sambil berjalan menuju booth foto


❤❤❤


"loh yang, kita mau kemana?" tanya Atika ketika menyadari mobil Ian melaju tapi bukan jalan ke arah menuju rumahnya, Ian hanya tersenyum dan tetap menggenggam tangan Atika lembut sambil tetap konsentrasi mengemudi


"sayang?" desak Atika


"aku mau nyulik kamu!"


"gak lucu" balas Atika dengan expresi datar


"hahaha kamu gak takut diculik sama aku? "


"ngapain takut? Aku udah percaya sepenuhnya sama kamu" Atika membalas dengan senyum manisnya


Cupp


Ian mengecup kening Atika ketika Atika mendekatkan kepalanya kearah Ian, tidak lama hanya sedetik kemudian Atika menarik kembali kepalanya


"makasih yah Atika Nisfah Hasyim, S,Mb udah ngasih aku kepercayaan ini"


"hahaha lengkap banget sampe gelar nya gak ketinggalan" Atika tertawa dan dibalas senyuman khas Ian


Mobil Ian memasuki area parkiran sebuah cafe lalu memarkir mobilnya tidak begitu jauh dari pintu masuk cafe


"kita ngapain kesini? " tanya Atika sebelum mereka keluar dari mobil


"udah ayo!" titah Ian


"tapi yang, dirumah lagi ada syukuran kelulusan aku. Tadi ibu udah kasi tau ke kamu kan? Kita sekalian makan siang di rumah aja"


"iya aku ingat, tapi kita mampir disini sebentar, gak lama kok" Ian kemudian keluar dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untuk Atika


"ayo turun. Atau mau digendong?" tanya Ian saat melihat Atika bergeming ditempatnya duduk


"kamu gak liat pakaian aku? " Ian hanya menaikkan sebelah alisnya tanda tidak mengerti


"aku masih pakai jubah dan toga masa iya aku masuk cafe kayak gini?"


"apa masalahnya Nis ku sayang? Udah ah ayo" Ian menarik tangan Atika agar mau keluar mobil dan yerus menggenggam tangan kekasih nya hingga masuk kedalam cafe

__ADS_1


Pandangan Atika menjelajah dibagian dalam cafe, setelah berada didalam cafe tersebut temaram dan minim cahaya seakan-akan waktu sudah malam karena tidak ada sedikitpun sinar matahari dari luar yang masuk ke cafe ini, penerangan pun hanya ada beberapa lampion, dan lilin-lilin tertata rapi disetiap meja dan sisi-sisi cafe, romantis itulah kesan yang dirasa oleh Atika setelah memasuki cafe tersebut.


Ian menari sebuah kursi untuk Atika lalu beralih ke kursi dihadapan Atika, ada satu meja pastinya ditengah-tengah mereka


"candlelight lunch? " tanya Atika yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Ian, selang dua atau tiga menit seorang pelayan datang dengan nampan ditangannya dan diatas nampan tersebut sudah ada jus sirsak--favorit Atika, jus alpukat--favorit Ian, dan sebuah piring yang masih tertutup tudung saji


"perasaan kita belum pesan apa-apa deh, salah meja kali ni mbak nya" Atika dengan kerutan heran di keningnya tapi sang pelayan tetap menata dan menyajika apa yang ia bawa di meja Atika dan Ian


"selamat menikmati mbak, mas" pelayan tersebut tersenyum ramah sambil mempersilakan customer nya tersebut


"makasih mbak" Ian tersenyum kepada pelayan lalu beralih ke Atika yang masih terlihat bertanya-tanya


"diminum dong sayang" Atikah meraih sedotan yang berdiri digelasnya, menyesapnya sedikit kemudian kembali menatap kekasihnya yang sedari tadi terus tersenyum menatap Atika, tapi Atika tidak mempermasalahkan itu karena senyum itu yang selama ini bisa membuatnya nyaman berada didekat pria itu


"sayang, kita udah berapa lama sih bareng-bareng gini?" pertanyaan Ian sontak membuat kening Atika mengernyit


"kok tiba-tiba tanya itu? Lagian masa kamu gak tau ini udah tahun keberapa kita?"


"hemm, 4 tahun bukan?" Atika menjawab dengan anggukan


"selama 4tahun itu, kesan-kesan kamu selama berada dekat aku gimana?


"kenapa jadi kayak anak sekolahan lulus sekolah, pake kesan-kesan?" Atika tertawa kecil menanggapi pertanyaan kekasihnya tersebut


"jawab aja yang"


"hemm kesan-kesan yah?" Atika terlihat berpikir lalu melanjutkan, "Gak tau" sambil mengedikkan bahu


"kok gak tau sih? "


"yaaah iya aku gak tau harus jawab apa kalo ditanya gitu" Atika kembali menyesap jus sirsaknya


"intinya, aku nyaman ada didekat kamu, bahagia liat kamu tersenyum karena dan untuk aku, sebel kalo dalam sehari kamu gak hubungin aku" jelas Atika membuat Ian menampilkan senyum khasnya


"jadi kalo kamu tiap hari selalu ada didekat aku, selalu ada disaat aku akan memejamkan dan membuka mata. Memasak, menghidangkan, dan menemani aku sarapan, makan siang dan malam, menemani disegala kegiatan aku, mendampingi aku disaat ada pertemuan dengan klien-klien aku, apa kamu akan bahagia dan senang melakukannya? "


Degdeg.. degdeg..


Jantung Atika berdetak dua kali leboh cepat dari biasanya "apa maksudnya? Apa aku akan dila..." kalimat dalam hatinya belum selesai ia katakan krn melihat Ian berdiri dari duduknya lalu mendekat dan berlutut dihadapannya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna navy, jantungnya seakan ingin melompat keluar dari posisinya. Ian membuka kotak tersebut dan memegang kotak beludru itu ditangan kanan dan tangan kirinya membuka tudung saji yang ada dimeja, mata Atika membulat melihat cake red velvet berukuran mini berbentuk hati dengan tulisan diatasnya


"will you marry me? "


Air mata harunya tak dapat ia bendung lagi, sedari tadi matanya sudah mulai memanas hingga akhirnya bulir bening itu meluncur mulus diwajahnya yang semakin merona akibat perlakuan kelasihnya.


Atika mengangguk beberapa kali kemudian menjawab "yes, I will"


Ian kemudian memasangkan cincin titanium dengan berlian kecil bertengger diatas cincin tersebut, "pas" seru Ian lalu berdiri dan memeluk kekasihnya erat


"terima kasih" gumamnya.


❤❤❤


Lohaaa 😃😃😃


Part 1 dengan 1.500 kata semoga ada yang baca dan ngevote, aamiin


Oh ya ini cerita pertamaku yang kupublish, jadi maaf2 aja kalo typo bertebaran dan banyak kata yang kurang tepat, mohon saran dan kritik membangunnya yaah supaya tulisan aku semakin baik dan makin enak dibaca

__ADS_1


Best regards


Fitry Alfi 😘😘


__ADS_2