
-flashback 3 years ago-
Faiz berjalan menuju area parkir kampus, masuk kedalam mobil Nissan Juke berwarna kuning. Didalam mobil ia melepas toga dari kepalanya lalu menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan pelataran kampus besar itu.
Hari ini hari wisudahnya tanpa ditemani satu orangpun keluarganya, sedikit kecewa karena mama-papa, kakak ataupun kekasihnya tidak bisa hadir mendampingi satu hari bahagianya. Tapi ia berusaha meredam kekecewaan itu, ia tidak boleh egois karena orangtuanya sedang menemani sang kakak melamar wanita pujaan kakaknya itu.
Faiz tersenyum tipis mengingat satu-satunya saudaranya itu, pria yang terkenal kaku dan jarang mengenal wanita tiba-tiba ingin menikah dan dengan cepat ingin melamar wanita pujaannya itu, luar biasa.
Hari ini ia akan langsung pulang ke rumah orangtuanya di Pangkep (salah satu kabupaten di sulawesi selatan). Selama mengenyam pendidikan di Makassar, ia memang tinggal di rumah yang dibelikan oleh orangtuanya. Memang tidak sebesar rumah di Pangkep tapi masih cukup luas untuk menampung puluhan orang teman kampusnya yang kadang menginap atau sekedar berpesta, tapi bukan pesta terlarang pastinya.
Mobil kesayangannya masuk kedalam pekarangan rumah besar nan megah milik orang tuanya. Setelah memarkirkan mobil, ia pun masuk ke rumah dengan perasaan senang, toga yang tadi ia lepas kini kembali bertengger dipuncak kepalanya.
"Assalamualaikum, ma, pa!" Ia menjelajahi rumah besar itu mencari keberadaan orangtuanya, namun tidak menemukannya. Salamnya pun di jawab oleh seorang pelayan rumah senior.
"Waalaikumsalam. Mas Faiz udah pulang?"
"Iya bik. Mama sama Papa mana?" Tanya Faiz masih dengan senyuman.
"Bapak sama Ibu belum pulang mas. Habis dari lamaran tadi langsung ke butik buat fiting baju pengantinnya mas Yudha dan calonnya."
"Emang acaranya kapan?"
"Minggu depan."
"Wih gercep juga yah kak Yudha. Yaudah Faiz langsung ke kamar aja yah bik. Capek mau langsung istirahat." Faiz terkekeh sambil mangut-mangut lalu meninggalkan bik Siti yang hanya mengangguk dan tersenyum menatap tuan mudanya berjalan naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Pukul 19.00, Faiz turun dari kamar menuju ruang makan dilantai satu. Sekarang sudah waktunya makan malam, mama-papa dan kakaknya sudah duduk di kursi masing-masing. Faiz mendudukkan dirinya dikursi kosong disamping mama.
"Kecapean banget kayaknya, sampe keluar kamar pas makan malam." Mama sambil tersenyum menyendokkan nasi ke piring Faiz setelah melakukan hal yang sama pada Papa dan Yudha.
"Gak juga sih ma, cuman aku masih pengen rebahan aja." Faiz mulai menyendokkan nasi dan lauk kedalam mulutnya.
"Oh iya, gimana lamarannya kak Yudha? Kata bik Siti acaranya minggu depan yah?"
Semua terdiam, Papa berhenti mengunyah lalu berdehem dan menjawab.
"Iya, acaranya minggu depan. Kamu gak ada acara lain kan?" Faiz menggeleng dan tersenyum
"Sekalipun ada acara pasti aku batalin, ini momen sekali seumur hidup kak Yudha masa aku gak hadir." Yudha berdehem mendengar ucapan Faiz lalu bangkit dari duduknya.
"Aku udah selesai, mau ke kamar nyelesaiin kerjaan yang belum selesai dikantor." Setelah pamit Yudha pun berlalu naik ke lantai dua, membuat Faiz mengernyit menatap kepergian sang kakak.
"Aku salah ngomong tadi?" Tanya Faiz menatap mama-papa bergantian.
"Kenapa?" Kali ini mama yang menanggapi.
"Kak Yudha kayak aneh gitu, dan itu makan malamnya gak dihabisin, gak biasanya."
__ADS_1
"Dia lagi banyak kerjaan, kebanyakan deadline karena dua hari sebelum hari H dia udah cuti buat pernikahannya. Gak usah dipikirin, kamu habisin makan malam kamu yah." Mama mengucapkannya dengan senyum lembut favorit Faiz sejak kecil.
Selama seminggu menjelang pernikahan Yudha, Faiz dan kakaknya itu hampir tidak memiliki waktu bahkan untuk sekedar mengobrol santai. Mereka hanya akan bertemu di meja makan saat sarapan atau pada tengah malam saat Faiz haus dan harus turun ke dapur untuk mengambil air minum, mereka hanya berpapasan dan saat Faiz bertanya selalu hanya dijawab dehaman singkat oleh Yudha, padahal dulu hubungan adik-kakak itu sangat hangat.
Hari ini tepat hari pernikahan Yudha dengan perempuan yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Faiz sekalipun melalui foto.
Faiz mengendarai mobil kuning andalannya menuju hotel tempat ijab kabul sekaligus resepsi pernikahan kakaknya. Setelah memarkir mobil, ia berjalan cepat menuju ballroom dan setelah memasuki ruangan besar tersebut, suasana sudah tenang dan khidmat dengan suara kakaknya yang dengan lantang selesai mengucapkan ijab kabul sambil menjabat tangan seorang pria paruh baya yang tidak asing bagi Faiz.
Faiz terus berjalan pelan mendekat dengan dada yang berdebar. Setelah semua orang didalam ruangan tersebut bersamaan berucap "sah!" dengan semangat.
Yudha pun di giring masuk ke sebuah ruangan dimana sang mempelai wanita menunggu untuk melanjutkan prosesi adat. Beberapa menit kemudian kedua mempelai keluar berjalan beriringan menuju kursi pelaminan.
Senyuman bahagia Faiz yang sedari tadi terbingkai di wajah tampannya seketika memudar saat matanya menangkap seorang perempuan yang dicintainya berdiri dengan senyuman sumringah didepan sana, dengan mengenakan gaun pengantin khas adat bugis-bersanding dengan 'kakak'nya.
Dunianya serasa berhenti berputar, kakinya serasa tidak berpijak dilantai ballroom hotel itu, senyuman perempuan yang selama ini menjadi candu dan kebahagiaannya kini serasa seperti belati yang menyayat-nyayat hatinya.
Tepukan dibahu kanannya membuatnya mengembalikan kesadaran. Ia menoleh dan melihat Arga berdiri disampingnya sambil menatap sepasang pengantin baru yang bersanding didepan sana.
"Lo bisa kuat gini? Bisa hadir diacara pernikahan cewek lo dengan kakak lo sendiri. Kalo gue mungkin udah gak bisa terima." Faiz menatap sahabatnya itu dengan mata membulat sempurna.
"Lo tau kalo calon istri kak Yudha itu Andin?" Arga menoleh dengan alis yang bertaut menatap Faiz sambil mengangguk.
Faiz membuang wajah dan tertawa sumbang mengetahui bahwa satu-satunya orang yang tidak tau apa-apa hanya dirinya.
"Gue udah keliatan g*blok banget yah? Masuk diruangan ini dengan senyuman, menghadiri pernikahan kakak gue sama cewek gue sendiri."
Faiz semakin menaikkan volume tawa sumbangnya, membuat beberapa orang diruangan tersebut menoleh ke arah mereka termasuk raja dan ratu sehari yang bersanding di pelaminan.
"Br*ngs*k!" Rahang Faiz mengetat, merasakan dadanya bergemuruh hebat saat menyadari Andin-gadis yang ia cintai tampil begitu cantik, tapi bukan untuk dirinya.
Ia berbalik lalu meninggalkan tempat menyesakkan itu, tanpa menghiraukan Arga yang terus memanggil namanya.
•••
Pukul 23.00 orangtua Faiz tiba dirumah setelah pesta resepsi selesai. Mama langsung menuju lantai dua dimana kamar Faiz berada.
Tok tok
Beberapa kali mengetuk tapi tidak ada jawaban dari dalam. Mama Raniah mencoba memutar kenop pintu yang ternyata tidak terkunci, ia pun masuk kedalam ruangan yang gelap dan hal pertama yang ia rasakan ialah asap rokok yang menyengat indera penciumannya.
Mama meraba dinding disamping kanan dan menyalakan lampu, dan setelah lampu menyala betapa terkejutnya beliau saat melihat kamar anaknya yang biasanya selalu rapih, wangi dan bersih kini menjadi seperti habis diguncang gempa bumi.
"Astaghfirullah dek! Ini kamar kamu kenapa?"
Faiz mengerjapkan matanya mencoba menyesuaikan dengan cahaya. Ia kembali mengisap rokok yang terselip diantara jarinya lalu mengepulkan asapnya keatas tanpa memperdulikan sang mama yang menatapnya nyalang.
"Astaghfirullah, adek! Kenapa rokok itu ada ditangan kamu? Siapa yang ngajarin kamu ngerokok?"
__ADS_1
"Emang siapa yang peduli?"
"Kenapa mah?" Mama dan Faiz serentak menoleh saat mendengar suara bariton dari belakang punggung mama.
"Papa... Itu Faiz ngerokok dan kamarnya yaaa Allah amburadul gini."
"Mama sama papa emang peduli apa sama Faiz?" Dengan wajah datar tanpa expresi, Faiz menatap kedua orangtuanya.
"Adek! Kok ngomongnya gitu?"
"Kamu ini ada masalah apa? Buang rokok kamu itu. Papa sama mama gak pernah ngajarin kamu ngerokok."
"Kalo mama-papa peduli sama aku, kenapa pacarku malah dinikahin sama kak Yudha?" Papa Andri dan mama Raniah terdiam sejenak lalu bersamaan berdehem sebelum menjawab.
"Kenapa kamu langsung pulang tadi? Acaranya belum selesai, kamu udah langsung pulang. Keluarga dan kerabat papa banyak yang nyariin kamu."
"Pengantinnya kan ada, kenapa malah nyariin aku? Udahlah gak usah ngalihin pembicaraan. Papa sama mama emang gak pernah mikirin perasaan Faiz, yang terpenting cuma kak Yudha karna kak Yudha pewaris kerajaan papa, anak kesayangan papa, anak kebanggaan papa!"
"Faiz! Kenapa ngomong gitu? Kamu sama Yudha sama-sama kesayangannya mama-papa, kebanggaan kami. Mama-papa gak pernah beda-bedain kalian." Mama Rania menjelaskan dengan bibir yang bergetar menahan tangis mendengar penuturan anak bungsunya.
"Kalo memang kalian sayang sama Faiz, kenapa kak Yudha dinikahin sama Andin? Kalian kan tau Andin pacar aku, kami udah lama pacaran dan sebelum wisudah pun aku udah minta restu papa sama mama karna aku mau nikahin Andin setelah selesai kuliah."
"Kamu mau nikah trus mau kasih makan apa anak orang? Kerja aja kamu belum bisa udah mau mikirin nikah? Papa sama papanya Andin sepakat dan lebih setuju kalau Yudha yang jadi suami Andin ketimbang kamu. Yudha udah mapan, usianya matang, lebih bisa bertanggung jawab daripada kamu. Dan yang terpenting Andin juga mau."
Faiz tersentak mendengar akhir kalimat sang papa 'Andin juga mau? Andin setuju sama perjodohan ini?' emosinya semakin meluap apalagi ia dianggap belum bisa bertanggung jawab.
"Papa kira aku gak bisa bertanggung jawab? Gak bisa nafkahin Andin? Trus apa gunanya perusahaan papa dimana-mana? Kalo aku gak bisa kerja di salah satunya?"
"Itu dia, kamu terlalu berharap sama papa, itu salah satu bukti kalau kamu itu manja dan tidak bisa berdiri diatas kaki kamu sendiri. Gimana orangtua Andin mau percaya sama kamu?" Faiz mengetatkan rahang kemudian menatap tajam mata pria paruhbaya dihadapannya.
"Oke, aku bakal buktiin kalo aku bisa meskipun tanpa bantuan papa!" Ia berbalik lalu berjalan menuju lemari, mengambil beberapa helai pakaian dan juga berkas-berkas penting dirinya lalu memasukkan semua benda itu kedalam ransel yang berukuran lumayan besar.
Melihat apa yang dilakukan sang putra, mama Raniah bergerak cepat mendekati anak bungsunya dan meghentikan gerakan tangan Faiz.
"Adek mau apa?"
"Papa sama mama mau tau gimana mandirinya aku kan? Detik ini juga aku keluar dari rumah ini!"
"Faiz!" Tegur mama yang tersentak mendengar Faiz lalu beralih menatap sang suami yang hanya berdiri menatap putranya yang sudah bersiap ingin meninggalkan kediaman keluarga Arthama.
"Yasudah, silakan. Tapi selangkah kamu keluar dari rumah ini, jangan pernah gunakan nama Arthama dibelakang nama kamu!"
Mata mama terbelalak mendengar penuturan sang suami yang kemudian dibalas senyum miring Faiz yang kemudian mulai melangkah meninggalkan ruangan kamarnya. Tidak mengindahkan sang mama yang terus memanggil dan mengikuti langkahnya keluar dari rumah besar itu.
-flashback off-
🖤🖤🖤
__ADS_1
Kepanjangan? Huhu maaf soalnya mau selesaiin flashback tentang Faiz dalam 1 chapter 🤭
Happy reading, and Enjoy HIU 😘🤗