Hope Is You

Hope Is You
Twenty Eight


__ADS_3

Faiz memacu motornya membelah jalan kota, petang ini menuju tempat yang disebutkan Atika ditelfon tadi. Jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 19:05, setelah sholat maghrib tadi ia berniat keluar untuk mencari makan malam tapi ia urungkan karena Atika yang tiba-tiba menelfonnya dengan isak tangis.


Ia memarkirkan motornya dipinggir taman yang terlihat temaram, berjalan masuk menyusuri taman, matanya menyapu sekeliling mencari perempuan yang menelfonnya tadi. Hingga matanya menangkap gadis berseragam minimarket yang terduduk dibangku semen dengan kepala menunduk.


Ia menghampiri lalu berjongkok didepan gadis yang terisak itu.


"Dia nyakitin kamu lagi?" Tanpa basa-basi, Faiz langsung mengutarakan pertanyaannya membuat gadis itu mendongak menatapnya, mata yang sembab dan pipi yang basah karena airmata membuat sesuatu didalam dada Faiz terasa nyeri.


Atika tidak menjawab, ia menatap Faiz dan justru semakin terisak dengan airmatanya yang semakin deras.


"Tunggu, pipi kamu kenapa?" Faiz mencoba menyentuh pipi kiri Atika yang kelihatan lebih merah dibanding pipi kanan, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana chino pendeknya lalu menyalakan blitz untuk bisa melihat lebih jelas pipi gadis itu-karena penerangan disana sangat minim, mata Ian membulat dengan alis terangkat melihat pipi Atika yang memerah dengan sedikit memar.


"Dia mukul kamu?" Intonasinya mendadak meninggi melihat pipi Atika, dan Atika hanya menggeleng heran melihat reaksi pria didepannya.


"Nggak gimana? Jelas-jelas dipipi kamu merah, memar kayak gitu. Gila yah tu cowok." Faiz berdiri sambil berkacak pinggang.


"Bukan dia, tapi ibunya." Atika berkata lirih kemudian Faiz kembali menatapnya lalu duduk disampingnya.


"Tante Diana pikir aku yang ngajak Ian ketemu, dia pikir aku terus goda anaknya buat kembali sama aku. Padahal sama sekali nggak, hiks.. dia yang maksa aku ikut buat denger penjelasannya." Sambung Atika yang kembali terisak mengingat kejadian tadi.


"Lagian kamu kenapa mau ikut sama dia? Jadi ini alasan kamu ngehindarin aku? Karna kamu mau balik lagi sama dia?"


"Apasih? Ini gak ada hubungannya sama kamu. Aku ikut karna aku cuma pengen masalah sama dia bener-bener selesai, biar gak ada lagi alasan buat dia deketin aku."


"Bohong!"


"Terserah kamu mau percaya atau nggak. Aku bukan siapa-siapa yang harus buat kamu percaya sama aku." Atika berdiri lalu berbalik ingin meninggalkan Faiz tapi pria itu juga ikut berdiri lalu berdiri menghalangi jalan Atika.


"Mau kemana?"


"Mau pulang, minggir!" Pinta Atika dengan ketus begitu Faiz berdiri menjulang dihadapannya.


Faiz meraih pergelangan tangan Atika lalu berjalan dengan langkah lebar membuat Atika kesulitan mensejajarkan langkah apalagi dengan tangan yang digenggam.


"Ih lepasin, aku bisa pulang sendiri" Atika mencoba melepaskan tangan dari genggaman erat Faiz dan baru dilepas setelah mereka berada disamping motor yang terparkir.


"Dengan muka yang kayak gitu?" Atika menoleh pada kaca spion motor dan melihat pantulan wajahnya yang terlihat kacau.


"Kalo kamu bisa pulang sendiri, trus kenapa tadi nelfon aku minta dijemput?"


"Aku nelfon Miftah bukan kamu."


"Mana ada? Kalo memang kamu nelfon si Miftah Miftah itu, kenapa bisa panggilannya masuk ke nomorku?"

__ADS_1


"Karna aku salah pencet, nama kontak kalian berdekatan dan mungkin karna mataku agak kabur gara-gara airmata jadi gak begitu jelas liat namanya." Jelas Atika sambil mendelik.


"Gak usah alibi!" Faiz lalu naik ke jok motor bagian depan sambil memakai helm.


"Dih, siapa juga yang alibi?!"


"Naik cepetan. Atau mau kutinggal?" Faiz tidak menanggapi lagi karna dia tau tidak akan ada habisnya jika terus berdebat dengan makhluk berjenis 'cewek'.


Atika naik ke jok penumpang sambil berdecak kesal, entah apa yang dikesalkannya.


"Bawa motornya jangan kayak waktu itu!"


"Waktu itu kapan?"


"Yang waktu kamu nganter aku pulang pake motor. Pokoknya pelan-pelan dan hati-hati aja."


"Yang kayak gini?" Faiz lalu menancap gas membuat Atika hampir terjengkang kebelakang dan lagi-lagi refleks melingkarkan tangan keperut Faiz.


"Ergghh. Faizzzz!" Teriaknya kencang sampai Faiz merasa telinganya berdengung.


"Rese banget sih." Faiz tidak bisa lagi menahan senyumnya, senyum yang bisa saja meledak jadi tawa.


Motor yang dikendarai Faiz melaju pelan dan berhenti disebuah warung tenda pinggiran jalan. Ia kemudian turun dan membuka helm.


15menit kemudian Faiz keluar dengan menenteng kresek hitam berisi bungkusan ayam goreng lalapan. Mereka pun melanjutkan jalan setelah Faiz melepas helm dari kepala Atika lalu kembali mamakainya. Hingga mereka berbelok ke gerbang perumahan.


"Loh, kita mau kemana? Kok belok disini?" Tanya Atika sambil melihat kiri dan kanannya.


"Mau nyulik kamu!" Atika terdiam merasa tidak asing dengan kata-kata itu. Hingga tidak terasa motor sudah berhenti didepan sebuah rumah kecil dengan halaman yang juga minimalis, mobil berwarna silver-yang biasa digunakan Faiz terparkir dihalaman parkir yang tidak begitu besar hanya cukup untuk seguah mobil dan motor matic seperti milik Faiz saat ini, dan pagar yang tidak tinggi-sebatas leher.


"Mau berdiri disitu semalaman?" Faiz membuyarkan lamunannya, Atika segera masuk mengikuti Faiz yang sudah berdiri diteras rumah.


"Ini rumah kamu?" Tanya Atika setelah mereka sudah masuk.


"Bukan milik pribadi, rumah sama mobil didepan fasilitas dari perusahaan." Atika mangut-mangut mendengarnya.


"Eh, tapi kenapa malah kerumah kamu? Bukannya nganter aku pulang?" Faiz yang dari dalam dapur kembali dengan membawa dua piring berisi nasi yang masih mengepul, dan dua lagi piring kosong untuk lauk ayam lalapan yang ia beli di warung tadi.


"Aku gak mungkin langsung nganter kamu pulang dalam keadaan wajah kayak gitu, dan juga aku laper. Kalo nganterin kamu dulu bukannya dapet makan yang dapet bogem mentah dari Ayah kamu, dikiranya aku ngapa-ngapain kamu." Jelas Faiz sambil menata makanan mereka dilantai beralas tikar plastik.


"Nangis itu nguras tenaga, kamu pasti laper. Jadi sekarang duduk dan makan!" Faiz yang mulai sibuk dengan hidangan didepannya mendapat cebikan dari Atika yang kemudian masuk ke arah dapur dan mencuci tangan di westafel lalu ikut duduk bersila-berhadapan dengan Faiz.


Mereka makan dalam diam, tak ada yang bersuara sama sekali bahkan tak ada suara dentingan sendok-garpu karena mereka makan menggunakan tangan langsung. Hingga mereka menyelesaikan makan mereka, Atika dengan sigap membereskan piring dan kawan-kawannya-bekas makan mereka, lalu membawa ke westafel untuk dicuci.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?" Atika menoleh mendengar suara Faiz dari balik gorden pembatas antara ruang tamu dan dapur.


"Mau nyuci piring."


"Rajin banget." Faiz mendekati Atika dan berdiri tapat disamping perempuan itu.


"Aku bantuin."


"Gak usah, aku aja. Dikit gini, dirumah kadang lebih banyak dari ini aku kerja sendiri." Atika tidak menoleh sibuk dengan spons dan sabun cuci piring ditangannya.


Faiz tersenyum tipis sambil menyandarkan pinggang belakang ke tembok dapur dan terus memperhatikan setiap gerakan dari gadis didepannya.


"Jadi, setelah ini kamu masih mau menghindar dariku?" Atika menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan Faiz, ia tidak tau harus menjawab apa.


"Kalo waktu itu alasan kamu hindarin aku karna kita gak ada alasan untuk dekat selain soal kerjaan.." Faiz menggantungkan kalimatnya sesaat sebelum kembali melanjutkan,


"Kita mulai dari awal lagi. Kita kenalan baik-baik." Faiz berdiri tegak sambil mengulurkan tangan.


"Hai, aku Faiz. Nama kamu?" Tangan Faiz masih menggantung tanpa ada sambutan.


"Enghh. A.apa-apaan sih."


"Aku mau kenal sama kamu dan aku tertarik sama kamu." Mendengar itu, Atika menghentikan gerakannya yang sedang menyiram piring dibawah kucuran air.


"Dua minggu ini aku mencoba mengikuti apa mau kamu, aku mencoba menghindar untuk gak nemuin kamu, gak hubungin kamu lewat telfon ataupun chat, tapi tetap aja kamu selalu menuhin pikiran aku." Faiz menjeda sebentar, menunggu reaksi Atika lalu kembali melanjutkan saat melihat Atika melanjutkan dan menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu gak mau kasih aku kesempatan?" Tanya Faiz pelan.


"Tapi, gimana dengan mantan kamu? Bukannya kamu masih belum move on bahkan jadiin beberapa perempuan sebagai pelarian kamu." Atika yang sudah selesai dengan cuci piringnya, mengeringkan tangan pada serbet yang tergantung diatas bak cuci.


"Mungkin iya, sebagian perempuan yang pernah dekat sama aku cuma jadi pelarian tapi gak ada yang berhasil. Justru sama kamu, yang gak pernah aku sangka buat jadi pelarian justru bisa bikin aku lupa sama dia yang pernah bikin aku sakit." Atika mendengarkan tapi belum berbalik dari posisi awalnya sejak mencuci piring.


"Kamu gak mungkin bisa lupa sama dia cuma karna aku yang kamu kenal belom lebih sebulan."


"Aku juga berpikir gitu. Tapi ini yang aku rasain sekarang, pikiranku terkunci sama kamu, dada aku kerasa nyeri liat kamu nangis, liat kamu disakitin." Faiz mendekati Atika yang masih membelakanginya, lalu memutar badan gadis itu pelan agar bisa berhadapan dengannya.


Atika menunduk saat Faiz membalikkan badannya-tidak berani menatap wajah pria itu, tapi Faiz menyentuh dagunya lembut lalu membuat kepalanya mendongak, dan mata mereka bertemu. Atika bisa melihat kejujuran dan kilatan luka disana. Atika dengan cepat memalingkan wajah, tidak ingin terlalu tenggelam dimata tajam tapi sendu itu.


"Tapi aku yang gak yakin sama diriku sendiri."


"Kenapa?" Faiz mengerutkan kening mencoba kembali menatap mata bulat yang masih terlihat sembab itu, tapi Atika terus membuang pangangannya kearah lain.


🖤🖤🖤

__ADS_1


Enjoy HIU 😘🤗


__ADS_2