Hope Is You

Hope Is You
Thirty One


__ADS_3

Pagi ini selepas sholat subuh Atika langsung menyelesaikan tugas rumahnya yaitu beres-beres ataupun bersih-bersih rumah-yang biasanya ia kerjakan setelah sarapan tapi berhubung jam 8pagi nanti dia harus menghadiri meeting pembahasan promo terbaru di office maka ia menyelesaikan tugasnya itu lebih cepat.


Waktu menunjukkan pukul 6:30 saat ia berdiri didepan cermin panjang yang ada disudut kamarnya, menyatukan rambut hitamnya keatas lalu mengikatnya, sekali lagi memperhatikan penampilannya dan bersamaan dengan itu pintu kamarnya diketuk dua kali dari luar.


"Masuk, ga dikunci!" Kepala Alana menyembul dari balik pintu begitu mendengar perintah dari kakaknya yang ada didalam kamar.


"Udah siap belom?"


"Kenapa emang?" Atika bertanya tanpa menoleh sambil sibuk memasukkan buku catatan kecil dan pulpen kedalam tote bag pink nya.


"Udah ditungguin dibawah"


"Loh kan tadi aku udah bilang ke Ayah mau berangkat sendiri, soalnya mau mampir di kedai burjo nya kak Ika, lagi pengen makan burjo." Atika mengatakannya sambil nyengir membayangkan makanan yang terdiri dari bubur kacang hijau dicampur ketan hitam, gula merah dan santan itu.


"Yang bilang ditungguin Ayah siapa? Pak supervisior tuh, udah duduk manis diruang tamu nungguin kakak."


"Hahh? Jangan ngaco!" Pekik Atika lalu mendelik ke arah Alana dan gadis SMA itu hanya memutar bola mata lalu berbalik ingin keluar dari kamar kakaknya sambil berkata,


"Yaudah kalo gak percaya. Aku suruh dia pulang aja dan bilang kalo kak Atika ngatain aku ngaco." Atika yang mendengarnya langsung berlari kecil dan mendahului Alana menuruni tangga, dan matanya terpaku melihat pria yang berseragam supervisior sedang mengobrol dengan Ayah ditemani dua cangkir teh hangat.


"Kamu kok disini?" Atika yang kini berdiri disamping Ayahnya terus menatap Faiz dengan tatapan tak percaya.


"Ya mau jemput kakak lah, masa iya jemput Alana." Alana yang baru turun dari tangga menjawab tanpa ditanya sambil melirik lalu nyengir tanpa dosa melihat kakaknya yang sudah melotot kepadanya.


"Maafkan Alana yah nak Faiz, dia memang seperti itu suka mengganggu kakaknya." Ucap Ayah dengan senyum dan juga dibalas dengan senyuman oleh Faiz.


"Iya gak apa-pa om." Matanya lalu beralih ke Atika.


"Mau berangkat sekarang?"


"Aku ambil tas dulu." Atika lalu naik kekamar lalu menyampirkan tote bag nya di bahu kanan.


"Atika pamit dulu, Yah" Atika kemudian pamit pada sang Ayah lalu menyalami juga mencium punggung tangan Ayah dan diikuti oleh Faiz yang melakukan hal yang sama.


"Tante mana, om?" Tanya Faiz yang sedari tadi tidak melihat ibu Syarifah.


"Tante mu lagi ke warung, gak tau kenapa belum kembali. Kalian berangkat saja, nanti terlambat kalau menunggui Ibunya Atika." Atika dan Faiz mengangguk lalu berjalan beriringan dan masuk kedalam mobil Faiz yang terparkir didepan pagar.


"WA ku kenapa gak dibalas?" Mereka sekarang sudah berada didalam mobil yang melaju pelan menyusuri jalan kota pagi ini.


*WA: Whats app/aplikasi chat*

__ADS_1


"Gak kenapa-napa." Jawab Atika sekenanya.


"Masih ngambek?"


"Ngambek? Buat apa?" Faiz terkekeh mendengar nada suara merajuk yang terus disembunyikan gadis itu.


"Yaudah kita mampir sarapan dulu, karna ngambek itu butuh tenaga." Ucap Faiz yang mendapat delikan dari Atika.


Mobil Faiz menepi lalu berhenti tidak jauh dari kedai bubur. Mereka turun lalu Faiz memesan sebelum ia duduk disamping Atika yang sudah memilih duduk dikursi plastik dengan meja kayu didepannya. Tidak lama, bubur kacang ijo untuk Atika dan bassang untuk Faiz-diantarkan oleh seorang wanita berhijab.


*Bassang: bubur jagung putih (khas makassar) yang dicampur santan dan gula pasir*


Mata Atika membulat dengan sumringah melihat bubur kacang ijo yang mengepul hangat dihadapannya.


"Udah lama banget Tika gak mampir, sekalinya mampir bawa yang baru." Wanita berhijab yang mengantarkan pesanan mereka menatap Atika dengan senyuman menggoda.


"Apasih kak Ika. Ini bos aku tauk." Wanita bernama Ika itu membulatkan mulut lalu nyengir.


"Kirain, soalnya udah lama banget gak mampir sini sama Ian." Atika sontak menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk bubur.


"Aku udah gak sama dia kak. Dia udah tunangan sama orang lain."


"Udahlah kak, gak usah dibahas. Aku mau makan, buru-buru mau ke kantor." Mendengar itu, Ika mendesah kecewa lalu berdiri dengan malas dan mempersilakan pelanggannya menyantap sarapannya lalu kembali keaktifitas semulanya.


Atika dan Faiz menyantap sarapan mereka tanpa suara-seperti biasa, setelah menghabiskan dan membayarnya mereka pun melanjutkan perjalanan ke office.


"Kayaknya kalian salah satu pasangan spektakuler sampe mbak-mbak bubur aja tau tentang kalian." Faiz kembali membuka suara setelah berada dimobil.


"Gak juga."


"Ini pertama dan terakhir kalinya kita makan di kedai bubur itu."


Atika menoleh dan menautkan alis.


"Kenapa? Burjo nya kak Ika tuh udah jadi favorit aku dari dulu."


"Aku gak mau kita makan atau datang ketempat yang ada kenangan kamu dan laki-laki itu." Mata Faiz menatap tajam jalanan didepannya tanpa menoleh sedetikpun pada Atika yang terus menatapnya membuat Atika menghela nafas lalu memilih melihat kearah luar jendela, malas mendebat pria disampingnya.


Pukul 7:20 mereka tiba di office, Atika dan Faiz berjalan bersisian memasuki pintu utama dan berpisah di lobby-Atika naik ke lantai dua dan Faiz berjalan ke arah kiri masuk melalui pintu kaca dibelakang resepsionis dan menuju kubikelnya.


Meeting dimulai pukul 8 tepat dan berjalan dengan lancar dan tenang hingga diinterupsi oleh adzan dhuhur yang berkumandang pada speaker kecil disudut ruangan yang memang terhubung pada mushollah kantor.

__ADS_1


Beberapa orang memilih untuk makan siang terlebih dahulu baru menunaikan sholat dhuhur, tapi Atika lebih memilih menunaikan kewajibannya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantin.


Setelah menunaikan sholat dhuhur berjamaah, Atika berjalan santai menuju kantin yang berada diluar gedung tetapi masih didalam lingkungan office.


Langkahnya terhenti saat mendengar namanya dipanggil dari arah belakang, ia pun menoleh dan menyipitkan mata melihat seorang perempuan berambut sebahu berjalan mendekatinya.


"Hai, Atika kan?" Senyum perempuan itu mengembang setelah berdiri disamping Atika, lalu ia melanjutkan setelah melihat anggukan dari Atika.


"Mau ke kantin kan? Bareng yah." Dan Atika hanya mengangguk ragu.


"Kamu pasti heran kenapa aku bisa kenal kamu." Kini mereka sudah duduk dibangku panjang berhadapan dengan meja panjang-di kantin.


"Kamu Devi?" Tanya Atika ragu dan dijawab dengan anggukan semangat oleh perempuan disampingnya.


"Gimana hubungan kamu dan pak Faiz?"


"Aku? Bukannya kamu dan pak Faiz..." Atika menggantungkan kalimatnya, tidak tau harus berkata apa, dan perempuan disampingnya malah tertawa mendengar Atika.


"Sebelumnya aku minta maaf, pasti kamu ngira aku dan pak Faiz ada hubungan?" Devi menekankan kata 'hubungan'.


"Aku dan pak Faiz gak lebih dari seorang teman lama yang sekarang jadi rekan kerja. Pak Faiz itu dulu kating aku dan kita jadi akrab karna pernah gabung di organisasi yang sama."


"Jadi, yang kemaren aku minta maaf yah. Waktu pak Faiz berkunjung ke tokoku, setelah briefing dia ngomong kalo dia datang sama gebetannya, aku awalnya gak langsung percaya karna aku taunya dia itu pria gagal move on" sambung Devi sambil nyengir saat mengucapkan kalimat akhirnya.


"Tapi pas dia bilang kalo cewek itu ada didalam mobil aku percaya saat aku melirik sekilas kearah mobilnya dan disitu aku liat kamu lagi ngeliatin kita dengan serius. Ck ah, pokoknya yang kemarin itu cuma akting, aku disuruh sama pak Faiz berlagak manis sama dia, senyum-senyum dan dadah-dadahin dia kayak film india karna mau liat reaksi kamu kalo dia deket sama perempuan lain."


"Dia bilang, kalo dia udah mentok sama kamu, dia berhasil hilangin kenangan masa lalunya berkat kamu, dan justru sekarang dia bener-bener gak bisa lepas dari kamu. Tapi kamu malah gantungin dia." Devi kembali tertawa berbeda dengan Atika yang terus memasang tampang polos.


"Dan waktu dia habis anterin kamu, dia mampir lagi ke toko karna berkasnya ketinggalan dan kebetulan kamu nelfon, eh sama dia disuruh makin panas-panasin kamu. Dan jengjeng, berhasil ternyata."


"Berhasil?" Atika baru membuka suara setelah penjelasan panjang Devi yang kemudian mengangguk lalu menyesap es teh manis yang baru saja diletakkan didepannya oleh pelayan kantin.


"Kamu keliatan banget cemburunya. Salah satu buktinya, tadi pas kamu liat aku kayak gak suka gitu"


"S.siapa yang cemburu. Aku siapanya pak Faiz sampe harus repot-repot cemburu?!"


"Udahlah gak usah disangkalin lagi. Sekalipun kamu belum bener-bener yakin, lebih baik kamu terima pak Faiz dan jalanin aja dulu, lambat laun kamu pasti tau dan sadar sama perasaan kamu sendiri."


🖤🖤🖤


Enjoy HIU 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2