
Selepas jam kerjanya, Atika mengikuti permintaan Ian untuk memberinya kesempatan menjelaskan dan meluruskan semua kesalahpahaman diantara mereka.
Saat ini mereka sudah berada didalam mobil yang melaju pelan entah kemana tujuannya Atika pun masih belum tau, beberapa kali Atika bertanya kemana tujuan mereka dan hanya dijawab "Kamu tenang aja, aku gak akan nyulik kamu" dan senyuman dari Ian yang membuat Atika kembali merasakan nyeri didadanya pasalnya kata-kata itu selalu digunakan Ian disaat mereka pergi bersama tanpa tujuan.
Mobil memasuki area gedung perkantoran yang tidak asing bagi Atika kemudian berhenti dihalaman parkir yang berhadapan dengan taman yang tidak terlalu besar dengan susunan huruf berukuran besar ALTAR PARK, Atika menahan nafas sejenak lalu menghembuskan dengan berat menatap taman didepannya.
"Kenapa kesini?" Tanyanya, mereka masih dan tetap duduk jok mobil.
"Kamu ingat gak? Taman ini saksi pertemuan pertama kita dan juga tempat aku minta kamu jadi pacar aku." Ian menatap lurus ke depan sana dengan senyuman masih menghiasi wajahnya tapi Atika bergeming, tidak menanggapi.
"Aku ingat banget, kamu beberapa kali nolak aku dengan banyak alasan tapi dengan bantuan Miftah akhirnya kamu mau nerima aku. Perjuanganku untuk dapetin kamu gak gampang, mulai dari kamu yang belum pernah pacaran, mau fokus sekolah, dan juga karna aku putra tunggal dari pemilik perusahaan besar di kota ini." Ian melirik Atika yang masih terdiam menatap lurus kedepan, lalu ia kembali melanjutkan,
"Tapi Dewi fortuna masih berpihak sama aku waktu itu, sampai akhirnya kamu luluh dan kau nerima aku." Ia tersenyum dan terus melirik Atika.
"Jadi kamu maksa aku ikut cuma buat nostalgia?" Atika tidak menatap ataupun menoleh pada Ian, sejujurnya hatinya kembali diporak-porandakan pria ini, Atika pikir ia sudah berhasil move on tapi seperti salah satu kutipan dari novel yang pernah ia baca bahwa "Masa lalu sanggup mengobrak-abrik hati bahkan hanya dengan satu detik pertemuan", dan itu sepertinya benar.
"Hari dimana aku balik dari bali dan janji akan jemput kamu, mami minta aku buat jemput dia di mall dimana dia dan temannya lagi makan siang. Aku kesana tanpa ada firasat buruk sedikitpun. Mami ngenalin aku pada temannya dan anaknya, dia tante Siska dan anaknya, Selly."
"Tante Siska?" Atika menoleh pada Ian mendengar nama itu, yang dia ingat waktu menemani maminya Ian arisan, tante Siska yang kelihatan paling tidak suka dan memandang rendah dirinya.
"Kamu kenal?" Atika berpikir sejenak lalu menggeleng dan kembali menatap taman didepan, ia memilih untuk diam dan tidak menceritakan kejadian waktu itu.
"Disana mami terus bercerita tentang Selly dan keluarga tante Siska, aku mulai menangkap gelagat aneh sampai akhirnya mami dan tante Siska ninggalin aku duduk berdua sama Selly, aku langsung berterus terang kalo aku udah punya kamu dan sayang banget sama kamu, aku mengira itu akan membuat Selly menolak perjodohan ini tapi tidak, justru mami marah sama aku karna menceritakan tentang kamu ke Selly, mami malah nekat mencelakai dirinya karna aku terus bersikukuh mempertahankan kamu." Atika menoleh pada Ian dengan mata yang membulat-tidak percaya.
"Segitu gak sukanya mami kamu sama aku?" Ian menatapnya sendu lalu menghembuskan nafas yang terasa berat karna begitu banyak hal yang menghimpit dadanya, lalu melanjutkan lagi.
"Tiga hari mami dirawat dirumah sakit, dan aku lebih memilih nginap dirumah Gibran dan selama aku gak dirumah, selama itu juga mami terbaring sakit. Aku bener-bener gak tau harus gimana, disatu sisi aku gak bisa ninggalin kamu dan disisi lain aku juga gak mau kecewain wanita yang udah ngelahirin aku. Hampir seminggu aku cuma bisa ngeliat kamu dari jauh, mulai dari kamu berangkat sampai pulang kerja dan aku gak bisa apa-apa, aku takut keluarga Selly nekat celakain kamu dan akhirnya aku nerima perjodohan ini." Atika terus menatap Ian yang bercerita, tidak menyangka jika Ian pun sama tersiksanya dengan dirinya.
__ADS_1
Ian mencoba menggenggam tangan Atika dan menatap dalam mata perempuan itu.
"Jika aku bisa menjadi aladin dan mendapat keajaiban untuk mengajukan permohonan 1 saja, aku akan meminta agar waktu bisa diputar kembali kemasa dimana aku harus memilih antara kamu dan orang tuaku" Atika menggeleng mendengar Ian, airmata yang sedari tadi ditahan Atika akhirnya luruh kepipinya.
"Nggak, yang kamu lakuin udah bener. Sekalipun aku tau daridulu cerita ini, aku pasti tetep nyuruh kamu kembali ke orangtua kamu." Ian mencoba menyentuh pipi Atika yang basah, mengusapnya pelan dan berusaha menahan airmatanya sendiri agar tetap dipelupuk.
"Aku gak bisa tanpa kamu. Aku cinta ka.." ucapan Ian terpotong karena gedoran dari kaca mobil disampingnya.
Dorr doorr
Atika dan Ian serentak menoleh dan betapa kagetnya melihat mami Ian diluar sana dengan wajah marah. Atika ingin membuka pintu disampingnya tapi Ian lebih cepat menekan tombol lock pada pintu disamping kemudi.
"BUKA! TURUN KAMU!" Suara keras Mami Ian dan terdengar tidak sabar dari luar.
"Ian buka!" Atika pun mulai panik karena Ian tak kunjung membuka kunci.
"Gak, kita pergi dari sini. Kita tinggalin kota ini dan hidup sama-sama ditempat lain."
"Iya aku gila, dan itu karna aku gak bisa tanpa kamu!"
Dorr dorrr
Kedoran diluar semakin keras membuat Atika frustasi tidak tau hatus berbuat apa.
"IAN!!" Bentaknya frustasi pada pria disampingnya, membuat Ian mengacak rambutnya dengan kasar lalu menekan tombol unlock pada pintunya. Atika dengan cepat membuka pintu dan menghampiri tante Diana yang juga berjalan cepat kearahnya.
Plakkkk
__ADS_1
Atika belum sempat berbicara tapi satu tamparan keras mendarat dipipi mulusnya.
"DASAR PEREMPUAN GAK TAU DIRI, GAK PUNYA MALU. MAU JADI APA KAMU, IAN SUDAH PUNYA TUNANGAN DAN SEBENTAR LAGI AKAN MENIKAH TAPI KAMU TERUS SAJA MENDEKATINYA!" Tante Diana memakinya dengan suara lantang, dan Ian yang begitu melihat kejadian itu dengan cepat turun dan menghampiri mereka.
"Mi! Atika gak salah apa-apa, aku yang maksa dia untuk ikut sama aku."
"GAK! MAMI TAU PASTI PEREMPUAN MISKIN YANG GAK TAU DIRI INI YANG DEKETIN KAMU. DASAR SUDAH MISKIN GAK PUNYA HARGA DIRI LAGI." Airmata Atika semakin deras membasahi pipinya, dia terlalu kaget sampai tidak tau harus membalas dengan apa setiap kata menyakitkan dari mami Ian.
"Mami! Aku mencintai Atika, dan aku gak bisa ninggalin dia. Terserah mami sekarang mau ngelakuin apa, yang jelas aku dan Atika akan tetap sama-sama!"
Plakkk
Kali ini satu tamparan dari tangan Atika mendarat di pipi Ian, dengan dada naik turun karna menahan emosi dan sakit hati atas ucapan tante Diana.
"Siapa bilang aku setuju? Aku gak pernah berniat untuk kembali lagi sama kamu. Dan tante.." Atika beralih menatap Mami Ian yang juga terlihat kaget.
"Saya memang miskin tapi jangan pernah bilang kalau saya gak punya harga diri. Tante mungkin memang kaya harta, tapi soal hati tante jauh lebih miskin bahkan dari pengemis. Jika tante punya hati, tante gak akan memaksakan kehendak yang membuat anak tante sendiri merasa terbebani bahkan tercekik!" Atika kemudian berbalik dengan langkah panjang dan tangan yang terus mengusap kasar pipinya karena lelehan airmatanya tidak juga berhenti-meninggalkan sepasang anak dan ibu yang terus menatap kepergiannya.
Atika berbelok masuk ke taman yang berbentuk segitiga dipertigaan jalan tidak jauh dari gedung kantor Altar Group.
Ditempat yang temaram itu ia terduduk di bangku semen lalu meluapkan semua perasaannya, sakit hatinya, menangis tanpa suara. Ia merogoh tasnya lalu berniat menghubungi Miftah-sepupunya, untuk meminta dijemput karena ia tak mungkin pulang naik angkot dengan keadaan yang seperti ini.
Sambil terus terisak ia mencari nama kontak Miftah dan langsung menghubunginya. Lumayan lama Atika menunggu hingga suara 'tut' tanda panggilan tersambung berhenti dan terdengar helaan nafas diseberang tanpa sapaan halo
"Miftah. Hiks, je.jemput g.gue hiks. Gue gak bisa pulang sendiri. Gue ditaman segitiga dipertigaan jalan ke Altar Group. Hiks hiks." Atika masih dengan isakannya berbicara dengan sesegukan.
"Tunggu disana jangan kemana-kemana!" Suara berat dari seberang membuat Atika tersentak lalu menjauhkan ponsel dari telinga lalu mengecek kontak yang ia telfon, dan disana terpampang id Boss Kulkas dan bukannya Best Cousin, ia kembali mendekatkan ponselnya ketelinga tapi disana hanya terdengar suara tuuttt panjang yang berarti sambungan telfon sudah berakhir.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Enjoy HIU 🤗😘