Hope Is You

Hope Is You
Thirty Two


__ADS_3

Obrolannya dengan Devi siang tadi terus terngiang dikepala Atika, beberapa kali ia harus mencoba fokus dengan pembahasan meeting dihadapannya tapi sekeras itu juga penggalan kalimat Devi terus menyerang pikirannya.


"Aku yakin kamu orang yang tepat untuk pak Faiz, dari sekian banyak perempuan yang pernah menjalin hubungan sama dia untuk bisa move on dari cinta lama nya. Cuma sama kamu dia berhasil melakukannya tanpa ada niat 'pelarian' seperti saat dengan perempuan-perempuan sebelum kamu" Atika menatap seksama wajah serius Devi dan mencerna dengan baik setiap kata yang melesat mulus dari bibir perempuan itu.


"Tapi, aku ngerasa gak masuk akal. Masa iya cuma dalam beberapa hari sama aku dia bisa move on, dan aku? Aku juga belum lama ini putus dari hubungan yang aku jalanin selama empat tahun. Gak logis kalo aku langsung bisa nerima dia."


"Kalo soal cinta itu jangan cari pembenaran di akal, gak akan pernah ketemu." Devi menyunggingkan senyum sebelum kembali melanjutkan.


"Cari pembenarannya tuh disini" perempuan berambut sebahu itu menunjuk kearah dadanya dengan masih tersenyum.


"Kamu kalo pake akal, gak akan nemu, pasti ada aja gak cocoknya. Jadi, khusus untuk masalah kalian dengerin hati kamu, karna kata hati gak akan pernah salah apalagi bohong."


Hingga meeting berakhir di pukul 15.25, Atika masih terus memikirkan kata-kata Devi di kantin tadi. Beruntung saat meeting berjalan tadi ia duduk dibarisan kedua dari belakang, pinggir dekat jendela jadi dari depan tidak begitu mengundang perhatian pemateri.


"Atika!" Ia menoleh kebelakang saat berjalan menuju tangga dan mendengar namanya dipanggil.


"Kenapa Dev?" Devi menghampirinya dengan sebuh buku catatan kecil ditangannya.


"Nih. Daritadi aku liat kamu gak begitu fokus sama pembahasan meeting, pasti beberapa poin penting gak kamu catet kan?" Devi mengerling sambil menyodorkan buku catatan berwarna kuning.


"Mata kamu jeli banget, padahal duduknya jauh dari kursiku." Devi terkekeh mendengar Atika lalu menjawab.


"Yaudah nih, kamu bisa pinjem dulu abis disalin baru balikin ke aku, mana tau tiba ditoko COS (Cief of Store) kamu nanyain catatan pembahasan meeting." Atika menerima buku dari tangan Devi sambil menyunggingkan senyum dan berterima kasih yang diangguki oleh Devi.


"Jangan lupa sama semua masukan-masukan aku tadi. Kamu harus jujur sama hati kamu sendiri." Setelah mengatakan itu, Devi pun berlalu sambil melambai ke Atika.


Atika menatap Devi yang menajuh menuju parkiran motor lalu mengendarai motornya, keluar dari area office melewati pos jaga security.


"Mau cari tempat buat ngelamun?" Suara bariton itu menyadarkannya dari tatapan kosongnya yang menatap kepergiaan Devi.


"Kamu? Sejak kapan disitu?"


"Baru aja, aku nyariin kamu di ruang meeting tapi udah kosong. Pas aku keluar ternyata kamu melamun disini." Faiz tersenyum menatap Atika.


"Mau pulang kan? Aku antar yah?" Lanjut Faiz dan Atika malah memicingkan mata.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamu mau jadi aktor?" Faiz memgernyit tidak mengerti mendengar pertanyaan Atika.


"Gak usah sok-sokan gak ngerti. Aku udah tau semuanya." Atika mencibir lalu berjalan meninggalkan Faiz yang masih tidak mengerti arah pembicaraan Atika.


"Tentang apa?"


Atika berhenti lalu berbalik menatap kedalam mata Faiz sambil membatin, 'apa iya aku harus nerima dia? Tapi apa mungkin dia gak ngecewain aku kayak Ian kemarin?'


"Hei! Kok bengong?" Faiz menjentikkan jari didepan wajah Atika membuat Atika mengerjap dan menoleh kebeberapa penjuru dan menyadari ada banyak pasang mata yang memperhatikan mereka dari sini.


"Kita sambung dimobil." Atika lalu berjalan menuju area parkir mobil dan Faiz berjalan lebih cepat agar bisa mengimbanginya.


"Jadi, yang kamu maksud udah tau semuanya itu apa?" Sekarang mereka sudah duduk dijok mobil dan Faiz menyalakan mesin mobil.


"Kamu sama Devi cuma akting buat bikin aku cemburu." Atika mengucapkannya dengan setengah ketus membuat Faiz meliriknya lalu tersenyum simpul.


"Oh. Jadi udah ketauan?"


"Cuma itu?"


"Kenapa harus bikin aku cemburu?"


"Karna kamu gantungin aku." Mobil yang dikendarai Faiz baru saja meninggalkan pekarangan office dan melewati pos jaga security, tapi tiba-tiba menepi lalu ia menoleh menatap Atika yang masih menekuk wajahnya.


"Kok berhenti?" Tanya Atika heran menyadari mobil mereka berhenti dipinggir jalan tidak jauh dari pos jaga security.


"Kamu beneran cemburu?" Sudut bibir Faiz terangkat melihat semburat merah di pipi Atika yang dengan cepat memalingkan wajah.


"Nggak."


Keheningan diantara mereka berlangsung beberapa menit hingga akhirnya Atika berdehem untuk meredakan rasa tercekat dikerongkongannya.


"Kalo aku nerima kamu, apa kita gak akan saling nyakitin?" Faiz yang tadinya mengalihkan pandangan kearah jalan didepan-kemudian menoleh kekiri tempat dimana Atika duduk menatapnya.

__ADS_1


"Kita sama-sama pernah ngerasain sakitnya dikecewain, ditinggalin, kita sama-sama tau rasanya disakitin jadi aku rasa kita bisa saling menjaga." Mata mereka bertemu, senyum Faiz tersungging lalu melanjutkan.


"Mungkin bagi kamu ini terlalu cepat, tapi memang ini yang aku rasa. Gak tau sejak kapan aku mulai sayang sama kamu, aku mau jadi alasan kamu tersenyum, alasan kamu bisa lupain si br*ngs*k itu."


Setetes bulir bening lolos dari pelupuk mata Atika yang membuat Faiz mengusap pipi putih gadis itu.


"Kenapa nangis?" Atika merasa aliran darahnya menghangat saat tangan besar itu menyentuh pipinya. Ia menggeleng mendengar pertanyaan Faiz, ia juga tidak tau kenapa airmatanya bisa tiba-tiba menyeruak mendengar Faiz mengatakan kalau lelaki itu menyayangi dirinya.


"Aku gak maksa kamu, kalo memang kamu belum yakin aku siap nunggu.." ucapan Fazi menggantung karena Atika dengan cepat memotongnya.


"Aku mau." Atika menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.


"Aku mau coba jalanin sama kamu, aku juga gak bisa terus-terusan bohong kalo aku gak tertarik sama sekali. Dan iya, aku cemburu ngeliat kamu sama Devi kemarin. Itu mungkin udah cukup membuktikan kalo ada sisi dihati aku yang mengharapkan kamu."


Untuk beberapa saat mata mereka hanya saling menatap, hingga Faiz memutuskan lebih dulu lalu mengambil ransel hitamnya yang ada dijok belakang, lalu merogoh isi depan ransel tersebut. Ia mengeluarkan kotak beludru berwarna biru navy lalu membukanya.



Mata Atika membulat melihat kalung perak dengan double heart saling mengait menjadi bandul kalung cantik itu.


Faiz mengeluarkan kalung itu dari kotak beludru sambil tersenyum.


"Kalung ini udah nemenin aku berminggu-minggu. Malam itu, waktu aku nungguin kamu selesai nge-shift, aku udah plan matang-matang mau ngajak kamu jalan dan cari tempat dengan suasana yang mendukung buat kasih ini ke kamu. Tapi kamu malah hindarin aku." Faiz tersenyum masam, dan terbersit dihati Atika perasaan bersalah.


"Sekarang apa boleh, aku pakein ini dileher kamu?" Tanya Faiz hati-hati dan Atika mengangguk malu.


Tangan Faiz terulur kebelakang leher Atika yang tidak begitu jenjang, ujung jarinya menyentuh kulit leher Atika menimbulkan sengatan dikulit mereka dan membuat sesuatu yang selama ini tidur didalam diri Faiz terasa bangun kembali.


Setelah terpasang, Faiz menarik kembali tangannya lalu bergumam.


"Cantik."


Blush


Atika tersipu mendengarnya dan merasakan pipinya memanas, membuat Faiz harus menahan untuk tidak mencubit pipi yang tersipu dan mencium bibir yang tersenyum merekah itu.

__ADS_1


🖤🖤🖤


Enjoy HIU 😘🤗


__ADS_2