Hope Is You

Hope Is You
Eightteen


__ADS_3

Ian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Selly yang duduk dijok penumpang sebelahnya tegang.


"I.. Ian.. hat..ti-hati" Selly pun beberapa kali mengingatkan Ian untuk berhati-hati atau memelankan laju mobilnya tapi tidak digubris oleh Ian


"IAN AWAASSS!!"


Ckiiitttttt bersamaan dengan jeritan Selly, suara decitan ban mobil karena Ian menginjak rem mendadak karena  hampir menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyebrang jalan


"WOIIII KALO MAU NYEBRANG DI ZEBRA CROSS G*BLOKKK!!" Ian yang mengeluarkan kepala dari jendela mobil meneriaki sang pejalan kaki yang memang menyeberang jalan tidak pada tempatnya, dan dibalas dengan pelototan dan tatapan aneh sang pejalan kaki yang tetap terus berjalan menjauh


"Sabar. Lagian kamu juga yang ngebut" Selly yang mencoba menenagkan nya dengan mengelus lembut lengannya dan dibalas dengan delikan oleh Ian yang kemudian menepikan mobilnya


"****!" Ia memukul roda kemudi setelah menepikan mobilnya, melampiaskan segala kekesalan yang dirasakannya hari ini.


"dia orang yang saat ini selalu ada untuk aku. Dia calon suamiku" Atika mengatakannya dengan lantang membuat ketiga pasang mata disana terbelalak kaget termasuk Faiz.


"Gak mungkin. Kamu gak mungkin secepat itu bisa dapat pengganti aku"


"Kenapa gak mungkin? Apa kamu pikir cuma kamu yang bisa bahagia ninggalin aku karna perempuan lain? Aku juga mau bahagia, dan dia" Atika menjeda kalimatnya lalu mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam erat tangan Faiz lalu melanjutkan


"Dia yang akan mewujudkan semua mimpi aku tentang kebahagiaan membina hubungan"


"Tapi aku yakin kamu masih sayang sama aku, masih cinta sama aku. Buktinya cincin dariku masih kamu pake" Ian melirik tangan kiri Atika-tepatnya pada jari manisnya yang masih memakai cincin perak berhiaskan permata, diikuti Faiz dan Selly melirik cincin tersebut.


Atika melepaskan genggaman tangan kanannya pada tangan kiri Faiz, melepaskan cincin perak itu dari jari manisnya lalu meraih tangan kanan Ian dan menaruh cincin itu ditelapak tangan Ian.


"Aku kembaliin. Makasih buat semuanya, makasih karna pernah menjadi salahsatu alasan untukku tersenyum" Atika kembali menggenggam tangan Faiz lalu berjalan ke mobil melewati Ian dan Selly.


Kejadian beberapa saat lalu masih terngiang-ngiang di pikirannya membuat dadanya kembali bergemuruh, lelah memukul roda kemudi Ian menundukkan kepala bertumpu pada roda kemudi.


"Jadi dia Atika?" Tanya Selly melihat Ian berhenti memukul roda kemudi tapi tidak ditanggapi Ian


"Cantik yah, dan keliatannya dia perempuan yang baik dan penyayang. Keliatan jelas kalo kalian benar-benar saling mencintai" Selly melirik Ian yang masih menunduk dan sesekali bergumam tidak jelas.


"Dulu dari salahsatu laki-laki yang aku sayang, aku pernah melihat sorot mata terluka karna gak bisa mempertahankan orang yang disayang" Selly kembali membuka suara saat suara gumaman Ian tidak terdengar lagi


"Dia kak Farrel, kakakku satu-satunya. Dia sangat mencintai perempuan yang menjadi pacarnya selama hampir dua tahun, tapi terpaksa harus menelan pahit perpisahan karna mama-papa gak setuju sama hubungan mereka. Sama seperti kamu, dia mencintai perempuan dari status sosial yang berbeda" Selly menarik napas sejenak lalu melanjutkan ceritanya


"Dulu, aku gak bisa apa-apa saat perpisahan kak Farrel dan pacarnya, tapi sekarang aku gak akan tinggal diam melihat laki-laki yang.. ehm.. mungkin aku sayang.. menampilkan sorot mata terluka sama seperti kak Farrel" mendengar kalimat terakhir Selly, Ian mengangkat kepala dan menatap Selly dengan kening berkerut, dan Selly membalas dengan senyum yang manis sebelum melanjutkan


"Aku tau, pertunangan kita ada karna obsesi mama aku yang pengen banget besanan sama om Wihardi dan tante Diana. Sementara kamu masih sangat mencintai Atika. Aku akan bantu kamu untuk bisa kembali sama dia" mata Ian membulat mendengar ucapan Selly, dan sejurus kemudian tersenyum mengingat kalau yang di katakan Gibran dulu mungkin memang benar, anak-anak dari Ferdinan tidak seambisius orangtuanya.


• • •


Mobil yang dikendarai Faiz bergerak menjauh dari pusat perbelanjaan ATK, setelah beberapa meter berjalan Faiz menepikan mobil nya yang membuat Atika menatap nya dengan tatapan bertanya


"Kamu nangis aja dulu, saya tunggu diluar" Faiz lalu menyalakan radio pada dashboard dengan volume yang besar lalu keluar dan berdiri bersandar pada kap mobil.


Bersamaan dengan keluarnya Faiz, stasiun radio memutarkan lagu Tepatnya Malam Minggu milik Terry yang membuat airmatanya menetes tanpa permisi

__ADS_1


Apa salahku hingga kau sakiti aku


Saat cintaku mulai tumbuh dan berbunga


Kau goreskan kepedihan yang tak pernah kuduga


Kau patahkan semua harapanku


Kau hancurkan semua impianku


Akupun mengerti kita sungguh jauh berbeda


Bagai langit dan bumi yang terpisah jauh


Namun bukan berarti itu menjadi ukuran haruskah bulan bintang kuturunkan


Tuk buktikan semua perasaan


Atika mulai mengeluarkan isakan mendengar setiap lirik lagu yang benar-benar mencerminkan perasaannya saat ini, membayangkan bagaimana manisnya hubungannya dengan Ian dulu, bagaimana Ian memperlakukannya dengan baik meskipun status sosial mereka yang berbeda tapi Ian tidak pernah mengungkit apalagi mempermasalahkannya, justru ia selalu bersikap romantis apalagi saat Ian melamarnya di hari dia wisudah


Tepatnya malam minggu kau putuskan aku tuk menjadi kekasihmu


Tepatnya malam minggu kau tinggalkan aku kau bawaku dalam kehancuran


Kau tinggalkan aku dalam sebuah derita


Hingga ingatannya kembali pada malam dimana ia menyaksikan Ian memasangkan cincin tunangan resmi dihadapan puluhan bahkan ratusan tamu. Dadanya begitu terasa sesak hingga ia menangis sesegukan


Sumpah mati aku tak bisa hidup tanpamu


Namun kau coba lupakanku dengan cinta yang baru


Haruskah kuteriak didepanmu


(Terry-Tepatnya Malam Minggu)


Ia menyandarkan keningnya pada dashboard mobil dan kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu, saat perempuan itu muncul dibalik punggung Ian dengan panggilan 'yang', dadanya benar-benar terasa sesak dan malu karna tidak bisa menyembunyikan raut wajah terluka dihadapan Ian dan tunangannya sampai dia harus mengaku-ngaku kalau Faiz calon suaminya, 'tunggu. Calon suami?' Atika mengangkat kepala dan matanya langsung menangkap pria jangkung yang berdiri membelakanginya bersandar pada kap mobil-yang tadi dengan lantang dia akui sebagai 'calon suami'


Atika menghapus airmata yang tersisa di pipi dan sudut matanya menarik napas lalu menghembuskannya mencoba mengurangi sisa sesegukan karena menangis lalu mematikan radio dan membunyikan klakson membuat Faiz menoleh lalu kembali masuk dan duduk dibalik kemudi


"Udah? Cepet juga, saya kira kamu bakal nangis sampe berjam-jam"  tuturnya sambil membunyikan mesin mobil dan mulai mengendarainya, Atika hanya mendelik mendengarnya.


"Ehmm.. engh pak" Atika berdehem menetralkan tenggorokannya yang terasa kering akibat menangis meskipun hanya beberapa menit


"Saya.. emm.. Saya minta maaf" Faiz melirik nya sekilas sambil menaikkan sebelah alis nya lalu kembali menatap jalan didepan


"Otak saya udah bener-bener mentok gak tau mau ngapain tadi, dan yang terlintas cuma ngaku-ngaku kalo pak Faiz cal.. lon emm calon suami saya" Atika menunduk mencoba menyembunyikan semburat merah dipipinya, dan Faiz menanggapi hanya dengan senyuman miring dan


"Ohh" membuat Atika mengangkat kepalanya dan menatap Faiz

__ADS_1


"Tapi ini gak gratis" sambungnya


"Gak gratis? Saya harus bayar gitu?" Faiz menanggapi hanya dengan anggukan dan wajah yang tetap datar


"Hmm. Berapa rupiah?" Kali ini Faiz terkekeh mendengar pertanyaan polos Atika yang membuat Atika juga ikut tersenyum


"Bukan dengan uang"


"Trus?"


"Nanti saat saya butuh bantuan, kamu harus siap bantu saya" Faiz melirik Atika sekilas dengan senyum dan lagi seperti terhipnotis Atika ikut tersenyum setiap melihat senyum dibibir Faiz.


Beberapa menit perjalanan mereka akhirnya hampir tiba ditoko tempat Atika bekerja, tapi Faiz tidak menepikan mobil dan tetap berjalan lurus


"Loh, pak. Toko nya lewat" Faiz hanya meliriknya sekilas lalu menjawab


"Kamu gak usah mampir ke toko, saya lansung antar kamu pulang ke rumah aja"


"Tapi kenapa?"


"Mata kamu sembab. Saya gak mau anak-anak toko nuduh saya macem-macemin kamu" Atika mendelik mendengar alasan Faiz dan tidak disangka mobil Faiz sudah masuk ke gerbang kompleks rumah Atika tanpa diarahkan


"Pak Faiz tau darimana saya tinggal  dikompleks ini?" Tanya Atika heran


"Didata karyawan kan ada alamat lengkap" Atika hanya ber-oh ria mendengar Faiz


"Depan belok kanan, rumah ketiga sebelah kiri" arahannya ketika mobil sudah mendekat ke blok rumahnya, hingga akhirnya mobil berhenti didepan rumah sederhana namun terlihat nyaman dengan cat biru


"Itu mama kamu?" Tanya Faiz saat melihat wanita paruh baya yang sedang menyapu halaman, membuat Atika menoleh dan mengangguk


"Makasih pak sudah.." kalimatnya menggantung ketika menoleh ke jok pengemudi dan disana tidak ada Faiz, membuatnya cepat-cepat keluar dari mobil dan melihat Faiz yang sudah berjabat tangan dan mencium punggung tangan ibunya.


"Saya Faiz tante, supervisior ditoko tempat Atika kerja" Faiz yang tanpa dipersilakan sudah lebih dulu memperkenalkan diri pada ibunya dengan senyum diwajahnya membuat Atika lagi-lagi ikut tersenyum melihatnya


"Ohh. Bos kamu nak?" Ibu beralih menatap Atika yang berdiri dibelakang Faiz


"Iya bu" Atika mendekat dan menyalami ibu


"Yaudah masuk dulu yuk" ajak ibu kepada Faiz yang masih menampilkan senyum menghipnotisnya


"Oh gak usah tante, saya mau lansung pamit aja. Udah mau malam juga"


"Oh gitu. Makasih udah anterin Atika yah nak"


"Iya tante, sama-sama" Faiz berbalik dan berjalan menuju mobil nya lalu masuk dan memutar arah kemudian berlalu setelah membunyikan klakson  dan sedikit menundukkan kepala kearah ibu.


"Ganteng yah tik?" Ibu tersenyum menggoda Atika yang sejak tadi matanya tidak lepas dari Faiz


"Ih apasih ibu" pipinya bersemu merah lalu berbalik dan meninggalkan ibu yang masih tersenyum menggoda

__ADS_1


🖤🖤🖤


Enjoy HIU  😘🤗🙏🏻


__ADS_2