Hope Is You

Hope Is You
Twenty One


__ADS_3

"Saya mencintai dia" Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Atika, membuat perjalanan mereka sedikit canggung. Saat ini mereka sudah berada di mobil, setelah mengatakan itu Faiz menarik Atika dan mereka keluar bersama meninggalkan minimarket itu tanpa pamit pada perempuan yang tidak diketahui namanya oleh Atika.


"Ehmm. Jadi yang tadi itu mantan kamu?" Faiz meliriknya sekilas


"Siapa? Melda?"


"Oh namanya Melda" Atika mangut-mangut mengetahui nama perempuan tadi


"Dia bukan mantanku. Dianya aja yang selalu nempel-nempel, deket-deket aku, aku gak pernah nanggepin dia lebih apalagi sampe nembak"


"ohya? Trus kenapa nyuruh aku ngaku calon istri kamu didepan dia?"


"Yah biar dia taudiri dan berhenti nempel-nempel gatel"


"yayah. Tapi kayaknya dia deh yang dimaksud anak-anak dikantin tadi siang"


"Dikantin tadi siang? Anak-anak mana?" Faiz mengernyitkan dahi sambil sesekali melirik Atika


"Anak-anak peserta meeting, mereka bilang kalo kamu pernah pacaran sama ACS tapi gak tau anak toko mana. Dan katanya kalian putus karna si cewe gak tahan sama sikap kamu yang dingin dan datar"


"Mereka ngomong gitu ke kamu? hahaha" Faiz tertawa mendengar Atika, 'eh dia ketawa? serius ketawa? baru kali ini gue liat dia ketawa, lepas kayak gini' batin Atika


"Eh, kok bengong" Atika mengembalikan kesadarannya lalu melirik pria disebelahnya


"Mereka juga bilang kalo kamu sadboy"


"sadboy karna apa?"


"Karna gagal move on." wajah Faiz seketika berubah dan kembali datar


"katanya gak pernah nanggepin tapi kok bisa gagal move on? " lanjut Atika


"Aku emang gak pernah nanggepin Melda, sama sekali gak tertarik sama dia"


"gak tertarik tapi gak bisa move on?"


"Aku memang gak bisa move on tapi bukan sama Melda" Raut wajah dan nada bicara Faiz kembali dingin dan datar tanpa Atika sadari.


"Trus sama siapa?" Atika terlihat berpikir sejenak lalu melanjutkan

__ADS_1


"Oohh, sama first love never die yang dibilang Melda tadi?" Faiz menginjak rem mendadak membuat dahi Atika terbentur dashboard karena lupa memasang seatbelt.


Faiz yang tadinya ingin marah pada Atika karena terlalu jauh ingin tau tentang hidupnya, marahnya menguap begitu saja saat melihat Atika kesakitan akibat benturan yang lumayan keras pada dahi nya


"Kamu gak apa-apa?" Faiz melepas seatbelt yang membelit tubuh nya lalu mendekatkan wajah ke kepala Atika.


"Sshhhh aww sakit. Ishh kamu kenapa sih? Nginjak rem mendadak gini. Sakit tau" Faiz tersenyum tipis mendengar Atika yang mengeluh sakit tapi masih bisa memarahinya


"Maaf" kata itu meluncur begitu saja dari mulut Faiz dan terdengar tulus membuat Atika menatapnya.


"Itu doang?" Kening Faiz berkerut mendengarnya.


"Trus? Mau dikecup itu keningnya biar cepet sembuh?" Atika dengan cepat menyingkirkan tangan Faiz dari dahinya lalu memandang lurus kedepan sambil menggeleng dan lagi membuat Faiz terkekeh pelan.


Ia kembali mendekat dan menarik seatbelt didekat bahu kiri Atika, membuat Atika menahan nafas selama beberapa detik hingga seatbelt terpasang rapih ditubuhnya.


"Lagian, kenapa sepenasaran itu sama kehidupan pribadi aku? Kamu tertarik sama aku?" Faiz kembali memasang seatbelt untuk dirinya lalu kembali menjalankan mobil


Rasa marah yang tadi ia rasakan karena Atika yang terlalu kepo pada hidupnya menguap entah kemana, andai saja itu orang lain mungkin saat ini ia sudah memaki-maki orang itu karena terlalu ingin tahu tentang kehidupan pribadinya, tapi pada Atika entah kenapa dengan melihat wajah perempuan itu membuat darahnya berdesir hangat. Seperti kemarin, saat perempuan itu menggenggam tangannya dan mengatakan kalau Faiz adalah calon suaminya, jantungnya seakan ingin melompat dari tempatnya. Saat ia menepikan mobil dan memberi ruang pada perempuan itu menangis, meski didalam mobil volume suara radio begitu besar tapi ia masih bisa mendengar isakan tangis perempuan itu dan entah mengapa dadanya merasa ikut sesak, mengingat saat pertama ia melihat perempuan itu dipantai tengah malam sedang menangis ia pun seperti ikut merasakan sesaknya, tapi ia berdalih mungkin karena ia pernah berada di posisi yang sama dengan gadis itu.


"t.tertarik? Hh apa-apaan" Atika membuang muka kearah jendela disampingnya, menyembunyikan wajah yang terasa memanas


"Kalian ngeghibahin aku dikantin?" lanjutnya


"Eh nggak, mana ada aku ghibah. Mereka yang lansung cerita , aku lagi makan siang mereka semua datang. Ahhh makan siang, aku malah gak sempat ngabisin makan siangku gara-gara mereka yang terus gangguin aku. Ini juga gara-gara kamu, ngomong calon istri diruang meeting kayak pake toa, jadi deh mereka semua penasaran sama hubungan kita" Faiz kembali terkekeh melihat Atika yang memanyunkan bibir.


"Emang hubungan kita apa?" mata mereka bertemu selama sepersekian detik lalu saling membuang muka, Faiz kembali fokus kejalanan didepannya dan Atika memilih menatap jendela disampingnya.


Beberapa menit kemudian, mobil silver itu memasuki parkiran minimarket tempat Atika bekerja. Atika turun dan langsung masuk ke toko lebih dulu dan segera menuju komputer disamping kassa (meja kasir) lalu menscan id card nya sebagai check clock pulang (berakhirnya shift kerjanya) setelah itu ia berbalik dan ternyata Faiz sudah ada dibelakangnya membuat mereka hampir bertubrukan dan beberapa detik mata mereka kembali bertemu membuat Atika lebih dulu memalingkan wajah dan berjalan menjauhi komputer dan Faiz.


"Pulangnya kok bisa bareng bos kulkas?" tanya Nindi yang berdiri dirak minuman sedang men-display barang


"Kebetulan" jawab Atika singkat lalu mengambil minuman bersoda dari chiller dan membawanya ke meja kasir dan diikuti Nindi yang akan men-scan minuman itu


"Kamu mau lansung pulang?" Tanya Faiz yang masih duduk didepan komputer dan dibalas anggukan oleh Atika


"Aku anter?" lanjut Faiz


"Gak usah. Rumah aku deket banget, jalan kaki juga cepet nyampe" Nindi memperhatikan obrolan mereka dengan kerutan dikening

__ADS_1


"Gak papa, aku juga udah mau pulang sekalian nganter kamu. Tunggu bentar, gak lama lagi" Faiz kemudian kembali fokus pada layar komputer dihadapannya, dan Nindi dengan cepat meraih tangan Atika lalu menyeretnya menjauh dari kassa


"Apa yang terjadi sama lo dan bos kulkas?" pertanyaan Nindi membuat Atika mengernyit tidak mengerti


"Lo berdua jadian?"


Byuurrrr


Uhukk uhukk


Minuman soda yang baru diteguk Atika dengan cepat tersembur dari mulutnya membuatnya terbatuk karena hidungnya yang terasa perih akibat soda yang naik ke hidung.


Tentu saja kejadian itu tak luput dari pandangan Faiz membuatnya dengan cepat menghampiri Atika dan menepuk pelan punggung gadis itu


"Kamu gak apa-apa?" nada khawatir jelas terdengar dari pertanyaan Faiz membuat Nindi lagi-lagi mengeryit dan menjauhkan telapak tangannya dari punggung Atika.


Atika melambaikan tangan sambil menggeleng, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak apa-apa.


"Nindi, ambilin air putih" Nindi berjalan ke arah rak minuman dan mengambil sebotol air mineral dengan tatapan yang tidak lepas dari sahabatnya dan bos kulkas. Ia mengangsurkan botol berisi air mineral pada Atika dan langsung diterima Faiz dengan cepat membuka segel lalu memberikannya pada Atika yang masih terbatuk.


"Udah enakan?" Tanya Faiz lagi dan dijawab dengan anggukan oleh Atika


"Yaudah kamu tunggu bentar lagi yah, abis ini kita pulang" Faiz menjauh dari Atika yang masih menjepit-jepit hidungnya yang terasa perih.


"Dia kok gak sedingin dulu lagi? Dan what the... dia seperhatian itu sama lo" Nindi mendekati Atika sambil berbisik dan mendapat delikan dari Atika.


"Hidung gue nih perih gara-gara lo, nanya gak kira-kira"


"yah abis, gelagat lo berdua aneh gitu dan cara kalian ngobrol aku-kamu. Dia gak kaku lagi ke elo malah lebih keliatan bersikap manis" Atika berpikir sejenak dan baru menyadari bahwa sejak tadi mereka ngobrol tanpa ada kata formal atau baku diantara mereka, terlebih Faiz yang biasanya kaku, datar, bersamanya tadi dia ngobrol lepas bak sudah dekat sejak lama dan pipinya mendadak bersemu merah membayangkan jari Faiz yang menelusuri dahinya yang kepentok dashboard membuat nya teesenyum sendiri dan tersipu malu.


"woii!! Kenape lo? Kesambet? Senyum-senyum sendiri" Atika lagi-lagi mendelik mendengar Nindi.


"Yuk!" ajak Faiz dan Atika mengangguk


"Nanti gue ceritain" bisik Atika pada Nindi sambil mengedipkan sebelah mata sebelum meninggalkan perempuan berpipi chubby itu dan mengikuti Faiz masuk ke mobil silver.


🖤🖤🖤


Enjoy HIU 😘🤗

__ADS_1


__ADS_2