
Untuk menuju tempat berlangsungnya acara, mereka harus menaiki eskalator menuju lantai 2. Begitu memasuki ruangan, dua buah panggung di set sedemikian rupa, satu panggung lebar menghadap langsung ke deretan kursi penonton, sedangkan panggung lain yang lebih kecil dibuat menyamping dari panggung utama untuk musik pengiring
Kinan dan ketiga temannya menuju tempat duduk mereka. Deretan kursi empuk tidak sepenuhnya mengisi ruangan yang sangat besar tersebut, mungkin memang sengaja di buat demikian agar terkesan ekslusif.
"Loh, Kak Dinar!" Arif menepuk bahu Dinar yang berdiri tak jauh dari posisi mereka, pandangannya mengitari seluruh ruangan memperlihatkan bahwa cewek itu sedang mencari-cari seseorang.
"Arif, He?! Kalian?" Dinar berbalik dengan ekspresi sedikit kaget saat mengetahui keempat adik kelasnya berdiri disana.
"Kak Dinar dateng sama siapa?" Tika menghampirinya, ada nada usil disana. Dinar yang bisa menguasai keadaan, kembali seperti semula.
"Sama temen gue" Dinar berisyarat ke sembarang tempat, namun begitu melihat senyum mengejek dari Tika dia pun langsung memeluk gadis itu
"Kalau tau dari awal lo bakal potong rambut lagi kayak gini, gue bakal langsung ngajakin lo. Unch dasar cewek ganteng!" Dinar menjewer gemas telinganya, yang dijewer berusaha memberontak lalu merapikan diri dengan angkuh.
"Tika ya Ampun lo ganteng banget sih!" Sahut suara yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
"Kak Ririn!" Mereka serentak menyebutkan sebuah nama yang bisa ditebak, dimana Dinar dan Ririn sudah semacam duet sejati
"Rip, Rip potoin gue sama Tika dong!" Ririn yang baru datang langsung heboh menarik tubuh Arif supaya mau memotret dirinya dan Tika. Arif malas-malasan menyambar ponsel yang diserahkan Ririn padanya, bergumam sendiri
"Lo belum tau ajah kalo si Tika tuh bunglon"
"Ya Ampun Tika! Liat lo pinter banget dandan kayak ikemen!"
Tanpa panjang lebar lagi Ririn langsung menarik tubuh langsing Tika lalu menyandarkan kepala di dibahunya sambil mengambil pose terhits. yah memang perawakan Tika lebih tinggi dari kedua kakak kelasnya tersebut.
"Buruan Rip, langsung jepret! Keburu mangsanya kabur nih"
Yang dijepret cuma bisa pasrah menerima perlakuan kakak kelasnya
"Eh udah ya guys, kita duluan" Dinar menarik Ririn yang sepertinya tidak akan berhenti heboh akibat penampilan Tika. Mereka pergi menuju tempat duduk masing-masing.
Takarazuka Reveu menampilkan dua cerita kombinasi antara drama tradisonal jepang dan drama modern ala barat. yang pertama ditampilkan adalah drama tradisional jepang, dan setting panggung pun disulap menjadi musim semi yang penuh taburan bunga sakura, para pemain menari di iringi musik tradisional, kostum mereka mewah dan anggun. Beberapa penonton tampak berdecak kagum tak terkecuali Tika yang terbengong di tempat duduknya. Kinan mengamati pergerakan tiap pemain dan ikut terpukau. Begitu cerita menuju lakon modern panggung seperti disulap, temanya langsung berubah seketika, tidak ada unsur jepang sama sekali. Para pemain yang semuanya adalah wanita berhasil memukai penonton melalui tampilan dan melalui kostum bertema barat, yang berperan sebagai laki-laki disebut Otokoyaku, dan inilah yang paling di idolakan para penggemar perempuan, tidak terkecuali Tika. Dan sepertinya bukan tanpa alasan dia sengaja berdandan seperti Ikemen saat menonton pertunjukan ini.
"Ren, kok kayaknya gue gak asing sama kepala botak yang duduk di sebelah situ ya" Arif menunjuk punggung seseorang didepannya yang kebetulan kepalanya sedang tersorot lampu dari atas langit-langit ruangan.
"Itu kan Pak Bowo ya?" Kinan berseru melihat gerakan tawa tidak asing dari orang tersebut.
__ADS_1
"Kayaknya dia emang dateng kesini gara-gara Sri waluyo deh. Gitu pas gue tunjukin acara ini, katanya sibuk nggak mau dateng"
Mendengar Rendi mengatakan nama Sri Waluyo, Kinan jadi ingat sesuatu. Benar saja Sri Waluyo adalah salah satu kunci keberhasilan proyek pementasan yang diberikan Pak Bowo.
"Loh, Kamu tau Sri Waluyo Ren?
"Yah tau dong, dia kan seniman ibukota, selain itu dia senior nyokap gue di kampus dan sampai sekarang masih aktif "
Kinan memang pernah mendengar nama Sri Waluyo jauh sebelum obrolannya dengan Pak Bowo hari itu, nama itu pernah dicetuskan Pak Yasin kepala sekolahnya dulu di desa, saat bimbingan untuk persiapan keberangkatannya ke Malaysia. Namun Kinan tak terlalu mengingatnya dengan jelas.
"Bisa bantuin aku, dapetin kontak dia nggak?"
"Hmm?! " ada sedikit ekspresi penasaran di raut mukanya, namun Rendi pun akhirnya menjawab
"Okeh ntar setelah bubar gue ajak lo nemuin orangnya"
"Segampang itu?" Kinan heran tapi juga merasa sedikit lega
"Iyah, kata bokap pas gue masih kecil sering ke rumah dan keluar bareng ma nyokap. terakhir ketemu ya pas pemakaman nyokap habis itu nggak pernah lagi"
"Oh berarti kan belum pasti, kamu kan ketemu orangnya 10 tahun lalu, kamu masih SD, apa masih inget dia?"
"Kalian bisik-bisik apaan sih?" Tika mengamati wajah Kinan yang tampak antusias bukan karena sedang menonton pertunjukan saat itu.
"lagi nggosipin botaknya Pak Bowo tau!" Sahut Rendi agak kencang, si empunya nama yang mendengar disebut dari belakang nampak menoleh ke kanan dan kekiri dengan bingung, kemudian dia kembali berkonsentrasi ke depan
"Buset, lo kekencengan Ren!" Arif menambahkan sambil mengamati pergerakan Pak Bowo yang sekarang duduk tenang didepan mereka sambil sesekali ikut bertepuk tangan bersama penonton lainnya.
Perhelatan yang berlangsung sekitar 110 menit tersebut diakhiri dengan penampilan live band dari salah satu grup musik terkenal di tanah air.
"Halo? Git" Rendi sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Tempat duduk mulai kosong karena penonton sedikit demi sedikit sudah mulai meninggalkan ruangan tak terkecuali Pak Bowo yang sudah tidak tercium keberadaannya, sepertinya dia sudah meninggalkan acara begitu pentas sudah berakhir.
"Eh Git, bisa ketemu sebentar nggak?sekarang gue sama temen-temen gue masih di tempat duduk penonton nih"
"......."
__ADS_1
"iya iya..gue aja yang samperin ke sana"
Rendi tampak mengangguk lalu menutup sambungan telepon.
Kinan, Tika dan Arif beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju pintu keluar sembari menunggu Rendi menemui temannya yang diajak bicara lewat telpon tadi. Tak butuh waktu lama, Rendi sudah kembali menghampiri mereka
"Sori ya Ki, gue cuma bisa dapetin nomer manajernya, gue kira bakal gampang nemuin orangnya"
"Udah nggak papa Ren,ini aja udah thanks banget"
Kinan menyimpan kartu nama yang diberikan Rendi tersebut ke dalam dompetnya.mereka sudah berada didalam mobil dan akan meninggalkan area parkir.
"Lo sebenernya ada perlu apa sih sama Sri Waluyo Ki?" Arif bertanya sembari menoleh ke arah Kinan dari kursi depan. Ketiga temannya menunggu jawaban dari Kinan atas rasa penasaran yang sedikit mereka tutupi.
"Besok ajah aku jelasin semua pas disekolah, soalnya ini masih belum fix" Kinan mengakhiri pembicaraan karena bunyi panggilan masuk dari ponsel di tasnya
"Iya Bu?....
" Hm sekarang?"
"Iya udah deh"
"Eh Ren, bisa tungguin bentar nggak?"
"Mau kemana?"
"Mau ke ATM Bank Z, disuruh Ibu aku. Aduh baterainya abis lagi"
Kinan yang akan melakukan panggilan suara nampak kesal saat layar di ponselnya tiba-tiba padam
"Yaudah itu hp cas aja dulu di mobil, kita tungguin disini. Lo tinggal naik satu lantai dari sini. Eh gimana kalo ntar aja di jalan pas ketemu mesin ATM kita berhenti?"
"Nggak usah Ren, sekalian mumpung disini"
"Gue temenin ya Ki?" Tika hendak menyusul ketika melihat Kinan sudah membuka mobil namun dicegah oleh Arif
"Biar gue aja, lo tunggu aja di mobil sama Rendi"
__ADS_1
"Udah nggak perlu, kayak anak kecil aja, aku nggak bakal nyasar kok."
Kinan sambil berkata seperti itu langsung melesat keluar tanpa bisa diganggu-gugat.