
Hari itu Setelah jam pelajaran habis, para pemain proyek pementasan sudah berkumpul di dalam sebuah aula tempat mereka berlatih biasanya.
Beberapa anak sudah mengawali latihan pengenalan karakter tokoh masing-masing sementara trio pamungkas yang harus memulai latihan mereka layaknya junior yang baru bergabung dengan kelas teater tentunya membutuhkan waktu ekstra, mereka bertiga baru memasuki pintu namun Tika sudah menyemprotnya
"Lain kali kalo telat kasih kabar dong, baru hari pertama udah kayak gini!"
Tika membagikan 3 lembar kertas lalu menyuruh mereka untuk bergabung dengan yang lainnya. beberapa anak yang berperan sebagai figuran dan pemain latar nampak berbisik-bisik ketika mereka bertiga datang
"Galak amat lo Tik" Andar menarik begitu saja kertasnya lalu membaca dengan sekenanya.
Sementara Dio sibuk dengan ponselnya dan Arsen yang seperti biasanya tampak tidak tertarik sama sekali.
Kinan yang duduk tak jauh dari sana sedang menulis sesuatu di kertas sambil sesekali mengetik di laptopnya, dia sedang memperhatikan penjelasan dari Dinar yang kini menggerak-gerakkan jarinya di kertas yang Kinan tulis. sedikit kegaduhan disana menghentikan sementara aktifitas mereka.
"Eh kalian bertiga kumpul disini ajah biar Kinan ntar yang ngasih instruksi latihannya" Dinar mengarahkan mereka bertiga ke dalam kelompok yang terpisah dari kelompoknya Tika.
Beberapa anak yang masih mengawasi mereka bertiga tampak kecewa.
Kedatangan trio pamungkas memang membuat sedikit perhatian lebih didalam aula latihan mereka, sebetulnya para pemain sudah tahu kalau anak-anak voli tersebut akan ambil bagian dalam pementasan namun melihat kedatangan mereka bertiga secara langsung untuk pertama kalinya, tentu membuat suasana menjadi tidak biasa. bukan hanya itu beberapa anak terlihat mondar-mandir diluar aula, mereka yang dikenal sebagai fans berat trio pamungkas nampak penasaran melihat idola mereka ikut dalam pelatihan drama. Dan atas dasar ini pula, Dinar senior mereka menyarankan untuk memisahkan trio pamungkas saat latihan awal sebelum pendalaman tokoh. mereka bertiga pun diarahkan ke sebuah ruangan tertutup di dalam aula yang kedap udara, disana mereka akan berlatih pernapasan, vokal dan olah tubuh yang butuh konsentrasi dan suasana yang tenang, berharap kegiatan kedua kelompok tidak saling terganggu terutama dari serbuan fans mereka.
"Dinar, kerjain punyaku yang bab 5 tadi dong. Lo jangan kejem-kejem amat ama gue"
"Ogah, enak ajah! Lo tuh cuma figuran, nggak susah-susah banget kok. masih bisa tuh sambil ngerjain tugas-tugas disini"
Dio yang berwajah garang seketika nampak lembek dihadapan Dinar, dia terlihat tidak punya taring berjalan dibelakangnya.
Sementara Andar berjalan Mendekati Kinan melancarkan jurus mautnya
"Kinan, senyum dong"
Kinan menoleh enggan dan tersenyum kecut kearahnya.
Arsen yang berjalan paling belakang tidak menyuarakan apa-apa.
Kinan berharap latihan awal ini tidak menimbulkan masalah, entah Arsen benar-benar serius atau tidak yang pasti hal ini adalah jalan awal kesuksesan proyeknya. entahlah Kinan tidak mau memikirkan kemungkinannya terlalu jauh, dia memilih fokus untuk latihan mereka saat ini.
Sebuah ruangan terbuka, semacam studio mini, tirai yang panjang menutup sebagian kaca-kaca yang dipasang mengelilingi dinding ruangan. beberapa kursi dilipat dan disingkirkan di pojokan.
Dinar memberi sedikit arahan pada mereka bertiga lalu beranjak pergi, sebelum dia membuka pintu, Dio berteriak di belakangnya.
"Dek, please ya?" Dio menunjukkan isyarat memohon yang diikuti tatapan hina kedua temannya
__ADS_1
"Ih!" Dinar melengos begitu saja sambil menutup pintu, sementara Andar tertawa terbahak-bahak disebelahnya.
Kinan berdehem dan menyuruh mereka memperhatikan bagaimana latihan awal mereka yang butuh konsentrasi dan ketenangan
"Kita bakal latihan pernapasan diafragma, kalau belum tahu, ikutin aku"
"Gue udah tau"
Arsen langsung merespon dengan lantang, mereka bertiga duduk bersila sementara Kinan didepan.
Mereka berlatih sesuai instruksi Kinan, dia jadi sedikit lega ini tak seperti yang di cemaskannya, sepertinya mereka bertiga memang mau bekerja sama, setelah dirasa cukup melatih pernapasan sampailah pada tahap latihan vokal dan olah gerak, disini yang terlihat paling antusias adalah Andar, beberapa kali dia meminta Kinan mencontohkan artikulasi dari sebuah Lirik lagu, Dio yang cuma melongo memperhatikan jadi ikut meminta Kinan menyanyikan sebuah lagu. Kinan pun mau asal mereka serius latihan karena besok sudah harus ke tahap pengenalan tokoh.
Di tengah-tengah dia bernyanyi, Kinan menangkap tatapan tak senang dari pantulan kaca yang mengelilingi mereka. tatapan Arsen dingin dan tajam, seperti pasak yang mampu menghancurkan dinding es disekeliling mereka. dan saat itulah Kinan mulai sadar bahwa sejak awal Arsen memang tidak mengikuti arahan latihannya, dia memang mengatakan tahu pernapasan diafragma, saat memulai latihan napas sampai tahap vokal ternyata Arsen cuma diam menonton.
Apa maunya pikir Kinan, dia pun punya ide untuk meminta Arsen mencontohkan apa yang sudah Kinan instruksikan tadi namun yang diminta justru bangkit berdiri dan berkata
"Nggak perlu, gue langsung ke pengenalan tokoh ajah besok! Gue cabut dulu. boring banget tau! "
Kinan mulai tersulut emosinya, dia ikut bangkit dan menghalangi Arsen yang akan meninggalkan ruangan, kedua temannya pun jadi ikut-ikutan bangkit.
"Kamu jangan se enaknya gitu dong, kita disini sama-sama latihan, nggak usah egois deh!"
" Minggir nggak lo!" Bentak Arsen tepat di muka Kinan yang sudah merah padam
"Nggak! Latihan belom kelar, main pergi aja se enak jidat!"
Dio tampak berbisik menenangkan Arsen, dia mengisaratkan untuk kembali duduk.
Kepala Kinan sudah mengepul, kalau sampai dia berani keluar meninggalkan ruangan, Kinan akan mempertaruhkan harga dirinya.
"Ckk kayaknya cewek-cewek teater pada galak-galak ya" Andar berbisik ke arah Dio sambil sesekali tersenyum pahit pada Kinan yang tampak seperti binatang buas penjaga gerbang.
Arsen yang sudah terlihat melunak mencoba melepaskan diri, dia tetap pada pendiriannya, emosinya pun terlihat kembali stabil, dengan gerakan pasti dia meraih knop pintu yang terhalang tubuh Kinan.namun sebelum tangannya berhasil menjangkaunya, sesorang menarik gagang pintu dari arah luar membuat tubuh Kinan terdorong maju.
Ceklek
Pak Bowo terlihat bingung menatap ke 4 muridnya didalam, begitu pun mereka sama-sama melongo akan kedatangan Pak Bowo yang tiba-tiba.
"Sampai mana latihannya? Kebetulan Bapak ada waktu kosong mau ngajarin kalian sedikit"
Trio pamungkas langsung saling pandang, Kinan masih tak melepaskan tatapan dari mangsanya berharap dia tidak menggunakan senjata terakhirnya. harga dirinya bisa runtuh kalau itu sampai terjadi
__ADS_1
"Udah sampai olah vokal Pak"
Kinan menyahut sembari membiarkan Pak Bowo masuk ke ruangan.
Akhirnya latihan mereka pada hari itu berjalan lancar, kedatangan Pak Bowo menyelamatkan Kinan sekaligus membenahi dimana letak kesalahan latihan mereka.
Untuk selanjutnya jadwal latihan mereka akan digabung dengan kelompok lain yang berada di luar studio tadi, latihan mereka akan dibantu seorang alumni seni budaya setiap harinya. Selain itu Kinan yang akan membuat laporan untuk mengerahkan setiap divisi yang bertugas, dari sana secara tidak langsung Kinan diajari bagaimana menjadi sutradara sesungguhnya disamping dirinya secara tertulis memang menjabat sebagai sutradara.
Ketika Kinan, Arif dan Tika keluar dari sekolah, matahari sudah terbenam. Latihan sudah berakhir sejak dua jam yang lalu namun mereka tetap berada disana untuk menyusun persiapan selanjutnya, Pak Bowo juga masih berada disana. Latihan awal bersama trio pamungkas tadi membuat Kinan sedikit khawatir, entah kenapa dia merasa kurang pas akan naskah yang sudah dipilihkan Pak Bowo tersebut, belum lagi adegan improvisasi bersama Sri Waluyo menambah keraguan dibenaknya.
"Kenapa aku ngerasa ada yang nggak pas ya sama naskahnya"
Mereka bertiga tengah berdiri di depan gerbang sekolah, Tika menunggu jemputan dari kakaknya sementara Arif dan Kinan menunggu ojek online mereka. Mendengar Kinan yang melontarkan kalimat syarat keraguan setelah latihan awal mereka, Tika lalu mengutarakan protes ke sahabatnya itu
"Loh kok tiba-tiba sih, jangan aneh-aneh ya Ki, gue udah latihan sama kelompok tadi dan mereka udah klik semua"
"Emang kenapa sama naskahnya Ki?" tanya Arif sambil tak beralih dari game onlinenya
"Tau ah! Liat ajah ntar"
"Kenapa sih? Apa karena trio pamungkas tadi?gue lihat pas lo pergi ke ruang studio sama mereka kok auranya nggak bagus ya"
Rasa penasaran Tika harus berhenti ketika sebuah honda mobilo kuning ber cutting sticker Himura Kenshin meluncur ke arah mereka, si pengemudi menurunkan kaca mobilnya dan melambai ke arah Tika. seorang lelaki berusia sekitar 20 an tersenyum ramah, rambutnya yang dicat silver di ikat setengah kebelakang layaknya samurai modern, pin hitam menempel disalah satu telinganya.
"Yah! Gue udah di jemput nih, duluan ya"
Tika segera naik ke mobil sementara si pengemudi berteriak ke arah Arif
"Rip, ntar malem online ya!"
"Males ah, lo suka tiba-tiba ngilang"
"Ntar kalau yang ngawasin udah tidur Rip"
Arif hanya menggumam tidak jelas yang tentunya tidak didengar si lawan bicara, jadi mereka sepakat bahwa kalimat terakhirnya adalah bentuk persetujuan.
Mobil pun bergerak menjauh, tak lama kemudian giliran tukang ojek online mereka datang.
Selama perjalanan pulang Kinan terus memikirkan tentang naskah dramanya, dia merasa kurang melakukan observasi pada tokoh-tokohnya, yang memang sudah dipilih oleh Pak Bowo entah karena sesuai dengan kemampuan mereka atau asal pilih secara acak, meskipun Pak Bowo tadi mengambil alih latihannya namun tak ada perubahan sikap pada diri Arsen, Andar masih menjadi satu-satunya yang kooperatif sementara Dio masih bisa diselamatkan karena peran figurannya dan kesibukannya di kelas 3.
Kinan ingin melakukan sesuatu dengan naskah drama tersebut, tapi melihat reaksi Tika membuat Kinan kembali mengurungkan niatnya, setelah dia membaca berulang-ulang dan memahaminya Kinan merasa ada sesuatu yang mengganjal di kepalanya, sudut yang gelap akan tema cerita yang seakan familiar dengan kehidupan seseorang. Dia merasa dekat dengan cerita tersebut namun dia juga dibuat bingung dengan karakter-karakter yang ada disana, Kinan ingin drama tersebut mengena jadi dia berulang kali memikirkan tentang bagaimana cara agar drama tersebut terasa hidup seperti bayangan yang menganggu otaknya didalam sana.
__ADS_1