How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
6.1 Cerita Rendi


__ADS_3

"Bapak, belum pulang dari luar kota Bu?"


Setelah melepas kaus kakinya, Kinan merebahkan diri begitu saja di kursi ruang tamu. Ibunya sedang sibuk membungkusi dodol buatannya di meja makan


"Belum Ki, dia bilang besok baru pulang"


"Maafin Kinan ya Bu, nggak bisa bantu malam ini, soalnya ada janji sama teman sekolah mau nonton pertunjukan jam 7 nanti"


Kinan menyandarkan kepala sembari melepas pita yang mengikat rambutnya, kacamata besar yang membingkai wajah bulatnya, dia letakkan diatas meja.


"Nggak papa, tumben kamu keluar sama temenmu, terakhir kamu keluar diajak ke kondangan itu ya? habis itu kamu nggak pernah keluar. sekali-kali main sana sama temenmu, memangnya kamu nggak stress belajar terus? Ibu nggak ngelarang asal kamu pulangnya jangan malem-malem"


Ibunya kini memasukkan beberapa dodol kedalam plastik mika yang dia susun rapi berjajar diatas meja


"Ini juga karena dipaksa Bu, yang ngajakin Si Rendi, temen Kinan yang ngajak ke kondangan itu"


"Oh iya akhir-akhir ini Ibu banyak pesenan ya, kalo laris manis kayak gini, terus perusahaan Bapak tau, gimana?"


"Dih, kamu kok mikir sampai segitunya. Bos Bapak kamu itu orang baik, dia juga udah tahu kalau Ibu jualan sambilan gini dirumah, nggak mungkin kan tiba-tiba perusahaan tempat Bapak kamu kerja bangkrut gara-gara kalah saingan sama Ibu"


Ibunya tampak bersiap-siap keluar untuk menyerahkan pesanan dodolnya lewat tukang ojek online di depan gang, sebelum itu dia menulis sesuatu di beberapa lembar nota yang dia masukkan ke setiap masing-masing kresek.


"Mandi sana Ki! Ibu keluar bentar ya, ojeknya udah nunggu didepan"


"Iyahh Bu"

__ADS_1


Kinan bangkit dengan malas menuju kamarnya, melepas seragam dan bersiap-siap mandi.


Setelah itu dia duduk di ruang tamu menonton televisi sambil menunggu jemputan dari teman-temannya. Tak beberapa lama kemudian ponselnya berdering, panggilan masuk dari Rendi yang mengatakan bahwa dia dan yang lain sudah menunggunya di depan minimart. Kinan pun pamit ke Ibunya dan beranjak pergi.


Begitu melihat Kinan yang berjalan keluar dari gang, tampak Tika yang melambai ke arahnya dari balik kaca mobil yang diturunkan. Kinan menyongsong mereka dengan senang. Perjalanan menuju Plenarry Hall diisi dengan antusiasme Tika yang berlebihan didalam mobil, Sementara ketiga temannya sudah paham jadi hanya mengangguk-angguk saja.


Akhirnya mereka sudah tiba di pintu masuk Plenarry Hall yang merupakan sebuah gedung bertingkat lebih rendah yang diapit oleh dua gedung pencakar langit disisinya.


Kedua gedung pencakar langit tersebut adalah hotel bintang 5 dan juga pusat perbelanjaan dimana ada akses khusus yang menghubungkan ketiga bangunan tersebut.


Begitu mereka melangkah masuk yang terlihat adalah lobi luas dengan lantai yang beralaskan karpet empuk. di salah sisi rungan ada konter kaca yang mirip tempat pembelian tiket nonton di gedung bioskop.


"Eh mana keluarin kartu pelajar kalian, mau gue tukerin tanda pengenal di konter"


Rendi meminta teman-temannya untuk mengeluarkan kartu identitas mereka. Penukaran tanda pengenal tersebut sebagai penempatan dimana mereka duduk, yang sebelumnya sudah di pesankan Rendi. Tempat duduk disana memang diatur untuk sekelompok orang atau instansi yang memang memiliki tugas khusus seperti penelitian maupun tamu undangan, memperlihatkan bahwa pertunjukan ini hanya untuk kalangan tertentu.


Mereka bergegas ke konter kaca yang dibaliknya ada beberapa petugas dengan headphone di kepala. poster-poster event berbingkai terpasang di setiap sudut ruangan, sementara itu ada monitor besar ditengah ruangan yang menampilkan iklan beserta jadwal tayang dari beberapa pertunjukan.


"Akhirnya gue bisa ngeyakinin bokap gue"


Rendi yang berdiri bersandar disalah satu pilar sambil mengawasi kedua temannya memulai obrolan bersama Kinan


"Ha maksudnya?"


"Gue mau sedikit cerita ke lo, sebenernya reward yang gue terima dari bokap, bukan tiket pertunjukan ini, melainkan restu beliau. Tiket ini adalah bonus yang dia berikan. Gue awalnya nggak disetujui buat ikut ekskul seni budaya apalagi tahu kalo gue berencana masuk Institut kesenian Widyatama, kampus yang sama kayak almarhum nyokap gue dulu"

__ADS_1


Rendi menyilangkan kedua tangannya didada, dengan pandangan nanar menatap keatas lobi yang tampak gemerlap bagaikan langit malam penuh bintang, dia kembali melanjutkan kalimatnya.


"Nyokap Gue dulu aktivis dan seniman, dia meninggal karena ketembak pas demonstrasi besar-besaran 10 tahun yang lalu, lebih tepatnya dia adalah korban, karena ulah anarkis yang nggak bisa ditertibkan, akhirnya aparat ngeluarin beberapa tembakan peringatan, tapi sayangnya tembakan itu justru kena ke nyokap gue yang lagi orasi"


Kinan melihat bayangan kelabu dikedua matanya, Rendi meskipun terlihat humoris dan easy going dia rupanya memiliki sisi lain yang berusaha dia sembunyikan dari orang lain


"Meski udah nikah sama bokap dan punya anak, nyokap gue selalu aktif di kegiatannya. Bokap gue ngedukung banget sama apa yang dilakukan nyokap gue, sampai petaka itu terjadi. Bokap gue sempat depresi dan dia berulang kali ngeyakinin gue supaya jauh-jauh dari kegiatan semacam itu, dia ngerasa nggak bisa ngejaga keluarga dan nggak mau hal yang sama terjadi sama anaknya. Tapi diem-diem gue tertarik sama semua hal yang selama ini ditekuni nyokap gue. gue mutusin buat masuk IKW(Institut Kesenian Widyatama) dan fokus di bidang seni teater atau pementasan. Sayangnya bokap gue tahu kalau gue ikut eksul seni budaya dan berencana masuk IKW, dia sempat marah dan nentang keinginan gue. tapi Tuhan ngirim Farah buat nyelametin gue, lo udah tau kan, dia istri bokap gue yang sekarang. Dia udah ngasih ide buat solusi masalah gue."


Rendi tersenyum, ada kelegaan yang tak bisa dijelaskan dari ekspresinya. mungkin Rendi adalah cowok yang tidak kenal kata menyerah untuk mimpinya, sama seperti Kinan saat ini tengah berjuang selangkah demi selangkah.


"Terus seumpama pas aku nyanyi itu, ortu kamu nggak puas, kamu dapat hukuman apa? "


"Nggak mungkin"


"Kok nggak mungkin Ren kan cuma seumpama? "


"Hukumannya gue nggak boleh ikut ekskul seni budaya lagi dan juga nggak boleh masuk IKW, tapi itu nggak mungkin terjadi soalnya sejelek apapun suara penyanyi yang gue bawa kemarin, Farah bakal bilang bagus dan Bokap gue nggak bakal bisa nolak"


"Tau gitu kenapa kamu maksa aku ikut, lagian kan udah ada Tika waktu itu"


"Sebenernya gue mau nawarin pas pertama kali denger lo nyanyi di kelas, yahh buat lebih ngeyakinin bokap ajah, kalo yang gue bawa nggak abal-abal. tapi waktu itu gue belum sempet ngobrol sama lo soalnya lagi dideadline proyek pementasan di Edu Fair"


Tika dan Arif kembali membawa 4 name tag holder yang dia tukarkan dengan kartu pelajar tadi di konter,


"Lagi ngobrol apaan nih, kayaknya serius banget?" tanya Arif sambil membagikan name tag di tangannya

__ADS_1


"Mau tau aja!" sahut Rendi


__ADS_2