How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
5.3 Ketiduran


__ADS_3

Saat mereka memasuki ruangan kesekretariatan, hanya ada dua orang siswa perempuan yang tampak serius mengerjakan soal-soal latihan di sana.


"Ren, barusan si Andar kesini . Dia sekarang udah masuk ke ruangan sama temen-temennya"


"Iya kak tadi udah nyamperin gue di kelas kok"


Kinan,Tika dan Rendi menaruh tas masing-masing di meja panjang yang hampir memenuhi seisi ruangan sempit tersebut


"Gue sama Ririn disini dulu gak papa ya? Nanggung mau pulang, bentar lagi jam bimbel soalnya"


"Iya kak santai ajah"


"Oh iya ngomong-ngomong udah sampai mana persiapan pementasan ntar di Edu Fair?"


Kinan yang sudah duduk terlebih dahulu kini sibuk membuka laptop dan jemarinya pun mulai mengetikan sesuatu dengan serius


"Udah tahap penghayatan tokoh, tadi gue udah bilang ke anak-anak kalau latihannya ditunda satu jam soalnya ruangan kita dipinjem anak voli jadi ntar mereka langsung praktek dialog sama gerakan"


"Good job Ren!"


Rendi hanya menggumam, dia sekarang disibukkan dengan gempuran chat di group wa nya


Tika yang tengah asik ngobrol bersama kakak kelasnya yang bernama Ririn tiba-tiba nyeletuk


"Ki, nih udah tau kak Ririn belom? Dia ini salah satu fans fanatiknya trio pamungkas loh"


Yang ditunjuk malah memperlihatkan gelagat tak terima, dia memukul perlahan bahu Tika dengan buku latihan soalnya


"Sembarangan, Tuh si Dinar fans sejati, Lo tanya semua seluk beluk trio pamungkas hafal diluar kepala dia, udah kayak manajernya ajah dia"


"Eit, kalo nggak karena taruhan main, gue juga ogah tau"


"Masih main judi Kak?" Sahut Rendi yang meski jemarinya sibuk di layar ponselnya namun tidak telinganya yang masih bisa mengikuti obrolan mereka


"Mereka sekarang udah gak bisa dibuat bahan taruhan"


"Siapa bilang, Dinar kapan hari bilang kalo tim mereka terus melempem, dia bakal taruhan dapetin salah satu dari mereka buat jadi pacarnya hahahah"


"Eh Lo diem kupret!"


Dinar melempar beberapa berkas didekatnya ke arah Ririn yang tertawa senang

__ADS_1


"Kalau misal Kak Dinar jadian sama Kak Dio ntar kayak angka 10 dong"


"Sialan lo Ren, ngomporin ajah"


"Dan kalau jadian sama Andar bakal kayak Tante-tante sama brondong, secara muka.. " Sebelum Tika menyelesaikan Kalimatnya, Dinar sudah berdiri dan menjewer gemas telinganya


"Lo udah nglunjak ya sama senior"


"Dan Kalau jadian sama Arsen, bakal kayak bumi dan langit"


Ririn menambahkan dengan perlahan, ada sedikit kekakuan dalam kalimatnya, Sementara Dinar yang sudah berancang-ancang meremas kertas-kertas di atas meja, ingin segera melemparkan tepat ke muka orang pertama yang telah memantik api diruangan tersebut


"Tunggu-tunggu Kak, jangan di lemparin dong, itu naskah buat latihan ntar" Rendi segera membereskan kertas-kertas yang sebagian sudah diremas dan berantakan. Dinar yang merasa bersalah juga ikut membereskan meja akibat ulahnya.


"Maaf ya Ren"


"Iya udah gap.. "


"Sssstt!" Tika memberi isyarat tiba-tiba, sambil mengarahkan jarinya ke Tempat Kinan yang sedang tertidur pulas dengan kepala diatas meja dan laptop yang masih menyala di sampingnya.


Mereka semua tanpa suara sepakat untuk tidak membangunkan Kinan, dan membiarkannya beristirahat. Mereka memaklumi bahwa Kinan memiliki tugas yang lebih banyak.


Tak terasa satu jam berlalu mereka habiskan didalam ruangan dalam diam, Dinar dan Ririn sudah pergi terlebih dahulu untuk mengikuti bimbel. Sementara Rendi dan Tika sibuk dengan ponsel masing-masing, tak lama kemudian mereka berdua memutuskan keluar dari ruang kesekretaritan meninggalkan Kinan didalam. Mereka menuju tempat latihan indoor karena sebagian anak-anak voli sudah keluar dari sana.


"Tika?!" Andar memanggilnya namun matanya tampak mencari-cari sesuatu yang lain.


Sementara itu Dio sedang berbisik ketelinga Arsen


"Mana Kinanti?" Andar mengedarkan pandang berkeliling, mencari subyek yang tengah dia tanyakan


"Tuh didalem, lagi tidur dia" tunjuk Rendi ke ruangan yang baru saja dia tinggalkan dengan pintu sedikit terbuka


"Dia nggak bakal nyanyi hari ini" timpal Tika begitu tahu ekspresi kecewa Andar


"Ren, makasih ya udah minjemin ruangan" Dio menepuk bahu Rendi. Arsen yang berdiri disampingnya menatap diam ke arah lain, tak ada ekspresi di wajahnya. dia bukan tipe orang yang bisa basa-basi dan beramah tamah


"Sama-sama Kak" jawab Rendi sambil lalu diikuti Tika yang berjalan disisinya. mereka berdua sempat mendengar Andar yang berteriak dibelakang memanggil nama Arsen


"Woy Sen mau kemana Lo?!"


Yang diteriaki justru cuek dan berjalan begituĀ  saja seakan-akan tuli

__ADS_1


"Belum juga di tunjukin, udah kabur duluan"


Andar melirik sekilas ke ruang yang ditunjuk Rendi tadi, bayangan sesosok yang tertidur pulas diatas meja dengan kaca mata yang masih terpasang semakin menarik perhatiannya. Dia melangkah menuju ruangan tersebut sembari mengeluarkan ponsel


"Hei, mau ngapain lo Ndar?" Dio menarik kerah jaketnya sebelum Andar melangkah jauh


"Cuma mau ambil foto dia, mau gue tunjukin ke Arsen"


"Nggak perlu, balik ajah sekarang. Lo tau kan itu tindakan kriminal!"


"Tampang lo tuh yang Kriminal!" Sahut Andar sambil menepis cengkraman yang masih bersarang di kerah bajunya


"Yaudah kita susulin Arsen ajah, kayaknya dia langsung ke lapangan luar. Tumben-tumbenan dia gerah kena omelan Pak Ridwan"


Hampir 2 jam berlalu Kinan tertidur di ruang ksekretariatan, sambil mengucek mata dia melihat sekelilingnya, namun tidak menemukan siapa-siapa, dia lalu melihat jam di dinding menunjukan pukul 16.25 itu artinya anak-anak teater sudah hampir selesai latihan. Kinan membereskan perlengkapannya lalu memasukkannya ke dalam tas


Kenapa mereka nggak bangunin aku ya


Kinan lalu berjalan keluar tepat saat itu, Arif tengah berjalan ke arahnya bersama Tika dan Rendi.


"Udah bangun Ki?" tanya Tika singkat


"Kok nggak bangunin aku sih?"


"Gue kasihan liatnya, dari pada ntar malem yang ketiduran, nggak bisa ikut kita ke plenarry hall dong" sahut Rendi sembari mengunci pintu ruangan tersebut


"Hmmm, tenang ajah aku ikut kok" Kinan membenahi ekor kuda rambutnya, lalu ikut melangkah keluar menuju gerbang sekolah


"Lo tadi pas tidur nggak ngerasa ada yang ganggu kan?" tanya Tika begitu mereka sampai di depan gerbang


"Ganggu maksudnya?"


"Tadi pas kita tinggal itu trio pamungkas ada didepan ruangan kesekretaritan, terus Andar kayaknya nengok-nengok terus ke dalam, gue jadi was-was ninggalin lo didalem, secara Andar kan usil banget"


"Kalo cewek lain mah langsung mau ajah kali Tik di usilin mereka" sahut Rendi asal


"Duh, tau ngak sih lo, tiap ketemu Kinan doi mesti sok godain sambil senyum-senyum nggak jelas. Eneg gue lihatnya!"


"Andar kan emang suka tebar pesona ke cewek-cewek, kecuali ke lo sih hahahah"


"Soalnya lo agak meragukan ke cewekan-nya" Arif ikut menimpali senang

__ADS_1


"Sialan lo"


Kinan hanya tersenyum melihat mereka bertiga.


__ADS_2