
Tak terasa beberapa hari sudah berlalu, disela-sela kegiatannya di ruang teater Kinan sibuk menyusun karya ilmiahnya. Dia kini sedang menemui pak Bowo selaku guru pembimbing untuk seni budaya yang tempo hari menyampaikan pengumuman
"Cukup menarik proposalmu" Pak Bowo menutup proposal yang baru dia teliti, sekarang dia menatap Kinan dengan serius
"Tapi tidak mudah mengangkat tema seperti apa yang kamu sampaikan ditulisan ini, saya butuh bukti kalau karya tulis ilmiah kamu patut untuk diikutsertakan dalam lomba. Sudah 5 periode berturut-turut sekolah mengirimkan perwakilan lomba dalam karya ilmiah namun tidak ada feedback apa-apa, tahun ini adalah kesempatan terakhir kami mengirimkan perwakilan, kami juga tidak berharap akan meraih juara apapun, namun kami ingin menyampaikan pesan bahwa masih ada siswa-siswa yang berkemauan tinggi dan tekat yang kuat!
Setelah membaca proposal yang kamu ajukan ini bapak harap kamu bukan hanya sekedar menyuguhkan data namun juga menyiratkan pesan didalamnya. Mungkin ini akan menjadi tahun terakhir sekolah kami mengirimkan perwakilan karya ilmiah, sepertinya kami harus konsentrasi ke bidang lainnya yang lebih menjanjikan" Pak Bowo memegangi pelipisnya yang licin karena memang sebagian kepalanya botak, dia diam sejenak
"Bidang lain yang menjanjikan?" tanya Kinan penasaran
"Ah.. Itu kalimat Pamungkas dari pak Ridwan di rapat guru kemarin. Tapi setelah Bapak membaca proposal kamu dan tahu bahwa kamu pernah mewakili Indonesia di pentas musikal di Malaysia tahun lalu. Bapak jadi yakin kalau kamu bisa mematahkan kata-kata si Ridwan kemarin!" Pak Bowo bangkit dari tempat duduknya sambil berkacak pinggang
"Pak Ridwan dan Pak Hasan sekarang sedang menghadapi masalah dengan murid kesayangannya"
Kinan tidak paham dengan apa yang tengah terjadi, dia menghembuskan nafas lemas di kursinya
Tiba-tiba mata pak Bowo kembali berkilat, Kinan jadi ingat ini seperti adegan di kartun superhero dimana si antagonis baru saja mendapat ide licik mengalahkan protagonisnya
"Kinan kamu harus buktikan karya ilmiah kamu ini layak, saya ingin kamu terlibat disebuah proyek pementasan"
Kinan menegakkan punggung, apa ini tantangan? Kinan suka tantangan, dia akan mengambil syarat ini dengan senang hati.
"Tapi kamu tidak hanya bekerja dengan tim seni budaya, akan ada anak dari eksul lain yang terlibat disini. Proyek ini adalah pementasan lintas generasi, yang akan tampil tidak hanya dari yang berlatar belakang seni formal seperti sekolah-sekolah, ada kelompok anak jalanan maupun pekerja, mereka tidak dibatasi usia dan identias"
Menarik sekali, pikir Kinan
__ADS_1
"Saya ingin kamu dan tim bekerja sama..hmm si Ridwan akan menarik kembali ucapannya kalau kamu berhasil"
"HA?!" Pekik Kinan tak bisa menyembunyikan kekagetannya,
Dia harus mengikuti syarat yang sudah ditentukan meski mengandung unsur balas dendam pribadi.
"Kamu punya waktu hanya sebulan dalam proyek ini, acara ini diselenggarakan untuk perayaan hari jadi ikatan seniman se kota Narogong. Tema pementasan sudah di tentukan yaitu tragedi reformasi 98. Disana akan hadir Sri Waluyo yang merupakan salah satu seniman senior di Narogong. Dia nantinya akan ikut tampil ditengah-tengah acara, tim kamu harus siap dengan improvisasinya karena kebetulan kita ditunjuk sebagai kelompok formal yang mewakili nama sekolah"
Pikiran Pak Bowo menerawang keatas, ada binar yang tak bisa dia sembunyikan. Harapan
dan balas dendam!
Eit tunggu, bukan balas dendam tapi pembuktian diri!
Kinan membetulkan letak kacamatanya, salah satu sudut bibirnya terangkat. Kinan sudah tahu bahwa reputasi seni budaya di sekolah Tridharma memang tengah surut, dan atas dasar ini pula Kinan mengajukan karya ilmiahnya yang bertemakan hal tersebut. Kinan ingin membuktikan bahwa seni budaya disekolahnya ini patut di apresiasi.
"Saya akan Berusaha semaksimal mungkin pak. Boleh saya tahu bagaimana detail pementasan Bersama Sri waluyo pak?"
Mendengar antusiasme Kinan, Pak Bowo semakin berapi-api, dia menggengam proposal Kinan seakan akan itu mangsa yang tidak boleh lepas dari cengkramannya
"Ini adalah proyek kolaborasi para seniman se kota Narogong, dan Bapak sebagai..ehem.. (pak Bowo berdehem disela kalimatnya-terus terang ada nada bangga disana) anggota kehormatan perhimpunan diundang untuk berkolaborasi menampilkan anak didik bapak, performa nanti benar benar akan menentukan harga diri Ba.. "
Tunggu...harga diri? Rasanya Kinan cukup familiar dengan kalimat tersebut beberapa hari yang lalu..
"Tapi pak Bowo" Kinan menyela dengan sedikit santai begitu tahu lawan bicaranya tidak mengedepankan formalitas namun lebih tertarik dengan mimpi-mimpi dan ide yang menarik minatnya.
__ADS_1
"Apa status karya ilmiah saya bisa dijamin sementara saya fokus di proyek pementasan ini pak? "
"Saya yang jamin" Pak Bowo buru-buru menambahkan melihat kebimbangan di mata Kinan.
"Karya ilmiah kamu sekarang sudah diputuskan masuk antrean mengenai lolos tidaknya itu tergantung usaha kamu di proyek ini, maka dari itu Kinan, kamu harus berjalan sejajar" Kedua telepak tangan pak Bowo terangkat dan mensejajarkannya, menggerak-gerakkannya layaknya kedua kaki yang berjalan
"Lihat kinan, harus sejajar bukan mengikuti seperti ini" Pak Bowo kembali dengan mengekspersikan telapak tangan kanannya yang dia goyangkan di depan dan telapak tangan kiri yang mengikuti dibelakang.
"Bukankah sudah saya jelaskan tadi bahwa syarat karya ilmiah kamu akan di ikutsertakan adalah dengan menyelesaikan proyek ini. Kamu harus punya alasan kenapa memilih seni teater sebagai tema karya ilmiah kamu, anak yang lainnya juga melalui proses seleksi awal yang sama, semua tergantung tema yang mereka usung, mungkin kamu sudah tau, contohnya Desi dari kelas X IPS2 yang menulis tema kewirausahaan, dia dikasih proyek Bu Ratna mengisi Bazar di festival entrepreneur nanti. Kamu jalani dulu saja persiapannya." Dia menambahkan begitu tahu ekspresi tidak sabar dari Kinan
"Sebenarnya Naskah sudah ada di saya tapi saya mau buat draft pelaksanaan teknisnya dulu, besok kamu pelajari dan bikin jadi proposal kegiatan ya terus kamu serahkan lagi ke saya"
"Baik pak, mengenai proposal karya ilmiah saya tadi apa sejauh ini ada masalah pak?" Kinan menekankan kata 'masalah' di kalimatnya untuk menarik perhatian ke tujuan awal dia kesini
"Oh tidak sama sekali, saya setuju 100% dan tidak ada yang perlu diubah. tenang saja Kinan sudah masuk antrean, proposalmu ini" Pak Bowo kembali menekankan seolah Kinan harus fokus juga ke proyek pementasan yang akan diberikannya.
Hmmm ada maunya Pak Bowo
Kinan bangkit dan memberi salam namun ketika dia hampir menuju pintu keluar Pak Bowo berteriak dibelakangnya
"Kamu kenapa tidak ikut Y factor saja Kinan, anak-anak sangat antusias loh melihat kamu nyanyi tempo hari"
Loh, dalam hati tebakan Kinan salah. Dia mengira ada hal tertinggal untuk disampaikan mengenai proposalnya namun ternyata dugaannya salah
"Eh, Terima kasih pak saya tidak tertarik. Saya permisi dulu" Kinan tersenyum kaku dan melangkah pergi
__ADS_1