
"Gimana, kamu udah kirim anaknya ke sini?" Seorang kakek berblangkon dengan kacamata bertengger di pangkal hidung tampak sibuk membuka-buka beberapa catatan di meja kerjanya.
Sebuah ruangan dengan rak kayu berisi buku-buku menjulang hampir ke langit-langit.
Dia lalu mendongak menatap lawan bicaranya yang sedang duduk gelisah dihadapannya
"Kenapa harus pake cara gini sih prof, ribet"
"Kamu itu, sudah jangan cerewet!tinggal ngikutin alurnya aja, apa susahnya sih?! "
Si profesor kembali berkutat dengan catatannya, sekarang dia sibuk menyalin sebuah tulisan dari kertas yang sudah sangat tua dan robek disana sini, dengan hati-hati dia menaruh lembaran tersebut diatas sebuah kaca yang sudah diterangi lampu dibawahnya
"Aku itu bukan filolog, kalau ada yang miss sedikit saja bisa salah kaprah nantinya"
"Denger-denger si Agam mau nyewa filolog prof, mereka sepertinya akan serius membawa masalah ini ke pengadilan"
"Coba saja, Dia justru yang akan tersandung, menyembunyikan identitas anak yang dikira sudah meninggal dan merupakan satu-satunya pewaris yang masih dicari sampai sekarang"
Pria yang bicara dihadapan profesor terlihat gelisah, dia mengetuk-ngetukkan jemarinya di pegangan kursi. mengamati kakek-kakek tua yang asik dengan mainannya sungguh membosankan pikirnya, namun dia memaklumi pentingnya sosok profesor Jasser demi kelancaran misi mereka.
Suasana hening sesaat, yang terdengar hanya goresan pena si profesor dan ketukan jemari yang berirama memenuhi ruangan.
"Kenapa Sri belum datang ha? Kalian pikir aku ini mbah-mbah nganggur apa? "
Diluar matahari sudah terbenam, cahaya jingga yang tersisa memantul dari balik jendela membuat jejak panjang keemasan yang jatuh menimpa sudut rak buku diruangan tersebut. Bunga sepatu diluar tampak begoyang-goyang seperti tertiup angin, tanaman perdu yang ditata rapi pun ikut bergoyang searah ketika sebuah mobil ford ranger tua mendecit dan berhenti di halaman rumah tersebut, dari balik jendela Yasin melihat seorang wanita keluar dari kemudi dengan menenteng sebotol bir lokal, sepatu boot tingginya terdengar ketika melangkah menaiki tangga menuju ruangan dimana si professor masih berkutat dengan catatannya.
"Nah itu Sri udah datang prof!"
"Yas, kamu masih suka main begituan?" Profesor Jaseer menunjuk jaket berlambang partai yang dikenakan Yasin. Dia tersenyum kikuk dan merapikan jaketnya yang tidak lusuh.
"Heheheh cuma iseng prof"
"Halah, alesan kamu itu!"
Tanpa basa basi terdengar gagang pintu dibuka dari luar, berdiri disana sosok besar dengan rok payung selutut dan blazer hitam, rambutnya yang sebagian besar sudah memutih dia biarkan tergerai, wanita itu masuk dan langsung duduk di sofa panjang di dekat pintu.
__ADS_1
"Halo profesor Jaseer!
Oh hai Yasin!lama tak jumpa, kamu makin tua ya! Hahahahaha!" Sapanya riang, tidak sadar akan kalimatnya yang menyiratkan bahwa dia juga sudah tua
Yasin melangkah ke sofa dan duduk di sebelah si wanita yang sekarang mengeluarkan sebungkus rokok gudang garam 12. Dia menawari Yasin yang langsung di tolak keras
"Udah nggak ngrokok!" ujar Yasin sambil menyilangkan kedua tangannya di dada
"Kenapa? Nggak boleh sama Istri?" Sri sekarang menyalakan api diujung rokoknya yang diapit dengan kedua bibir, dia menghisapnya kuat-kuat, asap yang keluar dari hidung dan mulutnya memenuhi ruangan seketika itu. dia lalu tertawa terbahak-bahak
"Boleh ya Prof?!"
"Hmmm, kamu buka aja pintunya"
Profesor Yaseer berdiri dari tempat duduknya, celana batik longgar dan kaus putih serta kacamata berantai yang tergantung di lehernya memberi kesan dia adalah orang yang santai namun jangan coba-coba menginterupsinya saat sedang bekerja, dia memutar kursi di depan meja yang tadi di duduki Yasin menghadap sofa tempat mereka sekarang bercengkrama,
Professor Jasser lalu duduk sambil memegangi sebuah salinan catatan,
"Sri, kamu udah ketemu anaknya? "
Sri menaruh rokoknya di asbak, sekarang dia menenggak birnya.Yasin yang duduk disebelah mengawasinya dengan jengah, tingkah laku perempuan yang sudah setengah abad ini tak berubah saat mereka masih muda, ketika semua berkumpul dia pun yang paling lantang menyuarakan pendapatnya disamping Almarhum Christy. Sri adalah tipe orang yang ceplas ceplos, kata-katanya nyelekit ketika dia tidak suka dia akan bicara didepan orangnya, sama seperti keadaan saat ini ketika bertemu kembali dengan Yasin setelah sekian tahun, yang dikomentari malah jenggotnya.
"Yas, tampilan kamu sekarang kok beda ya"
Sambil menghisap kembali rokoknya, Sri mengamati wajah Yasin lekat-lekat lalu memicingkan mata.
Yasin pun mengusap-usap wajahnya, merasa dia selalu jadi korban ejekan saat mereka masih muda bahkan sampai sekarang, dengan gerakan kaku dia membetulkan resleting jaketnya dan berdiri tegak sambil melempar tatapan tak terima
"Beda gimana maksudmu? "
"Itu jenggot, sejak kapan numbuhin jenggot, apa sejak jadi pengikut si Dewo itu ya? "
"Ah kamu ini, kirain apa? Ini namanya bagian dari perubahan jalan hidup tau"
"Hmm perubahan jalan hidupmu apa jalan keuanganmu hahahah"
__ADS_1
"EHEM!" merasa tidak digubris, professor Jaseer nampak gusar di tempatnya, dia lalu melambai-lambaikan catatannya didepan mereka yang sepertinya masih asik reunian
"Sori Prof, gimana-gimana? "
"Sri, kamu kan yang diserahi langsung untuk proses hipnosis anak itu, nantinya kamu bikin laporan perkembangannya secara detail"
Professor jasser meletakkan catatannya di atas meja agar kedua orang tersebut bisa melihatnya, sebuah salinan terjemahan dari naskah kuno yang berisi wasiat. Tidak banyak yang tertulis disana, mereka membaca secara acak dan garis besar yang tertulis disana belum memberikan informasi apapun, mereka berdua pun kembali menyandarkan punggung dengan lemas.
"Disini masih banyak bagian yang kosong, dan kemungkinan terbesar bagian yang paling penting adalah pada memori yang dihilangkan.
Coba kamu terapi recall memori dia dan jangan sampai terlewati bagian sekecil apapun"
Tergerak oleh rasa penasaran Yasin menarik catatan itu kembali dari atas meja, dia membaca kata demi kata, dan mencoba memahami kalimat-kalimat yang dirangkai menjadi sebuah terjemahan kaku.
Dia membaca yang mungkin bisa menjadi petunjuk penting, seperti yang tertulis ada 'anak perempuan', 'usia 18 tahun', 'simbol' dan tidak ada lagi yang bisa dianggap penting selain kata-kata tak bermakna, entahlah mungkin itu sebatas pemahamannya saja.
"Prof, kalau sampai Agam tahu anak itu kita bawa dengan cara seperti ini, apa dia nggak semakin nekat?"
"Kamu kok kayaknya takut banget sama Agam Yas"
"Stt! Aku belum selesai ngomong Sri" Yasin sekarang menegakkan punggung sembari memegangi kedua dengkulnya, dia menatap serius Professor Jasser yang terlihat santai membenahi kacamatanya
"Prof kalau anak itu sudah 18 tahun dan secara hukum sudah sah dalam menerima warisan tersebut, tinggal suruh tanda tangan aja, ngapain ribet. setelah dia tanda tangan baru kita sewa filolog. yang penting wasiat itu sudah berada ditangan yang sah, dan kita sudah nggak perlu was-was lagi berurusan dengan agam dan orang-orangnya"
"Yas kamu itu antara bego apa ngebet banget dapat cipratan?"
"Kamu kok mikirnya gitu Sri? "
Sri menggoyang goyangkan kakinya, asap masih mengepul dari bibirnya yang bergincu merah tebal sementara kukunya yang dia cat warna ungu terlihat kontras diantara jemarinya yang sudah keriput.
"Yah jelas kamu tim suksesnya si Dewo to? udah ah ikutin ajah apa kata professor Jasser, gue juga nggak mau lama-lama mainin mental anak seumuran dia"
Professor Jasser bangkit tak tahan dengan suasana ruangan yang penuh asap atau tak tahan kalau kedua mantan anak didiknya saling berdebat, dia kembali menuju mejanya dan membuka sebuah gulungan besar berisi denah ruangan. tak tahu kalau kedua orang yang tadi masih asik bersitegang sekarang sudah berdiri di belakangnya. sambil menggerakkan jemarinya di atas petak-petak yang tercetak di gulungan tersebut, Professor Jasser berbalik dan melontarkan kalimat perintah untuk menyudahi acara debat mereka.
"Begitu lulus SMA, bawa anak itu masuk Bhaktijaya, bagaimanapun caranya. Kalau bisa buat se alami mungkin"
__ADS_1
Keduanya mengangguk tanpa sanggahan.