How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
9. Pertemuan Dengan Hantu


__ADS_3

Arsen sedang berganti baju di mobil, seragam clubnya dia lemparkan begitu saja dikursi belakang, sepatunya dia lepas dan menggantinya dengan sandal jepit yang dia selipkan dikursi samping, dia lalu turun ke sebuah kompleks pemakaman yang hampir setiap hari selalu dia kunjungi, pagar besi tinggi yang merupakan pintu masuk ke pelataran luas dengan nisan-nisan tertata rapi.


Dia berjalan gontai diantara senyapnya malam, sesaat terdengar kepakan sayap binatang entah itu burung atau kalong, mereka terbang dari area luar pekuburan, terlihat rerimbunan pohon dan tanaman kamboja yang melingkupi sekeliling pemakaman mungkin itulah yang membuat betah binatang malam bersarang disana.


Arsen mengedarkan pandang ke sekeliling makam, sangat jarang orang yang berkunjung kesana saat malam hari kecuali memang ada jenazah yang baru meninggal dikuburkan disana. Dia lalu duduk menghadap sebuah nisan, memandanginya lekat-lekat sembari pikirannya melayang entah kemana, dia sangat betah berlama-lama menatap sebuah nisan dari batu pualam yang berukir tulisan 'Maharani Savitri'


Sementara itu beberapa buket bunga lily putih yang sudah layu tergeletak disana.


Dia lalu meletakkan sebuket lily putih yang baru dia beli di perjalanan.


pernah sekali ketika sudah di pemakaman dia lupa membawa buket lilynya, dia tak tahu dimana dia meninggalkan bunga tersebut yang jelas dia kembali untuk membeli lagi sebuket lily putih.


Ketika sepeninggal gadis itu Arsen menghabiskan hari-harinya melamun disana, tidak bisa menemani ketika hari terakhirnya karena harus ikut pertandingan dan kekalahan yang dia bawa semakin membuat Arsen merasa bersalah.


Gadis yang tiada itu, yang menemani sebagian besar masa kecilnya sampai remaja, gadis yang pernah bertaruh menyelamatkan hidupnya, dan sebelum Arsen merasa telah membalas kebaikannya serta memenuhi janji yang mereka buat gadis itu sudah meninggal.


Semenjak kematian Maharani Savitri, Arsen tak pernah pulang ke rumah, dia selalu menghabiskan harinya di rumah tante Yuli, Ibu angkat gadis itu.


Di dalam sebuah kamar bernuansa peach, masih lengkap dengan perabot dari pemilik sebelumnya, meja yang penuh alat lukis dan kertas sketsa serta lukisan lily yang bertengger maupun yang belum selesai masih ditempat yang sama.


Arsen duduk di ranjang bergaya victoria sambil menghadap ke jendela, melihat bayangan masa lalunya yang bermain di halaman bersama seorang gadis kecil yang duduk manis di ayunan, kadang-kadang Arsen mencuri pandang ketika gadis itu asik menggambar di kertasnya, selalu bunga lily pikirnya, kenapa dia tak pernah melukis yang lain.


Senyum lemah dan tatapan sayu gadis itu, suara yang lembut setiap kali dia menyapa Arsen ketika berkunjung kerumahnya benar-benar melekat di ingatannya.


Gadis itu memang homeschooling sejak kecil,


kondisi fisiknya yang lemah tidak memungkinkan untuk terlalu sering berinteraksi diluar.


Kanker kelenjar getah bening stadium akhir yang mengerogoti tubuhnya sejak gadis itu berusia 7 tahun tak bisa diselamatkan, menjelang akhir hidupnya dia habiskan di kursi roda sementara rambutnya perlahan mulai menipis, kemudian dia memutuskan untuk meminta tante Yuli mencukur habis rambutnya.

__ADS_1


Pernah suatu ketika, tak lama sebelum gadis itu meninggal sebuah paket datang ke rumah, paket berisi cat lukis pesanannya. Dia membawa paket tersebut dengan girang menuju kamar, Arsen yang melihat binar ceria di matanya justru merasa teriris, mengetahui bahwa hidupmu tinggal hitungan hari sementara dirimu masih bisa tersenyum atau mungkin pura-pura tersenyum akan hal sepele, apa untuk menipu orang-orang disekitarmu?


tak lama setelah gadis itu dengan girang membawa paket pesanannya, dia pun mulai mengeluarkan alat lukis lalu mengambil tempat favoritnya di dekat jendela, kadang dia sambil melambai melihat Arsen yang berbincang dengan tante Yuli disana. Saat Arsen mendekat kearahnya dia mendapati bulir airmata yang menetes dipipinya, entah dia sadar atau tidak akan airmata yang membasahi sketsa di pangkuannya dan kedatangan Arsen yang tak ditangkap olehnya, dengan gemetaran gadis itu masih melanjutkan sketsanya dalam diam berusaha tak menghiraukan apa yang mungkin menghalau pikirannya saat itu. Sementara Arsen yang tidak pernah melihat gadis itu larut dalam kepedihan yang mungkin dia pendam diam-diam, serta merta memeluk gadis itu.


Udah nggak papa Ran, nangis ajah nggak usah dipendem, it's okay


Gadis itu menumpahkan seluruh airmatanya,


tubuh yang ringkih gemetar hebat dalam pelukannya,


sambil sesengukan dia mengusap-usap wajah dengan telapak tangannya. luka yang berusaha dia sembunyikan tak berhasil mengelabui seseorang yang sekarang memberikan dekapan hangat dan kasih sayang.


Makasih Ar, bisa nggak kamu tinggalin aku dulu sendirian


Arsen melepas pelukannya, dia menatap cemas gadis yang memilih untuk sendirian saat itu, hari terakhirnya cepat atau lambat akan datang namun dia juga tidak bisa tahu kapan tepatnya, Arsen hanya khawatir kalau disaat terakhirnya nanti dia tak bisa berada disampingnya dan ternyata hal itu terjadi.


Di sepanjang jalan laron beterbangan membentuk koloni dibawah lampu-lampu yang menyala terang. Arsen menghalau beberapa yang menerjang diatas kepalanya.


Mengunjungi makam di saat matahari terbit atau tenggelam sudah menjadi rutinitasnya sampai penjaga di gerbang depan hafal ketika seorang remaja lelaki dengan buket lily memasuki pelataran menuju nisan tempatnya berlabuh. bahkan si petugas sempat mencurigai bahwa Arsen hendak melakukan ritual tertentu kala itu.


Aroma kamboja yang tertiup angin sesekali menggelitik hidungnya, dia mengeratkan jaket dan menaikkan tudung kepalanya, sesampainya di gerbang Arsen memberikan lembaran uang kepada si penjaga yang tengah asik ngobrol sembari minum kopi bersama kawannya, dia lalu membungkuk-bungkuk terimakasih pertanda bahwa Arsen memang sering memberinya uang ketika dia berkunjung kesana.


Mobil yang dia kendarai melesat menuju pusat perbelanjaan paling besar dikota itu, tujuannya kesana adalah membeli insole sepatu di toko langganannya. Arsen segera memarkir mobilnya lalu turun dan berjalan menuju pintu masuk, tak jauh dari sana dia menaiki lift menuju lantai dimana toko 'stop and go' tujuannya membeli insole berada.


Tidak banyak orang didalam lift yang dinaikinya, ketika pintu membuka menutup pun dia tidak terlalu memperhatikan orang-orang yang keluar masuk bergantian sampai sesosok yang berdiri tepat didepan lift benar-benar membuat hatinya mencelos.


Saat pintu lift itu terbuka karena seseorang yang hendak keluar dari dalam, Arsen mendapati sosok yang berdiri di depannya.


Wajah yang sangat mirip dengan seseorang yang baru saja dia kunjungi makamnya, bukan hanya mirip tapi persis namun dengan penampilan yang jauh berbeda. Arsen mencoba untuk menanyakan kewarasannya, mungkin itu hanya halusinasi, apa karena terlalu sering mengunjungi makam Rani jadi dia semakin terobsesi dengan penampakannya, bisa saja itu orang lain yang wajahnya persis, yah ada 1000 kemungkinan orang yang wajahnya sama persis di muka bumi ini pikirnya.

__ADS_1


Lift berhenti dilantai tujuannya, Arsen keluar dan langsung menuju toko untuk membeli insole, dia membuka dompet dan menyadari uang cash terakhirnya sudah dia berikan ke si penjaga makam tadi, maka dia membayar barangnya dengan kartu debit setelah itu dia berencana untuk ke mesin ATM menarik uang tunai.


Si mbak yang menjaga konter membungkus barang yang di pesan Arsen, sambil mengetukkan jarinya di layar mesin kasir dia bertanya ramah


"Gimana kak, apa sepatunya yang dibetulin kemarin ada masalah?" tanya si mbak kasir dengan ramah


"Oh nggak mbak, udah oke kok. Thanks ya" Arsen mengambil barangnya sambil tersenyum lalu beranjak pergi, dia masih bisa mendengar ketika si mbak kasir berteriak kegirangan dengan temannya dibelakang sana


"Ya ampun ganteng banget! gue doain sepatunya sering rusak! Biar dia sering kesini"


"Kalo sering rusak, boro-boro kesini, yang ada dia beli baru!"


Sesampainya diparkiran Arsen segera menyalakan mesin mobilnya, hampir saja dia lupa kalau akan mampir ke ATM. Dia pun kembali mematikan mesinnya, dan mengambil dompet yang dia letakkan didashboard, namun tiba-tiba dia membeku saat pandangannya menangkap bayangan yang berjalan dari kaca spion mobilnya, sosok yang tidak asing lagi, sama persis seperti yang dia lihat di depan lift tadi. Arsen masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, saat sosok yang mirip Rani tersebut berjalan lebih dekat melewati mobilnya, wajahnya benar-benar nyata. Dari dalam mobil Arsen masih terus mengawasi kemana hantu Rani itu pergi. Sosok itu berjalan bukan melayang, dengan segenap kewarasan yang masih tersisa Arsen keluar dari mobil melanjutkan tujuan awalnya. Dia menuju mesin ATM yang tak jauh dari parkiran mobilnya, ketika dia melewati skat kaca yang memisahkan bilik-bilik antar Bank, Arsen kembali dikejutkan dengan penampakan gadis tersebut, dia pun berhenti untuk meyakinkan diri apakah dia masih dalam halusinasinya atau sudah di dunia nyata, gadis itu berada di Bank Z dan Arsen pun memutuskan untuk berpura-pura mengantre di belakangnya sambil mengamati bayangan wajah gadis itu dari layar mesin dihadapannya. Benar sekali dia terlihat seperti Rani yang sedang menyamar, rambutnya lebih tebal dan bergelombang, dia berkacamata,ada tahi lalat dipipinya.


Merasa diawasi gadis didepan Arsen tampak gugup, dia pun buru-buru melewatinya dan tanpa sadar menjatuhkan dompetnya. Sebelum Arsen sempat menyadarinya, gadis itu tampak berlari menjauh, sepertinya dia ketakutan.


Arsen lalu melihat dompet yang tergeletak disana, diapun memungut dan mencoba mengejar gadis itu sambil berteriak memanggilnya, sayangnya gadis itu tiba-tiba sudah menghilang.


Arsen membolak-balik dompet yang ditemukannya, ingin sekali dia membuka dan mencari tahu siapa identitas gadis itu namun dia mengurungkannya lalu kembali berjalan mencari kemana gadis itu menghilang, kalau sampai dia tidak menemukannya dia akan memutuskan untuk membuka dompet tersebut memeriksa identitasnya lalu menyerahkannya ke security disana.


Bagaimana kalau ternyata yang dia lihat cuma khayalannya saja, bagaimana kalau tiba-tiba dia jadi melihat wajah orang-orang disekilingnya berubah menjadi wajah Rani, Arsen berusaha menepis pikiran gilanya, yang jelas dompet di tangannya saat ini adalah milik orang bukan hantu.


Saat melewati tikungan dimana gadis itu menghilang Arsen dikagetkan dengan dua orang petugas keamanan dan seorang gadis yang terlihat heboh, gadis itu adalah sosok yang mirip Rani. Dia tengah melotot menatapnya sambil berteriak, "Pak cepet tangkap dia, lihat itu dompet saya pak! "


Sebelum sempat membela diri, salah satu petugas keamanan langsung mencekal kedua tangan Arsen kebelakang.


Seketika bayangan Rani hilang dari gadis itu, mungkin wajahnya saja yang mirip tapi tidak kelakuannya, Gadis itu merusak image Rani di benaknya selama ini.


Selanjutnya dia berharap tidak ingin bertemu dengan wujud yang seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2