How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
5.2 Trio Pamungkas


__ADS_3

"Dari mana Ki?" Tika yang kebetulan lewat koridor di ruang guru menatap heran ekspresi Kinan


"Habis ketemu Pak Bowo, ngajuin proposal"


"Lo sibuk banget ya akhir-akhir ini?"


"Hmm aku bakal kerja lebih keras lagi dalam waktu dekat...Ke kantin yuk Tik"


Mereka berjalan menuju kantin, mengisi perut adalah pilihan tepat pikir kinan


"Ntar malem jangan sampe lupa ya, kita bareng-bareng pake mobilnya Rendi"


"Ha? Kemana? Nyanyi di kondangan lagi?" Kinan memasang muka hran begitu mendengar kalimat, mobilnya Rendi


"Apaan sih, masak kamu lupa sama tiket nonton pertunjukan musikal di Plenary Hall?" Tika tiba-tiba berhenti menghadang langkahnya


"Ya ampun! Yang tiket nonton itu? Aduhh maaf ya Tika aku lupa"


"Ingat jam 7 ntar malem harus sudah siap ya" Tika menyeret lengan Kinan diantara kerumunan siswa yang memenuhi koridor. Didekat lorong yang menuju kantin ada dua orang cowok yang mengamati Kinan lekat-lekat, begitu Kinan dan Tika melewatinya, seorang yang paling tinggi dengan gaya rambut semi tribal berseru


"Tika!"


"Iya Kak?" Tika yang dipanggil sontak menghentikan langkahnya dan mendongak


"Tau Rendi dimana?"


"Rendi, masih di kelas kayaknya tadi kak"


Si cowok jangkung yang menanyai Tika beralih ke temannya, dia sedikit berbisik namun terdengar jelas dengan jarak mereka yang cukup dekat


"Ndar, dia mirip banget sama Rani kan?"


"Iyah sumpah mirip banget, jangan-jangan dia hantunya"


"Hust!"


Merasa jadi subyek yang dibicarakan sembunyi-sembunyi, Kinan angkat bicara


"Kenapa Kak?"


"Nggak papa." yang ditanyai mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


"Aku lagi ngomong sama Tika"


"Iya aku tanya kenapa kak? Kenapa nyari Rendi?" tak mau kalah Kinan ikut membalas


"Kita mau pinjem ruangan"


"Hai Kinanti?" tiba-tiba cowok disebelah si jangkung melambai ke arah Kinan sok akrab, dia tersenyum lebar memperlihatkan salah satu lesung pipinya, dia menunjukan ekspresi ramah yang Kinan lihat malah dibuat-buat


"Boleh nggak ntar kamu nyanyi lagi pas pinjem ruangan" godanya, berusaha menetralkan suasana


"Besok-besok kalau mau pinjem ruangan diperjelas ya, mau sama penyanyi nya apa enggak"


"Sewot amat lo Tik"


"Udah yah, kita lagi kelaparan nih, langsung ajah samperin Rendi di kelas"


Tika menyeret Kinan masuk kedalam kantin yang sudah dipenuhi antrean mengular, antrean yang sama setiap harinya saat jam istirahat siang di konter makan favoritnya


"Yah bakal kehabisan lagi nggak ya nasi bakarnya"


"Kalau habis beli yang lain ajah"


"Gue lihat belakangan ini lo udah nggak bawa bekal makan lagi ya"


"Ibu aku lagi sibuk, banyak pesenan jadi kalau pagi nggak sempet masak"


"Kapan-kapan bawain dong, gue pengen nyobain"


"Beres!"


Setelah mengantre cukup lama dan mendapat menu yang mereka inginkan, Kinan dan Tika mencari tempat duduk di dekat jendela yang mengarah ke lapangan. Melihat beberapa anak cowok yang bermain bola, Kinan mendapati sosok paling tinggi yang mereka jumpai tadi


"Yang tinggi itu siapa Tik?" tanya Kinan menunjuk seseorang yang dibicarakannya


"Oh yang itu, yang tadi nanyain Rendi. Namanya Dio kelas XII IPA 2 Setter Voli dia"


Kinan mengangguk sekilas


"Lo belum tahu ya, di sekolah kita ini terkenal sama yang namanya trio pamungkas didunia voli. masak lo udah sebulan disini nggak tahu"


Sebenarnya Kinan pernah mendengar soal ekskul voli yang sering memborong piala untuk sekolah mereka namun hanya sekilas info saja, karena keseharian Kinan memang sudah terjadwal, seperti kelas, lab, perpus, ruang guru, dan markas teater, itupun dia selalu fokus untuk penulisan karya ilmiahnya, jadi kalau pun ada slentingan atau obrolan receh, Kinan tak terlalu mengingatnya.

__ADS_1


"Ha? Apalagi itu?" Kinan memotong, namun Tika segera mengangkat tangannya


"Ckk dengerin. Gue kasih tau ya, Dio kelas XII IPA2 posisinya Setter dia juga menjabat ketua ekskul voli tahun lalu, Arsen kelas XI IPA 1 posisinya spiker, dan Andar kelas XI IPS 1 yang tadi sama kak Dio, posisinya Blocker dia ketua ekskul voli yang sekarang. Mereka adalah kombinasi yang mematikan. Mereka punya fansbase sendiri loh, tapi sayangnya akhir-akhir ini gue denger anak voli lagi ada masalah"


Tika menyendok nasi dipiringnya, kunyahannya mantab memperlihatkan keyakinan bahwa apa yang dimakannya benar-benar sesuai ekspekstasinya


"Kok kamu bisa tahu banyak. jangan-jangan kamu salah satu fans mereka ya? "


"Itu pengetahuan dasar tahu. Semua siswa di sini juga tahu. Lo belum lihat ajah fans fanatik mereka"


Kinan hanya tersenyum, dia menunduk lalu mulai menyendok nasi dipiringnya


"Lo belom pernah lihat trio pamungkas jalan bareng kan? "


"Kenapa emangnya?" Kinan merespon asal, dia tidak tertarik dengan topik seperti ini, yang jadi perhatiannya saat ini adalah segelas jeruk dingin di hadapannya


"Auranya berbeda tahu, Mereka bertiga selalu bersama-sama dan kalau salah satunya gak bisa tanding, yang lainnya juga gak bakal mau"


"Apa menariknya coba?" Kinan menyedot es jeruknya dengan suara keras, menangkap bayangan seorang cowok yang bernama Andar seperti yang dijelaskan Tika tadi, melambai ke arahnya dari balik jendela..Andar dan Dio masih bermain bola dengan antusias di tengah teriknya matahari


"Masak aku dibilang hantu" Kinan mengurangi intonasi suaranya, karena dia tidak benar-benar ingin mengatakannya


"Apa?hantu?siapa yang lihat hantu?" Tika memperlihatkan ekspresi ragu dan penasaran


"Nggak ada, bukan apa-apa" Kinan pun buru-buru menambahkan. Melihat Kinan yang mulai sibuk dengan makannannya Tika juga ikut berkonsentrasi ke piringnya kembali


" Yaudah pulang sekolah ke markas sebentar ya Ki"


"Iyah"


Mereka menghabiskan makan siang mereka dengan lahap, jam istirahat pun cepat berlalu. Ketika bel berbunyi tanda masuk kelas, Kinan dan Tika buru-buru membersihkan meja dan meletakkan piring kotor mereka di tempatnya.


Jam pelajaran siang itu berlalu dengan lambat, para siswa kelas XI bahasa 1 berkali-kali menguap saat jam pelajaran yang berisi ceramah membosankan dan berulang-ulang dari guru sejarah mereka yang sudah sangat tua, Bu Siti sudah seharusnya pensiun tapi beliau masih di perbantukan di beberapa kelas.


Ketika bel pulang berbunyi, Kinan, Tika dan Rendi seperti sudah tahu kebiasaan setiap harinya, mereka langsung menuju markas seni budaya-adalah sebuah ruangan kesekretariatan ekskul didekat tempat latihan indoor mereka.


Arif tidak bisa ikut mereka hari itu, dia bilang akan menyusul ke tempat latihan begitu selesai remedial bersama beberapa siswa lainnya


"Langganan banget tuh anak Remedial, Padahal tugas udah gue contekin mulu" Tika berdecih kesal sembari mereka berjalan menuju ruang kesekretariatan.


Beberapa anak voli tampak memasuki ruangan indoor diikuti guru pembimbing mereka pak Ridwan, karena lapangan voli indoor mereka sedang dalam perbaikan.

__ADS_1


__ADS_2