How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
7.1 Tak Disangka Bertemu Kembali


__ADS_3

Kinan, Tika, Arif dan Pak Bowo sudah duduk di tribun lapangan indoor sekolah


Mereka sedang menunggu Pak Ridwan selaku guru olahraga kelas XII, pembimbing ekskul dan juga pelatih di sekolah mereka untuk bekerjasama dalam sebuah proyek pementasan bersama anak-anak voli. Kinan dan teman-temannya tidak pernah menyangka ketika mendengar bahwa mereka akan bekerjasama dengan anak voli dalam pementasan, pada saat membicarakan proyek ini, dia (yang sebetulnya untuk kelancaran karya ilmiah yang dia ajukan)menebak bahwa nantinya akan bekerjasama dengan anak pecinta alam ternyata salah.


Terdengar ketukan dari langkah kaki yang bergerak memasuki ruangan, dari jauh terlihat Pak Ridwan berjalan didepan dengan membawa map di tangan kanannya, dia adalah guru pertama yang Kinan jumpai saat kepindahannya di Tridharma. Sementara dibelakangnya mengikuti tiga orang siswa, dua orang diantaranya sudah tidak asing lagi bagi Kinan, mereka adalah Dio dan Andar.


Kinan dan teman-temannya berdiri ketika mereka sudah mendekat dan kedua guru tersebut berbicara sebentar, Kinan merasa tidak asing dengan salah satu dari mereka, sosok yang kini berseragam sama dengan dirinya dan juga teman-temannya.(Kinan berusaha meyakinkan diri)


Merasa diperhatikan, cowok itu pun melihat ke arah Kinan.


Sontak keduanya pun memekik


"Maling ATM!"


"Cewek bar-bar!"


Yang ada diruangan saat itu serentak menatap ke arah mereka berdua, Andar yang terlihat sangat antusias segera mengajukan pertanyaan yang sayangnya tidak perlu dijawab


"Loh kalian udah saling kenal?"


Pak Bowo segera mengambil alih perhatian. dia menjelaskan tentang pementasan lintas generasi, acara ini di helat untuk memperingati hari jadi ikatan seniman se kota Narogong


Akan ada 5 orang seniman senior yang terpilih untuk mementaskan anak didik mereka maupun komunitasnya, jadi setiap seniman ini tidak hanya menampilkan anak sekolahan saja namun juga ada anak jalanan dan juga orang-orang yang tidak dibatasi usia. Sementara itu Pak Bowo memang menjadi salah satu anggota terhormat yang ikut terlibat dalam acara tersebut.


"Seperti yang sudah pernah Bapak jelaskan pada Kinan bahwa pementasan ini akan di persiapkan oleh dua tim yaitu dari anak teater dan voli. Sebelum kalian bertanya kenapa kok anak voli yang ikut berpartisipasi? Biar Pak Ridwan yang menjelaskan".


Pak Ridwan membuka Penjelasannya dengan singkat, tak ada senyum maupun keramahan dari wajahnya. Dia terlihat kaku berbeda sekali pada saat dia mengajak Kinan ngobrol di ruang guru pada saat hari pertamanya masuk. jelas sekali disini ada misi yang terpendam dari kedua kubu.


"Oh jadi itu keputusan kepala sekolah buat ngikut sertain trio pamungkas" Tika berbisik ke telinga Kinan disela-sela penjelasan guru mereka

__ADS_1


Pak Ridwan menyebutkan bahwa ketiga anak didiknya itu sedang dalam masa perbaikan nilai sebagai syarat mutlak keikutsertaan di kejuaraan nasional tahun depan, jika mereka lolos dengan nilai-nilai diatas standar. Sedangkan alasan dari keputusan terlibatnya ketiga anak tersebut dalam proyek Pak Bowo yaitu untuk pembentukan karakter mereka, mungkin lebih tepatnya perbaikan dan hukuman.


Pihak sekolah berharap Ketiga anak tersebut bisa kembali konsisten dalam hal belajar dan tidak ada hak istimewa karena mereka atlet. dengan keputusan tersebut maka kegiatan belajar trio pamungkas akan semakin ketat. mereka hanya diberi waktu selama 1 bulan karena pihak sekolah pun tidak mau hal tersebut mengganggu proses belajar di sekolah


"Kalau sampai lo jadi sutradara di acara ini, jangan harap lo bisa ngatur gue se enaknya" Seseorang berbisik dengan nada mengintimidasi tepat dibelakangnya, dan Kinan sudah bisa menebak siapa pemilik suara tersebut.


Sekarang mereka duduk melingkar di lantai sambil membaca draft dan naskah yang sudah di bagikan Pak Bowo. Di draft tersebut berisi uraian singkat mengenai proyek pementasan yang akan mereka dilakukan.


Kinan membelalak begitu kedua matanya menangkap tulisan daftar nama teman-temannya beserta jabatannya..


Kinanti putri Sebagai Sutradara


Apa-apaan ini? Bagaimana mungkin bisa kebetulan seperti ini?


Dengan sedikit rasa tidak percaya Kinan kembali menatap daftar nama tersebut dan sebuah nama beserta posisinya yang tertera disana menarik perhatiannya


Arsentyo Himawan sebagai salah satu tokoh sentral


Kinan menutup naskahnya dan hendak mengangkat tangan, namun lagi-lagi pergerakannya berhasil dibaca lawan.


Arsen langsung bertanya dengan lantang sembari mengangkat tangan


"Pak, kenapa posisi sutradara yang pegang anak baru yang nggak punya pengalaman sih, Pak Bowo nggak khawatir bakal kacau?"


Tanpa diduga Pak Ridwan mengeluarkan sebuah statement yang membuat bendera kemenangan sementara berpihak pada Kinan


"Kinan ini pernah ikut serta dalam mewakili negara kita di acara Musical and Theatre Festival di Malaysia loh. Dia juga sudah beberapa kali juara karya Ilmiah sejak duduk dibangku SMP. Jadi kamu tidak usah meragukan kemampuannya, kami para guru juga tidak sembarangan memilih orang"


Andar dan Dio terlihat bengong mendengar perkataan Pak Ridwan entah karena fakta Bahwa Kinan anak pandai yang multitalent atau Pak Ridwan yang mulai mengakui keunggulan lawannya.

__ADS_1


"Oh iya," Pak Ridwan menambahkan saat melihat gelagat ketiga anak didiknya tersebut


"Kalian bertiga bisa minta bantuan Kinan kalau mau memperbaiki nilai akademis. Kalau saja sekolah kita ada kelas akselerasi dia pasti sudah masuk. Terutama kamu Arsen, nilai kamu itu ibaratnya sudah tertimbun, mau digali sudah jadi bangkai"


Yang disebutkan namanya tidak nampak penyesalan, dengan tenang dia memperhatikan gurunya yang sedang berbicara tersebut sementara kedua temannya saling pandang.


"Pak Bowo, disini ditulis kalau pementasan tanggal 25, berarti kita cuma diberi waktu 1 bulan, Apa nggak salah pak? Secara anak-anak voli kan harus mulai dari nol"


Melihat ekspresi Kinan yang membolak-balik naskah dan draft di tangannya dengan raut muka serius, membuat Tika sedikit khawatir kalau sahabatnya itu akan kewalahan, belum lagi karya ilmiah yang harus di kerjakannya. Entah kenapa Tika merasa ada beban yang disembunyikan dibalik sikap ambisi Kinan, suatu alasan kenapa dia melakukan semua ini bukan hanya karena impiannya masuk universitas Bhaktijaya. Bukan tanpa sebab juga Tika tiba-tiba jadi lebih memperhatikan Kinan, dia yang sempat beberapa kali mampir ke rumah kontrakan orang tua Kinan, melihat bagaimana Ibunya mengaduk adonan di wajan besar dengan bersimbah peluh melakukan semua pekerjaan rumah sendirian disamping berjualan, kalau dipikir-dipikir Kinan juga tidak tergolong dari keluarga yang sangat kesusahan, ayahnya juga bekerja di pabrik yang cukup ternama. yah setiap keluarga pasti memiliki masalah sendiri-sendiri, Tika menyudahi acara lamunanya.


"Kami sudah mempertimbangkannya Tika, dalam waktu satu bulan ini mereka bertiga mau tidak mau harus sudah bisa tampil, Bapak ingatkan sekali lagi, ini memang bagian dari hukuman untuk ketiga dari kalian namun bukan beban untuk yang lainnya, semua ini akan dianggap sebagai tugas dan ada penilaiannya"


"Tapi pak!" Dengan raut muka yang tak mau kalah, Arif mencoba untuk menyuarakan sanggahannya, dia justru menyimpulkan kalimat Pak Bowo memang sebagai beban untuk anak-anak teater.


Namun ketiga anak voli yang tampak santai membuka-buka naskah ditangan mereka atau salah satu dari mereka yang dengan cuek cuma memandang dengan tatapan kosong kedepan, Arsen memang dari awal terlihat tidak antusias bahkan bisa dibilang sikapnya terkesan tidak mau tahu.


"Sudah! Tidak ada sanggahan lagi, ini sudah keputusan final!"


"Tapi pak, saya kan kelas XII sebentar lagi ujian akhir, kalau.."


Belum sempat Dio menyelasaikan kalimatnya, dan sebelum Pak Bowo ikut menjawabnya, Pak Ridwan mengarahkan tatapan maut ke arah Dio yang langsung di respon dengan anggukan lalu diam di tempat.


Kinan yang melihat situasi ini langsung menyuarakan apa yang sejak tadi dia pendam, sebuah keputusan yang menyangkut keberanian dan kemampuannya dia pertaruhkan.


"Pak, Saya selaku sutradara dalam proyek ini akan bertanggung jawab terhadap proses dan keberhasilan pementasan, jika ditengah perjalan terjadi masalah atau pada saat pementasan. dan dinyatakan proyek ini gagal maka saya memutuskan untuk berhenti mengikut sertakan karya ilmiah saya"


Semua tatapan mengarah ke Kinan yang sekarang terdengar mendominasi keadaan, karya ilmiah adalah salah satu tujuannya di sekolah ini dan dia harus bersaing dengan beberapa siswa lain untuk proses seleksi. Kinan akhirnya menyadari hal ini bukan hanya sekedar terlibat didalamnya, ini adalah proyek yang melibatkan banyak hal didalamnya, orang-orangnya dan kepentingan mereka tentunya.


dengan mempertaruhkan karya ilmiahnya mungkin terdengar seperti gertakan seorang murid terhadap gurunya, meskipun dalam hati Kinan benar-benar berharap dia tidak akan kehilangan kesempatannya, tidak akan! dia meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Eh, Ki." Tika terdengar berkata lirih di sampingnya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Tika pun tidak lantas mengakui bahwa Kinan benar-benar akan melepas salah satu keinginannya tersebut jika proyek ini nantinya akan gagal. Dia pun tidak ingin mengecewakan nama seni budaya yang selama ini dia geluti.


__ADS_2