How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
1. Kinanti


__ADS_3

Disebuah gang sempit dengan banyak bangunan bertingkat yang saling berjejalan, rentetan jemuran berkibar, sangkar-sangkar yang berisi berbagai macam burung yang kicauannya bersahut-sahutan nyaring menghiasi hampir setiap teras rumah, pot-pot tanaman ditata cukup rapi di sepanjang rumah dari masing-masing warga dan sesuai namanya, gang yang kebanyakan penghuninya adalah perantauan dari desa itu bernama gang burung.


perkampungan tersebut hanya bisa dilewati kendaraan roda dua dan itu pun harus dituntun, karena banyak anak kecil, begitulah tulisan yang terpampang melintang ditengah jalan, atau mungkin karena alasan tidak ingin ditambahi berisiknya lalu lalang kendaraan dengan kondisi bangunan yang berdesakan.


Kinan mengikat rambutnya yang tebal bergelombng dengan karet warna orange, dia sapukan bedak tipis-tipis ke wajahnya, kedua bola matanya yang bulat besar beralih ke tube lipbalmnya, dia pulas sedikit ke bibirnya lalu tersenyum sekilas sambil membetulkan letak kacamata lebarnya di cermin.


Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah Tridharma, sudah hampir seminggu Kinan pindah ke Narogong mengikuti Ibunya, awalnya memang Bapaknya yang terlebih dahulu pindah ke Narogong, meninggalkan dia dan Ibunya sejak SMP, setelah dia menginjak kelas dua SMA Kinan mendapat informasi bahwa sekolah Tridharma di Narogong membuka perlombaan karya ilmiah dan merupakan satu-satunya sekolah di provinsi yang mewakilkan sekolah mereka dalam ajang karya ilmiah tingkat nasional. Dan pemenang dari perlombaan tersebut mendapat reward berupa beasiswa di salah satu perguruan tinggi favorit di Narogong, yaitu universitas Bhaktijaya. Masuk universitas tersebut adalah impian Kinan sejak SMP karena biaya pendidikan disana terkenal mahal jadi Kinan berusaha masuk lewat jalur beasiswa.


Kinan pikir batu loncatan pertama adalah sekolah Tridharma, untuk bisa masuk ke universitas tersebut lalu dia membicarakan hal itu pada Ibunya yang kebetulan memang berencana pindah ke Narogong menyusul Bapaknya.


"Ki, kamu sudah pesan ojek? "


Suara ibu-ibu terdengar dari balik pintu kamarnya


Kinan segera meraih ranselnya dan berjalan keluar menuju dapur, dia mengambil bekal yang sudah disiapkan Ibunya.


"Udah Bu, bentar lagi nyampe kayaknya"


Kinan kini duduk di ruang tamu kecil tersebut sambil memakai sepatunya


ting ting


Suara chat di ponselnya


"Bu, berangkat dulu"


Kinan mencium tangan Ibunya lalu segera berbalik menuruni tangga didepan rumah kontrakannya, bangunan rumah diperkampungan tersebut memang banyak dibuat bertingkat lalu dikontrak kan atau dikost kan oleh pemilik rumah. kontrakan orangtua Kinan ini berada di lantai 2, lantai 3 sudah ditempati oleh orang lain sementara pemilik rumah ada di lantai bawah.


"Hati-hati Ki, langsung pulang kalau udah gak ada kegiatan di sekolah"


Teriakan ibunya menghilang dibelakang. Kinan berjalan ke arah depan gang, yang sudah ditunggu tukang ojek pesanannya.


.....


Bangunan sekolah Tridharma cukup besar dengan lingkungan sekelilingnya yang asri karena banyak pepohonan, angkutan umum sepertinya hanya lewat di jalan besar, kecuali ojek online atau kendaraan pribadi yang lewat kompleks tersebut.


Kinan masuk bersama siswa lain, seragamnya yang berbeda sedikit menarik perhatian beberapa anak. dia kemudian bertanya pada segerombolan anak perempuan yang melewatinya dengan cuek


"Eh, Kak permisi ruang guru dimana ya? "

__ADS_1


salah seorang cewek berpotongan rambut cepak memperhatikannya dari atas ke bawah dengan muka masam dia lalu menunjukkan arah dimana lokasi ruang guru berada. Kinan berterima kasih lalu berjalan ke arah yang ditunjuk, suasana di dalam sekolah tak kalah asri, sebuah pohon besar nan rindang menjulang di tengah-tengah taman didalam sekolah tersebut, koridornya yang melingkar dibuat terbuka dengan jendela-jendela besar khas bangunan kolonial.


'Tok-tok'


Kinan mengetuk pintu yang setengah terbuka tersebut


Seorang Bapak-Bapak berbaju olahraga menjulurkan kepala dari tempat duduknya


" Siapa? "


"Saya Kinanti siswa pindahan dari SMA Adhitama"


"Ohh, si murid pintar yang baru pindah dari desa itu toh! Ayo sini masuk"


Kinan melangkah masuk dengan sopan, ruangan tersebut sangat luas dengan meja kubikel yang tertata rapi, papan tulis besar, layar monitor, cctv dan ac ruangan yang dingin, karpetnya juga tebal dan empuk, sangat berbeda jauh dengan sekolahnya dahulu.


"Duduklah di meja itu, Wali kelasmu masih ke toilet"


Bapak guru tersebut mengarahkan Kinan kesebuah kursi yang menghadap ke meja dengan satu komputer didepannya.


Kinan lalu duduk dan mengamati sekelilingnya


"Sebenarnya saya pindah kesini juga karena kebetulan pak"


"Loh kok gitu"


Tanya pak guru tersebut sambil mencari-cari sesuatu di mejanya


"Iya Pak soalnya saya dengar sekolah Tridharma jadi perwakilan buat lomba karya ilmiah, jadi saya tertarik dan kebetulan Ibu saya juga mau pindah kesini nyusulin Bapak yang kerja disini"


"Oh begitu toh.. nah itu Wali kelasmu sudah datang"


Seorang wanita berseragam coklat dan berhijab dengan warna senada masuk, pandangannya langsung menangkap sosok Kinan yang tengah duduk di mejanya


"Oh kamu yang pindahan itu ya, mana berkasnya? Sama surat rekomendasinya dari Pak Yasin ya?"


Kinan bangkit dan membungkuk untuk memberi hormat lalu mengeluarkan sepucuk surat berstempel dari sekolahnya, dan satu map berisi berkas-berkas kepindahannya. dia lalu menyerahkannya pada wali kelas didepannya


"Saya Dwi, Wali kelas kamu di XI Bahasa 1 ya. Sebentar lagi upacara, kamu ikut ajah lalu temui saya lagi, kita masuk sama-sama nanti"

__ADS_1


"Baik bu"


Setelah mengikuti upacara singkat tersebut Kinan kembali ke ruang guru menemui Bu Dwi lalu bersama-sama masuk ke kelasnya. Didalam kelas, semua siswa sudah duduk rapi, Kinan masuk diikuti semua tatapan seisi kelas, beberapa diantara mereka berbisik-bisik.


"Anak-anak kalian punya teman baru murid terpandai dari sekolah Adhitama, dia ini murid serba bisa loh pernah menjuarai karya ilmiah tingkat nasional dan pernah jadi satu-satunya perwakilan indonesia yang diundang pementasan drama musikal bersama kelompok pelajar se asia tenggara di Malaysia"


Tepuk tangan riuh menyambutnya, Kinan tersenyum dan membungkuk kemudian dia lanjut memperkenalkan dirinya sendiri dengan penuh percaya diri.


Tepuk tangan kembali riuh diiringi suitan dan decak kagum, karena di akhir perkenalan Kinan menyanyikan sebait lirik dari lagu a whole new world yang langsung diteriaki seisi kelas


"once more! "


"once more! "


Kinan duduk disebelah seorang murid perempuan berwajah oriental, berambut cepak, dia lalu ingat cewek yang ketemu tadi pas di gerbang sekolah. Dia memperkenalkan dirinya


"Hai gue Tika" Sapanya dengan hangat


"Panggil aja aku.." ucapan Kinan terhenti


"Udah tau, haha hahah" Tika menepuk bahunya dengan keras. Sikapnya sangat bersahabat berbeda dengan saat pertama kali bertemu tadi


"Ki, lo ikut teater ajah gimana? "


"Aku emang udah berencana ikut" 


"Serius lo mau ikut teater? Kebetulan banget ekskul kami lagi meredup nih, tau lo yang multi talent gini barangkali bisa ngangkat kita di kancah perteateran tanah SMA" Seorang cowok berambut ikal dengan mata sayu tampak memperhatikannya dari samping, dia lalu ikut nimbrung disamping Tika


"Ye lo ada maksud terselubung juga ya Rip" Tika menepuk bahu cowok yang kini menggeser tempat duduknya


"Oh iya gue belum kenalan nih, nama gue Arif anak teater juga sama kayak Tika" Sahutnya dengan senyum amat lebar


"Jadi pulang sekolah nanti mau nggak, lo kita ajak keliling liat markas"


Kinan mengangguk antusias


"Eh buset to the point juga ya lo Rip! "


Sisa jam pelajaran hari itu mereka habiskan bersama-sama, Tika dan Arif mengajak Kinan berkeliling sekolah saat jam istirahat. Kesan awal Kinan terhadap sekolah dan teman-teman barunya sangat menyenangkan, mungkin saat awal mereka bertemu para penghuni kelas XI Bahasa 1 terlihat tidak ramah namun setelah Kinan bersikap antusias di kelas, dia pun disambut hangat teman-temannya. Sepertinya hari-hari Kinan disekolah ke depannya tidak akan ada masalah, Dia mudah beradaptasi.

__ADS_1


__ADS_2