How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
7.2 Keras Kepala


__ADS_3

Beberapa saat setelah Pak Bowo dan Pak Ridwan meninggalkan ruangan, mereka berpesan bahwa Kinan sebagai sutradara sudah memulai tugasnya pada hari itu, kedua kelompok selanjutnya membahas tentang bagaimana latihan pertama mereka.


Ada tiga tokoh utama yaitu Tika, Arsen dan Andar, dua anak voli dan satu anak teater merupakan komposisi yang tidak seimbang menurut Kinan, mengingat mereka berdua belum pernah pentas didepan umum apalagi untuk perhelatan sebuah acara.


Kinan menyerahkan Andar dan Dio pada kedua temannya, sementara dia akan mengurus Arsen, satu-satunya anggota tim yang terlihat tidak kooperatif dari awal, bahkan sekarang dia sedang melakukan passing ke dinding dengan santai, Kinan pun berjalan menghampirinya lalu berdiri di sebelah dinding tersebut.


"Demi kepentingan kita, Aku harap kamu mau kerjasama, dan ngesampingin dulu hal yang mungkin bikin kamu nggak suka"


Dengan langkah ringan Arsen menghampiri Kinan sambil menangkap kembali pantulan bolanya, tatapan matanya dingin menyiratkan ketidaksukaan


"Tenang ajah, gue bakal ikutin proyek ini seperti yang mereka mau, tapi berhasil nggaknya nggak ada hubungannya sama gue, lo paham kan?"


Keras kepala dan semaunya. Apa Kinan bisa menghadapi cowok satu ini, mungkin teman-teman lainnya masih bisa di ajak kerja sama namun yang satu ini akan jadi kendala bahkan sebelum perang dimulai. bagaimanapun juga Kinan akan berusaha mengabaikan harga dirinya, kalau sampai cowok ini benar-benar nggak bisa diajak bicara baik-baik.


Kinan melangkah lebih dekat kearah Arsen yang masih berdiri tenang dengan salah satu tangan dibelakang menyembunyikan bolanya. Dari dua kancing seragamnya yang dia biarkan terbuka, terlihat bulir keringat menetes ringan di sisi lehernya.


Kinam lalu mendongak menatap lawan bicaranya dengan lantang, dia mendapati kedua mata yang balas menatapnya tanpa ekspresi. bukan tatapan ejekan, atau dendam seperti yang Kinan duga tapi sebuah tatapan kosong namun kuat, tampak seperti pertahanan yang tak ingin seorangpun mengusiknya. Dia seperti memiliki dunianya sendiri.


"Oke besok adalah latihan pertama kita, aku tunggu kamu sepulang sekolah di ruang teater"


Tak perlu menunggu jawaban dari Arsen, Kinan langsung berbalik menuju teman-temannya, namun di tengah langkah dia berhenti. Tanpa menoleh dia menambahkan


"Aku bakal bikin proyek ini berhasil"


Samar-samar Kinan bisa melihat sosok di belakangnya masih diam tidak bereaksi. Sementara Andar berjalan menyongsong lalu tersenyum manis seperti biasanya, Kinan tak menggubrisnya.


"Gue mampir ke rumah lo ya ntar" Andar menepuk bahu sahabatnya itu, yang diikuti dorongan tangan beserta bola yang menekan dadanya.


"Gue nggak pulang ke rumah"


"Yaudah gue ikut ke tempat tante Yuli kalo gitu"

__ADS_1


Ketiga anak voli tersebut lalu keluar bersama-sama meninggalkan ruang olahraga, sementara Kinan, Tika dan Arif masih berada disana membaca kembali dengan cermat draft dan naskah mereka.


Drama bertema keluarga dalam tragedi reformasi 98, tidak banyak yang terlibat didalamnya, namun ketika Kinan membaca nama Sri Waluyo tertera di sana, Kinan jadi ingat kalau dia sempat menghubungi asistennya namun tidak berhasil.


dijelaskan bahwa nantinya Sri Waluyo akan ikut beradu jadi timnya harus siap dengan improvisasi mereka. dan dalam jangka waktu satu bulan ini mereka harus mempersiapkan semuanya dengan matang lalu mau tidak mau mereka harus tampil diatas panggung,


tidak peduli latar belakang para pemain dan bagaimana mereka berlatih, proyek ini harus berhasil. Kinan kembali meyakinkan dirinya meski terus terbersit bayangan bagaimana Arsen kedepannya akan tampak menyulitkan posisinya.


"Hoy Kinan, kita minta bantuan Rendi gimana?"


Arif melambaikan tangannya didepan muka Kinan yang tampak bengong menatap draftnya, ketika kesadarannya berangsur kembali dan mendengar kata 'Rendi' dia memutuskan untuk meminta bantuannya.


"Eh Rendi kan sibuk ngurus persiapan pementasan buat Edu Fair, Rif"


"Ya Ampun gue lupa Tik"


"Kayaknya aku emang harus minta bantuan dikit sama Rendi deh, soalnya aku butuh ketemu sama Sri Waluyo"


Kinan pun bergegas mencari Rendi untuk meminta bantuan pertemuan dengan Sri Waluyo, Kinan tidak tahu orang seperti apa Sri Waluyo itu, dia tidak bisa berasumsi hanya dari cerita Rendi ataupun Pak Bowo.


Yang dicari sedang di ruang OSIS, Rendi adalah murid aktif di sekolah selain menjabat ketua seni budaya, dia juga menjabat wakil ketua 1.


"Loh Kinan? Nyari Rendi ya?" Seorang cowok tinggi kurus berambut keriting melontarkan pertanyaan yang bisa ditebak akan tujuan kedatangannya ke ruang osis tersebut, dengan ramah dia mempersilahkan Kinan masuk


"Ren gue tinggal dulu ya, udah ditungguin anak-anak nih"


Rendi bangkit dari kursinya terlihat sedikit tidak terima, namun dia duduk kembali dan membereskan pekerjaannya


"Yaelah, gue barusan dateng Lang, lo maen tinggal ajah"


"Sori-sori, briefing dadakan nih, soalnya kepala sekolah udah nanyain LPJ ekspedisi pendakian kemaren"

__ADS_1


Kinan masuk dan balas tersenyum ke arah Gilang yang secepat kilat sudah menghilang di balik pintu.


Meminta bantuan Rendi sebetulnya sedikit membuatnya tidak enak hati, Rendi terlihat sibuk akhir-akhir ini, namun Kinan memberanikan diri karena dia pikir ini adalah satu-satunya jalan untuk bisa bertemu dengan Sri Waluyo.


"Ada apa Ki?"


"Ren, kamu tahu rumahnya Sri Waluyo nggak? "


"Eh? Baru semalem gue kasih nomer asistennya, lo buru-buru banget ya?"


Sebetulnya Kinan semalam akan menghubungi asisten Sri Waluyo namun insiden di mesin ATM telah mengganggu pikirannya, tidak seperti biasanya memang untuk hal kecil seperti itu sampai membuat Kinan susah tidur semalaman, dia pun tak tahu apa sebenarnya yang dirisaukan dari kejadian itu, kenapa dia bisa merasa sangat jengkel dan gelisah.


"Ehm, gimana ya.. Pak Bowo ngasih deadline satu bulan buat pementasan, gue takut nggak ke kejar sama anak-anak voli"


"Anak voli?" tanya Rendi nampak heran


"Iya mereka ikut ambil bagian di pementasan ini"


Kinan tak mau menceritakan pada Rendi secara mendetail bagaimana trio pamungkas itu bisa terlibat dalam proyek pementasan, karena secepatnya seisi sekolah juga akan tahu. dan sepertinya Rendi juga terlihat tak terlalu ambil pusing.


"Yaudah kalo gitu ntar coba gue yang hubungin asistennya dulu"


"Maksudku gimana kalo kamu kasih alamat rumahnya aja, biar aku yang ke sana sendiri atau sama anak lain. kamu kayaknya sibuk banget Ren"


"Udah nggak papa, kalo kamu dateng nggak sama orang yang mereka kenal, gue malah ragu lo bakal bisa nemuin dia. kamu siapin semua bahan biar gue yang hubungin asistennya dulu. tapi kalo ternyata nggak ada respon kita langsung kerumahnya aja. ntar malem gue kasih kabar oke?"


Melihat mata Rendi yang memancarkan ketulusan, membuat Kinan bersyukur selama kepindahannya ke Tridharma dia telah di kelilingi teman-teman yang mendukungnya, tidak perlu waktu lama pun Kinan sudah banyak dikenal siswa lain, dan selama ini tidak ada yang bersikap buruk atau mengganggunya, kecuali....


"Makasih ya Ren, sori udah ngrepotin pas kamu lagi sibuk-sibuknya"


"Santai ajah Ki" balas Rendi sambil tersenyum hangat

__ADS_1


__ADS_2