How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
11. Karangkembang


__ADS_3

"Gam kamu nggak capek apa, luar kota terus? giliran istrimu sudah disini, malah jarang pulang"


Suara kipas angin berbaling besar memecah kekosongan sebuah depot masakan padang yang hanya terisi mereka berdua,setelah menyelesaikan sepiring nasi dengan lauk rendang lengkap dengan daun singkong dan sambal ijo, Agam menyeruput habis es teh manis jumbo di hadapannya.


Klakson kendaraan bercampur asap dan debu memenuhi jalanan di pinggir kota siang itu, disela-sela pekerjaannya sebagai staff divisi pelayanan yang mengharuskannya berkunjung ke luar kota untuk melakukan check maupun inspeksi produk secara berkala di setiap toko maupun swalayan besar yang mereka suplai, Agam akan menyempatkan diri untuk bertemu dengan seorang kawan dekatnya yang sudah mengelola pabriknya sendiri, sebagai seorang owner dan teman lama, Fallan tentu saja sudah berkali-kali menawari jabatan yang lebih tinggi di pabriknya namun dia menolak dan bersikukuh untuk bekerja di pabrik milik Chandra Himawan. bukan tanpa sebab Agam terus bertahan dari jabatan yang awalnya hanya seorang driver canvasser, membangun kepercayaan yang erat adalah modal utamanya menggaet orang-orang yang memiliki pengaruh kuat di perusahaan,selangkah demi selangkah Agam naik jabatan, dia sudah tidak setiap hari berada di jalanan, dia sudah memiliki meja sendiri di kantor meskipun kadang-kadang perusahaan mengharuskannya dinas ke luar kota, Agam meyakini bahwa jalannya menuju posisi yang lebih tinggi akan sedikit lebih mudah bila dia menjalin hubungan dekat dengan para atasan.


Chandra selaku owner perusahaan membawa Agam dari desa Madusari tempat dimana pabrik pertamanya dulu pernah dibangun dan karena dia merupakan salah satu kerabat Wira sahabatnya yang sudah meninggal.


"Ada untungnya juga aku sering keluar kota, kalo nggak mana mungkin aku bisa dapat alamat rumahnya Naim"


"Kamu benar-benar serius mau terlibat di masalah ini Gam?"


"Sudah sejauh ini masak aku mau mundur Lan"


"Yang kamu hadapi itu orang berduit, kamu tahu kan resikonya. lebih baik kamu mundur aja, mereka bisa membeli hukum"


Agam tak menghiraukan perkataan sahabatnya, dia mengawasi hilir mudik kendaraan yang tiada hentinya,dia sudah merencanakan dan mempertimbangkan hal ini jauh hari,bahkan bertahun-tahun lalu.sahabat yang kini duduk didepannya hanya bisa menasehatinya, namun yang dipikirkan Agam sekarang adalah bagaimana masuk lebih dalam lagi ke target yang awalnya mustahil untuk dia hadapi. Untuk itu dia meminta bantuan sahabatnya ini yang tergolong orang dengan perekonomian diatas rata-rata, dia membutuhkan modal dan kenekatan untuk meloloskan rencananya.


Sekarang yang dibutuhkan adalah kepercayaan sahabatnya, jatuh bangun yang dialami sahabatnya di masa lalu menanamkan rasa balas budi sampai saat ini, dan hal inilah yang menjadi senjata satu-satunya agar Fallan mau membantunya.


"Apa Chandra dan istrinya tau kalau ada anak lain yang masih hidup? "


Fallan mengernyit masih tak habis pikir kalau sahabatnya ini akan bertindak sampai sejauh ini, padahal bisa saja dia hidup tenang dan berkecukupan bersama istrinya, lagi pula kalau dia tidak menolak jabatan yang dia tawarkan mungkin Agam sudah bisa kredit rumah kecil-kecilan daripada harus mengontrak di daerah sempit padat penduduk hanya demi mengumpulkan modal untuk menyewa pengacara, dia mungkin berpikir bahwa apa yang akan dia peroleh akan jauh lebih besar dari apa yang dia korbankan saat ini, dan hal itu pula yang membuat Agam terus bersikukuh membujuk Fallan terlibat dalam rencananya.


"Kamu nggak khawatir di tuding menyembunyikan anak yang sudah dianggap meninggal?"


"Aku sudah cerita sama Chandra kalau ada anak yang memiliki hubungan langsung dari keluarga Dhananjaya, bukan aku yang hanya kerabat jauh. sejak insiden kebakaran itu, Chandra belum pernah sekalipun melihat anak itu. Dia sepertinya tidak terlalu memusingkan hal ini sampai anak yang diadopsi si Yuli meninggal dunia sebulan yang lalu"


"Jadi alasan kamu bawa istrimu kemari adalah anak itu? "


Isi minuman dan piring kedua orang tersebut sudah tandas, puas karena perut kenyang tak lantas membuat hasrat mereka juga puas,bmasing-masing masih bergulat dengan pikirannya. Fallan memang berasal dari desa yang sama dengan Agam, kesuksesannya mengolah sebuah pabrik dipinggiran kota tak lantas membuatnya lupa diri, dia yang kadang masih berpikiran lugu dan cenderung mudah percaya akan kebaikan orang membuatnya sering dimanfaatkan namun melihat sahabatnya yang pernah membantu bangkit dalam keterpurukan tak serta merta membuatnya pura -pura tidak mengenalnya,entah apapun tujuan Agam,Fallan hanya berniat membantunya, meski hati kecilnya berkata jalan yang ditempuh Agam sedikit bersimpangan dengan jalannya.


"Ada Yasin yang sudah lama tahu dan Bowo yang disini, aku sudah memperkirakan sebelumnya.sampai waktu itu tiba aku membawa dia pindah kemari, dan mempersiapkan semuanya"


Agam memakai jaketnya yang dia sampirkan ke kursi bersiap-siap akan membayar hidangan yang sudah mereka santap


"Jadi ini seperti dugaanmu waktu itu?"


"Yah, hari ini sudah nggak ada kunjungan.kita cari alamatnya Naim sekarang, keburu malam nanti"


Agam berdiri sambil mengeluarkan lembaran merah dari dompetnya, Fallan langsung menepis dan mengganti dengan uangnya yang sudah dia sodorkan ke Ibu dibelakang meja


"Udah, lain kali aja Gam"


"Lain kali terus!tiap kita keluar kamu terus yang bayarin, aku merasa di remehkan ini"


"Sudah ah ayo! "


Mereka bergegas menaiki mobil kantor Agam, membelah jalanan yang padat memang menguji kesabaran setiap pengendara di jalanan ibu kota, meski keduanya sekarang sedang tidak diburu waktu atau memiliki kepentingan perihal pekerjaan. Keduanya sama-sama luang.

__ADS_1


Fallan yang memiliki orang kepercayaan yang menangani pabriknya sudah tidak terlalu sering kesana hanya bila ada rapat penting dan sekedar kunjungan.sehari-harinya dia habiskan merawat ikan-ikan koi di kolam rumahnya.


Didalam mobil mereka masih melanjutkan obrolan


"Gam, kalau masalah uang kamu langsung aja ngomong, aku masih bisa bantu kamu, tapi kalau hal itu kamu sangkut pautkan dalam rencanamu terlalu jahu, maaf saja aku masih punya banyak pertimbangan"


"Tenang ajah, aku masih harus sibuk di pabrik, ada tawaran menarik yang bisa sedikit membuka jalan kesana"


Fallan memang tak habis pikir dengan sahabatnya ini, dia kalau sudah berniat terjun di suatu hal maka tak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.


mobil berbelok menuju jalur tol yang menuju kota Gajayana untuk mencapainya butuh waktu sekitar 2 jam berkendara namun keadaan yang macet bisa-bisa sampai kesana butuh waktu lebih dari itu.


Selanjutnya perjalanan di dalam mobil mereka habiskan dalam diam, berkelana dalam pikiran masing-masing.


Ketika mobil sudah melewati gapura selamat datang, pemandangan khas kota Gajayana terpampang, bayangan gunung yang menjadi ikon kota tersebut nampak diselimut kabut tebal dari kejauhan, volume kendaraan yang tidak terlalu padat berlalu lalang dengan lenggang. Agam sesekali melirik GPS nya, jalan yang mereka lalui berikutnya mengarah menjauhi pusat kota, menuju daerah dataran tinggi dengan medan yang cukup terjal, Agam sudah terbiasa mengemudi di jalanan seperti ini, bukan karena profesinya dulu namun karena kampung halamannya persis seperti ini.


Kota Gajayana dan Desa Madusari memang terbilang cukup dekat, keduanya dilalui jalur pegunungan dan taman nasional.


Mobil berhenti di sebuah toko kelontong dengan pom mini di depannya, seorang kakek tampak sibuk memecahi tumpukan kelapa tua disana.


Agam Turun dan menanyainya apa alamat orang yang bernama Naim benar disitu.


"Oh sekarang sudah ndak ngontrak disini, dia pindah ke karangkembang keatas lagi, sampean coba tanya kebun bunga parwathi punya Naim orang-orang sudah tau semua"


Agam mengangguk-angguk sambil berterimakasih. Dia lalu melanjutkan perjalanan menuju karangkembang. total perjalanan mereka mungkin sekitar 4 jam. Mereka tidak mengira kalau tujuan awal kontrakkan Naim membawa mereka menuju sebuah daerah dataran tinggi yang asri lengkap dengan jurang di kanan kiri, pepohonan pinus berjajar diantara bangunan-bangunan vila maupun rumah penduduk. Suasana yang sejuk di lereng pegunungan menjadikan sentra wisata alam yang paling diminati warga dari luar kota. Karangkembang adalah kota administratif yang dulunya masih ikut wilayah Gajayana. Pembangunan hotel maupun penginapan cukup pesat, ditambah pemandangan alam yang indah menjadi daya tarik tersendiri.


"Wah kebun bunganya Naim luas juga ya"


Hari itu tidak banyak kendaraan dari wisatawan yang berkunjung mungkin karena hari kerja atau memang saat itu sudah mendekati jam tutup operasional.


Jalan setapak yang menurun menuju petak-petak bunga yang berwarna-warni, sepanjang mata memandang yang terlihat luas adalah kebun mawar yang memang dibuat khusus untuk wisata petik itu sendiri,dari papan yang terpasang tarif satu tangkai bunga mawar yang dipetik dihargai sekian rupiah, sementara bunga-bunga lain yang tak kalah indah menjadi spot foto favorit para pengunjung. Jalan setapak tersebut membelah barisan bunga yang berwarna warni disisinya, sebaris demi sebaris krisan aneka warna layaknya kue lapis dari kejauhan.


Mereka berjalan menghampiri seorang juru parkir yang baru saja mengarahkan mobil mereka.


"Permisi Pak! Dimana saya bisa nemuin Pak Naim?"


"Pak Naim ada ditempat bungkus-bungkus bunga disebelah sana"


Tukang parkir tersebut menunjuk sebuah area dengan berbagai macam bunga hias bergelantungan diatapnya, disana ada beberapa pengunjung yang nampak menunggu bunga yang mereka beli dibungkus, ada juga yang sebagian minta di rangkai menjadi buket.


Orang yang dicari tampak berbincang dengan seorang pegawai berseragam batik yang sedang merapikan tangkai mawar yang berjajar diatas meja, sebagian besar sudah di bungkus rapi dilapisi kardus dan kertas didalam sebuah peti. Sepertinya mawar-mawar tersebut akan dikirim keluar kota.


"Naim! "


Yang diseru tampak berhenti sesaat memandangi Argan, sekitar 6 tahun yang lalu saat mereka terakhir bertemu, Naim masih berada di desa M bersama sama Yasin mereka berdua berstatus guru honorer saat itu, ketika Yasin diangkat jadi PNS Naim sudah keluar dari sekolah tersebut dan mereka pun tidak pernah bertemu lagi dan keberadaannya tidak bisa dilacak.


"Agam! Fallan! "


Naim balas berseru lalu menjabat erat keduanya dan mempersilahkan masuk ke dalam sebuah ruangan sederhana, ada sebuah bangku kayu panjang dan meja pendek yang bernuansa sama, dinding tembok yang memperlihatkan batu bata merah dibiarkan telanjang begitu saja, sementara disudut ruangan ada sebuah meja dan laptop serta kursi plastik dibelakangnya.

__ADS_1


"Kalian kok bisa tahu aku disini? Sayang sekali cafe sebelah tutup, yang punya ada hajatan jadi kalian aku jamu di ruangan jelek ini saja ya"


Sebuah cafe semi outdoor yang dibicarakan Naim dibangun agak kebawah mengikuti areal yang berkelok dengan pemandangan menghadap hamparan bunga dan gunung yang tampak megah berdiri diatas belantara hutan.


"Sudah berapa tahun ini? kamu tiba-tiba menghilang, untung aku orang jalanan jadi akhirnya tahu kamu sekarang disini"


Naim duduk menyandarkan punggungnya dia mengamati kedua tersebut. Dua orang yang berasal dari desa yang sama seperti dirinya, dua orang yang sebetulnya tidak terlalu dekat dengannya, kedatangan mereka sedikit membuktikan pemikiran yang selama ini dia pendam bahkan jalannya untuk menetap di karangkembang dan memulai usahanya disini bukan lain karena dia tidak mau berurusan dengan hal itu.


"Isna!" teriak Naim memanggil pegawai wanitanya yang tadi berkutat dengan mawar-mawar diatas meja


"Iya pak?"


"Kalian mau minum apa?" tanya Naim ke kedua orang dihadapannya


"Nggak usah repot-repot Im, apa ajah boleh" Sahut Agam sambil melihat-lihat sekelilingnya


"Bilang sama ibu ada tamu dua, ambilkan yang kayak biasanya ya"


Isna pun mengangguk sopan lalu pergi.


Tak terasa perjalanan mereka menemui Naim dikota sebelah membawa mereka lebih jauh dan menghabiskan berjam-jam mengitari jalanan yang curam dan berkelok-kelok dan saat mereka sudah berhasil menemui Naim, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan dan kendaraan terakhir dari pengunjung yang menunggu bungkusan kembang mereka pun telah meluncur pergi menjauhi area wisata petik bunga Parwathi.


Beberapa pegawai pun sudah terlihat menyudahi pekerjaan mereka.


"Im kamu pasti sudah menebak kedatanganku kemari.aku benar-benar butuh bantuanmu Im"


Naim nampak tak menghiraukan Agam.perhatiannya tertuju pada Fallan yang terlihat santai, mengamati para pegawai Naim yang bersiap pulang.


"Kamu sibuk apa sekarang Lan?"


"Cuma ngurus ikan dirumah sama buka usaha kecil-kecilan"


"Ngaco kamu"


Sahut Agam yang dibarengi tawa nyaring Naim.


Dua cangkir kopi, dua botol nu greentea dan dua piring jajanan di hidangkan oleh si pegawai bernama Isna tadi,dia kemudian lanjut ijin pulang kepada bossnya itu.


"Gam, aku tahu nantinya bukan hanya kamu yang akan nyari-nyari aku. Makanya aku milih tinggal disini"


"Aku butuh ketemu sama notaris itu Im, kamu satu-satunya harapanku lagi pula ini demi anak itu"


Fallan melirik tak suka kearah Agam, dia tidak setuju dengan kalimatnya yang mengatakan demi anak itu, bagimana pun juga Fallan sedikit banyak tahu tentang keluarga yang menimpa anak itu


"Aku sudah putus kontak dengannya sejak pindah kemari, kalau kamu mau nyari dia jangan bawa-bawa aku"


"Aku mohon Im,keadaanya mendesak sebentar lagi dia 18 tahun"


"Aku nggak peduli apa tujuanmu sebenarnya demi anak itu atau demi tujuanmu sendiri. Maaf aku nggak bisa bantu kamu"

__ADS_1


Agam berulangkali memohon, hubungan diantara mereka hanya sekedar kenal namun kesan pertama ketika lama tidak bertatap muka sekian tahun seolah mereka berdua berteman dekat, Agam terus berusaha meminta petunjuk keberadaan notaris yang dicarinya namun berulang kali pun Naim tampak menolak dengan tegas. Dia tetap pada pendiriannya. lalu sia-sia sudah perjalanan yang ditempuhnya hari itu.


__ADS_2