
Warna langit Sandy hook yang berangsur lembayung memberi kesan artistik pada latar belakang Manhattan di kejauhan, camcorderku memindai sekeliling pantai, berhenti lama pada spot yang kuanggap rugi jika sampai melewatinya karena civil twilight ini hanya berlangsung 20 menit. Kenyang oleh deraan angin dan suara buncahan ombak tak lantas mendiamkan perutku yang sudah keroncongan, kini langkah kakiku berbalik, menyisiri marram grass yang melandai tertiup angin di sepanjang pagar kayu yang menghubungkan pondok.
Barbeque yang masih disiapkan ayah dan ibuku di dalam mengundang air liurku menetes, sungguh momen yang tepat di kala perut kosong seperti ini. Kaki telanjangku bergerak lebih cepat lalu berhenti sesaat untuk mengambil napas.
"Mom! Dad!" Aku berteriak sembari menaiki tangga. Dalam langkah kakiku yang melambat tercium bau sangit yang aneh lalu suara berdebam. Tanganku mendorong pintu hingga terbuka dan di sanalah pemandangan mengejutkan menyambutku untuk pertamakali, tubuhku mendadak kaku seketika. Gelombang kejut itu menyergap, aliran panas yang menyesakkan dada bercampur ketakutan membuatku gemetar hebat.
Darah membanjir dari dua ongok tubuh yang tergeletak di lantai. Camcorderku jatuh bersamaan dengan aliran hangat yang tak bisa lagi kutahan dari kemaluanku. Dua orang yang sangat kukenal tengah berdiri di samping mayat orang tuaku dengan pistol di tangan mereka.
Gemetaranku mencapai puncaknya, refleks aku mundur perlahan, mencoba menggerakkan otot kakiku yang berat, namun apa yang terjadi berikutnya membuatku langsung kembali terdiam.
"Bereskan dia." Matteo menyuruh anak lelakinya menghentikanku.
Romeo mengarahkan moncong pistolnya ke arahku. Badanku masih tak bisa berkutik, ingin rasanya berlari dan berteriak minta tolong namun, belum sempat keinginan itu mewujud, Romeo melesat ke arahku dengan satu gerakan ringan yang tidak bisa dan tak mungkin kulawan dalam ketakutan luar biasa, dia memukul leherku dengan sebelah tangannya. Semuanya gelap, teriakanku tertahan dan jeritan pilu ini rasanya akan terus bersarang dalam tubuhku bersama pemandangan terakhir yang paling tragis.
.........
Surabaya-Indonesia
Gelagapan aku terbangun, keringat membanjir di pelipis dan membasahi kaus tidurku. Jam di dinding menunjukkan angka 7 lewat 20 menit. Aku mengatur napas dan mulai mengambil sikap meditasi. Mencoba menenangkan pikiran dan berdamai dengan trauma yang sudah mengakar lebih dari 10 tahun dalam hidupku. Ritme napas dan hitungan dalam mengendalikan tubuh ini aku mempelajarinya dari A mak dan dari beliaulah aku mempelajari seni beladiri yang belum sempat kulakukan saat tinggal di New Jersey.
Paska kematian orang tuaku, Grace dan Kevin-sepupu jauh Ayah membawaku kembali ke Indonesia untuk tinggal bersama Jing jing-nenek mereka, aku biasa memanggilnya A mak.
Rumah yang kutinggali sendirian ini cukup luas dengan 3 kamar tidur, yang dua diantaranya kosong karena A mak sudah lama meninggal sementara satu kamar lagi kujadikan ruang kerja sederhana. Selain rumah yang kuwarisi, Grace juga menghibahkan satu Suzuki Jinmy Katana warna putih keluaran tahun 2006 yang masih sangat layak menurutku. Aku tak terlalu paham sampai sekarang kenapa sepupu jauh ayah itu sangat baik kepadaku disamping karena tujuan awalnya menjadikanku suster untuk nenek mereka, tapi toh aku sama sekali tidak keberatan. Sementara itu mereka berdua kembali ke Dubai dan tidak tahu kapan kembali kesini.
Aku membuka mata untuk mengakhiri sesi pagi meditasiku lalu bersiap ke kantor.
Dalam balutan kemeja lapangan lengan panjang, celana skinny jeans dan sepatu boot, tak lupa name tag kerja yang terkalung di leher, aku memulai rutinitasku.
Shakila-cewek berperawakan besar dengan bandana ungu duduk di sebelahku mengawali ritual sehari-harinya yang sudah sangat kuhafal, sekantong besar kripik singkong level iblis, aneka biskuit dalam kemasan yang sebentar lagi terbuka dan amblas isinya, sekotak bekal yang tiap hari hampir beda menunya, belum lagi infused water di botol tupperware jumbo, itu pun masih dengan nasi bungkus atau nasi dalam kemasan mika yang dia beli dari kantin. Dia bilang untuk mendapatkan ide artikel yang menarik dibutuhkan asupan gizi yang lengkap. Ini sih kalori berlebih.
''Kenapa? Mau? Ambil saja.'' Shasha mengedik ke tumpukan snack di depannya.
Aku menggeleng lalu kembali ke layar monitor, melengkapi data yang sempat tertunda dalam jeda menatap makanan Shasha.
''Kamu lagi nulis apa?'' Shasha menarik tubuhnya melongokkan kepala ke layar monitor milikku, reflek tampilan web tentang pengisian data diri langsung kualihkan ke lembar kerja harian, sayangnya Shasha sudah memergokiku.
''National Missing And Unidentified Personal System. Oh jadi cuti ke Amerika buat nyari orang hilang.'' Dia berkata sambil menatap layarnya sendiri dan sesekali mengunyah kripik dengan suara keras.
''Yah bisa dikatakan seperti itu.''
''Kita kan punya teman-teman IFJ, Coba kamu hubungi mereka.'' Shasha dengan lagak sok tahu dan cueknya berkata seolah ini mencari orang hilang biasa.
''Oi cewek-cewek. Meeting sama mas Arga sekarang.'' Herman yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahku berteriak ke arah kami kemudian berlalu pergi. Baru setengah jalan langkahnya terhenti dan berbalik. Tahu siapa yang ditatap, aku menunduk tersenyum.
''Le. Kamu juga ikut.''
''Loh kan tadi Mas bilang yang cewek-cewek,'' kilah Leo masih meklik-klik tetikusnya dengan tegang.
''Yang cowok di sini cuma kamu, sekalian saja ikut. Jangan ngegame terus.''
''Bahas di meeting saja Mas.'' Shasha mengunyah keripik terakhirnya sembari meremat bungkus snack yang bergambar nenek itu sebelum dibuang ke keranjang sampah di bawahnya.
''Nah biar adil, bahas juga kelakuan si gendut ini selama kerja Mas.'' Leo bangkit meregangkan kedua lengannya ke atas, ia berjalan ke arah meja kami dan berhenti sejenak untuk mencomot roti bakar dari kotak bekal Shasha yang terbuka.
''As*!'' Umpatan khas nomor sekian meluncur dari mulut Shasha.
''Terima kasih.'' Leo membungkuk dalam seperti gaya orang Jepang. Dia lalu mengikuti Herman sembari melingkarkan sebelah tangannya. ''Bos nanti ikut mabar ya?''
__ADS_1
Dan mereka berdua pun berlalu menuju ruang rapat bersama-sama. Aku menyiapkan notes dan tablet kerja sebelum menyusul mereka juga.
''Jo. Nanti malam ikut survei ke warung baru di Kertajaya mau nggak?'' Shasha sudah berdiri di sampingku dengan peralatan lengkapnya. Bibirnya yang berpulas lipstik maroon tampak manyun.
''Nggak salah, survei? Ngomong saja nyobain makanannya.''
''Waduh, sama saja Mbakyu. Mau ya?''
''Iya.'' Aku tersenyum lalu berdiri. ''Tambah gendut kamu.''
''Kalau tambah kurus itu yang aneh.''
''Sha. Habis kuliner nanti temani aku ngegym mau?'' Aku memancing pertanyaan yang sudah sekian ratus kali kulontarkan, hanya ingin melihat ekspresi lucunya saja. Dan benar saja, mata besarnya melotot, bibirnya manyun lebih beberapa senti daripada yang tadi.
''Emoh!''
Aku tertawa sampai langkah kaki kami memasuki ruangan berdinding kaca dan berkarpet tebal itu berhenti lalu mengambil tempat duduk.
Arga-Pimpinan Redaksi Eka Media, nama tempat kami bekerja sudah duduk di hadapan laptopnya yang menyala terbuka. Layar proyektor di depan kami masih kosong hanya menampilkan pointer yang berkedip-kedip.
Sebelum memulai Meeting, Arga menyapa kami seperti biasa.
''Pagi semua, gimana kabarnya?''
''Belum sarapan Mas!'' Leo berteriak paling lantang diantara seruan selamat pagi kami.
''Lagu lama Le, wong sebelah kamu itu supermarket berjalan kok nggak dimanfaatkan.''
Aku tahu siapa yang dimaksud Arga dengan supermarket berjalan. Shasha cuma memberengut sepertinya dia tak terima dengan roti bakarnya yang baru saja dicomot Leo.
''Okeh kita mulai saja meeting kita pagi ini, seperti biasa absen dulu.''
''Jo! Jo maju sini Jo.'' Arga mengintruksi begitu Shasha menyudahi goyangannya bersamaan dengan suitan dan tepukan kami yang agak kacau.
''MJ...MJ...MJ!'' Mereka kompak meneriakiku untuk maju membawakan sebuah gerakan tari yang kukarang asal, tapi sial mereka menyukainya.
Arga langsung menyalakan speaker di ruangan, menyetel lagu boyband korea dan aku memulai gerakanku. Murni freestyle dan agak ngawur. Tak lebih dari dua menit aku mengakhiri tarian ini, hitung-hitung bakar kalorilah.
''Give applause to Mariam Julia Hadrian.'' Arga mengomando lalu para staf pun bertepuk tangan dengan meriah, Shasha langsung menyodorkan tisu begitu aku mulai duduk kembali.
''Makasih.'' Aku menjumputnya lalu mengelap peluh di sekitar dahi.
''Keren.'' Shasha mengacungkan dua jempolnya ke mukaku. ''Cocok jadi penari latar daripada wartawan kamu.''
''Mungkin.'' Aku mengedik tak menghiraukan. ''Bisa jadi pertimbangan kalau gedung ini terbakar dan aku terpaksa kehilangan pekerjaan.''
''Ngawur kamu, aku yah ikut kena dampaknya kalau sampai kita kebakaran.''
''Mudah-mudahan kita masih hidup kalau sampai hal itu terjadi.'' Aku menambahkan dengan dramatis.
Perhatian kami selanjutnya beralih ke Arga yang sudah memulai meeting pagi ini, di layar proyektor tampak sebuah profil beserta nama-nama beken dari berbagai jenis bidang, Elsana-brand terkemuka di bidang perwatan kulit, Elbatara-group yang bergerak di bidang konstruksi, Elmana di bidang kuliner dan masih ada El-El lainnya yang tersebar di Indonesia. Semua itu milik sebuah profil yang mengatasnamakan dirinya Elvano. Sosok ini sangat luarbiasa bagaimana tidak, dia seperti jenius dibalik layar yang turut menggerakkan roda perekonomian negara ini. Awalnya aku berpikir begitu, Bahwa selain cerdas beliau termasuk sosok yang misterius. Namun ini hanya asumsi sementaraku begitu Arga menjelaskan bahwa Elvano bukan nama seseorang melainkan kelompok yang bergerak terorganisir dengan tiap sosok yang mewakili bidang masing-masing.
''Jadi Elvano itu nama perserikatan?'' Aku menginterupsi penjelasan Arga.
''Mungkin itu sebagian definisinya. Yang pasti Elvano adalah salah satu pembahasan yang cukup menyita perhatian publik akhir-akhir ini, dan dia sosok yang inspiratif.''
''Dia yang mana?'' Aku kembali menginterupsi, ingin lebih jelas dia siapa yang dimaksud kalau Elvano merupakan nama perserikatan-sebut saja demikian untuk sementara ini.
__ADS_1
''Pertanyaan bagus, itu yang akan jadi tugas kalian para news hunter.''
''Ah. Asem!'' Shasha mengumpat pelan.
''Sebelum kita terjun ke lapangan bukannya bisa ditentukan dulu si Elvano yang jadi target kita?'' Aku menambahkan, tapi tak berharap sama sekali dapat job ini setidaknya sampai aku kembali dari New Jersey, tidak enak rasanya kalau pergi lama dengan meniggalkan pekerjaan yang menumpuk.
''Elbatara Indonesia Construction dengan kesuksesan proyek jaringan hotel bintang limanya dan dalam waktu dekat akan membangun apartemen di Surabaya barat bekerja sama dengan Pandawa group.'' Arga menjelaskan dengan mengarahkan pointernya ke sebuah logo berlatar biru dengan siluet gedung pencakar langit.
''Aku masih nggak ngerti Elvano itu orang apa bukan?'' Kali ini Shasa yang menyela.
''Makanan Sha. Langsung saja sikat.'' Leo menambahkan dengan lantang diiringi tawa kami semua.
''Gimana Mbak Mila? Sudah disiapkan tim untuk eksekusinya?'' Arga beralih ke Mila tanpa menghiraukan tampang penasaran Shasha.
Yang ditanya tampak gelagapan padahal pandangannya terlihat lurus dan serius ke depan. Entahlah mungkin pikirannya melayang kemana-mana.
''Sudah Mas,'' jawabnya ragu sembari melirik kearahku dan Shasha.
Ini bukan pertanda bagus. Dan benar saja, tanpa penjelasan lebih jauh lagi Arga langsung mengakhiri sesi meetingnya untuk kemudian dialihkan ke Mila selaku kordinator liputan.
Sebelum keluar menuju pintu, langkah kaki Arga berhenti di belakangku. ''Good luck ya.'' Dia menepuk bahuku sekilas lalu kembali berlalu.
Aku tahu apa yang berikutnya terjadi.
''Oke, guys. Mohon perhatiannya sekarang.'' Mila mengambil alih dengan tepukan sekilas, membuyarkan obrolan beberapa staff.
''Saya mau ini bukan hanya jadi job Pramitha, kalian tahu beberapa staff sudah pindah ke media tetangga karena tawaran yang lebih menggiurkan.'' Mila mengamati kami satu persatu. ''Itu artinya kita akan bekerja lebih keras, satu orang akan mengerjakan beberapa tugas sekaligus.''
''Itu sudah kita lakukan, dasar nenek lampir.'' Shasha berbisik di sela-sela penjelasan Mila yang sudah cukup sering kami dengar disetiap pertemuan. ''Dan gaji kita akan tetap sama.'' Shasha kembali berbisik.
''Mas Herman, bisa kan kordinasi dengan timnya untuk membantu Pramitha?'' Mila beralih ke Herman yang tampak serius mencatat sesuatu di notesnya.
''Jangan kuatir Mbak, kita selalu siap sedia kok. Lagipula ini akan jadi tugas kita bersama. Tim saya yang akan hunting El lainnya sementara tim Pramitha yang hunting Elbatara. Nanti kalau ada kendala bisa dibicarakan. Kita kan selalu seperti itu jadi jangan merasa dianak tirikan.'' Herman tersenyum penuh arti lalu kembali ke catatannya.
''Maaf.'' Shasha mengiterupsi, mungkin sudah tidak tahan akan apa yang meresahkan pikirannya. "Sebenarnya Elvano itu apa sih?'' Pertanyaannya diulang kembali.
''Jadi kamu belum ngerti apa yang dijelaskan Mas Arga tadi?'' Mila menimpali dengan mengarahkan pointernya ke materi yang tadi dijelaskan secara singkat oleh Arga. ''Jadi jelas sekali nutrisi di otak tidak berjalan imbang dengan kelebihan asupan di mulut.'' Dia menambahkan.
Aku tahu siapa yang dimaksud. Meski dari tampangnya terlihat biasa saja, tapi aku tahu Shasha ingin menyumpah sekali lagi.
''Baik akan saya kasih visualisasi yang jelas.'' Mila mengklik foldernya dan mengarahkan pointer ke deretan foto-foto pria yang berjajar dengan logo di bawahnya. Yang aku interpretasikan bahwa tiap foto dari seorang pria itu membawahi bidang yang berbeda-beda, singkatnya pria di foto pertama membawahi logo sendok dan garpu dengan nama Elmana-itu berarti si pria foto pertama itu membawahi bisnis kuliner, dan berlaku untuk foto-foto selanjutnya.
''Yang jadi target kita Elvano Jarrel.'' Mila menunjuk foto pria berstelan rapi dan memang kebanyakan foto mereka seperti pria-pria berpakaian eksekutif lengkap dengan jas dan dasi. Namun wajah-wajah mereka tampak seperti orang asing, hanya sebagian yang bertampang lokal.
''Jadi tim kita akan mewawancarai Elvano Jarrel yang membawahi proyek Indonesia construction.'' Aku menambahkan.
''Betul. Bulan depan mereka ada pertemuan dengan Pandawa group dan Walikota. Kita akan manfaatkan momen ini untuk mencari bahan sebanyak mungkin. Saya ingin rubrik asuhan kamu, menulis tentang sosok ini.''
''Oh. Wait.'' Aku langsung menginterupsi.
''Saya tahu kamu pasti tidak terima,'' ucap Mila sembari menungguku melanjutkan sanggahan.
''Pramitha fokus ke isu perempuan, saya kira kurang cocok apalagi memasukkan sesosok pria dalam rubrik saya. Mungkin akan lebih tepat ke Eka media sebagai 'bapak' dari Pramitha.'' Aku menoleh ke Herman yang sepertinya sudah meninggalkan kegiatan tulis-menulisnya diatas notes.
''Saya tak masalah," sahut Herman enteng.
Aku mendengar Shasha berbisik kembali sembari manggut-manggut. ''Bagus Jo, jangan lengah atau kita akan kerja seperti kuda.''
__ADS_1
''Saya ingin menghapus konsep perempuan di majalah Pramitha, kita akan menulis apa yang sedang jadi sorotan di masyarakat, tak pandang bulu, entah itu manusia, hewan, tumbuhan ataupun setan.'' Mila menekankan kalimatnya agar tidak ada yang menyanggah, tapi dia salah karena aku masih tak terima.