
''Kita akan jadi media murahan seperti tetangga sebelah, membuat berita provokasi atau clickbait yang isinya cuma sampah.''
''Dan itu lebih menjual dari pada terus mempertahankan cara lama. Kita bekerja di media sudah wajib untuk mengikuti perkembangan.'' Balasnya dengan tegas dan tentu saja dengan keyakinannya bukan mewakili staff yang masih bertahan di sini. Atau mungkin ini hanya prespektifku saja, tapi biarlah aku tak akan membiakan ranahku ikut digerus.
''Kita nggak wajib ikut perkembangan, kitalah yang membawa pengaruh besar dan tanpa disadari masyarakat akan ikut masuk kedalam arus yang anda bilang 'perkembangan' itu. Saya rasa tugas kita tepatnya seperti menjadi-''
''Influencer,'' Leo menukas.
''Bukan. We are a big controller now. Apa yang nggak bisa dilakukan media sekarang? Tanpa tahu dari sumber mana dan tak perlu data valid kita sudah bisa mengubah prespektif seseorang, bahkan mencekoki mereka dengan konsepsi yang ambigu.''
''I know you're an idealist but sorry to say you are part of this SHIT corporation.'' Herman menambahkan dengan nada menyindir. Aku tahu kalimat ini ditujukan pada siapa.
''We have no compromise. Do it or just leave it. Some will take your place instead.'' Mila tak mau berdebat. dia mungkin tahu akan diserang dari berbagai kubu. Dia cari aman.
''Lalu apa agen Smith ini berbahaya?'' Shasha kembali dengan pertanyaan serupa.
Kami semua berdecak gemas dan menahan senyum, kalau saja tak ada Shasha mungkin keadaan akan berlangsung tegang selamanya.
''Kita akan bahas soal teknis di pertemuan berikutnya, lagi pula kamu seperti anak magang saja yang baru dapat tugas news gathering.''
Shasha menyandarkan punggungnya terlihat tak berminat. Meski dia fokus di rubrik kuliner, namun aku diam-diam menyukai sifatnya yang tidak mau menelan sesuatu mentah-mentah, apalagi menurut apa kata bos. Dia mungkin agak idealis, mirip aku. Dan idealismenya akan memuncak di soal makanan, dia berkali-kali dapat pengghargaan atas ulasan kuliner nusantara, dan salah satu tulisannya pernah diunggah di media asing Food and culture of the world.
''Kenapa? Sudah buntu? Kita buat santai saja. Seperti yang Herman bilang. This is shit corporation so we do just for the money.'' Shasha memalingkan mukanya kembali ke depan setelah mendapatiku yang sepertinya harus mengikuti aturan kalau kau mau bertahan.
''Kalau Elvano semacam agent Smith, berarti ada yang asli. Seseorang dibalik raksasa bisnis yang dipimpinnya. "Who's that ? It will be so amaze if i could see that person.'' Kali ini Leo melanjutkan kembali pertanyaan konyol Shasha.
''Kalau menurutku Elvano ini semacam seribu bayangan seperti-'' Kalimat Herman terhenti karena Leo sudah menimpalinya kembali.
''Kagebunshin.''
''Kenapa jadi ke Naruto. Semakin absurd saja pembicaraan kita.'' Shasha mengetuk-ngetukan jemarinya di meja sembari melihat ke arah Mila yang mulai membereskan perlengkapannya.
''Baiklah kita akhiri meeting hari ini, kalau masih ada yang kurang jelas atau pertanyaan yang perlu saya jawab silahkan catat di notes, kita akan membahasnya di pertemuan berikutnya. Terimakasih.'' Mila berlalu pergi lebih dulu.
''Oh God. I feel this company gonna be crazy.'' Shasha mendesah di kursinya lalu bangkit berdiri.
''Not the company i think, but we are,'' Leo menimpali di depan kami seraya ikut berdiri dan keluar bersama-sama.
''Aku masih waras. Kalau nggak gara-gara zona nyaman aku sudah keluar dari sini dan nggak perlu ketemu mak lampir itu tiap hari.'' Shasha mendekap tabnya kemudian merogoh sesuatu dari kantong celananya. Dia menawari aku, tapi Leo yang lebih dulu menyambar permen gula asam itu.
''Setuju,'' aku ikut menjawab singkat.
Untuk beberapa alasan kita selalu dihadapkan pada pilihan kontradiktif dan kalimat zona nyaman seakan sebuah penjara yang mengurung masa depan menjanjikan. Sayang itu tidak berlaku bagiku. Aku hidup mencari kenyamanan sejak kecil, sejak peristiwa kerusuhan berbau rasis di Indonesia pada tahun 98 silam yang dicari keluargaku adalah tempat aman dan nyaman di muka bumi.
Sampai saat ini zona nyaman adalah pilihan realistis dan keluar dari sana hanya untuk orang-orang yang mencoba peruntungan dan memiliki nyali. Kalau aku? Punya nyali, tapi menikmati apa yang ada di depan mata dan bisa bertahan hidup adalah sesuatu yang jarang disadari manusia. Jadi aku adalah orang yang tidak punya mimpi dan harapan akan masa depan? Salah besar. Aku justru memiliki mimpi yang besar bukan mimpi tepatnya, tapi keinginan yang besar. Satu-satunya yang aku miliki dan menjadi motivasi hidupku selama ini. Balas dendam.
''Aku merasa kita memang senasib.'' Leo berjalan mendahului sembari memainkan layar ponselnya. Aku tahu dia sedang main game disetiap ada kesempatan, bahkan aku yakin dia juga diam-diam main saat meeting tadi. Itu adalah salah satu alasan dia merasa nyaman dan akhirnya memilih bertahan di tempat kami. Leo cowok yang menyukai zona nyaman. Tubuhnya yang jangkung langsung menghilang di balik pintu lift. Dia turun. Aku tahu kemana dia pergi.
__ADS_1
''Enak banget kerjanya si kribo, sudah main game terus, ke kantin seenak udelnya.'' Shasha mendesah kesal.
Kami sudah duduk kembali di meja dan melanjutkan rutinitas.
''So Marry Jo, tell me who's the missing person that you looking for in New Jersey?''
''Bukan siapa-siapa, cuma kerabat jauh saja.''
''Hahah. I know you're hidding something.'' Shasha membuka kotak bekalnya. ''Mau?''
''Nggak. Belum jam makan siang kan?'' Aku melirik arlojiku.
''Oh come on! Badan kamu sudah bagus, lencir dan berisi. Nilai sempurna buat kamu, masak cuma nyemil sebelum jam makan siang saja nggak mau?''
''Bukannya nggak mau, aku harus nyelesain semua kerjaan dulu, biar kalau kutinggal cuti nggak kepikiran itu saja. Memangnya kamu mau ngurusin kerjaan aku.'' Skak mat. Shasha hanya menggumam di antara kunyahan roti bakarnya.
Sebetulnya yang kulakukan adalah menghindari ajakan obrolannya, aku ingin memastikan sekali lagi untuk mengunjungi beberapa situs agen federal New Jersey, memeriksa email dari Manuela dan informasi lain yang kubutuhakan. Hanya saja aku tak ingin kegiatan tersembunyi ini tiba-tiba harus kepergok Shasha. Aku tak mau banyak bicara, itu saja.
''Di panggil ke ruangan Mila!'' seru Herman dari arah belakang kami.
''Siapa?'' tanyaku berbalik.
''Kamu Jo,'' jawab Herman kemudian berlalu pergi.
''Hampir saja aku misuh. Dipanggil ke ruangan dia lagi, marah-marah lagi. Bisa kurus lama-lama.'' Shasha terlihat lega di tempat duduknya.
''Jo, sini.'' Arga menyuruhku mendekat menghampiri mereka sementara Mila masih tak beralih dari layar komputernya.
''Mana draftnya Mil?''
''Di laci atas.'' Mila menunjuk laci di sebelahnya yang tertutup tubuh Arga.
''Ups, sorry.'' Arga menggeser tubuhnya lalu membuka laci dan mengeluarkan map folder. Dia membukanya sekilas kemudian menyorongkannya ke arahku.
''Kamu handle job Elvano," ucapnya dengun senyum lebar hingga menunjukkan dua lesung pipitnya.
Seperti yang kuduga ini akan terjadi. ''Saya sudah mengajukan cuti ke HRD Mas.'' Aku menolak secara halus.
Dan tanpa aba-aba Mila menyahut dari tempatnya. ''Kan sudah aku bilang dia nggak mungkin mau, tahu aja kalau kita sedang ada job gini malah cuti.''
Aku sebetulnya ingin membalas ucapannya yang seolah menyudutkanku, kita semua tahu kalau job Elvano ini tiba-tiba, sementara aku sudah mengajukan cuti satu bulan sebelumnya, dan itu pun aku sudah menyelesaikan sesuai prosedur, menyicil semua pekerjaan sebelum deadline dan sekarang malah ditambah lagi, kadang-kadang betul juga yang Shasha bilang kalau Mila ini nenek lampir, tapi sayang dia tak pernah tertawa keras-keras. Entahlah mungkin penyebutan nenek lampir perlu diganti, tapi aku masih belum menemukannya.
''Tenang saja, saya bantu kok.'' Arga masih tersenyum kearahku. Sementara Mila langsung menghentikan gerakan jemarinya di keyboard lalu bergantian mendongak menatapku dan Arga.
''Aku bantu kalau pas ada waktu luang.'' Arga meralat lalu Mila kembali melanjutkan pekerjaannya.
''Deadlinenya?'' Aku bertanya singkat, urusan eksekusi di lapangan dipikirkan nanti saja.
__ADS_1
''Kamu pelajari dulu. Elvano baru datang bulan depan, sangat mungkin kamu huntingnya begitu selesai cuti.''
''Tapi saya tetap harus buat laporannya dulu kan? Lusa saya sudah berangkat.'' Aku kembali berusaha menyanggah.
''Kamu pikir kita yang kerja disini nggak punya kepentingan lain apa. Plesiran ke luar negeri sementara yang disini kerja keras," ucapnya kembali dengan ketus.
''Oke saya selesaikan laporannya sebelum saya cuti, tapi untuk urusan news hunter saya nggak janji.''
''Kamu lihat sendiri Ga, dia yang paling alot di tim aku.'' Matanya masih tak beralih dari layar komputer.
''Saya tekankan sekali lagi Mbak, di rubrik saya selama ini hanya memuat tokoh wanita inspiratif. Kalaupun tadi Mbak bilang mau mengubah tema yang diusung Pramitha silahkan saja, saya tidak keberatan, tapi untuk saat ini saya tidak bisa janji untuk melakukan news hunter begitu kembali dari cuti. Bukan berarti saya tidak bersedia tapi saya mencoba untuk menyesuaikan dengan waktu dan kemampuan saya.''
''Hmmm, kedengarannya perusahaan yang butuh kamu ya.''
''Sudah nggak papa. Kamu buat laporannya aja dulu, urusan news hunter gampanglah, saya bilang nanti saya bantu.'' Arga kembali menambahkan, kehadirannya di ruangan Mila tidak memberikan pengaruh yang signifikan sebagai seorang editor in chief. '' Baik kalau begitu kamu bisa kembali bekerja. '' lanjutnya ke arahku.
Aku mengangguk dan permisi keluar. Begitu sampai di tempat duduk aku langsung membuka draft yang kubawa dari ruangan Mila tadi. Shasha menarik kursi dan mengintipku dari samping.
''Selamat ya Jo.'' Shasha meringis di sela-sela kunyahan astornya yang setengah jalan.
''Aku mau buat laporannya dulu, setelah itu kamu bantuin huntingnya ya.'' Aku memtuskan untuk meminta bantuan Shasha dari pada harus dengan Arga, lagi pula dia sepertinya cuma basa-basi.
''Kamu kok tahu kalau aku itu nggak bisa nolak permintaanmu Jo.''
''Yah tahu lah, nanti kita kuliner malam sama-sama sis.'' Dan aku tahu Shasha pasti langsung menyetujuinya.
Aku kebut semua pekerjaan, juga beberapa yang harus kukejar deadlinenya. Jam 7 lewat aku baru bisa menyelesaikan semuanya termasuk laporan job Elvano. Tinggal beberapa yang perlu cek ulang dan kurasa besok sudah clear semua sementara selanjutnya Shasha yang mengerjakan.
Beberapa e-mail dari agen federal maupun leasing properti di Orchard street tempat aku tinggal dulu di Jersey city belum memberikan kabar apa-apa. Manuela juga sudah membantu mencari informasi di sana dan belum dapat hasil, sepertinya aku memang perlu segera ke sana dan mencari sendiri keberadaan mereka.
Di parkiran baru saja aku akan membuka pintu mobil, seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Arga tengah menyongsongku.
''Hai. Nanti ada acara nggak?'' Senyumnya tidak luntur sedetikpun, aku berani bertaruh dia seperti mengganjal dua bola bekel di rahangnya.
''Saya mau keluar sama Shasha, memangnya ada perlu apa ya?''
''Oh. Nggak sih cuma barangkali kamu nggak ada acara, saya mau ajak kamu dateng ke opening kafe punya temen.'' Arga terlihat kikuk, dia menggaruk-garuk belakang lehernya lalu matanya beralih mengamati mobilku. ''Paling jauh dibawa kemana mobilmu?''
''Pacitan,'' sahutku singkat. Itupun sepertinya dia sudah tahu karena ke Pacitan urusan peliputan.
''Yasudah kalau gitu next time mungkin kita bisa ngobrol-ngobrol.'' Dia melambai dan berbalik pergi.
Aku tersenyum tidak terlalu peduli dengan basa basinya.
''Hei Jo!'' teriakan Arga menghentikanku kembali dari usaha membuka pintu yang seharusnya cepat dan aku bisa langsung duduk, menyetir pulang, mandi, istirahat lalu keluar bersama Shasha. Sekarang apalagi maunya Arga. ''Soal job Elvano, kalau ada kesulitan saya siap bantu kok.''
''Terimakasih.'' Aku tersenyum kembali dan mengangguk lalu buru-buru membuka pintu mobil.
__ADS_1
......