How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
6.3 Insiden Di Mesin ATM


__ADS_3

Kinan melangkah memasuki lobi utama lalu menaiki eskalator menuju lantai 1. Di dalam ruangan sudah sedikit sekali orang yang berlalu lalang, namun ketika dia akan melangkah menuju deretan mesin anjungan yang berlogo Bank Z disana tertempel tulisan "maaf sedang dalam perbaikan"


Tak jauh dari tempatnya berdiri dia melihat seorang petugas kebersihan yang sedang membersihkan lantai, Kinan pun memghampirinya untuk bertanya


"Permisi Mas mau tanya, ATM selain ini yang dekat dimana lagi ya?"


"Ada sih Kak, kalau mau naik lagi 2 lantai yang langsung menuju ke pusat perbelanjaan. Di sana ada ATM bersama"


"Oh Makasih ya Mas"


"Sama-sama Kak"


Kinan memilih menaiki lift dari pada eskalator, didalam sana tertulis keterangan tempat beserta lantai berapanya. Kinan menekan tombol berlogo lantai 3, untunglah ini memudah kannya tanpa harus berkeliling lagi. Begitu pintu lift terbuka dia melihat tanda panah diatas yang menunjukkan tempat mesin ATM, Kinan mengikuti arahnya. Kinan pun akhirnya menyadari kalau dirinya sudah keluar dari area mall, dia sedang berdiri di parkiran bassement dimana tak jauh dari sana deretan mesin anjungan tunai berada dalam ruangan berdinding kaca.


Keadaan disana sangat sepi, Kinan berjalan menuju ruangan tersebut, dia membuka pintu dan mulai mengeluarkan dompetnya.


Sambil menekan pinnya Kinan sekilas melihat bayangan dari pantulan di layar mesin ATM tempat dia berdiri, sesosok berjaket dengan tudung menutupi kepalanya berdiri tepat di belakangnya, kedua matanya menatap tajam ke arahnya. tanpa suara tanpa aba-aba. Kenapa Kinan tidak mendengar apapun saat ada orang lain yang sedang berdiri dibelakangnya, tunggu? Orang lain?atau jangan-jangan dia... Siapapun itu Kinan tak mau berspekulasi antara dia makhkuk astral atau penjahat, keduanya sama-sama tidak menguntungkan posisinya saat ini. Kinan pun mencoba berdehem untuk merilekskan keadaan, namun sosok itu tetap diam tidak berreaksi, hanya menatap tajam ke depan. Dengan gerakan buru-buru Kinan menyelesaikan transaksinya lalu memasukan kembali kartu ATM ke dalam dompetnya dan berbalik untuk pergi, apapun yang akan terjadi Kinan berusaha berpikir positif.


Ketika Kinan berjalan melewatinya, sosok itu masih menatapnya dengan tajam. Dengan langkah lebar Kinan bergegas menuju pintu masuk mall, namun pendengarannya sedikit terganggu karena mendengar suara langkah kaki yang mengikutinya dari belakang. Kinan pun menyesal kenapa tidak membiarkan salah satu temannya ikut, dia juga merutuki diri karena ponselnya juga mati.


Langkah kaki tersebut semakin dekat, dia pun mendengar orang yang mengikutinya itu berteriak di belakangnya


"Hoy, tunggu!"


Kinan semakin mempercepat langkahnya, bayangan adegan pembunuhan terlintas di pikirannya, sabetan senjata tajam lalu darah yang memerciki dinding! Ahhhh! dia memukul-mukul pelipisnya berusaha menghalau pikiran negatif di kepalanya.


Dia melihat dua orang petugas keamanan yang berdiri dekat pintu masuk mall. Kinan dengan nafas ngos-ngosan meminta bantuan kedua security tersebut


"Ah.. Huh.. Hu..Hu" Kinan berusaha mengatur nafas, meski jarak yang dia tempuh untuk kembali ke pintu masuk mall ini tidak terlalu jauh.


"Ada apa Dek? "


"Pak tolongin saya pak, saya diikutin orang jahat. Dia di belakang pak, di mesin ATM sana" tunjuk Kinan kearah parkiran bassement


"Udah tenang dulu Dek, coba periksa tasnya ada yang hilang nggak barangnya? "


Kinan memeriksa tasnya dan benar saja dompetnya raib, raut wajah Kinan langsung memucat menyadari kehilangan ATM beserta uang didalamnya juga kartu-kartu penting di dalam dompetnya. Kinan terduduk lemas.

__ADS_1


Melihat kondisi ini kedua petugas tersebut langsung membantu Kinan berdiri


"Ayo Dek kamu ikut saya, tunjukkan dimana orang jahat yang kamu lihat itu?"


Kinan langsung bangkit, semangatnya kembali berapi. Bagaimanapun juga dia harus mendapatkan kembali dompetnya.


Mereka bertiga berjalan kembali ke arah mesin anjungan, selang beberapa langkah mereka berpapasan dengan orang yang dicurigai Kinan tadi. Sesosok yang mengikuti nya sekarang terlihat jelas mukanya, dia memakai jaket windbreaker hitam yang sekarang resletingnya sudah dibuka memperlihatkan kaus putih polos didalamnya, serta celana trainning hitam yang membalut kakinya yang panjang dan sandal jepit sederhana di kedua telapak kakinya yang menjejak tanah. Fix dia bukan hantu.


Wajahnya terlihat bingung dan tangannya sedang memegang sebuah... Dompet yang dia kenal.


"Pak cepet tangkap dia, lihat itu dompet saya pak!" teriak Kinan ber api-api


Salah satu petugas dengan sigap langsung mencekal kedua tangannya kebelakang dompet yang dia pegang sudah diberikan kembali kepada Kinan


"Pak saya bukan penjahat, lepasin. Saya cuma mau ngembaliin dompet dia" Pemuda tersebut berusaha melepaskan diri, dia melihat Kinan dengan kesal


"Bohong pak, mana ada maling ngaku! "


"Sudah! Kalian berdua ikut ke pos sekarang"


Mereka berjalan dengan posisi yang menarik perhatian publik, "seorang maling yang tertangkap basah sedang digiring" mungkin ini adalah judul yang tepat. beberapa orang yang kebetulan lewat menatap penasaran ke arah mereka. Kinan jadi berpikir kenapa tadi tidak melihat satu orang pun yang berkeliaran, begitu penjahatnya sudah tertangkap kenapa baru muncul. Apa ini yang namanya konspirasi alam.


"Saya kan udah bilang, saya nggak ngambil dompetnya pak!" Dia balik berteriak, raut wajahnya memerah tidak terima


"Geledah aja dia pak, kali aja dia nyembunyiin barang berharga lain


disana!" teriak Kinan tak mau kalah


"Tunggu Pak, anda nggak bisa sembarangan geledah orang tanpa barang bukti"


"Ini dompet saya buktinya!" Kinan kembali menimpali dengan sengit


"Coba periksa isi dompet lo, ada barang yang ilang nggak?"


Kedua petugas tersebut sedikit melunak dan menunggu Kinan memeriksa dompetnya. Lengkap tidak ada yang hilang, jumlah uang yang diambilnya pun jumlahnya sama tidak berkurang.


"Gimana Dek? Ada yang kurang? "

__ADS_1


"Nggak ada kok Pak"


Si terduga melipat kedua tangannya dan menghembuskan nafas dengan kesal namun dengan nada provokasi Kinan menambahkan


"Memang sih Pak nggak ada yang hilang didompet saya, tapi gimana kalo isi ATM saya sudah dia kuras. Dia dari tadi buntutin saya loh. Siapa yang nggak curiga coba dia ngawasin terus pas saya ambil uang, dia juga mungkin udah tahu pin ATM saya. Saya jadi yakin kalau dia bakal ngincar orang lagi yang mau ngambil uang disana! "


"Lo jangan ngomong sembarangan ya, udah untung gue balikin dompet lo, nggak terima kasih malah nuduh se enaknya!"


"Sudah-sudah. Dari yang kami simpulkan bahwa Adek ini tidak kehilangan sesuatu yang berharga dan kami rasa ini hanya kesalah pahaman belaka, jadi masalah ini selesai sampai disini. Saya harap kalian berdua saling mengerti".


"Nggak bisa gitu dong pak, saya belum cek saldo ATM saya"


"Pak, ini keterlaluan banget nggak sih, kalo jadinya kayak gini saya bisa aja pidana in dia ke polisi. Bapak kenapa nggak cek cctv aja sih, disana saya sengaja ngambil dompet dia, terus bobol ATMnya apa enggak!"


"Cari gara-gara banget sih nih cewek!"


Si Terduga nampak kesal bukan main, dia sekarang melotot ke arah Kinan yang tengah duduk sambil memandang ke langit-langit ruangan


Setelah mengecek cctv dan memang pemuda tersebut tidak bersalah maka akhirnya petugas membiarkannya keluar.


Sementara Kinan berjalan kembali ke parkiran menuju teman-temannya, dia masih kesal. Dia juga tahu kalau sebenarnya Kinan gengsi harus mengakui dia sudah salah paham. Ahh entahlahh kepalanya pusing hari ini.


Tak jauh dari mobil Rendi yang masih terparkir, Arif berjalan menghampirinya


"Ki kok lama banget sih, kita pikir lo ada apa-apa lagi. Makanya ini mau gue susulin"


"Sori ya nunggu lama, yang disini mesin ATMnya rusak, jadi aku nyari di tempat lain" Kinan membuka pintu mobil dan langsung duduk dengan muka masih kusut


"Lo kenapa Ki?" Tika terlihat cemas melihat perubahan mood Kinan, dia datang langsung duduk dan cemberut.


"Nggak papa cuma tadi ketemu sama maling ATM"


"Ha, maksudnya?" tanya Rendi yang sudah menyalakan mobil dan mulai bergerak menuju jalanan yang membelah kota, sesekali dia melirik Kinan dari kaca depan


"Tadi ada maling di mesin ATM tapi udah ketangkep kok" nada bicara Kinan sengaja dibuat singkat seolah dia ingin menutup pertanyaan selanjutnya dari teman-temannya yang masih terlihat penasaran.


"Eh yaudah kalo nggak papa" Sahut Rendi dari balik kemudinya

__ADS_1


Mereka duduk dalam diam sampai Kinan tiba didepan gang rumahnya pun dia cuma menyampaikan terima kasih dan hati-hati kepada teman-temannya, mereka pun sudah paham kalau Kinan sedang kesal.


Bunga lily yang dia pungut dari jalanan waktu itu, sekarang menghiasi sudut kamarnya, didalam sebuah pot kaca yang berdiri diujung jendela terlihat 2 batang lily yang sudah layu. Kinan meraih bantalnya dan menatap bunga tersebut dengan resah...


__ADS_2