How to Kill Romeo

How to Kill Romeo
3. Arsen


__ADS_3

Didalam ruangan yang sebagian berskat kaca, Arsen duduk dihadapan seseorang yang tengah sibuk dengan layar komputernya, dia menunggu orang tersebut untuk melakukan interogasi dan hukuman padanya. Itulah yang dipikirkan Arsen dihari pertamanya kembali ke sekolah, begitu namanya langsung diseru untuk menghadap ke ruang BK.


Ac central yang super dingin menggelitik tengkuknya bercampur dengan aroma jeruk segar yang memenuhi ruangan.


Tug tug tug...


Krek krek krek..


Cklik


Terdengar suara ketikan di keyboard dan scrolling mouse yang tidak sabar dihadapannya. Arsen hanya diam, pandangannya tertuju pada jendela yang tertutup korden di belakang seseorang yang kini tengah sibuk membuka berkas di atas mejanya


"Jadi selama sebulan ini kamu kemana saja?"


Yang ditanyai hanya diam sambil terus memandang jendela


"Sekolah sudah mengirim surat ke orangtua kamu, Wali kelasmu juga sudah menghubungi mereka bukan?Kenapa kamu bohong Arsen?"


"Maaf Bu, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi" Arsen menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, kini pandangannya beralih ke lawan bicaranya


Seakan sudah bisa ditebak jawaban murid dihadapannya, Bu Winda menegakkan badan dan melipat kedua tanganya diatas meja, Bu guru yang kira-kira seumuran dengan Ibu Arsen tersebut menatapnya serius


"Kamu sudah berbohong Arsen" Nadanya tegas tak bisa diganggu gugat, telinga Arsen sedikit nyeri mendengar kalimat Bu Winda, dari lubuk hatinya yang paling dalam Arsen menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya


"Saat Pak Hasan menghubungi orangtua kamu, mereka bilang kamu latihan tiap hari buat ikut turnamen, setelah di cek kamu juga tidak hadir saat latihan. Jadi surat teguran dari sekolah juga tidak sampai ke orang tua kamu?"

__ADS_1


Tubuh Arsen sedikit goyah ditempat duduknya, bayangan dirinya yang menjuarai turnamen pulang dengan masih memakai kostum olahraga, berlari menemui seseorang yang sedang melukis, hampir semua lukisan yang dibuat bertemakan bunga Lily


Ar, aku janji kalau kamu menang turnamen lagi tahun depan, aku bakal ngelukis wajah kamu


Tapi sebelum lukisan itu dibuat dia sudah pergi


"Arsen! Kamu dengar Ibu tidak"


"Ha? iya Bu Maaf. Saya mohon maaf"


Arsen gelagapan, bentakan Bu Winda  sukses membuyarkan lamunannya


"Arsen kamu itu juga sering tiba-tiba menghilang saat masih ada jam pelajaran loh, nilai-nilai kamu anjlok, semester lalu kamu tidak ikut ujian, terus nanti pas mau ujian kenaikan kelas mau dapat nilai dari mana? Pak Hasan sama Pak Ridwan itu sudah belain kamu mati-matian loh. Kamu memang atlet di sekolah tapi juga harus ingat bahwa ujian kenaikan kelas juga penting, Nilai-nilai akademis juga penting"


"Maaf Bu winda" Sahutnya lirih, karena lebih memilih tidak banyak menyanggah kalimat Bu Winda selaku guru BK, lagi pula Arsen juga sadar kesalahannya


Arsen kembali diam, perasaannya campur aduk. Dia memilih kembali masuk sekolah karena keinginannya ikut turnamen mungkin bisa melupakan kenangan yang terus membayanginya sepanjang hari dan juga sebagai janji terakhir yang harus dipenuhinya namun dia sama sekali tidak memprediksi kalau akan sedikit rumit seperti ini, apalagi membawa nama orang tuanya, Arsen tak ingin membuat kedua orangtuanya cemas, namun rasa bersalah terhadap seseorang yang pernah singgah dihatinya sangat tidak mudah dihapus begitu saja.


"Kalau kamu ada masalah disekolah atau diluar sekolah dan nggak mau cerita sama orang tua, kamu bisa kok temuin Ibu di kantor, Pak Hasan dan Pak Ridwan itu selalu mengawasi perkembangan kamu, Kalau kamu sampai nggak naik kelas, kami selaku guru juga merasa gagal Arsen, padahal kamu dulunya rajin loh"


Yang diajak bicara membisu, tatapannya kembali ke jendela yang tertutup korden seakan-akan obyek itu lebih menarik daripada seorang guru BK yang berbicara panjang lebar dihadapannya


"Ibu akan bantu kamu, tapi kamu juga harus bisa berusaha sendiri menyelesaikan ketertinggalan kamu"


Bu Winda menyerahkan berkas berisi uraian tugas-tugas yang harus diselesaikan Arsen selama 1 semester.

__ADS_1


"Bu, saya masih bisa ikut turnamen kan?" Arsen membolak balik beberapa lembar kertas di hadapannya


"Bisa, asal kamu menyelesaikan tugasmu dengan nilai diatas standar ya"


"Eh, Maaf yang poin ini maksudnya apa Bu?" Arsen menunjuk poin terakhir dari list tugas di lembarannya


"Oh yang itu.. Kamu bisa membicarakannya lebih lanjut dengan wali kelasmu. Ada yang kamu tanya kan lagi Arsen?" nada bicara Bu Winda sedikit mulai ramah, dia mengawasi anak didiknya tersebut beberapa saat.


"Nggak ada Bu" jawab Arsen singkat


"Kamu beneran nggak mau cerita sama Ibu? Kamu nggak terlibat tawuran atau obat-obat an kan?" Bu Winda bangkit dari duduknya lalu mengusap bahu Arsen dengan lembut


"Apa Ibu nuduh saya sekarang?" tanya Arsen datar


"Ibu nggak nuduh, cuma tanya, kalo nggak ya syukur, pokoknya amit-amit jangan sampe kamu terlibat hal-hal kayak gitu"


"Apa saya sudah boleh pergi Bu?" tanpa menunggu jawaban dari Bu Winda, Arsen sudah berdiri dari Kursinya


"Eh, Iya. Kamu boleh pergi, jangan lupa kerjakan tugas-tugasmu ya"


"Baik Bu, saya permisi dulu" Arsen memberi hormat lalu ke luar ruangan.


Begitu sudah di luar ruangan, Arsen melipir menuju bagian belakang toilet, disana ada sebuah tangga yang digunakan untuk naik ke tandon air. Dia membuka kancing seragamnya dan memasukan berkas tugasnya disana karena akan menyusahkannya kalau dibawa sambil menaiki tangga, Arsen langsung naik keatas dengan lihai, tak ada keraguan atau takut kepergok, sepertinya hal ini sudah menjadi kebiasaannya. Begitu sampai diatas dia melihat kebawah memastikan bahwa Pak Satpam yang bertugas di gerbang tidak sedang mondar-mandir.


Arsen terjun di lokasi biasanya, sebuah lahan parkir yang di kelilingi pepohanan rindang. Dia berjalan menuju mobil honda jazz Silver yang terparkir tepat di sisi tembok pembatas sekolah, dia membuka pintunya lalu duduk dibelakang kemudi, dengan gerakan sekenanya Arsen membuka kembali kancing seragamnya untuk mengeluarkan berkas tugas yang dia simpan disana. Dia mengamati sekitar, tidak ada orang sama sekali. Pikirannya masih kacau, dia tidak bisa dengan mudah melupakan sosok itu. ketika dia sudah tidak ada di dunia ini lagi, kenangan-kenangan bersamanya terasa semakin menyakitkan, seseorang yang tidak akan pernah terganti dalam hidupnya.

__ADS_1


Dia menyalakan AC lalu menyetel musik klasik yang membuai, tanpa perlu mengancingkan kembali seragamnya, Arsen menyandarkan kepala lalu memejamkan mata...


__ADS_2