I Love You Uncle Tampan

I Love You Uncle Tampan
episode 36


__ADS_3

Tania tertidur , mama mengajak Karin keluar kamar dan membiarkan Tania untuk beristirahat. Rasya berjalan menuju kamarnya, saat mama dan Karin sudah berada di luar kamar.Karin permisi untuk turun duluan.


Karin berjalan menuruni tangga,Karin menyadari kalau Sandi memperhatikan dia sedari tadi.Karin perlahan duduk di sofa ruang tengah, tidak jauh dari Sandi. Karin benar benar bingung harus berbuat apa, sementara Sandi tersenyum gemas sambil memperhatikan Karin.


"Tania sedang tidur Sya, saat awal awal kehamilan gini, Tania mungkin akan sering mengantuk dan tidur, mama harap kamu menjaga Tania dengan baik Sya", ucap mama.


" Iya ma, Rasya akan menjaga Tania dengan baik", jawab Rasya.


"Umi Tania udah kamu kabari Sya? " tanya mama lagi.


"Udah ma, kata abi InsyaAllah nanti malam mereka datang", jawab Rasya.


" Ya sudah, kamu temani Tania sana, mama mau mengajak Karin makan, dari tadi Karin belum makan, kamu udah makan? " tanya mama.


"Udah ma, tadi di kantor, Rasya masuk dulu ya ma", jawab Rasya sambil membuka pintu kamar.


Mama segera turun menemui Karin, Mama merasa tidak enak karena Karin belum makan dari tadi.


" Rin, ayo kita lanjut makan siang", ajak mama.


Karin menuruti mama, karena jujur perutnya benar-benar lapar dari tadi belum di isi.Tadi mereka nggak jadi makan siang, karena Tania yang tiba tiba pingsan tadi.


"Sandi, ayo kita makan sama sama", mama mengajak Sandi.


" Makasih ma, tapi Sandi tadi udah makan sama Rasya tadi di kantor", jawab Sandi dengan sopan.


"Ya udah, mama sama Karin makan dulu ya", ucap mama.


" Iya ma, Sandi di sini aja, sambil melanjutkan pekerjaan kantor yang tadi tertunda", jawab Sandi.


Mama mengangguk dan mengajak Karin ke ruang makan.Mereka berdua melanjutkan makan siang yang tertunda.


Sementara Sandi sudah berkutat dengan laptopnya di ruang tengah.Dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, membuat dia makin terlihat tampan. Karin sesekali memperhatikan Sandi dari ruang makan.


"Rin", panggil mama.


" Uhhuk... uhhuk... ", Karin terbatuk karena merasa kaget.


Mama memberikan gelas air minum pada Karin. Karin minum pelan pelan.Sandi buru buru berjalan ke ruang makan.


" Kamu kenapa Karin?" tanya Sandi cemas.

__ADS_1


"Nggak apa apa mas, cuma tersedak aja ", jawab Karin pelan.


Dia merasa malu karena tadi dia melamun sambil memperhatikan Sandi saat makan, makanya dia tersedak saat mama memanggilnya.Mama tersenyum melihat interaksi keduanya.


" Beneran kamu nggak apa apa kan", tanya Sandi lagi.


Jantung Karin berdegup begitu kencang, karena jarak Sandi dengannya cukup dekat.


"Ya Tuhan..... melihat mas Sandi secara dekat gini membuat jantungku benar benar tidak sehat,dia benar benar tampan apalagi saat ditambah kacamatanya, oh mama tolongin anakmu ini ma" ucap Karin di dalam hatinya.


Karin menepuk nepuk kedua pipinya perlahan, membuat Sandi tersenyum melihat tingkah Karin. Karin makin salah tingkah melihat senyum Sandi.


"Ehemm... ", suara deheman mama mengagetkan keduanya.


Sandi kembali ke tempat duduk nya lagi, dan melanjutkan pekerjaannya. Sesekali di perhatikan nya Karin dari jauh.


Karin membereskan meja makan.


" Rin", panggil mama.


"Iya ma", jawab Karin.


" Nggak apa apa ma,ini udah hampir selesai kok", jawab Karin.


Setelah selesai merapikan semua, Karin menemui mama yang sedang duduk di ruang tengah.Sandi masih berkutat dengan laptopnya, tanpa menyadari kehadiran Karin si di situ.


Mama mengisyaratkan agar Karin duduk di sebelah nya. Kemudian mama berbisik ke telinga Karin.


"Lihat tuh si Sandi, kalo udah kerja ya gitu, nggak ingat sama sekitarnya", bisik mama pelan.


Karin hanya tersenyum sambil melihat ke arah Sandi yang sibuk bekerja.Sandi benar benar fokus pada pekerjaan nya, sampai tidak tahu kalau mama dan Karin sedang membicarakan tentang dirinya.


" Tuh bener mama kan Rin,kasian nanti yang jadi istrinya ", ucap mama dengan berbisik.


" Kok kasihan ma? ", tanya Karin heran.


" Kamu lihat aja, Sandi itu gila kerja, yang jadi istrinya harus sabar menghadapi Sandi yang seperti itu", jawab mama sambil memperhatikan respon dari Karin.


"Menurut Karin sih wajar dong ma, kalau seorang laki-laki bekerja keras seperti yang mas Sandi lakukan,itu artinya mas Sandi orang yang bertanggung jawab ma, dia mengerjakan semua pekerjaan dengan rasa tanggung jawab bersungguh-sungguh", jawab Karin dengan serius.


Tanpa Karin tahu, Sandi mendengarkan pembicaraan mereka dari tadi. Sebenernya sejak Karin duduk di dekat mama, Sandi sudah selesai dengan pekerjaannya, tapi karena tadi dia mendengar mama berbisik sambil membicarakan dirinya.Sandi berpura-pura tetap fokus pada laptopnya, sementara telinganya fokus dengan obrolan Mama dan Karin. Mama tersenyum mendengar jawaban Karin.

__ADS_1


"Jadi, kalau Karin nanti dapat suami yang gila kerja seperti Sandi gimana?", tanya Mama sambil melirik Sandi.


" Ya nggak apa apa ma, Karin akan berusaha mengerti dan memahaminya, bahkan kalau memang Karin mampu, Karin akan membantunya", jawab Karin pelan.


"Tipe suami yang Karin idamkan yang seperti apa sayang?", tanya Mama lagi.


" Mmmm, yang pasti seiman ma, terus bisa menjadi imam Karin, bisa membimbing Karin, dan mau menerima Karin apa adanya ma", jawab Karin.


"Sekarang Karin sudah punya pacar atau calon suami?", tanya Mama.


Karin menggelengkan kepala,dan matanya melirik Sandi. Mama memperhatikan Karin dengan seksama.


" Kalau Sandi, kira kira tipe Karin atau bukan?", tanya Mama serius.


Karin terdiam dan menunduk malu. Dalam hatinya dia memang menyukai Sandi sejak pertama kali Karin melihatnya.Tapi, Karin takut kalau perasaannya hanya sepihak saja.Karin tidak mau terlalu berharap.


Apalagi Karin mendengar dari Tania, bahwa banyak kaum hawa yang mencari perhatian dan mengejar cinta Sandi.Tapi belum ada satu wanita pun yang mampu mengisi hati seorang Sandi.Karin berusaha menutupi perasaannya kepada Sandi.


Mama dan Sandi masih menunggu jawaban Karin.


"Karin?", panggil mama.


Karin tetap menunduk karena menahan malu.Tapi mama sudah mengerti perasaan Karin terhadap Sandi. Mama tersenyum sambil melirik Sandi. Sedangkan Sandi masih penasaran akan jawaban Karin.


Tiba tiba ponsel Karin berbunyi.Karin permisi ke mama dan Sandi sebentar untuk menjawab panggilan dari ponselnya.Sandi penasaran siapa yang menelpon Karin.


"Assalamu'alaikum ma", jawab Karin, yang ternyata mamanya yang menelpon.


Setelah beberapa menit bicara dengan mamanya di telepon, Karin menutup panggilan telepon nya. Karin langsung menemui mama Rasya untuk berpamitan.


" Ma, Karin pulang dulu ya, mama udah nyariin Karin, titip salam sama Tania ya ma, maaf nggak pamit langsung, Tania pasti masih tidur", pamit Karin sambil mencium tangan mama.


"Mas antar ya Rin? ", ucap Sandi tiba tiba.


*


*


*


Terimakasih dukungan nya ya reader... ❤

__ADS_1


__ADS_2