
Mobil Sandi berhenti di halaman rumah Karin. Sandi segera turun dan membukakan pintu mobil untuk Karin.Setelah Karin turun, Karin mengajak Sandi untuk mampir. Sandi mengikuti langkah Karin yang masuk ke rumahnya.
"Assalamu'alaikum" ,Karin mengucap salam.
"Wa alaikum salam", terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah.
Kemudian pintu terbuka, keluar seorang perempuan yang ternyata mamanya Karin.
" Tamunya jadi dateng ma? ", tanya Karin ke mamanya.
" Nanti malam mereka datang kok, ini siapa Rin? ", tanya mama Karin sambil melihat Sandi.
Karin bingung mau menjawab apa, nanti kalau mamanya bertanya kenapa Sandi mengantarkan dia pulang, dia harus jawab apa.
" Maafkan saya tante, perkenalkan nama saya Sandi, saya saudaranya suami Tania, teman Karin tante", jawab Sandi tegas.
"Ooh Tania, iya tante kenal", ucap mama Karin.
" Tadi, Karin main ke rumah Tania, dan saya juga kebetulan di sana. Karena Karin tadi buru buru mau pulang, jadi saya mengantarkan Karin pulang tante", jelas Sandi lagi.
"Terima kasih ya nak Sandi, karena sudah bersedia mengantarkan Karin pulang", ucap mamanya Karin.
" Iya tante", jawab Sandi mengangguk.
Karin pamit ke dapur untuk mengambil minuman untuk Sandi, meninggalkan Sandi yang sedang bicara dengan mamanya.
"Hm, tante... saya ingin mengatakan sesuatu kepada tante", ucap Sandi.
" Iya nak Sandi, silakan ", jawab mama Karin.
" Begini tante, jujur ini adalah pertemuan kedua saya dengan Karin, pertemuan pertama kami waktu acara akad nikah Tania dengan sepupu saya", ucap Sandi dengan lembut.
Mama Karin mendengarkan dengan serius.
"Tante, sayaa.... ", Sandi terdiam sebentar mengatur nafasnya, karena merasa gugup.
" Iya, nak Sandi, ada apa?", tanya mama Karin.
"Saya minta izin sama tante untuk saya melamar Karin", ucap Sandi yakin.
Mama Karin terdiam sebentar, kemudian tersenyum mendengar ucapan Sandi.
__ADS_1
" Nak Sandi, boleh tante bertanya pada kamu? ", tanya mama Karin.
" Iya tante", jawab Sandi.
"Apa yang membuat kamu yakin untuk melamar Karin? ", tanya mama Karin.
" Sejak pertama bertemu dengan Karin, saya yakin bahwa Karin wanita yang baik tante,dan saya sangat yakin ingin memperistri Karin", jawab Sandi.
"Tapi kamu kan baru dia kali bertemu Karin, kenapa tiba-tiba ingin melamar Karin? ", tanya mama Karin lagi.
" Tadi,Karin cerita ke saya tante, bahwa ada seseorang yang akan melamar dia, saat mendengar hal itu, jujur ,perasaan saya sedih dan sakit, saya sangat takut seandainya Karin menjadi milik orang lain", ucap Sandi pelan.
"Maka dari itu saya memberanikan diri meminta izin kepada tante untuk menjadikan Karin menjadi istri saya, saya sangat berharap tante memberikan izin kepada saya", lanjut Sandi.
Mama Karin kembali terdiam lagi seperti memikirkan sesuatu. Sementara Karin keluar dari dapur membawa minuman dan satu toples kue.
Dengan gugup Karin meletakkan minuman dan toples kue di meja, karena Karin mendengarkan pembicaraan Sandi dengan mamanya.
Tentu saja Karin benar-benar kaget, dia tidak menyangka kalau Sandi ternyata menyukainya. Bahkan ingin menikah dengan nya.
Mama Karin mempersilahkan Sandi untuk minum. Sandi mengangguk dan menyeruput minuman nya.
"Nak Sandi, bisa tunggu sebentar, papanya Karin sebentar lagi pulang, tante ingin membicarakan masalah ini pada papa Karin.
Tidak berapa lama, papa Karin sampai di rumah. Mama Karin langsung mengajak papa Karin untuk menemui Sandi yang sudah menunggunya di ruang tengah.
" Nak Sandi ini papanya Karin", panggil mama Karin.
Sandi yang sedang melamun langsung menoleh ke arah mama dan papa Karin.
"Loh, pak Sandi??! ", ucap papa Karin agak terkejut.
Sandi pun demikian, dia langsung berdiri dari duduknya dan langsung berjabat tangan dengan papa Karin.
" Pak Danu", sapa Sandi dengan sopan.
Karin dan mamanya saling lihat, dan bertanya-tanya.
"Mama, Karin, pak Sandi ini adalah rekan bisnis papa", jelas papa Karin sambil tersenyum.
Sandi juga tersenyum dan tentu saja dalam hatinya bersorak kegirangan. Karena Sandi sangat optimis, niat nya untuk memperistri Karin kemungkinan besar akan lancar.
__ADS_1
" Papa dan perusahaan pak Sandi ini sudah lama bekerja sama, iya kan pak Sandi", ucap papa lagi.
Sandi mengangguk dan menatap Karin yang tersenyum kepadanya. Mama dan papa memperhatikan keduanya yang saling memandang dan saling tersenyum.
"Ehemm... ada mama sama papa loh di sini", goda mama.
Karin langsung menunduk malu, Sandi juga tersenyum malu. Kemudian papa dan mama Karin mengajak Sandi duduk kembali dan melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat tertunda.
Sandi menyampaikan kembali kepada papa Karin, tentang niatnya untuk melamar Karin. Papa Karin mendengarkan dengan serius.
Karin mendengarkan pembicaraan Sandi dengan papanya sambil sesekali menundukkan kepalanya, karena Karin merasa malu sekaligus bahagia, karena ternyata mas Sandi mempunyai perasaan kepadanya.
"Jadi Karin, papa menyerah kan semua keputusan di tangan kamu, karena kamu yang akan menjalani rumah tangga kamu kelak", ucap papa.
" Karin, mas tahu kamu pasti kaget, karena tiba tiba mas langsung melamar kamu. Mas nggak mau mengajak kamu untuk berpacaran,karena mas mau menjalani hubungan yang benar benar serius. Dan setelah dua kali bertemu dengan kamu mas yakin, mas ingin kamu menjadi istri mas, bukan sekedar pacar", ucap Sandi yakin.
"Karin, kamu fikirkan baik baik, kalau memang masih belum yakin dengan perasaan kamu, mas akan menunggu sampai kamu benar-benar yakin", lanjut Sandi lagi.
Karin terdiam beberapa saat.
" Mas, Karin akan menjawab sekarang, dan mas nggak usah khawatir, karena Karin yakin dengan keputusan Karin sendiri. Papa mama, Karin meminta izin untuk menyampaikan keputusan Karin ", jawab Karin dengan yakin.
Papa dan mama mengangguk mengiyakan, sedangkan Sandi menunggu jawaban Karin dengan jantung yang berdebar.
" Bismillah, Karin sangat berterimakasih karena mas Sandi sudah mau memilih Karin untuk mendampingi mas Sandi.Karin juga menghargai perasaan mas Sandi kepada Karin. Jujur, Karin merasa kalau Karin belum pantas untuk mendampingi mas Sandi, di mata Karin mas Sandi itu adalah sosok yang sempurna, yang sudah pasti banyak kaum hawa yang menjadikan mas Sandi sebagai suami idaman mereka", jelas Karin.
Sandi makin tegang dan gugup mendengarkan penjelasan Karin. Dalam hatinya dia merasa Karin akan menolak lamaran nya.
"Lalu, Karin berfikir lagi, Karin merasa beruntung karena ternyata mas Sandi memilih Karin untuk mendampingi mas Sandi di sepanjang hidup mas Dan tentu saja Karin merasa terkejut sekaligus bahagia", ucap Karin lagi sambil tersenyum.
Sandi ikut tersenyum, tapi jantungnya masih berdegup kencang, menunggu keputusan dari Karin.
" Mas Sandi.... Karin bersedia mendampingi mas Sandi di sepanjang hidup mas Sandi. Tolong ajari dan bimbing Karin, dan Karin berharap mas Sandi mau menerima Karin apa adanya", ucap Karin sambil tersenyum.
"Karin menerima lamaran mas? ", tanya Sandi.
" Iya mas, Karin menerima lamaran mas ", ucap Karin sambil mengangguk pelan.
Mama langsung memeluk mama dan papa. Sandi tersenyum lega dan bahagia. Papa Karin memeluk Sandi dengan erat.
" Jaga putri saya baik baik ya nak Sandi,mulai sekarang panggil papa aja ya", ucap papa Karin.
__ADS_1
"Iya pa, saya berjanji akan menjaga dan menyayangi Karin seumur hidup saya", jawab Sandi dengan perasaan bahagia.
Sandi menatap Karin, begitu juga sebaliknya.Mereka saling tersenyum, bahagia.