
Aku terjebak di dalam ruang kamar yang berhamburan. Kertas bertebaran tertiup angin yang menyerbu lewat jendela kamar. Hari itu tiba - tiba hujan turun, disertai cahaya mentari yang melawan titisan hujan. Keduanya beradu, dan mengamuk. Aku cepat - cepat menutup jendela, namun saat aku melepaskan penyangga jendela, kecepatan angin meningkat dan mendorong daun jendela, dan alhasil menjepit tanganku.
Sejenak ku menatap lembaran kertas tugasku sudah basah. Saat rasa sakit ditangan mulai terasa akupun memutuskan duduk dipinggir jendela yang masih terbuka dengan titisan air hujan yang masuk seakan bertamu ke dalam kamarku.
__ADS_1
Aku berpikir sejenak, dengan keributan air hujan bercampur Anging yang semakin lama mengalahkan cahaya mentari. Aku berpikir betapa menyedihkannya hidupku, namun hal itu tidak terlalu lama. Karena aku memutuskan untuk turun ke bawah, dan lagi menatap ruangan kosong tanpa suara siapa - siapa hanya ada suara langkah kakiku yang menginjak tangga kayu. Lalu ku buka pintu bawah, dan sesosok hewan putih kecil berlari menghampiriku dan mengeong, akupun langsung menyambutnya memeluknya dan membawanya masuk ke dalam rumah, lalu ia menaiki tangga mengikuti langkahku.
Saat di kamar aku mengelus kucing putihku yang buta, dan ia pun tertidur. Dan saat angin sudah reda akupun kembali mencoba menutup jendela kamar dan sembari menatap rintik hujan, dengan terselip pertanyaan Tuhan kenapa aku memilih kehidupan di dunia ini?
__ADS_1
Akupun teringat bagaimana aku menyatakan perasaan pada cinta masa kecilku melalui what up. Aku mengatakan panjang lebar berharap ia mengerti dan berharap ia menghubungiku kembali meskipun hanya karena kesalahan, namun itu hanya khayalanku dan harapanku semata, setelah aku mengungkapkan perasaanku, akulah orang terakhir yang mengirimkan pesan pada cinta masa kecil ku itu. Dan sampai sekarang tidak ada pesan atau kabar darinya, dan begitu juga perasaanku semakin lama perasaanku memudar. Meskipun sebenarnya aku tahu jika aku tidak pernah ada di pikiran cinta pertamaku itu, dan mungkin saja ada orang yang ia sayangi dan ia cintai, dan mana mungkin aku yang memiliki wajah yang sepeti nenek - nenek dan badan kecil ini ada di hati seseorang. Dan tidak akan ada orang yang tertarik padaku, namun aku selalu berharap entah kapan akan ada seorang pemuda kaya, tampan, dan sholeh datang menemui ku. Memberikan semangat pada diriku agar terus berusaha keras. Namun semakin banyak berkhayal semakin banyak aku tertinggal dalam kehidupan.
Hal lain yang membuatku kecewa adalah saat teman - temanku dengan mudah memahami materi kuliah, dan sudah mengikuti berbagai kegiatan luar kampus yang mengharumkan nama mereka. Dan rasa kecewa saat tersadar tidak ada orang yang tulus berteman padaku. Rasa kecewa pada diri sendiri yang sulit beradaptasi dan sulit berkomunikasi dengan lancar dan baik.
__ADS_1
Air mataku menetes berlomba dengan tetesan air hujan mengingat semua kekecewaan yang kurasakan di dalam hati. Lalu aku bercermin dan mengutuk bayanganku. Lalu menggunting rambut panjang ku, sembari berkata "Ingin hidup di dimensi lain"