I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Manipulasi


__ADS_3

Hari ini panglima Cheng tidak berjaga di depan pintu luar kamarku, tidak seperti biasanya. Karena itulah aku memutuskan untuk keluar dari kediamanku, aku mencoba menelusuri hutan di belakang kediamanku, mengikuti jejak capung kecil yang menghipnotis pandanganku dan menuntunku pada tanaman hias liar serta bunga indah yang begitu mempesona. Karena begitu bosan tidak melakukan apa - apa akhirnya aku memutuskan untuk memilah bibit tanaman tersebut lalu membawanya pulang ke kediamanku. Aku tidak mempedulikan gaunku yang sudah ternoda karena tersentuh tanah, serta tersangkut beberapa kali di ranting tanaman liar yang ku lalui.


Saat itu aku meletakkan bibit tanaman hias ku di dalam sebuah bejana yang sudah ku isi dengan air. Lalu mencoba mencangkul beberapa tanah, lalu membuat pupuk dengan membakar tumpukan dedaunan kering yang ku kumpulkan.


Kesepian dalam diriku yang terkurung di kediaman tersebut sedikit berkurang. Mentari yang bersinar terik tidak mematahkan semangatku, aku terus menanam bibit tanaman hias liar itu. Berharap akan tumbuh subur dan mampu menghibur mata yang lelah.


"Apa yang sedang kau tanam?"tanya suara seorang pemuda. Suara itu adalah milik Alerd yang tiba - tiba berdiri di belakangku saat aku sedang berdiri menyeka keringat di dahi yang ingin melintasi mataku. Saat mendengar suara Alerd aku terkejut dan menoleh dan berbalik serta dengan sigap ingin memukulnya, namun ia. menangkap pukulan dariku tersebut.


"Apa yang sedang kau lakukan sampai terlihat kelelahan?" tanya Alerd sembari menangkap tanganku dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya langsung mengelap keringatku dengan tisu berwarna ungu muda lembut, warna yang paling aku sukai di dunia ini.

__ADS_1


"Sepertinya kau sangat sibuk sampai melupakan aku," Alerd melirik ke arah tanaman liar yang ku tanam.


"Heh. Bukankah tanaman ini semuanya beracun?"Alerd heran dan menatapku dengan tatapan kasihan karena ketidak tahuan dan ambisi di dalam diriku, sehingga aku menjadi terlihat bodoh dengan memelihara tanaman beracun.


"Kalau tanaman ini memang beracun, kenapa aku tidak merasa diracuni oleh tanaman ini?" tanyaku dengan perasaan ingin menang dan bersikap sok tahu dan sok pintar.


"Lagipula tanaman ini sangat cantik, tidak mungkin mereka beracun,"kataku lagi menguatkan argumenku meskipun ada rasa takut jika pendapatku tersebut salah.


"Meskipun cantik mereka sangat berbahaya, sebaiknya kau harus mengubah cara pandang mu, jangan mudah terpesona oleh sesuatu yang terlihat cantik,"Alerd kini memetik kelopak tanaman hias tersebut dengan menggunakan selembar kertas.

__ADS_1


"Tanaman ini saat masih kecil efek racunnya belum seberapa, namun saat sudah tumbuh besar ia akan menjadi sangat berbahaya dan beracun," kata Alerd berdiri dan berbalik ke hadapanku, masih dengan meletakkan kipas di serangan wajahnya.


"Apakah berarti usahaku untuk menanam mereka sia - sia, dan aku harus menyingkirkan mereka semua?" tanyaku lagi dengan dahi berkerut.


Alerd mengangguk tanpa suara dan dari matanya aku dapat memprediksi kalau ia sedang tersenyum di balik kipasnya, membuatku sedikit tidak percaya.


"Tapi, jangan khawatir disini sudah ada orang yang ahli dalam merawat dan menanam bibit tanaman hias,"Ucap Alerd kini ia melipat kipasnya dan menatapku dengan senyuman jahil.


"Mana mungkin aku berani memerintah orang yang

__ADS_1


dari penampilannya bukan orang biasa untuk melakukan sesuatu demi keinginanku," kataku menunduk.


"Sebutkan tanaman yang kau sukai, dan bagaimana tanam yang kau inginkan,". Perintah Alerd


__ADS_2