
Aku melangkahkan kaki keluar ruangan, hanya berjalan di sekitar kediaman panglima Cheng. Ku nikmati suasana pagi yang begitu sejuk, dengan hamparan bunga yang bermekaran. Ada beberapa kupu-kupu yang hinggap di daunnya, karena sayapnya yang masih basah mereka tidak mampu terbang, aku menatap pergerakan sayap mereka yang seakan mengibaskan air embun dan mengeringkan sayapnya.
Sangat menyenangkan tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat, dan hidup bagaikan putri, berbeda dengan kehidupan nyata yang menuntut ku untuk bekerja keras dan terus memikirkan perkataan orang lain.
Di mana hidup atas kehendak orang lain.
"Bibi, apakah kau bisa melihat Alamku juga," tanganku membelai kelopak bunga, dan menoleh ke belakang ke arah wanita paru baya yang selalu mengikutiku, sejak aku keluar dari ruangan ku.
"Maaf nona, bagi kami yang merupakan penghuni asli dari alam ini, kami semua memiliki hal semacam itu," jawab wanita paru baya tersebut. Aku terdiam datar. "Kalau boleh tahu, bagaimana keadaan diriku di Alam ku sekarang?"tanyaku lagi.
"Maaf nona, aku tidak diizinkan untuk memberitahukan hal itu kepadamu," jawab wanita paru baya tersebut.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu," kataku sambil memetik bunga berduri dan tanpa sengaja durinya melukai jariku, aku tidak merasakan rasa sakit. Namun, saat darahku mengalir keluar menembus kulit, sesosok tangan dingin memegang jariku yang terluka.
"Menarik, begitu sangat nyata," kata pemilik tangan tersebut sembari menghisap darah dari jariku yang terluka itu.
"Siapa kau?" Tanyaku sambil cepat menarik tanganku.
__ADS_1
"Ouh, aku adalah sepupu panglima Cheng, aku kemari karena kau mengusikku,"katanya lagi. Aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Maaf Tuan muda Elard, ini kesalahanku karena tidak mengajari nona ini dengan baik, nona ini baru datang ke kediaman kita," kata wanita paru baya yang kini duduk memohon ampunan si pemuda yang ada di depanku.
"Baru datang?" Aku tidak pernah tahu jika Cheng begitu peduli pada wanita.
"Itu karena tuan selalu tidur,"jawab wanita paru baya.
"Karena kini aku terbangun, maka wanita ini harus bertanggung jawab,"jawab pemuda yang beena Alerd itu sambil berkedip padaku, dan menarik tanganku.
Secepat kilat, kini aku berpindah di tengah keramaian dan hanya aku dan Pemuda yang bernama Alerd itu kini tanpa di temani wanita paru baya, aku melihat perlahan dan sedikit demi sedikit disekitar kami menjadi tempat yang begitu ramai, seperti pasar raya.
"Sssttt."kata Alerd meletakkan jarinya di bibirku.
"Kau tahu, aku sudah lama tertidur dan saat aku bangun dan melihat dirimu yang kupikirkan adalah ingin mengunjungi pasar raya manusia," jawabnya. Benar saja yang ku lihat banyak sekali orang berjualan dan aura hangat dari kehidupan nyata.
"Apapun yang terjadi, jangan lepasakan genggamanku, kalau kau tidak ingin tersesat," kata Alerd lagi.
__ADS_1
Aku sejenak berpikir dan bertanya apakah pemuda ini juga tahu jika aku adalah arwah yang masih ada kemungkinan untuk hidup? Apakah mungkin ia merasakan aura manusiaku yang semakin kecil dan menipis.
"Kau tahu, suara manusia begitu sangat hangat, meskipun mereka sering berbuat dosa," kata Alerd tiba-tiba.
"Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kamu tertidur?" Tanyaku.
"Kau tidak tahu?" Tanya Alerd terkejut, "Semua orang tahu tentangku hanya kau yang tidak tahu?" Tersenyum aneh.
Aku hanya mengangguk.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, karena kau yang membangunkan ku, kau pasti tahu dan aku pikir kau menyukaiku dan sengaja membangunkan ku," katanya lagi sembari terus berjalan, dan kini ia melihat manik perhiasan yang begitu cantik.
"Berapa harganya?" Tanyanya pada pedagang.
"Ini harganya 2 juta, ini keluaran terbaru dan di impor dari korea Selatan," jawab pedagang itu.
"Benarkah?" Mataku begitu takjub dan semangat di dalam diriku seakan meningkat.
__ADS_1
"Kalau begitu aku mau beli ini,"jawabku, namun aku sadar aku tidak memiliki uang dan mencoba menatap ke Alerd dan mengisyaratkan agar ia meminjamkan uangnya padaku.