I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Kembali Membuka Kehidupan


__ADS_3

"Nona!...nona!..nona!.." sebuah tangan menggoyangkan tangan, dan tubuhku. Aku tidak bisa menggambarkannya. Hanya kegelapan telah mengikat diriku, dan menelanku hingga aku merasakan seluruh tubuhku kaku, dan beku.


Di dalam suasana yang begitu sangat mengerikan, aku dapat merasakan sebuah benda hangat menyentuh dahi dingin itu, lalu sentuhan itu berpindah ke bibirku, bersamaan dengan hal tersebut suatu cairan mengalir ke dalam tubuhku dan sedikit demi sedikit seluruh tubuhku menjadi lebih hangat. Dengan perlahan aku mulai bisa bernafas, dan dengan perlahan ku buka mataku, namun dihadapan ku ada wajah yang begitu tampan namun dingin. Tidak ada jarak antara mata kami.


"Apa yang kau lakukan,"aku mendorong tubuh orang tersebut yang tidak lain Panglima Cheng.


"Hanya, itu cara yang dapat menyelamatkan nyawamu. Harusnya kau berterimakasih dan meminta maaf padaku karena membuatku terpaksa melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan," ucap Panglima Cheng berdiri membelakangi diriku yang sudah berada di posisi duduk dan terbangun.


Saat mendengarkan panglima Cheng memberikan penjelasan aku mengelap bibirku dan merasakan rasa pahit. Aku langsung menyingkirkan selimut tebal yang menutupi setengah badanku dan langsung bergegas ingin memuntahkan rasa pahit tersebut. Namun, panglima Cheng menarik tanganku dan menahan pergerakan diriku dengan berkata, "Aku akan melakukannya lagi, jika kau mencoba memuntahkan obat yang telah ku usahakan kau dapat meminumnya," katanya dengan penuh rasa dingin, dan aku terpaksa kembali duduk di tempat tidurku.


"Karena kau sudah pulih, maka tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal,"Ucap panglima Cheng berjalan menuju ke luar setelah mengambil pedangnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya termenung dan tidak bisa memikirkan hal apa - apa dalam waktu yang singkat.

__ADS_1


Aku menoleh ke semua ruangan menatap semua benda yang ada di sekitarku, lalu tatapanku berakhir pada jendela yang menyajikan pemandangan sejuk.


"Sebenarnya tempat apa ini?"


"Kenapa aku merasa ini hidupku, namun bukan hidupku?"


Aku bertanya pada diriku kenapa aku bisa sampai di tempat ini, dan dunia apa yang sedang aku jalani, serta untuk alasan apa aku berada di dunia ini.


"Bibi jangan cemas, aku sudah merasa baik. Bibi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bibi terlihat sangat pucat? Aku pasti sudah sangat merepotkan bibi," tanyaku pada wanita yang terlihat khawatir tersebut.


"Sudah hampir satu Minggu nona tidak sadarkan diri sejak dibawa pulang oleh Panglima Cheng. Saat pertama kali melihat panglima Cheng menggendong Nona, wajah dan tubuh Nona terlihat seakan membiru, hamba pikir nona...., maafkan aku nona yang sudah menduga hal buruk menimpa diri nona," wanita paru baya tersebut menjelaskan dengan bersujud di hadapanku.

__ADS_1


"Tidak bibi, hentikan jangan bersujud dan memohon belas kasih dariku yang bukan siapa - siapa ini. Bibi adalah orang yang sudah merawat diriku saat aku tidak bisa mengurus diriku sendiri," aku mengangkat tubuh wanita paru baya tersebut, dan mengajaknya duduk di tempat tidurku.


"Aku pasti sangat merepotkan bibi, kini berkat perawatan dari bibi aku sudah pulih," aku mencoba menghiburnya, namun ia tampak semakin sedih.


"Hamba tidak melakukan hal yang seharusnya Nona. Hamba hanya mampu merawat diri nona, sebatas menurunkan demam nona, serta membersihkan tubuh nona," wanita paru baya itu menyeka air matanya.


"Apa maksud bibi?"tanyaku heran.


"Saat nona tidak sadarkan diri, hamba berusaha meminumkan obat yang diberikan panglima Cheng ,namun tubuh nona menolaknya. Setiap hari keadaan nona semakin parah. Hingga hari ini tubuh nona begitu sangat panas, nona juga seperti bermimpi buruk, lalu saat hamba memeriksa nafas nona, hamba merasa seakan nona berhenti bernafas," Ucap Wanita paru baya tersebut.


"Karena panik hamba pergi ke dapur untuk mengambil air hangat. Saat hamba kembali hamba melihat Panglima Cheng keluar meninggalkan kamar Nona," wanita itu mengelus tanganku.

__ADS_1


"Nona, apapun yang terjadi hamba harap Nona akan tetap berusaha berada di dekat panglima Cheng," wanita itu kini berbicara dengan nada sedikit memohon.


__ADS_2