
Mataku memerah dendam dalam jiwaku membakar ruangan namun genggaman tangan panglima Cheng mencoba melawan amarahku.
Aku juga menyaksikan tangisan palsu dari pemuda yang membuatku merendahkan harga diriku. Ia terlihat menangis dan menggenggam tangan diriku yang sudah kaku. Aku yang telah dikuasai rasa dendam mencoba mencelakainya. Namun panglima Cheng kembali menutup batas penglihatan ku. Aku kembali tidak melihat dunia tempatku berasal namun aku tahu ruangan yang aku tempati sekarang adalah ruangan yang sama dengan diriku yang tidak mampu bangkit dari tidur yang panjang. Selama ini panglima Cheng sudah berusaha untuk menolongku, dan mencoba menutup batas penglihatan ku di dunianya agar aku tidak melihat bagaimana aku di sana, dan melupakan masa yang menyakitkan itu. Kini aku sadar aku yang ada di dunia saat ini sungguh beruntung dengan kecantikan abadi dengan status yang tinggi, dan dengan aura manusia yang membuatku menarik diantar orang - orang yang tinggal di dunia baruku saat ini. Semua itu aku dapatkan karena panglima Cheng. Bukannya berterimakasih padanya, aku malah membuatnya berada di dalam bahaya.
Setelah membantuku menembus penglihatan ku ke dunia aku berasal panglima Cheng meninggalkanku tanpa berkata dan berbuat apa - apa. Namun aku menyadari ia sepertinya terluka karena menahan amarahku. Ternyata kini aku sudah berada di dunia gaib yang tidak bisa dilihat oleh manusia, dan karena aku belum sepenuhnya meninggal aku tidak bisa melihat manusia. Padahal sebenarnya aku berada dalam ruang yang sama dengan manusia, mungkin diriku yang berada antara hidup dan mati membuat kemampuanku terbatas.
"Nona, waktunya Anda membersihkan diri," kata - kata wanita paru baya yang merawat ku mengejutkanku dari lamunan. Kini aku dengan terbiasa dan berwibawa melepaskan kain sutra yang menutupi tubuhku. Lalu menuju ruangan penuh bunga, di sana aku kembali mendendam pada manusia. "Bibi, apakah hanya aku manusia pertama yang tersesat ke dunia kalian?" tanyaku pada wanita paru baya tersebut.
__ADS_1
Wanita paru baya tersebut tersentak, dan diam. "Bagaimana menurut nona?" wanita tersebut balik bertanya. "Melihat dan merasakan apa yang telah aku alami di dunia ini, kelihatannya ini hal yang mustahil, namun aku penasaran," kelasku sembari mengelus rambutku.
"Yang nona katakan benar, semuanya karena pengorbanan dari Tuan Muda kami," menjelaskan dengan menambah parfum ke dalam air mawar.
"Apakah ada dampaknya?" tanyaku.
"Karena terlalu sering mencampuri urusan dunia manusia, tuan muda terkadang kehilangan sebagian kemampuannya di dunia ini. Aku sangat khawatir ia akan hilang dari dunia ini jika terlalu sering melawan takdir," kata wanita paru baya tersebut.
__ADS_1
"Pilihkan pakaian yang terbaik," kataku.
Setelah ku kenakan pakaian yang terbaik tersebut aku duduk di depan meja rias, aku menghiasi wajahku dan menambahkan parfum terbaik, yang sangat menyengat. "Bagaimana penampilanku?" tanyaku pada wanita paru baya yang berdiri di belakangku.
"Sangat cantik dan menawan nona, dan aura nona begitu sangat kuat," kata wanita paru baya tersebut.
"Baiklah, sekarang antar aku menemui panglima, ada yang ingin aku sampaikan secara pribadi," ucapku sambil berdiri dan menuju pintu.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya panglima yang sudah berada di depan pintuku, bertepatan saat aku membuka pintu. Aku menahan perasaanku, dan mencoba bersikap normal.
"Sepertinya kau sudah terbiasa membersihkan diri di dunia kami," ucap panglima tersebut sembari mendekatkan pipinya dengan pipiku. Aku pun tidak bisa menahan roda pipiku.