I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Hidup diantara dua dunia


__ADS_3

Aneh sentuhan bibirnya begitu lembut dan bagaikan bius, aku perlahan tidak sadarkan diri.


Saat terbangun aku sudah ada di dekapannya dan sudah berada di dalam kereta, aku merasa aneh, sebab yang ku ingat kami terjatuh ke dalam sungai seharusnya baju kami basah. Dan saat aku pergi menemuinya aku berjalan, namun kini sudah ada kereta yang membawa kami. "Apa mungkin aku bermimpi?" Bisik ku lirih.


Mendengar hal itu sepintas ia langsung melihatku, lalu menatapku. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"tanyanya.


"Aku sedikit merasa aneh," jawabku lirih sambil mengangkat kepalaku. Ia pun langsung memegang tanganku, "Jika kau mendengar hal aneh cepat panggil namaku," ucapnya penuh rasa cemas. Aku semakin aneh, mengapa ia bisa mengetahui apa yang ku dengar.


Saat sampai di kediamanku ia langsung turun dari kereta dan dengan cepat menggendongku, padahal sebenarnya aku ingin turun sendiri. "Aku bisa melakukannya sendiri," kataku menepis tangannya, namun tiba - tiba kakiku mati rasa dan mau tidak mau harus pasrah dengan apa yang dilakukannya. Ia menggendongku sampai ke dalam ruangan ku dan membaringkan tubuhku ke atas ranjang. Dan ia duduk di pinggir ranjang sembari mengelus dahi ku sambil tersenyum. Lalu tangannya berpindah dan mengelus bibirku, aku pun mengerutkan dahi, apa ia akan melakukannya lagi? Aku tidak tahu isi pikirannya, aku hanya berharap ia pergi karena apa yang dilakukannya sangat menggangguku.

__ADS_1


"Tuan muda, apakah nona baik - baik saja?" Tanya wanita paru baya saat memasuki ruangan. Tuan muda tersebut, tersentak dan menarik tangannya dari bibirku.


"Ia sekarang baik - baik saja, tapi aku takut jika hal yang aku takutkan akan datang sewaktu - waktu untuk mengganggunya. Jadi aku harap kamu mengawasinya," kata Tuan muda tersebut.


Lalu ia mengusap mataku dan aneh aku langsung tertidur dan bermimpi indah, dengan begitu cepat.


"Ku mohon maafkan aku, kembalilah, aku merindukanmu."


Tiba - tiba suasana menjadi gelap, dan nafasku sesak kemudian aku merasakan air mata mengalir. Dan akhirnya aku terbangun, dan lagi - lagi melihat wanita paru baya duduk di sampingku dan sedang mengelap tanganku dengan kain basah.

__ADS_1


"Bibi, aku mau tanya sesuatu, apakah kau bersedia terus terang kepadaku?" Tanyaku sembari bangkit, namun aku tersentak saat ku lihat matanya yang berubah menjadi merah menakutkan, aku seakan terhipnotis dan melupakan apa yang ingin ku tanyakan.


"Nona, lekas lah sembuh, aku berharap nona bisa bahagia hidup disini bersama tuan muda."


Sore itu aku sendirian di dalam ruangan asing yang telah mengurungku, aku menatap rerumputan dari balik jendela. Lalu ada seekor merpati dengan membawa surat di kakinya, aku sedikit kurang mengerti, dan dengan enggan membuka surat tersebut. "Mengapa kau merana dari balik jendela, apakah aku harus menemui mu sekarang? Apa aku harus mengajakmu keluar melihat pemandangan?"


" Hmmm, ini surat dari mana? Mungkin salah kirim," kataku lirih. Lalu aku ingin berbalik dan terkejut saat ada tangan yang menahan pinggangku dan memeluk erat. "Apakah kamu ingin aku ada di sisimu?" Bisik pemilik tangan tersebut, aku pun menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mata kami bertemu.


"Lepaskan aku," kataku sembari melihat tangannya dan melepaskan genggaman erat tangannya tersebut. "Tidak bisa. Aku sudah lama merindukanmu, hanya mampu melihat namun tidak dapat menyentuhmu seperti sekarang," kata Tuan muda tersebut. Mendengar hal tersebut membuatku mengingat mimpiku. Kalimat yang sama namun dengan suara yang berbeda. Di sanalah ku dapati kejanggalan, dan sedikit demi sedikit mengingat, aku tidak seharusnya ada di dunia ini, ini bukanlah duniaku. Di saat aku berpikir tuan muda tersebut terus saja menyentuhku kali ini ia kembali memegang pipiku dan bibirku, dan aku pun dengan cepat menggigit tangannya dan ia terkejut lalu menjauhkan tubuhnya dariku. Aku pun keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2