
Aku menatap bunga bermekaran yang mengingatkanku pada Alerd. Senyuman dan tingkah laku yang sopan,tulus dan lembut me mbuat siapa saja tidak akan luput dari membayangkan dirinya.
Aku sudah terbiasa berada di dunia misterius yang sebagian penghuninya menggunakan kekuatan semacam sihir. Begitulah yang ku saksikan saat Alerd membantuku membuat taman yang begitu indah. Dengan satu kedipan mata dan ayunan jemarinya, ia mampu menanam puluhan tanaman, dan mampu membangun air mancur hanya dalam beberapa detik.
Aku merasa nyaman di dunia ini, dan sebisa mungkin ingin tetap tinggal, meskipun aku tahu aku harus merelakan satu kehidupanku. Walau aku tahu pilihanku bisa salah, bisa saja aku melepaskan kehidupan nyata ku.
Aku ditelan lamunanku dan dikejutkan oleh sebuah tangan yang menyentuh bahuku. Tangan dingin milik Panglima Cheng.
"Apa yang sedang kau pikirkan sekarang?"
Aku menoleh dengan perasaan terkejut. Panglima Cheng, terlihat sedikit berbeda hari ini, tapi aku tidak tahu apa yang membuatnya berbeda.
Aku terus menatapnya, namun dia langsung memberikan isyarat kepada beberapa orang yang ternyata ada di luar kediamanku untuk masuk ke kamarku.
"Bawakan semuanya masuk," Perintah Panglima Cheng.
"Untuk apa semua ini," tanyaku saat melihat beberapa gaun dan perhiasan mahal yang di bawa pelayan.
__ADS_1
"Pilihlah gaun terbaik yang sudah aku pilihkan. Malam ini datanglah ke pesta perjamuan, aku akan memperkenalkan dirimu pada semua orang."Ucap Panglima Cheng, sembari memberikan isyarat kepada semua orang untuk keluar, meninggalkan kami.
"Aku harap kau akan tetap bersamaku, agar aku bisa melindungimu dan mengantarkan dirimu kembali,"ucap Panglima Cheng lagi.
Setelah panglima Cheng pergi, aku memilah pakaian yang sudah dipersiapkan di atas kasurku.
"Apa-apaan ini, semua pakaiannya terbuka, benar - benar selera orang mesum,"
Lalu aku terngiang ucapan panglima Cheng barusan.
Aku menggerutu sepanjang perjalanan ke tempat pemandian.
"Apa dia tidak akan datang untuk membantuku meminyaki rambutku? Jangan bilang dia akan datang lagi, dan melakukan hal serupa lagi," ucapku setelah menceburkan diri ke dalam air.
Aku memejamkan mata, menikmati air hangat yang memelukku. Lalu saat aku membuka mata aku melihat ada sebuah kertas pinggir pemandian, aku meraihnya.
"Hari ini aku tidak akan menggosokkan minyak ke rambutmu, aku harap kau mampu mengurus dirimu untuk hari ini, aku tahu aku selalu membuatmu tidak nyaman. Jangan lupa untuk menghadiri pesta perjamuan hari ini, pukul 20:00. Beberapa pelayan akan menunggumu di luar".
__ADS_1
Ya begitulah isi surat yang ditulis oleh Panglima Cheng.
Setelah selesai mandi aku pun mengenakan pakaian dan perhiasan yang sudah dipersiapkan.
Saat aku keluar benar saja sudah ada beberapa orang menungguku, mereka semua memasang wajah tersenyum bahagia.
Aku dituntun ke aula pesta yang sangat megah. Saat pintunya di buka semua mata tertuju padaku.
"Wah begitu indah aura nona ini," aku mendengar seseorang berbisik, dan aku tersenyum dengan puas dan terus melangkah, sampai Panglima Cheng menghampiriku dan menggandengku.
Ia tidak melepaskan pandangannya dariku, ia merasa sangat senang dan bahagia.
"Aku tidak menyangka kau akan memakai pakaian yang dari awal aku ingin melihatmu mengenakannya," bisik Panglima Cheng.
"Bukankah semuanya kau yang memilihkan?" aku berbisik padanya.
Panglima Cheng hanya tersenyum.
__ADS_1