I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Sebab Akibat


__ADS_3

Aku terjebak di dalam kegelapan, dan sangat menyakitkan. Aku berlari di dalam kegelapan yang tiada ujungnya yang membuatku kehabisan energi. Dari arah telapak kakiku aku merasakan ada tenaga yang menarik ku hingga aku terjatuh. Aku sangat ketakutan namun mencoba berpasrah, sampai aku melihat cahaya kecil dan disertai tangan seseorang yang begitu hangat. Aku ingin meraihnya namun aku sudah terlalu lelah dan tidak bertenaga jadi ku pejamkan mataku, namun cahaya itu kini terus membesar dan disertai oleh suara seakan tidak mau kalah melawan rasa lelahku. Suara itu begitu merdu, alunan merdu ayat - ayat suci itu kini membuatku membuka mata dengan perlahan.


"Emi....,emi....emi...." Suara lembut milik seorang wanita menyatu dengan alunan merdu ayat - ayat suci. Aku merasa tanganku dielus oleh tangan seorang wanita yang sangat hangat.


"Alhamdulillah," suara pemuda pemiliki suara ayat - ayat suci itu, membuat pandanganku semakin jelas. Cinta pertamaku yang merupakan pemuda yang ku kenal dingin, bisa bersikap hangat padaku. Namun air yang telah dicampur garam tidak akan mudah mengubah rasanya. Begitu juga dengan perasaanku. Perasaanku padanya telah hilang semenjak aku mengungkapkan perasaan padanya. Kaca yang retak tidak akan mudah untuk disatukan lagi. Meskipun ia berusaha bersikap hangat sebanyak mungkin, dia tidak akan bisa membuatku kembali mengaguminya.


"Nak, ini temanmu yang selama ini membantu kita. Ia yang mengabari kami jika kamu berada di rumah sakit. Jangan lagi berbuat nekat nak, Emak takut kehilanganmu," ucap Emak menangis. Aku mengelus tangan Emak yang begitu kasar karena terlalu bekerja keras sepanjang hidupnya. Air mataku menetes, karena itulah yang bisa aku lakukan saat ini, sebab aku tidak bisa bersuara meskipun telah ku coba berusaha berulang kali.


Dan aku menatap pemuda yang dibicarakan Emak dengan penuh kebencian. Rasanya aku ingin membunuhnya saat itu juga. Aku teringat kata - kata kejam dari pemuda tersebut.


Saat itu aku mengikuti acara reuni sekolah. Aku terlalu bersemangat dan berharap orang akan menghormati dan mengagumimu bak putri raja nan cantik jelita, namun aku tidak sadar diri jika aku begitu kaku, aneh, dan jelek. Saat itu pemuda yang kusukai yang bernama Arvin bernyanyi di panggung. Aku meliriknya dan ia melirik dengan sombong dan angkuh.


"Em, apa kabar?" Sapa Aini memegang dan memelukku.


"Wah juara kita sudah datang,"sambut Aldi tersenyum penuh kepura-puraan.


"Alhamdulillah baik, kalian bagaimana?" Tanyaku.

__ADS_1


"Begini lah," ucap Aldi.


Hanya beberapa saat kami mengobrol setelahnya tidak ada lagi pembahasan, dan karena aku yang tidak faham bagaimana cara berkomunikasi dan berbaur dengan keramaian aku memilih menyingkir dan sedikit menepi.


"Hai Em," suara Anin mengejutkanku. Ia datang bersama seorang temannya.


"Ough ini Emi?" Tanya wanita itu."Kenalin Aku Azami," ucap wanita itu ramah. Aku mengobrol dengan mereka cukup lama sampai Arvin datang. Perasaanku tidak karuan, jantungku begitu sangat cepat berdetak. Aku sedikit tersipu dan merasa panas. "Ayo kita makan," Ajak Arvin. Aku yang menunduk semakin tersipu dan berdiri.


"Kamu mau kemana?" Tanya Anin. Aku langsung melihat ke arah Anin dan terpintas melihat Arvin memegang tangan Azami.


"Oh ya aku mau ke kamar kecil," aku tersentak dan terpuruk bercampur malu.


Aku sangat malu dan tidak berani untuk keluar dan menemui semua orang lagi, terutama Arvin, Azami, dan Anin.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Azami.


"Tidak apa hanya saja tanganku terasa panas dan gatal, sepertinya iritasi," jawabku.

__ADS_1


"Benarkah? Coba aku lihat," kata Azami. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan mengoleskan sesuatu ke luka dan tanganku. "Ini bisa parah jika kau diamkan," kata Azami lagi.


Setelah ia selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia pun bercermin dan tepat disampingku. Memperhatikan bagaimana ia memperbaiki riasannya, begitu sangat cantik dan baik hati. Aku pun mengulur waktu dengan mengeluarkan kotak riasan dari dalam tasku.


"Aku duluan ya, nanti kamu susul kami makan di pinggir kolam ya," kata Azami saat ia selesai merias dirinya. Aku hanya mengangguk, dan berkata "Oke," dengan rasa malu.


Saat itu aku mencoba menguatkan diriku. Berjalan ke tempat yang di maksud oleh Azami. Aku bertemu Anin dan tengah sibuk menelpon.


"Anin..." Aku mencoba berbicara.


"Emi, kamu duluan ya ke sana, aku harus melakukan sesuatu. Pokoknya duduk di kursi yang ada tasku," kata Anin.


"Keadaan akan semakin canggung" ucapku dalam hati.


"Akhirnya ketemu juga," ucapku dalam hati. Aku langsung duduk di kursi yang di maksud Anin. Di meja sudah tersaji makanan yang begitu banyak. Aku sudah sangat lapar namun semua orang Anin, Azami, dan Arvin tidak ada di sana, aku tidak berani untuk memulai duluan. Dan saat itu aku melihat Azami dan Arvin disudut lain dari kolam, aku merasa penasaran, dan sekaligus ingin memberitahu mereka jika makanan sudah datang.


Namun, saat aku mendekat aku mendengar bagaimana Arvin menyatakan Cintanya pada Azami, aku begitu sangat hancur meskipun sebenarnya perasaanku sudah mulai pudar. Aku hanya merasa bodoh sebab terlalu percaya diri, dan sangat malu karena berharap ada sedikit rasa untukku. Aku mencoba berbalik namun kepanikan ku membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam kolam, saat itu aku juga mendengar suara orang melompat ke dalam air sebanyak dua kali.

__ADS_1


Setelahnya aku terbaring di tempat tidur dan arwahku tersesat.


"Emak, jangan khawatirkan aku. Biarkan aku tidur," ucapku dalam hati karena aku merasa bersalah pada Alerd saat aku mengingat kejadian di dunia misterius. Aku pun melepaskan infus dan berlari. Jika di lihat oleh orang lain mungkin seperti orang gila. Arvin langsung mengejar dan saat itu aku sudah berada di turunan tangga, dan saat Ingin melangkah entah kenapa tubuhku melayang. Aku berlari karena ingat pada Alerd, dan mencoba untuk kembali ke dunia misterius. Namun yang ku dapatkan diriku yang kembali terlilit ular dan berada dalam kegelapan.


__ADS_2