I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Tenang Belum tentu Aman


__ADS_3

Bermain perahu di danau sakura


Saat penghuni danau sakura bangun


Saat Alerd sudah kalah dari penghuni danau sakura


Panglima Cheng datang


Saat sampai di kediaman Cheng


Bertatapan sinis


"Wah cantik sekali," aku mencoba mengagumi pemandangan tersebut, dan berusaha menggambarkan suasana dengan berkata. "Tentu saja ini adalah tempat ter indah yang ada di Korea," jawab Alerd.


"Eem, kalau boleh tahu bagaimana kamu bisa memiliki teman dari Korea?" Tanyaku menarik bahu Alerd, dan Alerd menunduk mendekatkan telinganya padaku. "Ya, begitulah aku juga tidak tahu kenapa kami bisa berteman," jawab Alerd menunduk.

__ADS_1


Kemudian aku berjalan di bawah rembulan bersama dengan Alerd yang sangat ramah, dan selalu membuatku tertawa karena ia membuat lelucon kecil yang mampu menghangatkan hatiku yang beku. Dan dibelakang kami seakan ada bayangan yaitu teman Alerd yang tidak berbicara apa - apa.


"Lihat ada perahu," aku menunjuk ke arah perahu yang berada di tepi.


"Ayo," Alerd mengulurkan tangannya pada setelah ia melompat ke dalam perahu tersebut.


Karena perahunya terlalu kecil, teman Alerd terpaksa menunggu di tepi danau. Ia naik ke atas dahan sakura dan mengaktifkan mode pengawasan.


Alerd mendayung perahu dengan perlahan, dan aku terus menikmati sinar rembulan dan bintang yang berkedip - kedip perlahan.


"Akan aku pikirkan lagi," jawabnya.


Perahu terus melaju, dan angin malam di Alam tersebut yang cukup dingin dan tubuhku yang belum terbiasa membuatku sedikit menggigil. Kibasan angin, membuat mataku sedikit mengantuk. Suasana cukup tenang, namun perahu kami menabrak sesuatu dan aku terjatuh dan ditelan air danau yang begitu dingin dan kelam. Yang menakutkan bayangan hitam dan kejam mendekatiku serta mengelilingi diriku, membuatku kesulitan bernafas. Suasana berubah, Alerd mencoba menarik tubuhku ke atas perahu, beserta dengan bayangan hitam yang membelah air danau dan keluarlah makhluk mengerikan, dengan tubuh besar, hitam, dan mata merah menakutkan.


Aku setengah sadar melihat Alerd berusaha melawan makhluk tersebut, menggunakan sebuah pedang yang bercahaya. Sekuat tenaga ia melawan namun, hanya dengan satu jari makhluk tersebut cukup membuat Alerd terluka dan terpental ke daratan.

__ADS_1


Teman Alerd yang menyadari berusaha menolong, tapi kekuatannya bukan tandingan makhluk tersebut. Ia juga terpental, dan seakan terkurung di dalam danau. Kini hanya aku yang ada di tengah danau, dengan setengah kesadaran berusaha menghindar, namun tubuhku kaku.


"Serahkan nyawamu," aku merasa makhluk itu berkata seperti itu, dan aku merasa yang ia maksud adalah nyawa manusiaku yang kini sekarat di dunia manusia.


Makhluk itu mencoba menerkam diriku, dan membuat diriku seakan terbakar. Semakin lama semakin dekat, dan aku hanya diam terpaku, rasa panas dan membuatku sulit bernafas membuatku benar - benar tersiksa.


"Arggggghhh," geram makhluk tersebut, dan terjatuh. Ada seseorang yang menggunakan pedang biru dan merah menebas tangan makhluk tersebut.


Lalu ia membopong tubuhku, melayang dan menuju ke daratan. Di sana aku melihat Alerd yang tidak sadarkan diri.


Bulan, dan bintang tertutup oleh aura gelap yang beradu, dan sakura beterbangan karena angin yang bertiup tidak beraturan. Setiap kelopak sakura yang menuju danau terbakar oleh cahaya hitam. Setelah beberapa saat suasana kembali sunyi, pertarungan berhenti. Saat itu aku mencoba berdiri dan ingin memastikan siapa yang kalah.


Saat aku berusaha dengan tertatih sebuah tangan yang telah penuh darah hitam sudah berada di depanku.


"Cepat genggam lah," Ujar pemuda yang Tidak lain Panglima Cheng. Setelah itu Teman Alerd berjalan dari danau dan berusaha naik ke daratan mengarah ke arah kami, namun panglima Cheng langsung melemparkan pisau ke arahnya. Aku begitu terkejut. Aku terus berusaha bernafas dan hanya melihat ke tanah.

__ADS_1


"Apa kau baik -baik saja," tanya Alerd yang baru sadar dan merayap ingin menggapai ku, namun panglima Cheng memegang tangannya, dan menodongkan pedangnya ke arah Alerd. Saat itu matanya penuh amarah, dan aku sadar ia juga akan membunuh Alerd, namun dengan kekuatan kecilku aku membuat tameng untuk Alerd. Pedang dingin itu sangat terasa di dadaku, dan menyatu dengan hatiku yang dingin, membuatnya beku, akhirnya aku benar - benar kehilangan kesadaran.


__ADS_2