I Want Live In Your World

I Want Live In Your World
Hukuman


__ADS_3

Seorang pengawal masuk ke dalam ruangan kami, dan membawa wanita paru baya yang sedang sibuk membantuku mengganti pakaian.


"Apa yang kalian lakukan? Lepaskan pelayanku," ucapku setelah memakai pakaianku.


"Tidak apa nona, jangan khawatir, nona harus mendengarkan nasihat hamba kemarin." Kata Wanita paru baya yang tangannya sudah dipegang dua orang pengawal.


Aku tertegun, dan ingin melawan. Dan entah kenapa aku bisa menggunakan sebuah pedang salah satu pengawal dan menodongkannya pada salah satu pengawal tersebut.


"Katakan kenapa pelayanku kalian bawa dengan tidak sopan? Atas dasar apa dan atas perintah siapa?" Ucapku terus menodongkan senjata tajam tersebut ke leher salah satu pengawal.


"Kami diperintahkan menghukum pelayan nona, atas dasar kelalaiannya merawat nona. Kami diperintahkan oleh panglima Cheng," ucap Pengawal tersebut.


"Nona, biarkan hamba menerima hukuman tersebut, atau hamba akan memilih mati di pedang nona,"ucap wanita paru baya itu.


Aku tidak bisa berbuat apa -apa saat wanita paru baya itu menodongkan pisau ke lehernya, beliau mengancam ku.

__ADS_1


"Baiklah, namun biarkan aku ikut bersama Bibi,"ucapku melepaskan ancaman ku pada salah satu pengawal.


Kami berjalan keluar dari kamarku, dan aku tidak sadar jika tanganku terluka karena kenekatan diriku dalam menggunakan pedang. Aku melihat di sepanjang jalan menuju ruangan panglima Cheng cukup banyak orang menatap kami.


Tangan wanita paru baya terikat dengan tali, dan aku sangat tidak nyaman melihatnya. Aku langsung mendekatinya dan melepaskan ikatan tersebut. wanita paru baya tersebut tersenyum.


Aku membalas dengan senyuman sedih dan berlinang air mata.


"Panglima pendosa sudah ada di sini,"ucap salah satu pengawal saat kami memasuki ruangan panglima Cheng.


Panglima Cheng terkejut saat melihat kehadiranku bersama para pengawal, dan wanita paru baya.


"Aku yang memaksa mereka membawaku, aku harus tahu apa yang kau akan kau lakukan pada bawahan ku,"ucapku tegas.


"Biar aku beritahukan kepadamu secara resmi, pelayanmu telah lalai merawat tuannya, sengaja membiarkan tuannya sendirian saat tuannya sekarat," sembari menarik pedang dari sarungnya.

__ADS_1


"Pelayanmu akan dieksekusi di tempat ini," panglima Cheng kembali berbicara. Kini ia berjalan ke arah kami.


"Apa kesalahan yang ia perbuat hingga harus membayar kesalahannya dengan nyawa?" tanyaku.


"Tanyakan sendiri pada pelayanmu," ucap Panglima Cheng dengan tatapan dingin.


"Hamba pantas mati, karena kelalaian hamba dalam merawat Nona. Nona hampir kehilangan nyawa karena kelalaian hamba," wanita paru baya tersebut kini bersujud di hadapan panglima Cheng.


Aku tidak percaya hanya karena hal sepele sepeti itu dapat merenggut nyawa seseorang. Seakan nyawa dan pertumpahan darah adalah hal biasa.


"Karena pendosa sudah mengakui kesalahannya, maka hukuman harus segera dilakukan," ucap Panglima Cheng. Ia memberikan isyarat kepada kedua pengawal. Namun aku menatap mereka, dan mereka tidak berani bertindak. Mereka ragu melaksanakan perintah panglima Cheng.


Panglima Cheng yang mengetahui hal tersebut langsung melangkah ke arahku dengan pedang tanpa sarung. Panglima Cheng menarik tanganku dan mendekap tubuhku, mataku tertutup oleh badan panglima Cheng. Dan di saat bersamaan telingaku mendengar pedang yang di pegang panglima Cheng menusuk sesuatu.


Aku berusaha melepaskan dekapan Panglima Cheng, dan memukul dadanya. Hingga dekapan panglima Cheng melemah saat aku meneteskan air mata dan membasahi dadanya. Aku berbalik dan melihat wanita paru baya yang telah merawat dan menemaniku sudah bersimbah darah, dan tubuhnya dibawa oleh dua pengawal tadi. Tubuhku begitu lemas dan terduduk lesu. Panglima Cheng yang berdiri di sampingku, menatap ke bawah ke arahku yang menangis tersedu-sedu. Dadaku sesak, takut, dan sangat terpukul.

__ADS_1


Tanpa berkata Panglima Cheng menjatuhkan pedangnya yang sudah bersimbah darah. Ia berjongkok dan mencoba menarik tubuhku untuk bangkit, namun aku terlalu keras Kapala. Aku membencinya yang berdarah dingin.


Karena hal tersebut panglima Cheng menggendongku setelah aku tidak memiliki kekuatan untuk keras kepala. Ya tubuhku sangat lemah setalah menangis dan melihat darah tertumpah.


__ADS_2